Posts

Artefak-Artefak Cina

Image
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella 1. Pendahuluan Kita digemparkan beberapa hari ini (4-5 Mei 2010) dengan kebijakan Pemerintah RI melelang ‘harta karun’ yang diambil dari Pantai di Cirebon. Dalam rekaman TV ternyata barang-barang itu adalah peninggalan Cina. Mengikuti tulisan teman saya, Sumanto Al Qurtuby, saya pun memperkirakan barang-barang Cina itu merupakan artefak-artefak yang ditinggalkan Muslim Cina. Artinya, barang-barang itu sebenarnya merupakan bukti dari sebuah sejarah penyebaran Islam di Jawa oleh orang Cina. Jika dipahami secara semantik, bukankah artefak-artefak itu sebenarnya telah menjadi sebagian dari kebudayaan material yang membentuk identitas Islam di Jawa, atau Muslim Cina Jawa itu sendiri. Saya percaya Sumanto, yang saat ini sedang menjalankan tugas Penelitian Disertasi di Ambon dan tinggal bersama saya di Pastori III Jemaat Rumahtiga, memiliki pemaknaan tersendiri terhadap fenomena itu. Suatu hal yang ditelitinya secara mendalam. Apa yang hendak saya paparkan di si...

Di Atas Panggung Dunia

oleh. Eltom Santu itu berjalan menyusuri tapak-tapak dosa dunia Berat beban di pundaknya Salib siapa yang dipikulnya??? Keras nian kayu yang disandangnya Salah siapa yang menempel di tubuh kudus itu Dosa siapa yang dirajah di dua pundaknya itu Dia terjatuh…. dan oh….salib itu menindihnya Teman…..sahabat….tidakkah matamu melihat dia terjatuh Mengapa dari seberang jalan engkau tertawa terbahak-bahak Sangkamu dia tontonan bagi matamu yang selalu buas laksana hendak memangsa saudaramu! Mengapa dari seberang jalan engkau mengurut dada dan merintih iba??? Apakah dia anakmu, ibu??? Apakah dia adikmu, kawanku??? Apakah dia teman sepermainanmu dahulu, sahabatku??? Ibu, jika engkau tidak menjawab tanyaku Kawanku, jika engkau tidak membalas suaraku Sahabatku, jika engkau tidak menyahuti kata-kataku Lalu, siapakah tubuh kaku yang tergeletak dan ditindih beban dunia ini???? Dia bangun lagi…. Dengan terseok ia berjalan kini Lebam wajahnya Ohhh…tangan siapa yang menghantam senyummu, sang kudus?? Tubu...

Lakon Paskah 2010

Paket Acara Pencanangan Minggu Sengsara Yesus Kristus Jemaat GPM Rumahtiga Tema: Merayakan Kebangkitan Kristus yang Membebaskan (Kisah Para Rasul 13:26-41 ) Persiapan Ibadah: Jemaat mengambil posisi pada tempat yang sudah disiapkan (di halaman Gereja Fajar Hidup). Saat masuk ke tempat ibadah, jemaat langsung memberikan persembahan syukur pada Peti Persembahan yang sudah disediakan Salam: Liturgos 1: (menyampaikan salam dan ucapan selamat datang, serta mengajak jemaat masuk dalam perenungan Minggu Sengsara Yesus Kristus Tahun 2010 – dilanjutkan dengan Votum) Soloist: Kepala Yang Berdarah (sambil Sketsa Yesus dalam balutan Warna Putih masuk membawa kantong berisi roti, berpapasan dengan beberapa orang yang kurang beruntung: simbol orang miskin, orang lumpuh yang terkapar di tanah, orang buta) Liturgos 2: Jemaat, kita hendak menapaki jejak-jejak Penderitaan Yesus dalam Minggu Sengsara ini. Inilah Yesus yang berjalan di dunia kita sejak dahulu hingga kini. Benarkah Dia harus berjumpa deng...

NATAL DENG PAPEDA SABALE

Katanya cinta meramas kasbi Pancangkan kain di kuda-kuda Tabaos cinta panggil anak negeri Lihat mama meramas kasbi Dengar suara rindu gadis sebelah rumah Teriakan lapar tangisan dahagA Dan suara himpitan kerongkongan kering Bunyi perut berirama tifa pica Katanya cinta membakar sukma Lalu mama naikkan syukur siang Singgahsana Allah memutih bagaikan toya Panci tumpah ruah gelombang air panas Sempe diramaikan jari yang me-lomi toya Aru-aru menentramkan perut tertabu Sukacita hadir siang malam dirumah tua “Tuhan berkatilah makanan kami” doa ini terdengar indah karena papeda sabale akan datang Tuhan…… nikmatnya kuah lemon. Yang teruras bagaikan anggur hermon Dijilati lidah penikmat bungaran Pernahkah kau cicipi Tuhan…..????? “Tuhan inilah makanan kami yang Kau beri makanan natal orang pinggiran yang hanya bisa mengolah kasbi makanan natal anak negeri yang susah beras secupak dan cuma ada ikan meti “Tuhan………. Trima kasih atas berkatMu” doa itu begitu syahdu karena hati hampir menangis adakah...
Dan Kunyalakan Lilinku [eltom, 16/12-09] Solo: Lagu ‘Seribu Lilin’ [masuk 3 anak sambil membawa lilin masing-masing – dengan gerak tariannya] Narasi : Dan kunyalakan lilinku Anak 1 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN IMAN. Sebab merah warnamu, merah pula nyalamu, dan kupegang engkau erat sebab larik sinarmu menembusi hatiku. Anak 2 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN SUKACITA. Sebab hijau warnamu, merah kehijauan apimu, dan kuangkat engkau tinggi-tinggi sebab cahayamu harus menerangi setiap hati yang bersedih Anak 3 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN DAMAI. Kuning warnamu tanda teduh hatiku. Larik sinarmu merah kekuningan, tanda dunia yang tenang dan tangan yang saling merangkul Narasi : [3 anak tadi memeragakan lilin yang dihadang berbagai tantangan sambil menggoyang-goyang lilinnya]. Dan menyalalah lilinku. Terus menyala lilinku. Angin menerpamu, tetapi teruslah menyala lilink...

Cerita Perempuan itu Tentang Dirinya

(eltom, 25/11-09) Instrumen: “Anak Maria Dalam Palungan” (KJ.No. 112) [penari latar – tarian yang melukiskan Perempuan yang terdiam setelah melahirkan] [ketiga pembaca puisi di depan podium dengan wajah muram/sedih, sambil menunduk kepala]  Dapatkah aku lukiskan suasana hatiku yang sebenarnya?  Pernakah orang merasa apa yang sebenarnya membara dalam kalbuku?  Bisakah aku berbagi cerita bahwa sebenarnya hatiku gunda?  Mungkin tiada yang percaya [penari menarikan gerakan perempuan yang menanggung malu]  Aku malu menunjukkan wajahku  Aku tak kuasa menanggung berat badanku  Haruskah aku mengurung diri dan berharap tiada seorang pun tahu  Bagaimana jika beban di perutku tambah berat Dan perutku tambah membesar Dan sang bayi ini terus bertumbuh  Oh…..perempuan sepertiku….. Kan kugurat hari-hariku dengan cerita sedih Aku kan dipandang dengan mata memincing Sudut bibir mereka kan berseloroh sinis  Dengan beban membathin aku harus berjalan jika tidak mau susah melahirkan Tapi...

Majus Yang Terlambat

Sketsa Natal Majus yang Terlambat [Narator]: Dunia adalah tanda tanya besar. Dan bentuknya pun adalah tanda tanya besar. Dari ujung yang satu ke tepi yang berikut laksana titik-titik yang berujung juga pada tanda tanya. Ibarat untaian kata dan susunan kalimat, berujung jua pada tanda tanya besar. Besar….besar….besar….tiada bertepi, tiada berujung, semuanya dipenuhi tanda tanya besar……………………… Solo: O Little Town Of Betlehem (KJ. No. 94] VOTUM [empat orang majusi memasuki pentas : berjalan mengitari podium dan berpapasan dengan beberapa orang lain yang juga berjalan untuk melakukan aktifitas mereka, sampai berpapasan dengan kelompok penyanyi….] Penyanyi : [menyanyi] Hai musafir…. Mau ke mana???? …..jedah….. [over tone] [menyanyi] Hai musafir…. Mau ke mana???? …..jedah….. [over tone] [menyanyi] Hai musafir…. Mau ke mana???? …..jedah….. [over tone] [menyanyi] Hai musafir…. Mau ke mana???? Kau arahkah langkahmu Majusi : [menyanyi] kami ikut titah raja...