Posts

Kerinduan Kepada Allah

Mazmur 42:1-12 Oleh. Pdt. Elifas Tomix Maspaitella     DAHAGA INI TIDAK BISA DIHAPUS OLEH AIR DI KOLAM KECIL, MELAINKAN PADA SUNGAI YANG MENGALIR TAK PERNAH KERING   Ini bukan sekedar rindu seperti orang kasmaran akan kekasihnya. Kerinduan ini sungguh sangat besar dan tidak bisa ditahan lagi. Seperti rusa yang dahaga dan ingin segera minum dari air di sungai. Rusa itu berlari mencari sungai, bukan sekedar telaga. Artinya diperlukan air dalam jumlah yang tidak terbatas, supaya bisa diminum sepuasnya tidak takut kalau-kalau air itu habis. Ingin berlama-lama di tepian sungai itu, minum airnya tanpa henti, berapa pun banyaknya rusa yang berada di situ dan meminum dari sumber yang sama, tak pernah akan habis.    Kerinduan itu diumpamakan seperti kerinduan kita kepada Tuhan. Rasa rindu untuk berada dalam rangkulan kasihNya, kasih yang luas dan mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Rasa rindu itu membuat kita hanya mencariNya, apa pun tantangan di tengah jalan, kita tetap mencari-Ny

אָ֭הַבְתִּי DAN הִטָּ֣ה

MEMAHAMI MAKNA KATA ‘AHAV DAN NATAH (MAZMUR 116:1-2)     Saya hanya hendak berbagi ( sharing ) tentang dua kata dalam bahasa Ibrani yang sedikit menggelitik karena sering dipahami sama dengan kata-kata lain dalam Bahasa Ibrani yang maknanya sepadan, padahal ternyata cukup berbeda. Kedua kata itu adalah  ‘āhabtî  ( אָ֭הַבְתִּי )   dari kata  ‘ahav  ( אָהַב )  dan  hiṭ·ṭāh   ( הִטָּ֣ה )  dari kata  natah  ( נָטָה ) .   Saya menggunakan teks Mazmur 116:1 dan 2 sebagai tempat kutipan kedua kata itu. Sebab itu perlu dijelaskan binyan dari kedua kata tersebut berikut ini:   1 Kata  ’ā·haḇ·tî  ( אָ֭הַבְתִּי ) adalah kata kerja ( verb ) bentuk V-Qal-P-1cs atau kata kerja Qal Perfect akhiran orang pertama common tunggal, yang berarti “aku telah mengasihi”. Teksnya:  אָ֭הַבְתִּי   כִּֽי־יִשְׁמַ֥ע   ׀   יְהוָ֑ה   אֶת־קֹ֝ולִ֗י   תַּחֲנוּנָֽי׃  -  ’ā·haḇ·tî kî-yisma’ Yahweh ‘et-qōwlî tahãnunāy – aku telah sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, sebab Ia telah sungguh-sungguh mendengar suara dan permohonan

YELIM DAN STRUKTUR SIFAT ORANG KEI

Image
    OLEH. ELIFAS TOMIX MASPAITELLA   Sesungguhnya ini adalah tulisan saya dalam Arahan Gereja yang disampaikan pada saat Penahbisan Gedung Gereja Elim, Jemaat GPM Ohoidertawun, Kei Kecil dan Kota Tual, pada Minggu, 28 April 2024 yang lalu. Pada kesempatan itu, saya bermaksud menyampaikan rasa terimakasih kepada warga gereja di sana, tetapi saya tidak tahu tema apa yang pas untuk mengungkapkan semuanya. Kemudian saya tiba pada satu tindakan berbudaya yang hidup di kalangan masyarakat Kei, yaitu  yelim,  atau tradisi saling memberi di kalangan masyarakat Kei, atau tepatnya saya sebut Anak-anak Kei. Struktur Arahan itu telah saya ubah sehingga tertulis sebagai sebuah tulisan reflektif ini.   Dari pengalaman berjumpa dan mengalami secara langsung indahnya budaya dan kehidupan sosial orang Kei, maka pada momentum beriman saat ini, melalui penahbisan Gedung gereja Elim Jemaat GPM Ohoidertawun, perkenankan saya menyampaikan arahan ini dalam bentuk refleksi mengenai  KELUHURAN HATI ANAK KEI. S

PERAN PASTORAL GEREJA DALAM TAHUN POLITIK 2024[1]

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella (Ketua MPH Sinode GPM)       I.          PENGANTAR   Saya meminjam dua contoh yang secara paradigmatik relevan untuk mendiskusikan peran pastoral gereja dalam tahun politik 2024 di Indonesia. Contoh pertama adalah pada gerakan pembebasan yang dijalankan Marthin Lutger King (1954-1968) di Amerika Serikat, sebagai yang berintikan pada empati pastoral dari orang yang mengalami langsung diskriminasi terhadap sesama warga kulit hitamnya, dan contoh kedua pada paradigma  kenosis  atau penyangkalan diri Yesus sebagaimana tertulis dalam beberapa catatan injil. Tujuan saya dengan dua contoh itu ialah untuk bersama-sama berdiskusi mengenai bentuk peran pastoral gereja dengan melihat dunia dan tanggungjawab politik sebagai bagian dari panggilan untuk melayani semua ( calling to serve ) dan panggilan untuk   menjadi satu ( ut omnes unum sint ).     1.     Paradigma Keadilan Marthin Luther King, Jr   There comes a time when one must take a position that is neither saf