Saturday, October 1, 2022

KULTUR PEMBERITAAN MEDIA:

 Antara Filsafat dan Opini Publik

 

oleh. Elifas Tomix Maspaitella

 

I.           PENGANTAR

Saat ini persoalan agama dan lingkungan hidup menjadi dua isu yang marak di seluruh dunia, karena keduanya dironai oleh krisis yang terjadi secara intensif. Pada aspek agama, seiring munculnya tindakan radikalisme dan terorisme yang tidak segan-segan membunuh sesama manusia, orang menanyakan akar-akar spiritual atau warisan ajaran agama, sampai mengorek ke soal-soal yang fundamental yaitu “apakah Tuhan mengijinkannya”. Begitu juga dengan krisis lingkungan hidup bahkan yang berdampak pada situasi kebencanaan, tak pelak muncul pula pertanyaan teologis seperti itu, karena bencana alam juga merenggut nyawa manusia.

 

 

Teori tentang suatu pers yang bebas ialah bahwa kebenaran akan muncul dari reportase yang bebas, bukan bahwa kebenaran itu akan disajikan dengan sempurna dan seketika demi kepentingan seseorang (Walter Lippmann)[1]

 

Saya meminjam quotes Lippmann itu untuk memberi bingkai bahasan ini, namun tulisan ini akan mencoba mengkonstruksi media dan perannya dalam kerangka filsafat Hans-Georg Gadamer, pada bangunan truth and method.[2] Saya memahami bahwa teori filsafat Gadamer tidak secara khusus membahas atau bermain di ranah media/era digital. Namun tidak salah pula untuk mengatakan bahwa kerja media (jurnalistik) melibatkan di dalamnya kesadaran kritis yang harus membuat para pekerja media (jurnalis) mampu untuk melihat konstruksi nilai dasar dari sebuah berita. Dan menurut saya konstruksi nilai dasar berita adalah kebenaran (the truth).

Kerja jurnalistik selalu dibangun di jalur pemberitaan yang tidak jarang memerlukan atau harus melibatkan verifikasi dan hermeneutika. Sebab itu, jurnalis adalah person yang setiap waktu harus mengasah kemampuan kritik rasional, sebab tanpa sadar ia akan berada pada ambang kebenaran dan ketakbenaran (true and false).[3]

Dalam dunia media, jurnalis merupakan person atau subyek yang memberitakan tetapi juga mencari kedalaman berbagai kemungkinan (plausibilitas) dari suatu perkataan, peristiwa/kejadian (event, accident), dan mengemasnya ke dalam berita sebagai informasi kepada publik (pembaca, pemirsa, pendengar). Sebab itu kerja jurnalistik memerlukan usaha membangun relasi intrepersonal antara jurnalis dengan narasumber, pelaku suatu peristiwa, aktor bahkan korban dalam suatu peristiwa (event, accident), dan mengabadikannya dengan berbagai cara (merekam audio, mentranskrip rekaman audio, merekam visual, menulis berita, membaca berita, merekam foto, dlsb).

Karena itu, kekuatan kerja jurnalis ada pada kemampuan membahasa (melalui interview, discourse, menulis, membaca, dlsb). Dengan dan melalui kemampuan membahasa itu, sang jurnalis harus mampu menangkap pesan di dalam kata, tulisan, peristiwa, malah menggali semacam ideologi yang tersembunyi di balik kata atau tulisan seseorang atau suatu instansi/Lembaga. 

Tidak salah jika hal-hal itu dipahami dalam kerangka filsafat Gadamer, sebab saya berkesimpulan bahwa kerja jurnalistik menuntun, bahkan memaksa jurnalis untuk masuk ke dalam lingkungan di mana peristiwa itu terjadi (langsung maupun tidak langsung), sehingga perlu semacam kesadaran sejarah (historical consciousness) untuk membimbingnya memahami situasi kejadian atau peristiwa dan tutur kata informan atau suatu kelompok masyarakat, sebagai unsur penting dalam pemberitaannya. Sampai pada titik itu, kemampuan membahasa menjadi kunci di dalam kerja jurnalistik. 

 

II.         KONSTRUKSI FILSAFAT GADAMER SEBAGAI FILSAFAT MEDIA

 

1.         Bahasa dan Pemosisian Diri

Bahasa, atau kemampuan membahasa, dapat disebut sebagai unsur pokok dalam kerangka filsafat Gadamer, sekaligus sebagai suatu usaha menyampaikan dan menafsir keadaan riil (fakta) yang dialami atau dijumpai dalam lintasan sejarah hidup. Dalam hal itu, peristiwa (event) perlu dimengerti sebagai kejadian-kejadian dalam kehidupan yang mengandung di dalamnya “kebenaran” dan “ketakbenaran”.

Melalui kemampuan membahasa, kita harus menjelaskan atau merasionalisasi fakta untuk memahami “pengalaman” (erfahrung)[4]. Sebab posisi diri kita di dalam peristiwa itu adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Ketika kita berada di dalam suatu peristiwa, kita bisa dengan mudah memahami peristiwa itu dan berbagai kemungkinan (plausibilitas) yang mengelilinginya. Bila ini dipahami dalam kerja jurnalistik, maka investigasi mendalam (indeepth investigation) adalah bagian dari pemosisian diri jurnalis di dalam kejadian atau peristiwa itu. Melalui pemosisian diri itu ia akan menemukan dan mengangkat apa yang disebut sebagai kebenaran tanpa menafsirnya atau membelokkan tafsirannya untuk kepentingan seseorang atau sekelompok orang. Di situlah sebenarnya nilai filsafatik dari kerja jurnalistik, dalam kerangka filsafat Gadamer.

Artini Suparmo, seorang wartawan senior di LKBN Antara dan Dosen Universitas Negeri Jakarta dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa:

fungsi bahasa (dalam kerja jurnalistik) sebenarnya juga adalah bagaimana untuk berbagi dengan orang lain (realization to other people), dan ini bisa dilakukan oleh wartawan dalam menulis berita. Terpikirkah oleh dia, bahwa kata demi kata, kalimat demi kalimat yang dirajut dalam kemasan berita yang layak siar dan laku dijual, pada hakikatnya adalah bentuk berbagi diri dengan khalayak. Bentuk berbagi diri dalam bahasa ini dikenal juga sebagai salah satu dimensi kesantunan berbahasa, di mana seseoran tidak boleh menyakiti orang lain atau membuat kerugian pada orang lain, bahkan kalau bisa setiap tuturannya itu membawa manfaat bagi orang lain[5].

 

Pernyataan Suparmo itulah yang dimaksudkan Gadamer sebagai suatu proses rasionalisasi fakta melalui pemosisian diri dalam peristiwa. Dan bagi Gadamer melalui bahasa orang menceritakan pengalaman kembali  yang terjadi secara individual[6]. Nilai kebenaran di dalam penceritaan itulah yang penting dalam kaitan dengan relasi interpersonal tadi.

 

2.         PENGALAMAN DAN FUSI HORIZON

Dalam filsafat Gadamer, pengalaman yang dimaksudkan di sini ialah pengalaman sejarah. Saya memahaminya sebagai peristiwa (event, accident) yang dihadapi oleh kita dalam hidup sesehari. Ini memudahkan kita untuk membawa kerangka kerja filsafat Gadamer ke dalam lingkup kerja jurnalistik. Dalam kerangka ini, pengalaman adalah serangkaian fakta yang terjadi di depan mata, di sekeliling, atau di suatu tempat yang kemudian tersiar melalui berita sebagai hasil kerja membahasa seseorang. 

Bila kita membaca koran, menonton TV, mendengar radio, browsing berita online, hampir semua peristiwa, atau gejala menjadi konsumsi berita. Malah infotainment telah membuat peristiwa pribadi seseorang sebagai berita yang turut membentuk atau mengubah struktur perilaku khalayak. Suatu pengalaman menjadi sumber “kebenaran” yang harus diakui berpengaruh besar kepada khalayak/publik. Tanpa sadar, menceritakan pengalaman, dalam kerja jurnalistik memerlukan self-understanding, sehingga kadang apa yang diberitakan jurnalis bukan hanya membentuk pemahaman atau opini public, tetapi mengubah atau membentuk perilaku (yang baru) masyarakat. Istilah trend-setter itu mencerminkan bahwa seseorang yang diberitakan oleh media telah menyulap perubahan perilaku atau gaya banyak orang. Itu berarti jurnalis memiliki kemampuan untuk membantu proses perubahan social dan perilaku di dalam masyarakat.

Media membuat manusia bisa berinteraksi (secara virtual) melalui interaksi jurnalis dengan individua tau sekelompok masyarakat (yang menjadi subyek pemberitaan). Sebab itu, suatu berita sekaligus menjadi wahana relasi timbal balik, bukan saja sajian berita dan peristiwa. Melalui relasi timbal balik itu, khalayak bisa memberi beragam respons, seperti menerima sambil meyakini kebenarannya, menerima dan mengujinya kembali, menerima tetapi tidak meyakini, menolak, marah, kecewa, dlsb. Dalam banyak kejadian, melalui berita itu, masyarakat mengorganisir suatu gerakan massa untuk melakukan berbagai aksi. Dan itu berarti berita media telah membentuk suatu pengalaman baru di dalam diri individu dan/atau kelompok (audience).

Pengalaman itu pun ada yang disalah-pahami oleh individu atau kelompok. Dalam suatu peristiwa sejarah, menurut Gadamer, kita harus mampu memposisikan diri di antara waktu lampau (past), waktu kini (present) dan menafsir realitas waktu akan dating (future). Kembali ke pemosisian diri, fuzi horizons itu merupakan kritik Gadamer terhadap DIlthey yang elalu melihat pada kejadian di belakang (past) dan menuntun kita di masa kini untuk memahami gerakan makna dari peristiwa yang ada di belakang (past) dalam konteks kekinian (presenti) dan ke masa depan (future).[7]

Manusia menurut Gadamer tidak bisa dipisahkan dari kesejarahannya. Maka yang penting dari pengalaman itu adalah kehidupan atau hidup itu sendiri. Sebab hidup itu yang menentukan pengetahuan kita akan kebenaran.

 

3.         OBYEKTIFITAS

Kebenaran dalam filsafat Gadamer adalah obyektifitas yang dapat ditemukan secara langsung pada sumber kebenaran itu. Dalam perspektif kesadaran sejarah, suatu kebenaran akan bertahan di sepanjang masa.[8] Person yang mencari kebenaran sejarah (sejarahwan) akan berhadapan dengan obyek, dan berelasi dengan subyek yang mengalami atau mengetahui secara pasti peristiwa-peristiwa sejarah itu. Ada kebenaran palsu, dan untuk menghindarinya dibutuhkan penafsiran atau pendalaman. Sebab kebenaran palsu tidak bisa menjadi pengetahuan karena kebenaran palsu itu menyesatkan dan selalu menimbulkan kesalahpahaman (misunderstanding). Bila kesalahpahaman itu dilanggengkan, maka pengetahuan menjadi buram dan kehilangan makna obyektifitasnya.

Kerja jurnalistik adalah suatu bentuk kerja yang bertumpu pada obyektifitas sejarah atau peristiwa/kejadian. Obyektifitas jurnalistik itu lahir dari cover both side atau indeepth investigation. Jakob Oetama berkata: “Orang membaca pers untuk memperoleh informasi. Bukan sekedar dan asal informasi, tetapi informasi yang membuat jelas duduknya perkara dan membuat makna kejadian dan masalahnya lebih terang pula”[9]. Bila kalimat itu dimaknai dalam suatu masyarakat demokratis, seperti di Indonesia, maka, kerja jurnalistik tidak harus membiarkan kebenaran dimanipulasi atau dispekulasi, bahkan untuk kepentingan penguasa sekalipun. Kerja jurnalistik harus menjunjung kebenaran sebagai keyakinan filsafatiknya. Tanpa kebenaran, hasil kerja jurnalistik hanyalah sekumpulan cerita dongeng yang tidak membawa perubahan dalam hidup masyarakat.

 

4.         PENGERTIAN DAN PENJELASAN

Gadamer menolong kita untuk memahami bahwa suatu peristiwa melahirkan pembicaraan (speaking) dan individu harus bersuara (giving speeches). [10] Dengan kata lain, percakapan (conversation) merupakan bentuk relasi antarindividu yang melaluinya mereka dapat saling memahami tingkah laku masing-masing dalam percakapan itu. Agar kebenaran dalam percakapan itu terpahami, perlu ada pengertian (verstehen) dan penjelasan (erkleren). Maka melalui percakapan, setiap individu berusaha untuk membuat argumen-argumen yang obyektif, masuk akal sebagai bagian dari kebenaran.

Dalam kerja jurnalistik, termasuk di era digital, ada banyak orang yang memahami bahwa bad news is a good news. Paradigma ini dibangun dalam suatu lingkungan budaya media digital yang terkesan sebagai niece-market, jadi orang tidak sekedar melihat pada standard berita yang baik, tetapi prinsip yang penting viral. Maka apa pun yang ia lihat atau didengar, langsung diberitakan tanpa membangun penjelasan dan klarifikasi. Prinsip good news is good news diabaikan.

Bila suatu peristiwa tidak dipahami secara baik dan tidak dijelaskan maka publik akan membenarkan hal tersebut. Dalam pengalaman kita di Maluku pada tahun 1999-2002, banyak berita koran telah berhasil memprovokasi publik karena nyaris tidak ada ruang untuk melakukan klarifikasi/penjelasan, sebab opini publik telah dibentuk oleh peristiwa konflik antarkelompok. Dalam hal ini perlu apa yang disebut Gadamer dengan correctness yakni untuk memastikan kebenaran dan ketepatan suatu peristiwa atau informasi[11]. Prinsip ini tidak bisa diabaikan dari kerja jurnalistik. 

 

5.         MENERJEMAHKAN (TRANSLATION)

Apakah jurnalis bisa bebas menafsir suatu peristiwa atau kata-kata atau kalimat seseorang? Gadamer menolong kita memahami apa yang ia sebut dengan pure-seeing dan pure-hearing. Setiap kalimat atau kata itu berpengertian. Sebab itu pengalaman inderawi menjadi penting dalam memahami situasi pembicaraan (speechs). Dalam kaitan dengan itu, usaha menerjemahkan menjadi penting bukan saja dalam konteks bahasa yang berbeda ~seperti menerjemahkan bahasa asing, tetapi juga menerjemahkan hal-hal yang dilihat dan didengar secara langsung.

Saat saya bekerja sebagai wartawan di tahun 2003-2007, beberapa wartawan senior di Kota Ambon, Lucky Sopacua dan Novi Pinontoan mengingatkan bahwa seorang wartawan tidak hanya harus mengandalkan tape-recorder tetapi mata dan telinganya. Sebab itu akan membantu dia untuk mendalami makna di balik diksi narasumber, bahkan bila bahasa tubuhnya, mimiknya dipahami, maka makna dari diksi yang digunakan narasumber akan bisa lebih dipahami.

Jurnalis tidak bisa sekedar melihat proses verbalis sebagai satu-satunya bentuk komunikasi atau penyampaian pesan. Ia juga harus melihat simbol atau tanda (semantik) yang digunakan dalam masyarakat. Jurnalis yang biasa menyampaikan berita foto memerlukan kecakapan membaca makna tanda (sign). Contohnya, ada marka lalulintas dilarang parkir, tetapi banyak mobil diparkirkan di Kawasan tersebut. Atau ada orang yang menyeberang tidak di zebra cross. Ini memberi pesan tentang pelanggaran hukum atau ketidaktertiban lalulintas. Bila ia menjadikannya sebagai berita, maka caption pada gambar itu adalah hasil kerja tafsiran atau terjemahan atas tanda (yang dilanggar). Dari situ khalayak sudah bisa memahami perilaku orang lain.

Kelima aspek itu kiranya menolong kita untuk memahami bahwa kerja jurnalistik itu lahir dari kandungan filsafat dan praksis pekerjaan media merupakan suatu kerja yang bernilai, tidak asal-asalan. Artinya jurnalis bekerja karena keyakinan-keyakinan filsafatik serta memahami filsafat media itu sendiri. Jurnalistik merupakan suatu wujud praksis kefilsafatan dalam membentuk pengetahuan publik dari makna sebuah peristiwa sebagai obyek filsafat jurnalistik/pers.

Bila kelima hal itu direnungi dalam kerja jurnalistik, maka kaidah-kaidah jurnalistik, terutama dalam pengerjaan media massa juga penting diperhatikan. Ada beberapa pakem filsafatik-jurnalistik yang memiliki korelasi dengan kerangka filsafat Gadamer tadi. Hal itu antara lain:

a.    Pertanyaan terbuka. Artinya biarkan narasumber memberi penjelasan lebih banyak, gali terus sampai narasumber benar-benar memberi informasi yang dibutuhkan;

b.    Pertanyaan tertutup, untuk narasumber yang pelit-info. Arahkan dengan pertanyaan yang menjurus, jadi cukup dengan jawaban ya atau tidak, itu sudah bisa menjadi sumber berita. Bahkan bila narasumber menolak untuk memberi informasi, atau mengatakan saya tidak tahu, itu sudah bisa diolah sebagai berita;

c.    Cover both side. Tidak ada istilah terima informasi dari satu sumber sudah cukup. Bila ada nama yang disebut atau menyangkut kasus yang sensetif harus ditanyakan kepada pihak yang disebut atau pihak lain yang berkompeten, termasuk misalnya pakar/ahli terkait masalah tersebut;

d.    Penjelasan narasumber jangan ditelan begitu saja, harus dilengkapi data yang memperkuat, jadi perlu cross-check atau investigasi. Kantor media yang professional malah memiliki bank data atau devisi penelitian dan pengembangan yang tugasnya mensuply data guna pemberitaan;

e.    Bad news is a good news, artinya bahkan untuk sesuatu yang dipikir tidak ada nilai berita harus digali menjadi berita. Tetapi di zaman media social dewasa ini, bad news cenderung menjadi lahan hoax. 

f.      Peace journalism atau jurnalisme damai. Ini yang dibutuhkan di Indonesia dalam kondisi saat ini ketika isu intoleransi, radikalisme, fanatisme mengancam nasionalisme dan persatuan, berpotensi merobek tenunan keragaman bangsa. Dalam konteks Maluku, peace journalism harus membuat para jurnalis menjadikan kearifan budaya sebagai berita yang dipublikasi secara terus-menerus, karena peace journalism harus menjadi bagian dari kerja berbudaya;

g.    Off the record. Hargai sumber berita yang memberi informasi dalam status anonim, bahkan dalam keadaan dipaksa pun, nama mereka harus disimpan;

h.    Exclusive. Berita akan bernilai tinggi kalau sumbernya hanya diperoleh sendiri dan yang lain tidak mengekor. Masalahnya kadang di zaman instant saat ini, jurnalis bisa terkecoh dengan keinginan membuat exclusive sampai tidak sensetif untuk menilai apakah bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu.

i.      Sense of news. Setiap jurnalis harus memiliki ini bahkan untuk hak yang dipikir sepele. Misalnya, bertemu sampah menumpuk, bisa menjadi berita. Kamar mayat tidak ada mayat, bisa jadi berita. Jalan berlobang bisa jadi berita. Ikan langkah di pasar Ambon bisa menjadi berita.

 

III.        KULTUR PEMBERITAAN DI ERA DIGITAL

 

Dalam sejarah pers di Indonesia, era digitalisasi dalam kerja pers sudah dimulai sejak awal kemunculan TVRI (17 Agustus 1962 pukul 09.00 WIB) ketika Alex Leo Zulkarnaen dan Victor Kwee menyiarkan secara langsung pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945 yang diikuti dengan pidato kenegaraan Presiden Soekarno. Demikian ditulis Ishadi S.K, dalam buku Melacak Jurnalisme Media Siaran dan Internet.[12] Perkembangan selanjutnya, menurut catatan Ishadi, bahwa pada tahun 1972 dilaksanakan siaran langsung Televisi melalui Satelit Palapa, dan TVRI menyiarkannya secara langsung dari Cape Canaveral, Orlando, Florida (USA), pada pukul 17.00 atau 03.00 WIB.[13]

Kini kita telah masuk ke dalam suatu media-sphere yang tidak lagi lamban. Media massa dalam hal ini TV (audio visual), Radio (audio), Koran (cetak) telah berjalan bersisihan bahkan dikemas menjadi multimedia massa di internet.[14] Kita tidak bisa mengklaim bahwa media massa tadi akan ketinggalan zaman dibandingkan internet seiring berbagai temuan berteknologi saat ini. Sebab semua media (massa dan sosial), walaupun memiliki pakem masing-masing, namun tetap dibutuhkan.

Priyambodo mengakui bahwa jurnalisme berinternet (cyber-journalism) mempengaruhi system pemberitaan media dewasa ini. Bahkan menurutnya, ketika media massa masih bergerak dalam ritme deadline, sehingga menunggu waktu dan mekanisme editing yang ketat, jurnalisme berinternet berusaha menyajikan berita seakurat mungkin, dan selengkapnya setiap saat (real time).

Pakem jurnalisme berinternet ada dalam berbagai bentuk, seperti pengelolaan website, media online, blog, citizen journalism/cyber-community, bahkan pengelolaan laman (hyperlink), tentu tidak bisa melepaskan diri dari kaidah filsafatik media, setidak-tidaknya harus melalui proses editing yang matang. Sebab content berita media, bahkan media social, idealnya berita yang viral adalah berita yang benar-benar mengandung kebenaran. para netter/netizen dan peselancar (surfer) sebagai pemakai internet sangat cepat dipengaruhi oleh berita dari jurnalisme berinternet. Oleh sebab itu, jurnalisme berinteret tetap harus menjaga platform etika guna menyebarluaskan kabar yang benar, kabar baik.

Bila saya menggunakan perspektif filsafat-teologi untuk membingkai tulisan ini, maka kebenaran adalah content berita yang harus disampaikan kepada publik sebagaimana seharusnya. Saya meminjam tradisi kenabian dalam Perjanjian Lama (PL), yaitu Bilangan 22-23, bagaimana Nabi Bileam dipaksa oleh raja Balak agar menyampaikan kutuk atas Israel, tetapi ia nekat melawan raja dan menyampaikan berkat kepada umat itu. Pelajaran lain adalah pada diri Musa (Keluaran 5:1-23), bagaimana Musa yang dibesarkan di dalam istana Mesir, akhirnya harus mengikuti apa kata Tuhan dan berhadap-hadapan dengan Firaun demi pembebasan orang Israel. Dari situ, secara teologis, nabi itu dipahami sebagai utusan atau penyambung lidah Tuhan yang bertugas untuk menyampaikan apa yang difirmankan Tuhan kepada siapa firman itu ditujukan tanpa harus menambah atau mengurangi satu kata pun.

Artinya, kebenaran itu tidak bisa dibenamkan oleh kepentingan kekuasaan atau sekelompok orang, sebab kebenaran itu bagian dari firman yang mendatangkan damai sejahtera bagi umat. 

Bila kebenaran itu dipahami dalam defenisi Injil, maka kebenaran itu adalah isi dari kabar baik (Injil) yang bukan hanya diberitakan secara verbal tetapi membentuk perilaku yang diliputi oleh kasih, kepedulian, relasi yang akrab, mendamaikan, dan mereka yang membawa kabar baik itu harus menjadi pemberita yang rela pergi ke mana saja agar kabar baik itu menyapa semua orang. Tujuan kabar baik itu adalah memanusiakan manusia (Lukas 4:18-19) yakni menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan pada orang yang tertawan, penglihatan kepada orang buta, membebaskan mereka yang tertindas, dan memberitakan datangnya masa/tahun damai sejahtera dari Tuhan.

Dalam kabar baik itu ada gerakan pembebasan yang harus menjadi kekuatan kerja jurnalisme yang profetik. Itulah wujud ideal jurnalisme dari sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi Kristen/milik gereja, dan seharusnya pula jurnalisme yang dikelolah semua Lembaga agama di Indonesia.

 

 

 

BUKU BACAAN:

Gadamer, Hans-Georg, Truth and Method, New York: Continuum, 1995

Gadamer, Hans-Georg, “Rhetoric and Hermeneutic” [trans. by. Joel Weinsheimer], dalam Rhetoric and Hermeneutics in our time, edited by. Walter Jost & Michael J. Hyde, New Haven & London: Yale University Press, 1997

H.M, Zainuddin, Ayat-ayat Jurnalistik, Jakarta: Semesta Rakyat Merdeka, 2011

Jervolino, Domenico, The Cogito and Hermeneutics: The Question of the Subject in Ricoeur, Dordrecht-Boston-London: Kluwer Academic Publishers, 1990 

Kant, Immanuel, Critique of Practical Reason, New York: The Library of Liberal Arts, 1956

Putnam, Hilary, Mind Language and Reality, London-New York-Melbourne: Cambridge University Press, 1979

R.H, Priyambodo, “Sejarah Dan Perkembangan Cyber-Journalism”, dalam Atmakusumah, Iskandar, Melacak Jurnalisme Media Siaran dan Internet, Jakarta:RMBooks, 2011

S.K, Ishadi, “Sejarah Jurnalisme Televisi Indonesia” dalam Atmakusumah, Maskun Iskandar (Peny.), Melacak Jurnalisme Media Siaran dan Internet, Jakarta:RMBooks, 2011

Suparmo, Artini, Kesantunan Berbahasa di Media, Jakarta: RMBooks, 2011

Wachterhauser, Brice R., “Must We be What We Say? Gadamer on Truth in the Human Sciences”, dalam Hermeneutics and Modern Philosophy, edited by. Brice R. Wachterhauser, New York: State University of  New York Press, 1986

Weinsheimer, Joel C., Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method, New Haven & London: Yale Universtity Press, 1985

 

 

Elifas Tomix Maspaitella

Pendeta GPM

Pernah Menjadi Reporter merangkap Editor Harian Suara Independen (2003)

Dan Editor Harian Mimbar Maluku (2007-2008)

 



[1] Lippmann dalam Zainuddin HM, Ayat-ayat Jurnalistik, 2011, Jakarta: Semesta Rakyat Merdeka, h.3

[2] Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, New York: Continuum, 1995, h. 231 dyb; baca juga Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method, New Haven & London: Yale Universtity Press, 1985, h. 118 dyb

[3] Baca Hilary Putnam, Mind Language and Reality, London-New York-Melbourne: Cambridge University Press, 1979, Immanuel Kant, Critique of Practical Reason, New York: The Library of Liberal Arts, 1956, Domenico Jervolino, The Cogito and Hermeneutics: The Question of the Subject in Ricoeur, Dordrecht-Boston-London: Kluwer Academic Publishers, 1990 

[4] lht. Hans-Georg Gadamer, TM, h.98, 220

[5] Artini Suparmo, Kesantunan Berbahasa di Media, Jakarta: RMBooks, 2011, h.2

[6] Gadamer, ibid, h.222

[7] Brice R. Wachterhauser, “Must We be What We Say? Gadamer on Truth in the Human Sciences”, dalam Hermeneutics and Modern Philosophy, edited by. Brice R. Wachterhauser, New York: State University of  New York Press, 1986, h.223

[8] Gadamer, TMh.342

[9] Zaenudin HM, ibid, h.34

[10] Hans-Georg Gadamer, “Rhetoric and Hermeneutic” [trans. by. Joel Weinsheimer], dalam Rhetoric and Hermeneutics in our time, edited by. Walter Jost & Michael J. Hyde, New Haven & London: Yale University Press, 1997, h.57 

[11] Gadamer, op.cit, h.410,411

[12] Ishadi S.K, “Sejarah Jurnalisme Televisi Indonesia” dalam Atmakusumah, Maskun Iskandar (Peny.), Melacak Jurnalisme Media Siaran dan Internet, Jakarta:RMBooks, 2011, h.1

[13] Ishadi, dalam Atmakusumah, Iskandar, ibid, h.9

[14] Priyambodo R.H, “Sejarah Dan Perkembangan Cyber-Journalism”, dalam Atmakusumah, Iskandar, ibid, h.39

Sunday, August 7, 2022

PERSEPULUHAN:


PERSEPULUHAN :

Dasar Pemahaman Alkitabiah dan Liturgis Dalam Praksisnya di Gereja

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

 

 

I. PENGANTAR

 

INJIL

MARKUS

1241Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 43Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya”.

 

 

Secara harfiah, teks ini membandingkan jumlah dan sumber persembahan di antara orang kaya dan janda miskin[1]. Yesus, oleh penulis Injil Markus, menggunakan istilah orang kaya dan janda miskin, yang jika ditempatkan dalam konteks budaya masyarakat Yahudi di zaman itu, secara jelas menerangkan perbedaan kelas (stratifikasi) sosial dan ekonomi. Di sisi lain, sebutan orang kaya menunjuk pada kelompok laki-laki dewasa yang berasal dari kalangan para majikan atau pemilik kebun anggur, gandum dan ternak yang melimpah. Semua harta miliknya itu merupakan simbol kesejahteraan. Berbeda dengan janda miskin. Istilah janda miskin dialamatkan langsung kepada perempuan lanjut usia yang sudah lama menjanda (bd. I Tim. 5:9). Ia tinggal sebatang kara. Dalam hal ada atau tidaknya anak, sebutan janda miskin berarti (a) ia tinggal dengan anak yang belum dewasa; atau (b) anak-anaknya tidak tinggal lagi bersama dia sebab mereka sudah dewasa dan berumahtangga dan hidup dengan istri masing-masing. Jadi ia hidup dari apa adanya, dan malah dari persembahan itu sendiri. Ini penting dipahami sebab dalam masyarakat Yahudi suami dan anak lelaki merupakan tiang penyanggah ekonomi. Kisah Naomi dan Rut dalam Perjanjian Lama/PL (Rut 1:1-22), Janda Sarfat dan anaknya yang dijumpai Elia (I Raja. 17:7-24), dan Janda di Nain -dalam Perjanjian Baru/PB, yang anaknya dibangkitkan Yesus (Luk. 7:11-17) kiranya dimengerti dalam konteks itu pula. Jadi apa yang mereka miliki adalah sisa perbekalan untuk bertahan hidup. Lain tidak. Sehingga jika itu sudah dimanfaatkan, maka habis – ibarat hari-hari berikutnya adalah persiapan menuju kematian.

 

Realitas itu menjadi penting sebagai salah satu alasan mengapa persepuluhan mesti dipersembahkan ke Bait Allah/Rumah TUHAN, sekaligus menerangkan pada fungsi kesosialan dari persepuluhan selain fungsi ritual. Melalui diskusi ini, saya akan berusaha menafsir beberapa teks Perjajian Lama sebagai dasar teologis dari ajaran serta praktek teologis-praktika dari persepuluhan. Sebab diskusi ini bertujuan untuk: memahamkan makna atau hakekat dari persepuluhan dan merefleksikan cara atau kebiasaan memberi persepuluhan. Intinya ialah kita bisa memahaminya dan tidak menjadikan hal ini suatu polemik teologis dalam praksis bergereja kita – termasuk di Gereja Protestan Maluku (GPM). 

 

Keywords: persembahan syukur, persepuluhan, bait Allah, rumah perbendaharaan

 

 

II. DEFINISI DAN KAJIAN

 

a. Persembahan Syukur

 

Sebaiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu persembahan syukur (offerings), sebab persepuluhan adalah salah satu bagian dari persembahan syukur. Secara harfiah persembahan syukur adalah pemberian kepada seseorang sebagai bentuk ketaatan atau pemberian sukarela sebagai hadiah untuk membantu meringankan beban orang lain. Bila kita membaca beberapa teks PL menjadi jelas bahwa persembahan yang dimaksudkan di sini adalah pemberian kepada Allah; artinya persembahan itu diberikan kepada orang yang ada pada suatu otoritas yang tinggi dan oleh otoritas itu, ia menentukan dan mengendalikan kondisi hidup kita. Pada sisi berikutnya, persembahan itu lebih berdimensi etik yakni menguji atau membentuk perilaku taat dan setia, jujur dan adil dalam “memberi”. Dengan demikian, “memberi” atau “mempersembahkan” merupakan wujud praksis dari persepuluhan itu.

 

Dalam tradisi PL, persembahan itu berwujud natura seperti seeokor binatang yang masih muda/tahir, seporsi roti gandum, emas, perak, atau barang berharga lain yang dipersembahkan kepada Allah untuk penebusan dosa, atau ungkapan terimakasih atas nimat-Nya (kasih karunia) yang sudah membimbing, menyelamatkan, meluputkan dari celaka, atau melimpahkan berkat lainnya seperti hasil panen atau mendapatkan anak (misalnya Yusuf dan Maria yang membawa Yesus ke Bait Allah dengan mempersembahkan sepasang burung tekukur dan dua ekor anak burung merpati (Luk.2:24). Pada masa Musa, tradisi persembahan itu meliputi korban bakaran, korban penghapusan dosa, korban pendamaian, korban pelanggaran, korban terimakasih. Dan jenis-jenis persembahan ini juga ada dalam praktek agama Baal, yang dipersembahakan umat kepada dewanya/baal mereka.

 

Jika diteliti dari Kejadian 4:3,4 – cerita tua persembahan Kain dan Habel, mereka masing-masing memberi persembahan berupa natura yang dihasilkan dari pekerjaan masing-masing. Kembali ke definisinya, di sini, penulis Yahwist (Sumber Y) menggunakan istilah Ibrani hêbi (akar katanya bo) – yang berarti mempersembahkan. Kata itu menerangkan bahwa orang yang memberi persembahan itu datang (sambil membawa/untuk mempersembahkan) ke tempat yang telah dikhususkan untuk mempersembahkan korban (mezbah) atau pergi ke tempat yang telah dikhususkan (seperti Bait Allah) atau masuk ke dalam sutu tempat yang telah dikhususkan, untuk maksud memberi persembahan. Dan siapa yang hendak memberi persembahan, membawa sendiri persembahannya itu dan mempersembahkannya secara langsung di tempat yang sudah dikhususkan itu. Kain dan Habel melakukan serangkaian ritus keagamaan yang tujuannya memberi dari hasil kerjanya korban persembahan kepada TUHAN. Persembahan di sini ialah ucapan syukur karena apa yang dikerjakannya berhasil.

 

Bila dipahami terus cerita itu, maka persembahan syukur adalah pemberian atau pengurbanan yang terbuka dilihat atau dinilai menurut mata TUHAN. Artinya kelayakan dari persembahan itu tidak ditentukan dari seberapa banyak, atau seberapa sering kita memberi, sebab penilaian TUHAN yang lebih utama. Itulah sebabnya dalam Kejadian 4:1-16, TUHAN mengindahkan/memandang tepat, persembahan Habel dibandingkan Kain. Ini tidak boleh dipahami terbalik. Sebab selama ini kita memahami bahwa motivasi Kain dalam memberi salah, dan Habel yang benar. Karena menurut teks, Kain menjadi panas hati setelah ia melihat sendiri bahwa TUHAN mengindahkan persembahan Habel. Jadi motivasi mereka berdua sama, yaitu bersyukur karena pekerjaannya berhasil. Tetapi kepantasan dari persembahan itu terletak pada carapandang/mata TUHAN. Pada konteks itu pula kutipan Markus 12:41-44 tadi patut dipahami. 

 

Bertumpu pada definisi itu maka unsur penting dalam persembahan syukur yaitu umat – persembahan – Bait Allah – Imam/Pendeta – Kebaktian/Ibadah, dan Allah pada puncak dari semuanya.

 


 

Peta hubungan itu secara tegas menyatakan bahwa persembahan syukur tidak bisa dipisahkan dari ibadah/kebaktian. Dengan kata lain, persembahan syukur berlangsung di dalam ibadah/kebaktian. Dengan sendirinya persembahan syukur itu tidak sekedar suatu tindakan memberi melainkan akta liturgis sebagai pemberian khusus dari umat kepada TUHAN. Ini juga yang menjadi dasar teologis dari adanya unsur Persembahan Syukur dalam rumpun Respons Umat pada Liturgi/Tata Kebaktian Gereja, termasuk dalam Liturgi GPM. Maka secara etis, persembahan syukur itu dibawa oleh mereka yang beribadah, tidak bisa dititipkan kepada seseorang tertentu tanpa kita hadir dalam ibadah. Maknanya ialah persembahan syukur adalah akta setiap pribadi yang melalui akta itu kita mengikatkan diri ke dalam suatu persekutuan suci (holy communion) sebagai tanda bahwa keselamatan dikerjakan TUHAN kepada semua, namun diberiNya kepada kita masing-masing. Kehadiran dalam ibadah/kebaktian menjadi yang utama. 

 

Dalam praktek liturgis di GPM, ada beberapa jenis persembahan syukur antara lain:

1.      Kolekte/Kolekta; yakni persembahan syukur sebagai respons terimakasih umat kepada TUHAN yang telah menyelamatkan mereka. Kolekta adalah persembahan syukur yang sudah dikhususkan atau disiapkan terlebih dahulu dan dibawa atau diberi di dalam ibadah/kebaktian jemaat. Dahulu, kolekta dapat diberi dalam bentuk natura berupa hasil kebun dan olahan hasil kebun seperti minyak kelapa, dll. Sebab itu dahulu, jemaat yang memberi kolekta dalam bentuk natura membawanya secara langsung ke gereja di jam ibadah dan meletakkannya terlebih dahulu di konsistori. Jadi ada praktek hormat kantong kolekta/pundi-pundi dalam ibadah jemaat. Tindakan itu bukan berarti jemaat tidak memberi persembahan kolektanya melainkan mereka sudah memberi terlebih dahulu sebelum masuk ke gereja untuk beribadah.

2.      Persepuluhan; adalah milik TUHAN yang wajib diangkat sepersepuluh dari segala berkat yang diterima. Hal ini yang akan diulas secara khusus di sini.  

3.      Hulu Hasil; adalah persembahan khusus dari hasil pertama suatu pekerjaan atau masa panen, dan dikhususkan sebagai persembahan syukur kepada TUHAN dan diantar dalam ibadah jemaat.

4.      Nazar; adalah janji yang sungguh-sungguh dengan TUHAN, harus dipenuhi, dan disertai dengan suatu tanda. Dalam praktek liturgis, nazar  biasanya menjadi tanda adanya ikatan janji antara umat dengan TUHAN melalui doa/pergumulan.

5.      Persembahan sukarela adalah persembahan syukur yang bertujuan membantu, menolong meringan beban seseorang.

 

 

b. Persepuluhan

 

Saya hendak menjelaskan hakekat dan makna persepuluhan dari empat (4) tradisi PL guna memberi dasar pemahaman teologi-liturgis mengenainya. Penting dipahami bahwa tradisi persepuluhan dalam teks PL yang dikutip ini berasal dari masa yang berbeda. Walau demikian merupakan bentuk tradisi masyarakat Israel Alkitab yang berkembang dari waktu ke waktu, dan fungsi utamanya tidak pernah bergeser di zaman mana pun. 

 

Dalam tradisi PL mengenai persembahan, ada tiga jenis perintah, yakni:

§  Mempersembahkan sepersepuluh dari

§  Mempersembahkan separuh dari

§  Mempersembahkan seluruhnya

 

Jadi persepuluhan merupakan persentasi terkecil dari semua bentuk persembahan syukur kepada TUHAN. Jadi persembahan syukur itu menunjuk pada adanya hubungan pribadi manusia dengan TUHAN, dan itulah sebabnya mengapa dalam prakteknya, dibangun mezbah (bd. Kej. 4:1-16; 22:1-9).

 

 

1.    Tradisi Abrahaimik, Kejadian 12:7-9

 

KEJADIAN

127Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 8Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

 

 

Tradisi Abrahaimik di sini memang tidak secara khusus menjelaskan tentang persepuluhan. Namun tindakan Abraham mendirikan mezbah menjadi dasar dari seluruh ritus persembahan korban/persembahan syukur yang dilakukan di masa kemudian oleh leluhur Israel. Mezbah (Ibr. miz-bay-akh) didirikan sebagai tanda peringatan tentang kehadiran TUHAN yang menyelamatkannya dalam perjalanan dan di situlah ia memberi kepada TUHAN persembahan sebagai tanda keselamatan itu. Kata “mendirikan” (ibr. baw-naw) di dalam teks itu menerangkan tindakan membangun, membuat sebagai tanda yang mengingatkan sampai ke anak cucu. Itulah sebabnya mezbah itu merupakan tempat sakral, simbol kehadiran TUHAN atau pengingat bahwa TUHAN ada dan bertindak.

 

Dalam tradisi Protestan, mezbah tidak lagi didirikan dalam bentuk tugu batu (menhir) melainkan disimbolkan pada meja persembahan (holy communion table) di bagian altar atau ruang chancel  atau biasa disebut juga ruang sanctuary – bagian dekat altar. Pada meja persembahan ini diletakkan satu buah salib, dua buah lilin dan pundi-pundi persembahan, sebagai simbolisasi bahwa ibadah protestan adalah ibadah yang bersifat Trinitarian atau berdasar pada iman kepada Tritunggal: Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Pada meja ini, persembahan syukur dalam wujud kolekta/kolekte diletakkan.

 

Pada praktek ibadah rumah, piring nazar atau piring sumbayang merupakan wujud dari mezbah yang disediakan sebagai tempat umat meletakkan persembahan syukur atau kolekta/kolekte mereka. Hal yang sama pula ada dan dilakukan dalam banyak keluarga Kristen dengan meja sumbayang dan piring sumbayang yang diletakkan di atasnya. Sehingga, kolekta/kolekte adalah persembahan syukur yang sudah disiapkan secara khusus dan telah diletakkan di dalam piring sumbayang di meja sumbayang di dalam kamar utama keluarga. Setiap anggota keluarga yang hendak pergi beribadah, akan melakukan doa persiapan di situ sekaligus mengambil dari dalam piring itu kolekta/kolekte-nya. 

 

Itulah sebabnya tindakan non-verbalis dalam kebaktian pada saat memberi persembahan syukur/kolekte/kolekta bukanlah mengeluarkan uang dari dalam dompet/tas dan memilih pecahan berapa yang akan diberi/dipersembahkan, melainkan mengambil secara langsung dari tempatnya, biasanya dari dalam Alkitab, dan memberinya sebagai persembahan syukur.

 

 

2.    Tradisi Yakub, Kejadian 28:20-22

 

KEJADIAN

 

2820Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, 21sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. 22Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu”.

 

Tradisi Yakub ini memiliki hubungan erat dengan tradisi Abrahaimik tadi dan dapat dikatakan sebagai tradisi tua persepuluhan. Tradisi Yakub ini beranjak dari perspektif hukum bersyarat (conditional law), yang sering dijumpai dalam kitab-kitab Torat, biasanya dengan formulasi: “jika….maka…” seperti pada ayat 20-21 kutipan di atas. Namun itu bukan berarti umat mencobai TUHAN terlebih dahulu, lalu menjadi semacam hukum balas jasa seimbang (retributive). Sebab yang dimaksud di situ adalah bentuk respons umat atas kasih TUHAN yang selalu diwujudkan-Nya. Maka persembahan syukur dan persepuluhan adalah wujud janji kesetiaan umat kepada TUHAN yang selalu setia dengan janji-Nya. Tradisi Yakub ini berasal dari masyarakat nomaden, masyarakat pastoral (peternak)di mana orang Israel belum menempati suatu tempat secara premanen. Karena itu mezbah menjadi simbol dari kehadiran TUHAN di tempat di mana mereka merasa aman/selamat. Itulah sebabnya, makanan dan pakaian merupakan dua jenis kebutuhan pokok yang ditekankan dalam teks Kejadian 28 ini.

 

Apa yang dialami Yakub di Betel adalah bentuk penyertaan kasih setia TUHAN atasnya, dan itu yang menjadi motivasi teologis baginya, mengapa ia mengangkat persepuluhan dan mempersembahkannya di mezbah yang dibangunnya di situ. 

 

Mari kita lihat wujud etis atau perilaku Yakub berkaitan dengan persepuluhan itu. 

§   Dari mana Yakub mengangkat persepuluhan? Dari segala sesuatu yang diberi TUHAN kepadanya. Pada ayat 20, disebut dari segala berkat makanan dan pakaian. Dari semua hasil kerjanya. Dan dari segala sesuatu yang diberi TUHAN atau yang diperolehnya, diangkat sepersepuluh sebagai persembahan khusus untuk diberi kepada TUHAN. 

§   Apakah karena itu berarti persepuluhan berpusat pada hal material? Bukan. Sebab berkat makanan dan pakaian yang dia mintakan dari TUHAN adalah jaminan supaya ia selamat tiba kembali ke rumah orangtuanya. Jadi pemberian TUHAN itu bertujuan untuk menyelamatkan dirinya bersama keturunannya. Itulah dorongan utama mengenai mengapa kita harus memberi persepuluhan kepada TUHAN.

§   Kapan Yakub memberi persepuluhan? Ditegaskan dalam kutipan di atas, ada kata “selalu” – sebagai penegasan tentang kejujuran, ketulusan dan kesetiaan Yakub dalam memberi persepuluhan itu. Ini sekaligus menegaskan bahwa kita selalu diselamatkan oleh TUHAN.

 

 

3.    Tradisi Keimaman, Imamat 27:30-33

 

IMAMAT

 

2730Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN. 31Tetapi jikalau seseorang mau menebus juga Sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah seperlima. 32Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat di bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi TUHAN. 33Janganlah dipilih-pilih mana yang baik dan mana yang buruk, dan janganlah ditukar; jikalau orang menukarnya juga, maka baik hewan itu maupun tukarannya haruslah kudus dan tidak boleh ditebus. 34Itulah perintah-perintah yang diperintahkan TUHAN kepada Musa di gunung Sinai untuk disampaikan kepada orang Israel.

 

Tradisi keimaman ini dapat pula disebut sebagai tradisi Musa, walaupun sebenarnya tradisi Deuteronomik juga masuk dalam kategori itu. Namun sengaja disebut tradisi keimaman sebab ada syarat dan ketentuan-ketentuan khusus mengenai persepuluhan itu sendiri. Dalam tradisi keimaman ini, orang-orang Israel sudah memiliki kawasan tempat tinggal yang luas, walau belum menetap secara permanen, dan masih ada kelompok kecil yang suka berpindah dalam areal yang sudah dibagi menurut bilangan suku-suku Israel. Corak masyarakat pastoral dan agraris sudah bercampur, namun kawasan perkebunan sudah mulai luas. Tanah-tanah sudah diolah dengan cukup baik, dan ternak dipelihara pada kawasan khusus atau dalam kandang yang luas.

 

Karena itu hasil kerja yang menjadi dasar penghitungan persepuluhan adalah hasil tanaman di tanah (umbi-umbian, gandum, dll) dan hasil dari pohon buah-buahan, dan hasil beternak dari lembu sapi, kambing domba. Syarat dan ketentuan khusus yang diatur di dalam teks itu sesungguhnya bertujuan untuk memelihara kemurnian persepuluhan itu sendiri. Sebab di sinilah, persepuluhan itu disebut sebagai milik TUHAN. Jadi kewajiban mengangkat persepuluhan karena itu adalah milik TUHAN sehingga wajib diberi kembali kepada-Nya.

 

Hukum Imamat membuat penting kekudusan atau kemurnian persepuluhan itu dengan mengatur syarat seperti:

a.     Ada peluang untuk menebus sebagian dari persepuluhan itu tetapi ia harus menambah kembali dari jumlah yang ditebus itu seperlima dari jumlah tebusan. Intinya, kemurnian persepuluhan itu harus dijaga, sebab TUHAN tidak menunda memberi berkat atas benih di tanah, pohon-pohonan dan ternak. 

b.     Mengenai ternak, tidak boleh dipilih-pilih antara yang baik dan buruk, melainkan setiap yang lewat di bawah tongkat pada hitungan kesepuluh, itu yang harus dipersembahkan. Lagi-lagi di sini aspek kemurnian, kejujuran, ketulusan dalam memberi kembali milik TUHAN menjadi nilai penting.

 

Hukum Imamat menekankan tentang kekudusan persepuluhan itu dan tidak boleh ada praktek manipulasi atas jumlahnya. Manipulasi atas jumlah persepuluhan menghilangkan nilai persembahan itu sebagai persembahan yang kudus. Sebab sepersepuluh adalah sepersepuluh. Suatu pola hitungan matematika yang sangat mudah. Semisal, pendapatan Rp. 1.000.000,- maka sepersepuluhnya adalah Rp. 100.000,-; atau sepersepuluh dari Rp. 3.500.000,- adalah Rp. 350.000,- bukan Rp. 50.000,-

 

 

 

 

 

 

4.    Tradisi Deuteronomik, Ulangan 14:22-29

 

ULANGAN

 

1422Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. 23Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, atau pun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu. 24Apabila, dalam hal engkau diberkati TUHAN, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih TUHAN untuk menegakan nama-Nya di sana terlalu jauh dari tempatmu, 25maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, 26dan haruslah engkau membelanjakan uang itu untuk segala yang disukai hatimu, untuk lembu sapi atau kambing domba, untuk anggur atau minuman yang memabukkan, atau apa pun yang diingini hatimu, dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu. 27Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kau abaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau. 28Pada akhir tiga tahun engkau harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya di dalam kotamu; 29maka orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu, akan datang makan dan menjadi kenyang, supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu”.

 

Pada tradisi deuteronomik ini, terjadi transformasi yang sangat radikal terhadap tradisi persepuluhan, karena masyarakat semakin banyak, dan pemusatan ibadah Yahudi berlangsung dalam Bait Allah di Yerusalem, ritus Yahwisme semakin berkembang, dan tabut perjanjian sebagai simbol kehadiran TUHAN tidak lagi di bawa mengembara melainkan diletakkan pada mezbah dalam Bait Allah. 

 

Bentuk transformasi persepuluhan adalah barang-barang natura yang disyaratkan dahulu, kini dapat diuangkan. Sebenarnya tujuannya sama dengan tradisi keimaman, yakni tentang kemurnian persepuluhan itu, agar jangan persembahan itu rusak atau ternak yang diperuntukkan bagi persepuluhan itu luka atau cacat, saat dalam perjalanan. Transformasi berikutnya adalah persepuluhan itu tidak lagi menjadi ritus pribadi atau klen di mezbah yang didirikan, melainkan harus dibawa ke tempat yang telah dipilih dan dikuduskan TUHAN untuk itu, yakni Bait Allah. 

 

Karena itu persepuluhan tidak lagi berfungsi ritus melainkan bertambah dengan fungsi sosial yakni sebagai jaminan kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda. Itulah sebabnya, ada jamuan makan yang disediakan dari persepuluhan itu kepada mereka, dan itu pun harus berlangsung di tempat yang dipusatkan untuk itu, bukan di tempat lainnya. Dengan demikian imam sebagai pelayan persepuluhan berperan penting, karena persepuluhan sudah menjadi bagian dari ritus umum. 

 

Para imam akan tetap berada di dalam Bait Allah sebab setiap waktu mereka harus melayani persembahan persepuluhan umat. Keterangan lebih lanjut tentang peran imam ini dapat dibaca juga dalam Nehemiah 10:35-39.Dari sini kita mendapati penjelasan bahwa imam yang bertugas di Bait Allah itu berkelompok, dan setiap kelompok melayani secara bergiliran setiap minggunya. Ada pula kelompok yang mengambil persepuluhan secara langsung di tempat di mana umat tinggal, dan mereka yang akan membawanya ke dalam rumah perbendaharaan atau dalam bilik khusus yang disediakan untuk itu di Bait Allah Yerusalem. Pengaturan dalam kitab Nehemiah juga bertujuan memelihara kemurnian atau kekudusannya, seperti memelihara kekudusan iman kepada TUHAN (Yahweh). Artinya persepuluhan tidak bisa dicampurkan dengan lainnya, dan harusnya dipisahkan terlebih dahulu. 

 

Ada tiga aspek penting tentang persepuluhan di sini, yaitu:

§  Kesungguhan dan kontinuitas; artinya persepuluhan harus diberi dengan hati yang sungguh-sungguh (tulus), dan secara terus-menerus, dari segala sesuatu yang diperoleh, tahun demi tahun, tiada putus-putusnya. Artinya, persepuluhan bukanlah jenis persembahan syukur musiman, atau jika diingat atau jika mau, dan bukan untuk satu kali saja. Sebab ada yang beranggapan dia sudah satu kali memberi persepuluhan, dan itu cukup. 

§  Fungsi sosial. Sebagai dampak dari pemusatan ibadah di Bait Allah, maka fungsi imam Lewi mendapat tempatnya secara tetap (settle), sehingga mereka pun berhak atas persepuluhan, karena tidak ada bagian bagi mereka dari milik pusaka (tanah) yang sudah dibagi-bagikan kepada suku-suku lainnya, termasuk orang asing, anak yatim dan janda. Fungsi sosial itu pun tidak diberi oleh orang yang membawa persepuluhan secara langsung, melainkan diolah di Bait Allah oleh para imam untuk menjadi bagian (makanan) orang asing, anak yatim dan janda (kelompok Triad). 

§  Bentuk dan tempat. Persepuluhan dapat diuangkan dan harus dibawa ke tempat yang sudah dikuduskan TUHAN, yakni Bait Allah.

 

 

5.    Tradisi Kenabian (1), Amos 4:4

 

AMOS

 

44Datanglah ke Betel dan lakukanlan perbuatan jahat, ke Gilgal dan perhebatlah perbuatan jahat! Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hati yang ketiga!

 

Tradisi kenabian dalam Amos dan Malaekhi sebenarnya merupakan kritikan nabi terhadap disorientasi ibadah dan persembahan yang dilakukan umat. Amos secara khusus mengkritik krisis kepelayanan sosial oleh orang-orang yang suka menonjolkan diri seakan-akan mereka taat kepada TUHAN. Apalagi dalam arena public terjadi banyak manipulasi baik atas bunga pinjaman, harga barang di pasar yang mencekik orang miskin, manipulasi keadilan di Lembaga hukum sehingga orang lemah dikorbankan dan orang berkuasa terus menjadi lalim.

 

Orang beribadah dan memberi persembahan korban demi menonjolkan kesalehan pribadi (kesalehan ritual) yang tidak diikuti oleh kesalehan sosial dalam bentuk pelayanan kepada orang-orang miskin. Praktek riba (bunga uang) menegaskan bahwa pelayanan sosial telah jatuh sangat dalam di dasar jurang. Itulah sebabnya, ibadah mereka menjadi sia-sia (Amos 5:21-27). Dalam konteks ini, perintah tentang persepuluhan adalah suatu ironi, sebab ibadah umat adalah bagian dari perbuatan jahat. 

 

Dengan demikian, sebenarnya Amos hendak mengetengahkan tentang kemurnian ibadah sebab dalam ibadah yang murni itu persembahan umat pun tetap terpelihara dalam kemurniannya. Melanjutkan tradisi deuteronomik sesungguhnya Amos memandang penting fungsi sosial dari persepuluhan itu, sebab orang miskin terus miskin dan mereka harus ditolong. 

 

 

6.    Tradisi Kenabian (2), Malaekhi 3:10-12

 

MALAEKHI

 

310Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. 11Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisi hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta lama. 12Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.

 

Seperti dikatakan tadi, bahwa tradisi kenabian adalah kritik atas kepalsuan umat dalam beribadah dan sikap mereka dalam mempersembahkan korban, maka Malaekhi melakukan kritikan itu secara tegas, dengan mengajukan semacam complain sebab umat bersikap seakan-akan rugi bagi mereka jika memberi persepuluhan kepada TUHAN.

 

Meneruskan tradisi deuteronomik, Malaekhi juga menekankan tentang rumah perbendaharaan, yaitu bilik yang dibangun khusus di Bait Allah sebagai tempat meletakkan dan mengelola persembahan (baca Nehemiah 10:38,39). Bentuk kritik Malaekhi di sini sebab umat seakan telah melupakan cara TUHAN melindungi dan menyelamatkan mereka. Sebab itu Malaekhi menyatakan hakekat perlindungan TUHAN yang disebutnya “TUHAN semesta alam”. Istilah ini berarti TUHAN adalah Allah yang sudah menciptakan dan mengendalikan segala sesuatu di alam termasuk musim panen pada tanaman di tanah dan ladang perkebunan. Tetapi tidak itu saja, masih ada banyak bentuk berkat lainnya. Ini yang diilustrasikan dalam istilah “tangkap-tingkap langit” (ay.10).

 

Ayat ini sering dipakai sebagai senjata ampuh seakan-akan gereja lokal berkepentingan dengan persepuluhan dan persepuluhan itu hanya harus diberi ke gereja. Padahal ayat ini sebenarnya adalah koreksi atas sikap kita yang sangsi atas campur tangan TUHAN semesta alam di dalam hidup kita di muka bumi. Kita lebih melihat pada untung rugi, seakan dengan memberi persepuluhan kita menjadi miskin. “Angka persepuluhan tuh, su angka uang blanja ka balong” (=mengangkat persepuluhan itu, apakah sudah diangkat uang belanja juga?) Kesan bahwa “nanti kita tidak sanggup membiayai belanja” adalah salah satu situasi yang sebenarnya menjadi konteks dari tradisi Malaekhi ini pada konteks kita dewasa ini. TUHAN semesta alam seperti tidak diimani secara sungguh-sungguh. Karena itu Malaekhi menyatakan semacam jaminan langsung dari TUHAN kepada mereka yang memberi persembahan persepuluhan dengan hati yang tulus; tanpa menghitung untung rugi. Ini juga alasan saya mengutip Markus 12:41-44 pada bagian awal tulisan ini.

 

 

III. PENUTUP: Meluruskan Beberapa Pertanyaan

 

Apakah persepuluhan itu HARUS diberi? Persepuluhan WAJIB diangkat dari segala berkat yang diterima dari TUHAN. Sebab dengan begitu kita belajar untuk setia kepada TUHAN dan jujur terhadap berkat yang diterima dari-Nya.

 

Apakah hanya dari gaji/pendapatan pokok? Dari segala berkat yang diterima haruslah diangkat sepersepuluh sebagai persembahan kudus kepada TUHAN.

 

Apakah persepuluhan bisa disimpan dalam waktu tertentu baru diserahkan? Sebaiknya jangan. Setiap kita mendapati berkat, angkatlah persepuluhan dan segeralah bawa ke rumah TUHAN. Ini supaya kita terhindar dari godaan untuk menggunakannya/ mengambil Sebagian darinya untuk hal tertentu.

 

Ke mana kita harus membawa persepuluhan? Ke rumah TUHAN, melalui kebaktian jemaat, di mana kita tinggal/hidup dan diserahkan ke dalam tempat yang telah dikhususkan/dikuduskan untuk itu.

 

Bisakah sepersepuluh diberikan ke Jemaat yang lain, bukan jemaat tempat domisili? Sebenarnya bisa, tetapi mengapa harus diberi ke jemaat tempat domisili, karena di situ, kita terhisab dalam satu persekutuan kudus, dan TUHAN menguduskan hamba-hambanya yang bertugas memelihara hidup dan iman kita. Pada konteks tertentu, persembahan persepuluhan itu bisa membantu jemaat-jemaat lain melalui pengelolaan hamba-hamba TUHAN di jemaat tempat domisili. 

 

Dapatkah persepuluhan diberikan langsung kepada orang miskin, janda, anak yatim? Persepuluhan juga diperuntukkan untuk itu. Tetapi lebih baik diserahkan ke rumah TUHAN karena harus didoakan oleh pelayan rumah TUHAN dan dari sanalah mereka (orang miskin, janda, anak yatim) dilayani dari persepuluhan jemaat. Pemberian kepada orang miskin, janda dan anak yatim itu harusnya bersumber dari persembahan sukarela yang memang diberi langsung oleh kita.

 

Ada orang yang mendapatkan penghasilan dalam jumlah yang banyak, mengangkat persepuluhan dalam jumlah yang tidak sesuai. Jangan gunakan ukuran besar kecil, atau untung rugi dalam memberi persepuluhan. Gunakan hitungan yang jujur, bahwa sepersepuluh dari seratus adalah sepuluh dan begitu seterusnya.

 

Bagaimana jika saya kredit dari gaji. Apakah harus angkat persepuluhan dari sisa gaji yang diterima atau bagaimana? Gaji adalah pemberian TUHAN. Cukupkanlah hidupmu dengan itu supaya jangan hatimu tergoda pada hal yang menurut keinginan, bukan kebutuhan. Jadi berilah persepuluhan dari apa yang TUHAN telah berikan kepadamu.

 

Bisakah persepuluhan bersumber dari uang menang TOGEL? Peliharalah kekudusan persembahanmu, dan berilah dari buah keringat atau usahamu sendiri, bukan dari hasil peruntungan/undi. Karena itu jangan berjudi.

 

Nilai apa yang hendak dibentuk dari memberi persepuluhan? 

       Jujur, sebab kita tahu berapa banyak hasil yang diperoleh, dan Tuhan pun mengetahuinya. Jadi memberi persepuluhan mengajari kita “jangan menipu” atau “jangan menyembunyikan berkat”

       Tulus, sebab persepuluhan adalah tanda ucapan syukur, jadi harus diberi dengan hati yang tulus.

       Setia, sebab itu kita harus menjaga kekudusannya. Maka sebaiknya jangan dikumpulkan. Setiap kita mendapatkan berkat, dibawalah secara langsung persembahan persepuluhan itu.

       Disiplin, dalam arti jangan ditunda, agar kita selalu membawa persembahan persepuluhan kepada Tuhan dan disiplin menjaga kemurniannya.

       Takut Tuhan, dengan membawa persembahan persepuluhan kita belajar takut Tuhan.

 

 

Ambon, Adventus I

29 November 2021

 



[1] Tentang Persembahan itu sendiri mungkin akan dijelaskan melalui satu artikel yang secara khusus menjelaskan tentang itu. Di sini saya meminjam teks tersebut untuk menerangkan latar sosial dari seorang janda miskin yang sudah tentu terkait dengan fungsi kesosialan dari persepuluhan.

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!