YELIM DAN STRUKTUR SIFAT ORANG KEI

  



OLEH. ELIFAS TOMIX MASPAITELLA

 

Sesungguhnya ini adalah tulisan saya dalam Arahan Gereja yang disampaikan pada saat Penahbisan Gedung Gereja Elim, Jemaat GPM Ohoidertawun, Kei Kecil dan Kota Tual, pada Minggu, 28 April 2024 yang lalu. Pada kesempatan itu, saya bermaksud menyampaikan rasa terimakasih kepada warga gereja di sana, tetapi saya tidak tahu tema apa yang pas untuk mengungkapkan semuanya.

Kemudian saya tiba pada satu tindakan berbudaya yang hidup di kalangan masyarakat Kei, yaitu yelim, atau tradisi saling memberi di kalangan masyarakat Kei, atau tepatnya saya sebut Anak-anak Kei. Struktur Arahan itu telah saya ubah sehingga tertulis sebagai sebuah tulisan reflektif ini.

 

Dari pengalaman berjumpa dan mengalami secara langsung indahnya budaya dan kehidupan sosial orang Kei, maka pada momentum beriman saat ini, melalui penahbisan Gedung gereja Elim Jemaat GPM Ohoidertawun, perkenankan saya menyampaikan arahan ini dalam bentuk refleksi mengenai KELUHURAN HATI ANAK KEI.

Saya menyebut secara khusus anak Kei, bukan orang Kei, untuk menegaskan bahwa Anak Kei, yaitu siapa yang terlahir menjadi Kei, adalah pemilik sah dari hati nurani yang luhur. Anak Kei itu terlahir karena hati yang luhur dan hidup dengan hati nurani yang luhur. 

Yelim adalah tindakan berbudaya yang saya pinjam untuk melukiskan bahwa anak Kei itu pemilik hati nurani yang luhur. Artinya, saya tidak bisa disebut anak Kei tanpa menjadikan yelim sebagai gaya dan pandangan hidup. Atau, tanpa menjadikan yelim sebagai gaya dan pandangan hidup saya bukan anak Kei yang sejati. Yelim adalah jiwa kebudayaan yang luhur, sebagai bukti bahwa anak Kei itu tidak bisa dipisahkan satu dari lainnya, dan lebih lagi, anak Kei itu tidak bisa membiarkan dan melihat saudaranya susah atau dalam sengsara. Ada dorongan yang lahir dari hati nurani yang murni, bukan sekedar untuk menolong, tetapi merasakan kesusahan saudara sebagai kesusahan kita pula, supaya sukacitanya adalah sukacita kita pun. Yelim membuat ain ni ain menjadi norma luhur yang menegaskan bahwa kesatuan anak Kei itu adalah janji kehidupan untuk tetap menjadi satu tak terpisahkan, satu tak terbagi, satu tak terceraikan, satu yang memberi hidup dan menghidupkan.

Saya pernah menyaksikan bagaimana anak Kei mengantar Yelim kepada saudaranya, saat MPL di Elat dan Peresmian Tugu Injil di Taar, dan di sini, Ohoidertawun, saat penahbisan gereja Elim ini pun kita menyaksikan hal itu sebagai suatu akta kebudayaan yang membuat semua beban menjadi ringan. Gereja ini pun merasakan bahwa ternyata melalui yelim dari Jemaat-jemaat dan para PendetaGPM mampu membangun Kampus UKIM di Suli dan Aula Sitanala Learning Center di Ambon. Yelim adalah pemberian, yang mengajari kita bahwa setiap ketulusan membuahkan berkat besar, yaitu beban menjadi ringan. 

Yelim tidak dikirimkan, melainkan diantar. Artinya melalui yelim kita merayakan perjumpaan sebagai saudara yang setara. Jadi yelim tidak bisa dipandang pada barang material melainkan harus dipandang pada orang, yaitu saudara yang mengantarnya. Karena itu yelim adalah gambaran hati yang tulus dan wujud hidup yang menyatu, ain ni ain dan itu tidak bisa digantikan bahkan di era modern ini tidak ada praktek budaya yang lahir dari ketulusan yang bisa mengalahkan yelim. 

Apa arti dari semua ini? Artinya, menjadi Kei itu berkat besar. Sebab kita bukan hanya mewarisi keluarga, alam yang indah, persaudaraan yang rukun, tetapi kita mewarisi hati yang tulus murni. Hati yang melukiskan sukarela dalam yelim pun maren, hati yang putih seperti enbal, ketulusan itu lahir dari perjuangan untuk hidup, dan demi kehidupan itu anak Kei memberi yang terbaik untuk semua.

Di era modern dalam konteks masyarakat majemuk, yelim menjadi pelajaran peradaban bahwa hidup itu harus dibangun dari dasar ketulusan hati. Maka anak Kei memiliki kepekaan yang tinggi atas masalah-masalah kemanusiaan. Dari falsafah yelim, anak Kei pasti mau memberi yang terbaik kepada semua orang. Sebab ia lahir dari ketulusan hati seorang perempuan, dan ia dibesarkan dalam budaya yang memandang bahwa jauh lebih indah memberi yang terbaik kepada saudara daripada membiarkan saudara hidup dalam kesusahan. 

Dalam konteks agama-agama, yelim mengajari kita bahwa kemanusiaan dan kehidupan adalah puncak dari semua bentuk kasih sayang dan ketulusan. Yelim tidak memandang perbedaan agama, yelim adalah pemberian tanpa batas waktu, sebab itu yelim adalah jantung dari setiap agama, dan tanpanya agama-agama kehilangan fungsi sebagai tiang moral dan etika. Yelim memperhalus budi dan akhlak umat beragama, sebab inti yelim ialah rela memberi diri dan memberi yang terbaik untuk semua. 

Sebagai pimpinan Gereja Protestan Maluku, di momentum bahagia bersama semua anak Kei di Ohoidertawun inilah, saya harus menyampaikan terimakasih tulus sebab telah berkesempatan belajar dari totalitas kehidupan anak Kei, dan itu meyakinkan saya bahwa di Kei ini tidak akan ada pergesekan, apalagi konflik, jika itu hanya demi kepentingan sekelompok orang atau bahkan satu orang. Hati anak Kei terlalu tulus demi saudara dan demi keutuhan. Maka mari jaga suasana penuh persaudaraan, sebab ain ni ain – saya seutuhnya adalah saudaraku dan saudaraku adalah seutuhnya diri saya sendiri. 

Yelim menjadi bukti bahwa ada kelimpahan, bukan kekurangan. Kelimpahan itu bersumber dari pemberian yang dikumpulkan dan terus bertambah. Artinya, kelimpahan itu bukan berarti memiliki banyak harta atau sumber pangan, melainkan apa yang diberi dan dikumpulkan itu sanggup memenuhi kebutuhan dan ada sisa sebagai cadangan bagi keperluan pasca sebuah seremoni budaya. 

Bila diteologikan, Yelim menjadi bukti bahwa hal yang ajaib itu bersumber dari kesediaan dan ketulusan kita memberi apa yang kita punyai/miliki guna kepentingan bersama. Di sini, sebagai orang Kristen kita diingatkan pada kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, terutama tindakan seorang anak kecil yang memberi kepada Yesus lima roti dan dua ekor ikan miliknya. Hal ini telah saya tulis dalam buku saya, Siapa Empunya Lima Roti (Jakarta, 2017). 

Comments

Popular posts from this blog

MAKNA UNSUR-UNSUR DALAM LITURGI

Makna Teologis dan Liturgis Kolekta/Persembahan

Hukum dan Keadilan dari Tangan Raja/Negara