JANGANLAH DIKETAHUI TANGAN KIRIMU

 

APA YANG DIPERBUAT TANGAN KANANMU

(Bahan Bacaan dan Renungan)

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

(email: e.maspaitella@gmail.com)

 

 

ABSTRAK 

 

Agama-agama memiliki di dalamnya seperangkat nilai etik yang dimaterialisasi dalam bentuk kewajiban agama. Umat beragama selalu melakukan kewajiban agama itu dalam relasi sesama umat, relasi dengan umat beragama lain, dengan makhluk ciptaan lain, dan dengan TUHAN. Dalam banyak hal, melaksanakan kewajiban agama dipahami sebagai salah satu bentuk perilaku agama yang harus didasarkan pada motivasi teologi yang benar, walau dalam banyak hal terjadi bias atau penyimpangan atasnya. Motivasi setiap orang dalam melakukan kewajiban agama itu berbeda. Di situlah letak pentingnya melakukan kajian ini, guna menolong kita berefleksi tentang motivasi keagamaan yang benar.

 

Kata Kunci: kewajiban agama, sedekah, keselamatan 

 

 

PENGANTAR: Kata-Kata Asli Yesus

Ucapan-ucapan langsung atau asli Yesus dalam bentuk logia (Yun. λόγια) yang dipahami sebagai firman ilahi, merupakan bagian paling penting, selain narasi yang panjang lebar berkisah tentang Yesus. Dalam tradisi injil, logia/logion menjadi bagian penting sebab dianggap sebagai Firman Allah, dan dibedakan dari apa yang dipahami sebagai “kata-kata” (Yun. logoi - λόγοι). Sumber-sumber tua yang menjadi rujukan dari Injil dipahami memuat bukti-bukti ucapan asli Yesus, dan para penginjil merawatnya serta menjadikan hal itu sebagai nubuat yang bersumber langsung dari Yesus. 

Dalam Perjanjian Lama (PL), versi kitab Torah dan Nabi-nabi lebih berciri logia, selain narasi sejarah dan nyanyian/puisi. Ada pula kumpulan logoi yang panjang dalam kitab-kitab sejarah dan beberapa bagian dalam kitab nabi-nabi, terutama percakapan di antara para nabi dengan umat, atau kumpulan pengajaran orang tua dalam Amzal kepada anak-anak. 

Dalam Perjanjian Baru (PB), injil yang merawat beberapa bagian logia yang menurut tradisi sumber merupakan ucapan langsung Yesus, walau masih ada beberapa bantahan atas bagian tertentu dalam penelitian sejarah literer. Meski begitu, ucapan-ucapan langsung/asli Yesus itu memberi wibawa tersendiri pada tulisan injil, karena para murid mendengar dan menyimpan langsung ucapan-ucapan langsung Yesus itu dan menuangkannya dalam tulisan Injil. Bila ditelisik dari tradisi sumber maka rujukan ke naskah Q dan beberapa teks Masorah menjadi dasar dari klaim sahihnya ucapan itu sebagai ucapan asli Yesus.

Selain ucapan-ucapan langsung Yesus, maka cerita para murid tentang Yesus, termasuk kesaksian Paulus dalam surat-suratnya menjadi semacam prooftext atau sumber-sumber yang membuktikan validitas ucapan Yesus, dan oleh penulis injil serta kekristenan diyakini sebagai firman dari Kristus atau Firman Tuhan. Karena itu walaupun kita membaca surat Paulus, sebagai orang yang tidak pernah bersama-sama dengan Yesus semasa Yesus hidup, namun pemberitaannya tentang apa yang dikatakan Yesus atau apa yang dilakukan Yesus adalah prooftext, dan sebab itu kita membaca Firman Tuhan di dalam tulisan-tulisannya, dan tulisan para rasul lainnya.

 

SEDIKIT GAMBARAN KONTEKS SOSIAL MASYARAKAT PERJANJIAN BARU

Ada dua contoh sikap yang dikritik Paulus dari orang-orang yang seperti itu. 

Dalam Efesus 4:28 “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan”.

Dalam teks 2 Tesalonika 3:11-12 “Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasehati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri”.

Kritik Paulus itu menerangkan tentang situasi sosial masyarakat di zaman PB. Apakah peluang kerja di masa itu sulit seperti dewasa ini? Beberapa ahli PB menyatakan bahwa ada banyak jenis pekerjaan yang ditekuni sampai pada urusan perdagangan, penjualan kulit, pembuatan sepatu, tenda, pelana unta dan kuda, sampai pada pakan ternak. Itu semua diperdagangkan, dan peluang untuk usaha ini terbuka lebar, termasuk sebagai nelayan, pemungut cukai/pajak, pertanian/agriculture, bahkan menyediakan kebutuhan hewan persembahan untuk ibadah di Bait Allah, menyediakan kayu untuk korban bakaran, dan petugas keamanan Bait Allah, menjadi budak, bahkan masuk kemiliteran, dlsb.  Jadi tidak ada alasan untuk orang tidak bekerja. Mereka yang berasal dari tingkat Pendidikan dan ekonomi rendah pun memiliki peluang bekerja yang luas (James W. Ermatinger, 2008:77-86).

Walau demikian, sebenarnya hanya sedikit saja kalangan ekonomi atas, yaitu para elite, dan sebagian besar adalah kelompok ekonomi lemah. Perbedaan sosial yang tajam itu menentukan pertukaran barang dan jasa serta ditandai oleh krisis pelayanan sosial kepada orang-orang miskin. Orang kaya menjadi patron dan kelompok ekonomi lemah menjadi client yang sering terjebak dalam perbudakan oleh karena terbatasnya distribusi bahan pangan akibat dari monopoli bahan pangan oleh kelompok patron. Hubungan timbal balik yang menguntungkan ada yang terjadi secara positif pada kalangan terentu, tetapi ketidakseimbangan relasi justru terjadi secara meluas. Akibatnya kurva kemiskinan semakin membesar (Eric C. Steward, dalam Neufel and Demaris, 2010:157-158).

Saya meminjam penjelasan itu untuk dijadikan sebagai konteks menafsir teks Matius 6:1-4 tadi.

 

 

TAFSIR TEKS MATIUS 6:1-4

Hal Memberi Sedekah

 

61 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka,  karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. 

 

Penulis injil Matius menyoroti kewajiban agama, yang sebenarnya tergolong sebagai budaya atau etika agama Yahudi. Donald Guthrie (1984:21) membantu kita melihat kewajiban agama itu dalam pengelompokkan ajaran hukum yang baru oleh Yesus pada injil Matius. Dalam pasal 6:1-7:20 terdapat tiga ilustrasi kebenaran, tiga larangan, tiga perintah, yaitu:

Ilustrasi

Teks dan Topik

Kebenaran

Hal memberi sedekah (6:1-4)

Hal berdoa (6:5-15) 

Hal berpuasa (6:16-18)

Larangan

Hal mengumpulkan harta (6:19-24)

Hal kekuatiran (6:25-34)

Hal menghakimi (7:1-5)

Perintah

Hal yang kudus dan berharga (7:6)

Hal pengabulan doa (7:7-11)

Hal pengajaran yang sesat (7:15-23) 

 

Ada banyak orang yang menjalankan kewajiban agama untuk status sosial. Banyak orang kaya lebih suka dipuji. Dalam konteks sosial masyarakat Perjanjian Baru, ada orang yang tidak mau bekerja keras. Ada tiga kewajiban agama yang dilihat Yesus dalam teks Matius 6, yaitu hal memberi sedekah, hal berdoa dan hal berpuasa. Tiga hal ini merupakan wujud kewajiban moral dalam agama Yahudi, yang pada masa itu dikritik Yesus. Sikap beragama yang palsu menjadi inti dari kritik Yesus dalam teks ini, di mana banyak orang melakukan kewajiban-kewajiban agama itu secara munafik, untuk menonjolkan diri bahkan karena hendak menjadi yang terpandang di antara orang lain.

Dalam teks Matius 6:1-4, salah satu kewajiban agama yang disalah-berikan yaitu memberi sedekah (Yun. ἐλεημοσύνην – eleêmosunê; ing. charity). Kata itu dalam arti dasarnya ialah kebaikan atau niat baik yang tertuju kepada orang yang sengsara dan menderita, dengan tujuan untuk membantu mereka. Kata charity itu sendiri menunjuk pada kata dasarnya mercy, yang terbagi dalam tiga kategori arti:

-       Dari manusia kepada manusia, sebagai bentuk kebajikan, belas kasih, sifat penyayang

-       Allah kepada manusia, sebagai wujud dari tindakan pemeliharaan, belas kasihan dan kemurahan TUHAN yang menyediakan jaminan keselamatan kepada manusia

-       Belas kasih Kristus, yang mengarah pada hari penghakiman di mana Ia memberi berkat hidup kekal

Jadi orientasi atau motivasi dalam bersedekah itu harus lebih diletakkan pada iman tentang keselamatan sebagai anugerah TUHAN. Sebab itu dalam Matius 6 ini, sorotan Yesus lebih dilekatkan pada motivasi dalam bersedekah. Jadi sebenarnya ada banyak orang yang bersedekah, namun itu dilakukan hanya karena telah diwajibkan dalam hukum agama. Tetapi motivasi bersedekah itu bukan terletak pada nilai sukarela, melainkan untuk mendapat pujian yang berdampak pada naiknya status sosial.

Jadi para patron yaitu orang-orang kaya berlomba-lomba menjalankan kewajiban agama ini (bersedekah), tetapi untuk menaikkan pamor dan ranking sosialnya. Sikap beragama yang munafik itu cenderung ditunjukkan banyak orang saat itu. Jadi agama sebagai pembentuk nilai etik telah diselewengkan, sehingga orang menjalankan kewajiban agama tidak dengan hati yang tulus murni. Kewajiban itu adalah formalitas kosong, namun ironinya ialah mereka melakukan hal itu dengan garansi pribadi masuk surga atau selamat. Ini bentuk pemahaman transaksional tentang eskatologis – seakan-akan kewajiban agama adalah syarat untuk selamat atau masuk kerajaan surga.  

Karena itu kritik Yesus di sini menjadi penting. Yesus mengungkapkan pemahaman baru tentang kebenaran sebagai inti dari kewajiban agama. Hal bersedekah adalah sesuatu yang harus didasarkan pada kebenaran, bahwa keselamatan itu tidak terletak pada bagaimana kita memenuhi kewajiban agama melainkan terletak pada iman kepada Yesus. Istilah “kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga” menunjuk langsung pada keselamatan yang tersedia oleh pengurbanan Yesus, bukan pada bersedekah.

Jadi bersedekah itu merupakan kewajiban yang harus dijalankan setiap orang percaya kepada sesama yang lemah, miskin dan terbatas/susah, bukan untuk atau supaya menjadi selamat. Jadi motivasinya jangan untuk atau supaya menjadi selamat, karena hal itu membuat sedekah dijadikan semacam alat tukar keselamatan. Itu yang membuat mengapa banyak orang mencanangkan sedekah supaya diketahui oleh orang lain. Jadi bagi mereka bersedekah itu salah satu bentuk kesalehan pribadi, seakan-akan siapa bersedekah maka ia lebih baik dan lebih terhormat bahkan lebih selamat dibandingkan ornag yang tidak bersedekah.

Itulah mengapa Yesus menunjukkan kebenaran baru dalam bersedekah, yaitu:

63Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Tangan selalu berkoordinasi dalam melakukan aktivitas apapun. Namun dalam Mat. 6:3 – ilustrasi tangan kiri tidak boleh tahu apa yang dilakukan tangan kanan bukan berarti bahwa saat kita memberi sedekah, berilah dengan tangan kanan, lalu tangan kiri diletakkan di belakang badan. Makna sebenarnya adalah janganlah sedekah itu diberi untuk diketahui oleh orang lain. Jangan pula menceritakan hal itu berkali-kali, berhari-hari, kepada siapa saja. Sebab ini menjadi kebiasaan banyak orang yang suka mendapat pujian dari sedekah yang mereka beri. Para patron membayar clien-nya untuk berkeliling kota, di pasar-pasar atau dalam perkumpulan apa pun, guna menceritakan sedekah yang mereka beri, supaya mereka dipuji.

Tangan kiri tidak boleh tahu apa yang diperbuat tangan kanan juga menjadi catatan kritik Yesus atas kebiasaan orang Yahudi mengklaim bahwa TUHAN memperhatikan hal-hal lahiriah, karena itu mereka biasa menonjolkan diri di Bait Allah dengan keyakinan bahwa hal itu membuat TUHAN berkenan kepada mereka.

Dan karena semua itu diarahkan pada keselamatan, maka Yesus memberi catatan tegas seperti dalam Mat. 6:4 di atas – “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. Kalimat itu diulangi pula dalam Mat. 6:6b dalam hal berdoa dan 18b dalam hal mengumpulkan harta. Jadi TUHAN tidak tergugah pada hal-hal lahiriah yang dilakukan sekedar sebagai kewajiban atau untuk menjadi selamat. TUHAN lebih mementingkan motivasi atau kedalaman hati dalam melakukan semua kewajiban agama. 

Intinya, jangan melakukan kewajiban agama untuk selamat, melainkan lakukanlah kewajiban agamamu sebagai wujud iman kepada TUHAN, karena itu berarti kita melakukannya kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. (*)

 

Referensi Bacaan:

Ermatinger, James W., 2008, Daily Life in The New Testament, USA: Library of Congres Catalagoue

Guthrie, Donald, 1984, The New Testament Introduction, London: British Library Cataloguing in Publication Data

Steward, Eric C., 2010, “Social Stratification and Patronage in Ancient Mediterranean Societies”, dalam Deitmar Neufal and Richard E. Demaris, Understanding of The Social World of New Testament, London and New York: Routledge

 

Jakarta, 13-14 Juni 2022

Cordela Hotel – Jln. Kramat Raya No.104

Comments

Popular posts from this blog

MAKNA UNSUR-UNSUR DALAM LITURGI

Makna Teologis dan Liturgis Kolekta/Persembahan

Hukum dan Keadilan dari Tangan Raja/Negara