Ellexia Delima Maspaitella, Anak kami yang lahir pada Selasa, 15 April 2008 (BB 3000, PB 51), melalui proses seksio sesarea, di RSUD Dr. Haulussy Ambon.
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella Paduan Terompet Jemaat Rumahtiga di Rohua, Januari 2009 A. Perspektif Ibadah merupakan suatu aktifitas agama yang dikemas sedemikian rupa sehingga tampak kesakralannya. Kesakralan itu dikemas melalui suatu tata liturgi, sehingga umat yang beribadah masuk dalam situasi yang khusuk, beralih dari dunianya, dari aktifitas kesehariannya, dan merasakan ‘kehadiran Tuhan’ ( God Presence ) di dalam ibadah itu. Pengertian lain memahamkan ibadah sebagai aktifitas pelayanan dalam ruang sosial, melalui serangkaian perbuatan baik, atau pekerjaan baik yang mendatangkan keadilan, kebenaran, kesejahteraan kepada orang lain/sesama. Ketika digunakan dalam lingkungan ritus agama, ibadah lalu dibawa masuk ke dalam hubungan antara Tuhan dengan umat. Bentuk relasi sosial tadi diubah menjadi suatu relasi ritual yang terkadang mistis. Karena itu aspek pelayanan dimengerti sebagai pelayanan ritual. Aspek ekspresi umat sebetulnya yang menjadi hal penting dalam liturgi. Ekspresi yan...
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella [Materi Ibadah Keluarga Perangkat Pelayan Jemaat Rumahtiga, 17 September 2013] Pengantar Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji beberapa bahan Alkitab tentang persembahan/kolekta, guna memberi pemahaman yang relevan sehingga terdapat pula praktek memberi persembahan yang benar dari Jemaat. Sebab itu saya akan mengkajinya dengan melihat pada [1] pengertian dasar persembahan; [2] bentuk-bentuk persembahan; [3] motivasi memberi/membawa persembahan. Tiga aspek ini akan dikaji dari dasar-dasar Alkitab [PL dan PB], sambil merefleksikan cara memberi yang selama ini diterapkan dalam praktek ibadah dan bergereja kita. 1. Pengertian Dasar Persembahan Persembahan adalah sesuatu [ in natura ] yang diberikan kepada seseorang sebagai bentuk ketaatan pada hukum atau pemberian secara sukarela sebagai hadiah atau guna membantu meringankan beban orang lain [pemberian sukarela/sukacita]. Ketika istilah ini dijadikan bagian dari ritus agama, termasuk Kristen a...
Mazmur 34:16, 17 – Tafsir dan Rekritik Oleh. Elifas Tomix Maspaitella 1. Berawal dari paradigma ‘serba dua’ Saya memberi judul di atas untuk menelisik suatu kebiasaan membahasa dan kecenderungan psikologi agama Jemaat di Maluku. Kebiasaan itu adalah ‘umpatan’ atau ‘basumpah’ yang sering terdengar sebagai salah satu cara meluapkan kekesalan atau kemarahan kepada seseorang tertentu. Pada sisi itu, kebiasaan ini ada pada setiap masyarakat atau orang percaya di seluruh dunia. Dalam teori agama, sumpahan itu terkait dengan paham teologi mengenai kutuk atau hukuman. Dan ini menjadi demikian sering karena orang beragama berpegang pada paradigma ‘two kingdom’, yaitu ‘surga dan neraka’ sebagai kerajaan selamat vs kerajaan kutuk/hukuman. Selain itu, dialektika hidup dan mati turut menjadi konsep-konsep dasar yang membentuk kebiasaan sumpahan [basumpah]. Etika agama menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena manusia telah menstrukturkan kebenaran dan ketidakbenaran sebagai bagi...
Comments