Friday, December 5, 2008

duty-bound


Ellexia Buka Kamus Bahasa Inggris-Indonesia

Beta pernah membaca satu buah buku yang berjudul “When God Winks” – Membaca Isyarat Tuhan melalui Tanda-tanda Kebetulan. Kata si penulis buku itu, akhirnya tidak ada sesuatu yang ‘kebetulan’, sebab hal yang hari ini kita anggap kebetulan, di suatu ketika (di masa depan), baru kita sadari ternyata itu adalah isyarat awal Tuhan.

Si penulis buku itu, di bagian akhir tulisannya mengajak kita mulai mencatat akan setiap peristiwa yang dialami setiap hari. Tujuannya untuk melihat hal tadi, apakah itu kebetulan atau isyarat awal Tuhan mengenai sesuatu.

Karena anjuran itu, beta mencoba menulis di blog ini tentang aktifitas pertama anak kami, Ellexia Delima Maspaitella tepat di usia 6 bulan. Bagaimana dia memainkan jari-jarinya di tombol laptop, dan mengetik ‘tak karuan’. Kebetulan memang, ada beberapa unsur perintah manual yang mendadak muncul seperti penggunaan ‘caps lock’, spasi, dan serangkaian huruf konsonan, dibarengi beberapa vokal. Jadi hasil ketikan itu beta sengaja saja masukkan untuk menjadi ‘kenangan’ tentang sebuah ‘kebetulan’ itu.


Pada tanggal 16 November baru lalu, dia pun, secara ‘kebetulan’ membuka kamus Bahasa Inggris-Indonesia, karangan John M. Echols dan Hassan Sadily. “Kebetulan’ juga, waktu itu dia bermain bersama neneknya. Secara sengaja duduk di kursi kayu panjang, dan ada Kamus Bahasa Inggris-Indonesia tadi. Mendadak dia membuka tepat di halaman 203, dan jarinya menunjuk pada pojok kanan atas, pada kata ‘duty-bound’.

Beta memeriksanya, dan melihat kata itu tertulis begini ‘duty-bound. ks. Merasa wajib/berkewajiban’. Memang artinya demikian. Sebenarnya ini kata sifat dari turunan kata dasarnya ‘duty’ pada lajur kiri paling bawah dari halaman 203 itu.

Beta merenung, apakah ini isyarat Tuhan bahwa sebagai orang tua kami berkewajiban memelihara, mengasuh, mendidik, dan mendewasakannya? Sudah tentu. Karena begitulah juga perintah pada saat kami menikah (24 Juni 2007). Sebenarnya beta sering berkata kepada teman-teman, dan juga kakak-adik, keponakan, bahwa Ellexia akan memakai bahasa Inggris sebagai alat komunikasi sehari-hari. Dalam pengertian beta, anak kami ini harus dibentuk agar mampu mengejar hal yang sebenarnya kami kejar tetapi tidak mampu mencapainya. Dia harus lebih dari itu. Ideal, memang. Tetapi begitulah obsesi kami. Jadi apakah ini juga suatu ‘kebetulan’ yang kebetulan juga?

Isyarat lain yang mungkin tampak, mungkin Ellexia sedang mengingatkan apa yang selalu kita sebut sebagai orang tua: ‘tanggungjawab’.

Beta hanya bisa berkata begini: ‘sudah menjadi kewajiban dan panggilan kami, ade (demikian kami menyapanya) untuk memberimu kesempatan bertumbuh dan menjadi apa yang kau cita-citakan kelak’.


Doa kami: “TUHAN, ajar kami semakin mampu mewujudkan tanggungjawab kami sebagai orang tua terhadap anak kami”. Amin

3 comments:

Anonymous said...

Lexia...

Mama Itha jadi tambah kangen pengen cepet ketemu...
Liburan kali ini, mama Itha bakalan lama... jadi bisa puas main dengan Lexia...

Bu Eli,

soal duty-bound, mungkin juga jadi suatu 'kebetulan' bahwa sebagai anak (terlebih anak Tuhan), Lexia punya kewajiban membawa misi tertentu di dunia ini.... bukan hanya menjadi kebanggaan ortu tapi juga kebanggaan Bapa-nya...
sebagai adik, b turut mendoakan harapan Bu dan Kk De...

Just believe, in this world, there is no serendipity but destiny. Amen.

Jusuf Nikolas Anamofa said...

Wah-Wah... pembelajaran for katong juga niehhhh.... duty bound = lebih menunjuk pada keterikatan. Keterikatan dengan Tuhan, dengan Manusia, dengan Lingkungan (etika juga akhirnya .... ).
Kalau ikut pendekatan dalam "When God Winks", kebetulan itu tidak sama dengan kebetulan. Yakinkah kita kalau inner idea itu ada sebelum kita lahir? Ada seberkas cahaya Ilahi yang akan terus membimbing pencarian-pencarian kita.
Dan Kebetulan Ellexia itu adalah juga bentuk pengikatan diri dengan lingkungannya. Kebetulan membuka kamus, kebetulan menunjuk kata duty-bound.
Heheheeee.... kita udah terikat dalam duty kita masing-masing Papa n Mama.... (kenalkan aku dong dengan dutyku, biar secercah cahaya ini bisa menemukan jalan-jalannya).
Oom Yus Pulang natal di Ambon nieh... Mau bilang salamat Natal.... Heheheee, bilang papa, "Papa, sudah tugasnya siapkan kue dan minum untuk Oom Yus (kaya dari dolo seng pernah saja.)"
Ok, sampai ketemu Bung deng Usi (wah Pak Pdt. di Rumah Tiga, Ibu Pdt. di Rumah Tita - eeeh, mana tuh? - Natalnya gimana?)

Steve Gaspersz said...

Wah ini bole... asal jang papa/mama ajar Elexia deng bahasa inggris lalu katong datang singga di dong pung walang Elexia tar mangarti katong pung bahasa tana... nah, kalo su bagitu sapa yang "wajib" mangarti sapa? bingong ka seng... labe lai katong cuma komunikasi deng bahasa isyarat saja ama... Itu namanya "kebetulan" yang tidak betul... hahahaeee... Mantap nona Lexia!

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!