Friday, May 4, 2018

MERENDAHKAN DIRI


Filipi 2:5-11

J
ika kita belajar dari Yesus dan merenungi jalan-jalan-Nya, maka sikap merendahkan diri atau merendahkan hati merupakan bentuk perilaku kristen yang patut diwujudkan dalam membina hubungan dengan sesama. Yesus melakukan hal itu melalui tindakan pengosongan diri (kenosis), sebagai wujud dari Allah  yang menjadi manusia. Tujuannya ialah supaya Ia mengalami langsung segala sesuatu yang dialami manusia. Ia berempati untuk merasakan kesulitan-kesulitan manusia, dan bagaimana menanggung semuanya itu dalam proses penyelamatan atau penebusan dosa.
Merendahkan hati atau merendahkan diri adalah bentuk sikap orang kristen agar kita bisa memahami keadaan orang lain, sebab tujuannya ialah supaya kita bisa melayani, karena melayani adalah panggilan hidup sebagai orang Kristen.
Di sisi lainnya, merendahkan hati atau merendahkan diri itu membuat kita bisa menerima keadaan hidup orang lain secara jujur dan tulus. Apa pun sikap mereka terhadap kita, apakah mereka menerima atau tidak kehadiran kita, tetapi kita harus bisa menerima keadaan mereka. Sebab tujuan dari merendahkan hati ialah agar kita bisa mengalahkan rasa angkuh orang lain. Jika karena itu mereka sadar dan tidak hidup dalam keangkuhan, kita sudah memulihkan keadaan hidup mereka.
Yesus, seperti dilukiskan dalam teks ini, rela melepaskan ke-Allah-an-Nya semata-mata untuk memahami keadaan manusia dan mengajak manusia mengakui dosa-dosanya dan melalui itu Ia melakukan tindakan penebusan dosa dengan jalan rela disalibkan.
Sebab itu dalam merendahkan diri/hati, orang kristen dituntun untuk rela berkorban, sebab sikap rela berkorban itu adalah ciri orang Kristen yang tidak mencari untung bagi diri sendiri, ciri orang kristen yang mengasihi dengan tanpa pamrih, ciri orang kristen yang percaya bahwa TUHAN sudah melakukan segala hal yang lebih dari apa yang bisa kita lakukan.
Sikap itu kini diperlukan dalam hidup orang kristen. Dalam relasi rumah tangga kristen, sikap ini pun sangat penting. Bagaimana hal itu bisa dilakukan? Beberapa langkah terapan yang bisa kita maknai dari teks ini antara lain:
Pertama, memahami dan mengenal di antara anggota keluarga satu sama lainnya. Suami harus memahami dan mengenal siapa istrinya dan sebaliknya pula. Begitu pula orang tua dan anak-anak harus saling memahami dan mengenal. Termasuk mengenal karakter masing-masing. Kadang kita tinggal serumah tetapi tidak mampu saling terbuka satu sama lain. Jika kita tidak bisa saling terbuka, justru itulah penyebab kita tidak saling memahami dan mengenal. Sebab itu setiap anggota keluarga harus membiasakan diri untuk berjumpa, berkumpul, beribadah atau makan bersama-sama. Sebab dengan demikian kualitas hubungan di dalam keluarga akan terus meningkat.
Kedua, mengakui kelemahan dan keterbatasan satu sama lain, supaya kita bisa saling mengisi dan melengkapi. Di sini kita belajar untuk tidak sombong, orang tua pun belajar untuk tidak arogan. Bahkan menutupi kesalahan dengan bersikap kasar dan keras. Cukuplah kita tingkatkan komunikasi yang saling menasehati, menegur, membimbing, dan mengingatkan satu sama lain. Dengan demikian kita belajar untuk tidak menjadi sombong dan arogan.
Ketiga, penting mewujudkan sikap rela berkorban. Suami harus bisa membela kehormatan isterinya dan sebaliknya. Orang tua pun harus bisa membentuk kehormatan anak-anak dan sebaliknya. Rela berkorban bisa dilakukan atas dasar kasih yang tulus murni. Ini tidak berarti kita membela anak atau suami/isteri atas kesalahan yang mereka lakukan. Sebaliknya kita membela mereka agar harkat mereka tetap dihormati. Yesus melakukan itu dengan jalan disalibkan, supaya harkat manusia sebagai milik Allah tetap terjaga dan dipulihkan. Untuk itu dalam hal rela berkorban tujuan kita sebenarnya adalah memulihkan hidup anggota keluarga kita.
Keempat, bersyukur kepada TUHAN sebab Ia sudah memulihkan hidup kita secara utuh. Ia telah menebus segala salah dan dosa kita dengan jalan menjadi manusia. Di dalam keadaanNya sebagai manusia itulah, tindakan pengosongan dirinya terwujud dari kasih Allah yang sejati. Amin!

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!