Friday, January 25, 2008

LOGIKA INDUKTIF

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

1. PENDAHULUAN
ARISTOTELES membagi kerja dasar intelektual ke dalam [1] memahami obyek, [2] membentuk dan memilah, [3] menalar dari sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang tidak diketahui.[1] Anasir itu membentuk suatu disiplin yang ditempuh oleh Aristoteles yang kemudian disebut “Logika”, yang oleh Aristoteles bertujuan untuk membuat dan menguji inferensi [kesimpulan keilmuan].[2]

Sebagai Bapak Logika, disiplin yang dikembangkannya kurang disukai di zaman kuno. Menurut Watloly, Aristoteles lebih memahami ilmu sebagai pengetahuan demonstratif, tentang sebab-sebab utama segala hal [causa prima]. Ilmu seperti itu bersifat teoretis [ilmu tertinggi], praktis [ilmu terapan], dan produktif [ilmu yang bermanfaat]. Di samping ilmu-ilmu seperti biologi, psikologi, dan politik, Aristoteles juga mengembangkan ilmu penalaran [logika] atau analitik, yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pada premis yang benar, dan dialektika, yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pikir pada hal-hal yang bersifat tidak pasti [hipotesis].[3]
Walau demikian, di zamannya, ilmu logika itu kurang berkembang. Di masa kemudian baru ilmu logika itu berkembang dengan pesat di bawah asuhan Roger Bacon, Francis Bacon [1561-1626 – Renaisans], David Hume [1711-1776 – Empirisme], dll.

David Hume, misalnya, mengembangkan filsafat dengan sebuah metode ilmiah yang rigorus dan berani mengambil sikap skeptis. Dengan skeptisisme sebenarnya Hume ingin melawan ajaran-ajaran rasionalitas tentang ide-ide bawaan serta anggapannya bahwa jagad terdiri dari sebuah keseluruhan yang saling bertautan. Dari situ Hume mengembangkan skeptisisme terhadap agama dengan mengkritik deisme yang berkembang di zaman Pencerahan di mana posisi gereja sangat dominan dan otoritatif terhadap ilmu pengetahuan.[4]

Hume sebenarnya mengembangkan kerangka logika yang telah dikembangkan jauh oleh Aristoteles, tetapi semakin melengkapinya dengan metode keilmuan melalui skeptisisme itu sendiri.

2. Apa itu Logika
Secara defenitif, logika dapat dipahami sebagai studi tentang metode-metode dan prinsip-prinsip yang dipergunakan untuk membedakan penalaran yang lurus dari penalaran yang tidak lurus. Arti lain dari logika itu adalah pengetahuan dan keterampilan untuk berpikir lurus. Jadi logika itu berhubungan dengan kegiatan berpikir, namun bukan sekedar berpikir sebagaimana merupakan kodrat rasional manusia sendiri, melainkan berpikir lurus.[5]

Dari defenisi itu jelas bahwa logika itu terkait dengan “jalan berpikir” [metode], dan memuat sejumlah pengetahuan yang sistematis dan berdasarkan pada hukum keilmuan sehingga orang dapat berpikir dengan tepat, teratur dan lurus. Artinya, ber-logika berarti belajar menjadi trampil. Karena itu kegiatan berlogika adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk melatih skill berpikir seseorang.

Ini sangat terkait dengan cara kita menghadapi sejumlah premis keilmuan, data, bukti [eviden], atau dasar pemikiran tertentu [rasion] untuk menarik kesimpulan yang lurus, yaitu kesimpulan yang dihasilkan melalui berpikir yang teratur dan lurus.

Sumaryono melanjutkan bahwa karena itu unsur-unsur di dalam logika adalah term, proposisi, dan penarikan kesimpulan. Term adalah gagasan atas sejumlah gagasan, terdiri dari term subyek [S], term predikat [P] dan term antara [M]. Sedangkan proposisi atau putusan, keputusan, judgement, pernyataan, kalimat logika, ialah kegiatan atau perbuatan manusia di mana ia mengiakan atau mengingkari sesuatu tentang sesuatu. Dan penarikan kesimpulan itu terdiri atas, kesimpulan Deduksi, yakni penarikan kesimpulan bertolak dari hal yang bersifat umum/universal kepada hal-hal yang bersifat khusus/konkret [singular/partikular]; dan kesimpulan Induksi, yaitu penarikan kesimpulan yang bertolak dari hal-hal yang khusus/konkret [singular/partikular] kepada pengertian yang bersifat umum/universal.[6]
Studi logika kemudian lebih berkembang dalam kerangka ilmu matematika. Apa yang kita kenal sebagai logika matematika induktif kategorik kemudian berkembang menjadi logika matematik probabilistik. Orang-orang seperti de Morgan dan Boole, telah merintis jalan baru dalam mempelajari logika dengan mengembangkan logika matematik ini. Apa yang kemudian dikenal dengan kalkulus universal seperti dikembangkan Leibniz, adalah contoh perkembangan kemudian dari logika matematik, dengan jalan membangun logika induktif itu sendiri.
Artinya ilmu logika telah berkembang sejak filsafat deterministik sampai ke positivisme. Karena itu kita tidak bisa menafikkan kontribusi positif logika matematik induktif probabilistik di dalam metode kuantitatif [deterministik] dan kualitatif [positivistik]. Kedua metode ini merupakan metode keilmuan yang bergerak di dalam tataran logika itu sendiri.

3. Perlunya Logika Induktif
Banyak kalangan yang berkata bahwa berkembangnya logika induktif karena logika deduktif sudah tidak memadai lagi untuk menemukan premis yang memadai. Walau sebenarnya ada kelemahan terdasar dari logika induktif itu sendiri, yaitu sering terjadi lompatan dari “sebagian” [singular/partikular] menjadi “semua” [universal].

Namun demikian berkembangnya logika induktif telah membangun suatu in deepth study atau studi mendalam terhadap seluruh fenomena sosial dan keilmuan, bahkan terhadap teks. Logika induktif membimbing pada suatu pengalaman partisipatif, di mana seseorang harus menjadi inner dari suatu kejadian atau peristiwa keilmuan dan sosial, dan bukan the outer yang berdiri di luar realitas sambil menarik kesimpulan tentang realitas itu.

Di sisi lain, logika induktif menurut Salmon akan memuat suatu fakta kebenaran dan didukung oleh kesimpulan yang benar serta terukur. Artinya, premis-premis dalam logika induktif itu terukur [measureable], karena memuat indikator dan variabel empiris yang nyata. Dikatakan juga bahwa argumen induktif itu sendiri dapat memperluas pengetahuan faktual kita.[7] Itu berarti bahwa logika induktif menopang keberadaan aktual manusia sebagai homo sapiens.

4. Kesimpulan Logika Induktif
Bertolak dari hal yang khusus menunju hal yang umum adalah corak kesimpulan dalam logika induktif. Walau demikian generalisasi dalam logika induktif selalu berdasar pada empirik dan disertai dengan penjelasan.

Contoh:
Kasus : banyak angsa berbulu putih
Kesimpulan : semua angsa berbulu putih

Kesimpulan ini bertolak dari sebuah empirik yang ditemui di suatu waktu dan pada tempat tertentu. Di suatu waktu dan di tempat lain akan ditemui fakta yang berbeda, misalnya di Australia ternyata ada angsa yang berbulu hitam. Artinya kesimpulan generalisasi berdasarkan logika induktif di atas bisa berdampak pada “keliru pikir”. Dengan demikian ketika ditemukan datum atau empirik yang baru, maka kesimpulan logika induktif tadi harus berubah, dengan disertai penjelasan [calarification].

Contoh:
Kasus : banyak angsa berbulu putih
Kesimpulan : semua angsa berbulu putih
Kedapatan : di Australia ada angsa yang berbulu hitam

Contoh di atas adalah bentuk penyimpulan baru ketika “kedapatan” [ada fakta lain] yang menunjukkan adanya premis yang baru atau berbeda dari anasir pertama tadi. Contoh lain bisa dikemukakan, misalnya:

Kasus : Taxi dari bandara ber-AC memasang tanda “full AC”
Kesimpulan : semua Taxi bermerek “full AC” adalah Taxi dari Bandara
Kedapatan : si Tomi mempunyai mobil Kijang yang memasang merek “full AC”

Artinya, ternyata semua mobil yang memasang merek “full AC” tidak selamanya adalah Taxi dari Bandara, atau tidak selamanya adalah kenderaan berjenis Taxi. Mobil dengan merek lain pun dapat memasang tanda merek “full AC”. Artinya kesimpulan induktif harus pula melihat ketegorisasi suatu obyek material. Ini harus menjadi bagian dari kawasan berpikir keilmuan, di mana setiap obyek harus dimasukkan dalam kategorisasi masing-masing [semantik].
Hal itu pun memperlihatkan resiko keliru yang cukup besar, jika kesimpulan kita adalah suatu lompatan yang tergesa-gesa ke dalam generalisasi tadi. Kesimpulan logika induktif harus melihat fakta empirik secara meluas, dan karena itu logika induktif selalu ditopang oleh berbagai riset, sebagai cara menghimpun datum.

Mengikuti Hume, P.V. Glob, Jay Matthews, dan Marian C. Diamon, seperti diulas Salmon, kita dapati ada lima model argumen yang menjurus kepada kesimpulan induktif.[8]

[a] Argumen yang kita gunakan untuk menyimpulkan sesuatu tentang masa depan berbasis pada apa yang terjadi di masa lampau. Tentang ini, Hume mengatakan bahwa kesimpulan kita tentang batu sebagai benda keras, api dapat mengakibatkan kebakaran, bumi terdiri dari unsur-unsur yang solid, adalah kesimpulan yang terjadi setelah dilakukan observasi ribuan tahun dan ribuan kali, dan sekarang kita menerima semuanya seperti itu, tanpa melihat pada kemungkinan lain, seperti ada batu yang lembek karena tekstur pasirnya lebih banyak.

[b] Argumen yang digunakan untuk menyimpulkan sesuatu tentang masa lampai berdasar pada kejadian-kejadian masa kini. Kesimpulan ini kebanyakan digunakan oleh ilmuan sejarah, geologist, dan arkheolog. Ada temuan di masa kini yang membuat fakta-fakta di masa lampau semakin terkonstruksi dengan baik. Misalnya teori Darwin tentang gerak evolusi manusia dari makhluk kera.

[c] Argumen yang digeneralisasi berdsarkan pada sampel suatu observasi atau eksperimentasi [uji coba]. Ini adalah sebuah argumentasi induktif yang banyak digunakan untuk membentuk opini publik tentang suatu hal. Corak argumentasi ini cukup mendalam, karena sampel yang digunakan adalah sesuatu yang ditarik secara purposive. Dalam hal penggunaan sampel acak, kesimpulan induktif ini kadang terjebak dalam reduksi fakta dan generalisasi yang beresiko pada “keliru pikir”.

[d] Argumen yang disimpulkan tentang suatu kejadian khusus dari basis apa yang biasanya terjadi, atau terjadi berulang kali, tetapi tidak selalu [not always]. Sistem logika ini banyak dikembangkan oleh para ilmuan budaya, khusus dalam melihat gerak perubahan suatu kebiasaan, atau folkways, yaitu bentuk perilaku tertentu yang terjadi secara teratur dan berulang-ulang, dan dalam perkembangannya kebiasaan itu berubah menjadi kelakuan atau adat [mores]. Mores itu adalah bentuk perilaku yang baik, atau folkways yang berkeadaban. Dalam sistem keilmuan, perkembangan itu menentukan hakekat eksistensialisme manusia. Filsafat eksistensialisme – seperti Hume, bertumpu pada corak logika dan kesimpulan ini.

[e] Argumen yang disimpulkan tentang hal khusus dari sejumlah kesamaan dari basis kesamaan lain yang memperlihatkan adanya hubungan antara dua hal atau lebih. Di sini yang perlu adalah keputusan, atau judgement, dengan melihat pada potensi kesamaan dan keterhbungan [variabel dependent dan independent]. Banyak bentuk paralelisme dalam filsafat bahasa menggunakan kerangka logika dan kesimpulan ini, seperti yang kemudian dikembangkan Witgenstein dan Gadamer.

Kelima bentuk argumentasi itu memperlihatkan bahwa logika induktif akan melahirkan konstitusi, yaitu suatu pernyataan keilmuan mengenai apa yang dikandung dalam satu premis [sebagai suatu kesimpulan]. Bentuk konstitusi itu kemudian dapat menjadi suatu teori dasar, yang disusun dengan melihat pula urutan, kausalitas, dan analogi.
Karena itu, logika induktif selalu mengandung syarat-syarat perlu [necesity] dan cukup. Dalam arti itu, pewadahan suatu kesimpulan keilmuan akan selalu tergantung pada kategori dan manfaat [filsafat manfaat] dari suatu obyek ilmu itu. Dari situ, logika induktif akan menjurus pada apa yang kita dapat lihat dalam hidup sehari-hari yaitu kecocokan antara satu unsur dengan unsur lain. Misalnya, minum Sopi + Bir, berdampak pada kemabukan. Di dalam faktanya, orang yang mengkonsumsi sopi + Bir, selalu mabuk. Artinya ada kecocokan antara unsur minum sopi + bir dengan keadaan mabuk.
Itu yang disebut masuk akal secara induktif.


5. Kesimpulan
Logika induktif adalah sebuah gerakan penalaran yang bertolak dari kelemahan deduksi. Walau demikian logika induktif yang tidak disertai penjelasan dapat terjebak dalam keliru. Oleh sebab itu logika induktif harus didasarkan pada pola-pola argumentasi yang mengacu dari sejauhmana datum ditemukan dalam varian dan pada lokasi yang lebih luas.

Kepustakaan:
Hardiman, F. Budi, Filsafat modern Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004
Muhadjir, Noeng, Filsafat Ilmu: Positivisme, PostPositivisme dan PostModernisme, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1999
Palmer, Richard E., Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, terj. Mansyur Hery & Damanhuri Muhammed, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cetakan I, Novemver 2003
Salmon, Merrielee H., Introduction to Logic and Critical Thinking, second edition, San Diego, New York: Harcourt Brace Jovanovich, Publishers, 1989
Sumaryono, E., Dasar-dasar Logika, Yogyakarta: Kanisius, 1999
Watoloy, A., Buku Ajar Filsafat Ilmu, Program Pascasarjana (S2) Sosiologi Universitas Pattimura, Ambon 2007

[1] Baca. Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, terj. Mansyur Hery & Damanhuri Muhammed, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cetakan I, Novemver 2003, hlm. 25
[2] Baca Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu: Positivisme, PostPositivisme dan PostModernisme, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1999, hlm. 23
[3] A. Watoloy, Buku Ajar Filsafat Ilmu, Program Pascasarjana (S2) Sosiologi Universitas Pattimura, Ambon 2007, hlm. 62
[4] Baca. F. Budi Hardiman, Filsafat modern Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004, hlm. 87-94
[5] E. Sumaryono, Dasar-dasar Logika, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 71
[6] Ibid., hlm. 73
[7] Merrielee H. Salmon, Introduction to Logic and Critical Thinking, second edition, San Diego, New York: Harcourt Brace Jovanovich, Publishers, 1989, hlm. 48
[8] Salmon, ibid., hlm. 49-51

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!