Posts

MTQ DALAM PERSPEKTIF SIWALIMA

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella  DIALEKTIKA DAN DIALOGIS SEBAGAI FRAME BUDAYA Saya mengutip sebuah cerita yang menurut saya ada dalam tradisi Islam dan Kristen (juga Yahudi), yakni cerita Menara Babel, sebagai sebuah "desain penyeragaman" yang ternyata dikritik oleh Tuhan, sebab dinilai Telah mengebiri hakekat ciptaan Tuhan yang beragam. Dalam versi cerita itu, betapa manusia, melalui kemampuan akali dan invensinya bermaksud membuat sebuah menara, sekligus benteng untuk tetap melestarikan "keseragaman" hidup mereka. Tindakan Tuhan menghancurkan menara Babel memperlihatkan bahwa usaha manusia/masyarakat untuk menyangkali hakekat kemakhlukannya yang majemuk itu tidak bersesuaian dengan "order of creation" dari Tuhan. Menariknya ialah, Tuhan, oleh cerita itu, mengacaukan bahasa di antara manusis, sehingga mereka hidup, tetapi tidak saling memahami satu sama lainnya. Tindakan Tuhan itu bertujuan untuk melestarikan kemajemukan yang telah diciptakan-Nya it...

OPLASTALA

Rekonesepsi Tuhan dalam Budaya Buru Oleh. Elifas Tomix Maspaitella Pengantar Dalam bukunya ‘Masa Depan Tuhan; Sanggahan Terhadap Fundamentalisme dan Ateisme’, Karen Amstrong menulis begini: Orang-orang yang beriman tahu bahwa secara teoretis Allah sama sekali di luar jangkauan, transenden, tetapi kadang-kadang mereka berasumsi bahwa mereka tahu persis siapa ‘dia’ dan apa yang dia pikirkan, cintai, dan harapkan. Kita cenderung menjinakkan dan memiara ‘keberadaan’ Tuhan. Kita tak henti-hentinya meminta Tuhan untuk memberkati bangsa kita, menyelamatkan ratu kita, menyembuhkan penyakit kita, atau memberi kita hari yang cerah untuk berpiknik. Kita mengingatkan Tuhan bahwa dia telah menciptakan dunia dan bahwa kita adalah pendosa yang sengsara, seolah-olah hal ini barangkali telah tergelincir dari pikirannya. Para politikus mengutip Tuhan untuk membenarkan kebijakan mereka; para guru memperalatnya untuk menjaga ketertiban di dalam kelas, dan para teroris melakukan kekejaman atas namanya. Kit...

KELEYE

Konsepsi Tentang ‘Gereja’ dalam Masyarakat Wemale di Honitetu Oleh. Elifas Tomix Maspaitella Pengantar Beta pernah menulis ‘kareda’ [bahasa Yamdena], sebuah konsepsi tentang gereja dalam masyarakat Tanimbar Selatan. Dari situ terdapat ruang perlacakan yang cukup luas dan dimulai dari tradisi membahasa masyarakat. Beta yakin bahwa bahasa tanah [ ordinary language, native speech ] di Maluku juga memiliki kosa kata yang menunjuk pada suatu persekutuan khusus dalam fungsi-fungsi ritus di masa lampau. Secara teoretik kecurigaan itu terbangun karena istilah ‘gereja’ yang digunakan dalam bahasa Indonesia ternyata merupakan serapan dari istilah ‘igreja’ dalam bahasa Portugis. Maka ketika mendengar istilah ‘kareda’, kecurigaan tadi mendorong dilakukannya pelacakan ke dalam struktur bahasa tanah dari beberapa sub-etnik di Maluku. Minggu, 26 Februari 2012, ketika berkesempatan memimpin Ibadah Minggu Sengsara II di Jemaat Ursana, salah satu dusun dari negeri adat Honitetu, beta mendapati kesan yan...

Konflik Pelauw

Simbol Identitas Kita Musnah Terbakar Oleh. Elifas Tomix Maspaitella Pengantar Dalam buku Encyclopedia of Philosophy (edited by. Donald M. Borchert, 2nd edition, 2006) Vol. 4, dijelaskan bahwa identitas menunjuk pada relasi antara obyek [identity is relation between objects]. Dari segi itu, identitas itu merunut kepada semacam kerangka logis yang berkisar pada unsur-unsur secara general (umum), suatu obyek khusus dan keduanya itu mengandung suatu nilai intrinsik. Menurut hukum Leibniz [Leibniz’s Law] identitas itu terdiri atas: [a] identitas reflektif, yakni jika setiap obyek itu identik pada dirinya sendiri; [b] identitas yang bersifat simetrik, yakni ketika sebuah obyek x itu identik dengan satu obyek yang lain atau y; [c] identitas yang bersifat transitif, yakni ketika obyek x identik dengan obyek y dan obyek y identik dengan obyek z. Tiap hubungan di dalam ketiga jenis identitas itu disebut hubungan ekuivalen. [d] dan ada pula identitas yang memiliki hubungan ekuivalen lebih kuat, ...

TANGGA MONYET

Image
Diskriminasi Pembangunan Kawasan Kepulauan [Sisi Lain Berlayar ke Maluku Barat Daya] Oleh. Elifas Tomix Maspaitella ‘Katong nai kapal deng kambing-kambing’ merupakan salah satu ungkapan keresahan dan protes sosial masyarakat Maluku Tenggara terhadap pelayanan pelayaran yang dinilai mereka tidak manusiawi. Kapal penumpang terpaksa digunakan pula untuk mengangkut ternak. Karena tidak ada ruang khusus untuk ternak, maka penumpang dan ternak harus berbagi tempat dalam palka atau dek-dek kapal. Kehadiran armada kapal PELNI seperti KM Pangrango, KM Tatamailau dan sejenisnya sudah cukup membantu memperlancar akses perhubungan masyarakat Maluku Tenggara ke dan dari Ambon, namun belum menuntaskan hal-hal mendasar dari sisi pembangunan kawasan kepulauan. Pelabuhan-pelabuhan kapal belum selesai dibangun sehingga di beberapa tempat seperti Tepa dan Leti, embarkasi berlangsung di tengah lautan. Cuaca ekstrim menjadi salah satu alasannya. Jadi embarkasi dilakukan dengan bantuan speedboat, kapal kayu...

HARI KAJADIANG

Basudara Tuang Hati Jantong! Pagi ini ujang taru bagus lai ale. Mar Acim nih ada hati balisah tagal ciong bobou orang bakar kukis. Acim pung dalang hati, tar salah lai, ini bluder sageru nih jua. Acim kaluar dari dapor, langsung skrek, asap kaluar dari Sibu pung dinding gaba-gaba di dapor. Ini akang bobou nih pasti dari sana sudah. Tar salah lai. Acim : Ola ee……tadi malang laki pukul sampe pagi kapa??? [Parsis dengar bagitu, Sander, Ola pung ade laki-laki yang tinggal di sablah Sibu rumah langsung lari kaluar rembeng gaba-gaba. Acim lia Sander lari langsung Acim angka kaki kaeng la lari lai iko Sander di Sibu pung pintu dapor] Sander : Usi ee….usi eee….buka pintu nih la. [Pas Ola buka pintu] Sander : Sibu pukul se????? [Ola tabingung-bingung, mar Ola balong bilang sa kata lai, Acim su torana Sander pung pohong tangang] Acim : Ose nih Alexander toh…..ana su tar tau mau bilang apa lai par ose. Sander : Tadi abang bataria dia laki pukul dia sampe pagi toh???? Acim : Tagal itu o...

KALWEDO! MINONG SOPI

Image
Antara Semantik Bahasa dan Simbol Budaya Masyarakat Maluku Barat Daya Oleh. Elifas Tomix Maspaitella KESAN AWAL Harian Ambon Ekspres, Edisi Selasa, 6 Desember 2011, pada halaman 11, memuat analisis Prof. Watloly perihal ungkapan ‘kalwedo’ sebagai sebuah simbol budaya masyarakat Maluku Barat Daya. Watloly tiba pada sebuah kesimpulan bahwa perlu pemahaman sejarah (heurestik) terhadap ungkapan kalwedo itu. Itu disebabkan karena jejak kebahasaan dari kata itu sendiri sudah hampir sulit dideteksi mengingat belum banyak pakar yang menyusun sejarah kebahasaan kelompok sub-etnik di Maluku, sampai pada sistem gramatikal dan vonemiknya. Beberapa usaha yang ditempuh belakangan ini oleh mereka yang menekuni ilmu kebahasaan mungkin juga kehilangan sistem aksara atau alphabetik asli, sebab pola transliterasi dilakukan mengikuti alphabet Arab dan penulisannya disusun mengikuti struktur bunyi dalam bahasa melayu (melayu Ambon). Beberapa diskusi di group ‘Journal Babar’ (jB – mengikuti gaya pengetikan ...