Posts

APA ITU ALKITAB?

Image
Kajian Sosiologis Terhadap Dinamika Penulisan dan Pemahaman Mengenai Alkitab oleh. Elifas Tomix Maspaitella 00. Debat Tak Berakhir I keep you dangling between belief and disbelief by turns, and I don’t mind admitting that I have a reason for it. It’s the new method, sir. For when you lose your faith in me completely, you will at once begin assuring me to my face that I’m not a dream, but do really exist (V. Ivanov, Freedom and the Tragic Life, Nonday Press, 1957, p.759) Mempersoalkan Alkitab, apa masih perlu. Paling tidak pertanyaan mengenai signifikansinya sudah barang tentu membuat diskursus mengenai Alkitab akan mengalami pebenturan pemahaman dan penghayatan iman. Benturan pemahaman merupakan sebuah gejala akademis (epistemologis) mengenai dasar-dasar keilmuan dari Alkitab itu sendiri. Ini dapat saja terjadi karena warisan pemahaman teologi yang berbeda-beda. Teologi biblika akan menghadapkan kita pada varian pemahaman mengenai Alkitab itu sendiri. Sebagai contoh formulasi masalahny...

APA ITU TEOLOGI:

Image
Pendasaran Epistemologis dan Metodologis Oleh. Elifas Maspaitella A. Asumsi Awal Memahami teologi tidak mesti dimulai dari sebuah definisi yang baku atau standar mengenai “apa teologi” itu? Atau teologi ialah...? Apalagi kalau definisi teologi itu kemudian diuraikan secara etimologis. Orang akan dengan sederhananya mengatakan, teologi terdiri dari kata berbahasa Yunani, yaitu theos, yang artinya Tuhan, dan logos , yang artinya perkataan, ucapan, firman, pengetahuan, dll. Dengan demikian teologi berarti pengetahuan tentang Tuhan. Hal itu tidak salah, tetapi terlampau menyederhanakan teologi sebagai sebuah ilmu. Penyederhanaan itu telah menyebabkan kesalahan laten, di mana teologi diperangkapkan dalam suatu lingkungan abstrak dan transenden. Kiblatnya diarahkan ke realitas Tuhan yang transenden, bukan meresponi Tuhan yang historis dan imanen. Bahkan seluruh aktifitas manusia pun akhirnya mengarah ke transendensi itu. Keberakaran teologi dalam konteks kehidupan manusia semakin menjadi l...
SUSUNAN BADAN PEKERJA SINODE/BPH SINODE GPM SEJAK 1935 – 2010 1935-1938 Ketua      : Pdt. J.E. Staap Wkl Ket. : Pdt. W.H. Tutuarima Sek.         : Pdt. P. Souhuwat Bend.       : Pdt. Jack van Vesson 1938-1940 Ketua      : Pdt. C. Hamel Wkl Ket. : Pdt. W.H. Tutuarima Sek.         : Pdt. P. Souhuwat Bend.      : Pdt. H.J. Visser 1940-1942 Ketua      : Pdt. W. van Oust Wkl Ket. : Pdt. P. Poot Sek.         : Pdt. P. Souhuwat Bend.       : Pdt. H.J. Visser 1942-1943 (Zaman Pendudukan Jepang) Ketua      : Pdt. F. Siwabessy (Pj) Sek.         : Pdt. P. Souhuwat Zaman Pendudukan Jepang 1943-1946 Ketua      : Pdt. S. Marantika Wkl Ket. : Pdt. J. Sapulete Sek.         : Pdt. P. Souhuwat Bend.       : Pdt. W.D.F. Amanupunyo 1946 (Transisi di Zaman Kemerdekaan RI) Ketua      : Pdt. J. Kalk Wkl Ket. : Pdt. S. Marantika Sek.         : Pdt. P. Souhuwat Bend.       : Pdt. W.D. Dickkarhoff 1946-1947 Ke...

Renungan Harian: Mazmur 107:33-38

Teologi Kitab Ulangan (Karya Sasatra Deuteronomium) dalam formulasi “berkat dan kutuk” menjadi inspirasi dalam kemasan syair, lagu, puisi, seloka, soneta, dan bahkan prosa di dalam kitab-kitab Sastra Hikmat, atau juga himpunan Tulisan-tulisan ( khethubhim ), termasuk Mazmur. Di dalam kaitan itu, paham retribusi (balas jasa seimbang), tetap menjadi model pengemasan puisi, prosa dan syair Mazmur. Orang fasik cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang mencelakakan orang lain, dan karena itu selalu ditimpakan penghukuman. Orang benar cenderung melakukan perbuatan-perbuatan keadilan, dan bahkan sabar menghadapi fitnahan orang fasik, dan karena itu mendapat berkat. Ini menjadi isyarat pokok dalam memahami teks-teks Mazmur, dan tulisan-tulisan hikmat lainnya. Dalam gaya paralelismenya, dilukiskan di dalam Mazmur 107:33-34, bagaimana bentuk tindakan Tuhan dalam memberikan penghukuman kepada orang fasik. “sungai-sungai menjadi kering…pancaran air menjadi tanah gersang”. Kawasan-kawasan potens...

Kasih Setia TUHAN

Mazmur 147:12-20 (Tematis) Teks ini bertujuan untuk (1) memahami bentuk-bentuk perbuatan/pemberian Tuhan sang Penolong; dan (2) memahami tanggungjawab kita. Memahami ‘kasih setia Tuhan’, mengajak kita untuk melihat bagaimana pemazmur mengkonkritkannya. Dalam Mazmur 147, ada beberapa bentuk kasih setia Tuhan, yakni: - IA melakukan keadilan: dimensi hukum (ay.13a) - memberkati manusia dan keturunannya: dimensi pro-kreasi/reproduksi – jaminan kelangsungan generasi manusia (ay.13b) - memberikan kesejahteraan: mencukupkan semua kebutuhan manusia, termasuk akan bahan makanan (berkat di tempat kerja, dalam analogi kebun gandum, dan juga berkat makanan) (ay.14) - memberikan bimbingan: dalam arti menegaskan berulang-ulang firmanNya – termasuk melalui perantaraan nabi (aspek nubuat dan pengharapan eskatologis) (ay.15,18b,19) - memberikan kenyamanan di tengah lingkungan: termasuk di dalamnya iklim dan cuaca yang baik, dan lingkungan hidup yang lestari – termasuk bebas dari polusi (bnd. ...

Takut TUHAN, Bukan ‘panako’

Ulangan 10:12-22 (Fokus ay.8) Hal ‘takut Tuhan’ kembali menjadi isyarat penting dalam pembaruan hidup umat pada segala segi. Hal ‘takut’ di sini bukanlah semacam perasaan akibat adanya ‘teror’, tetapi suatu sikap tunduk, menyembah, dan bertelut di hadapan kemahakuasaan Tuhan yang menghidupkan. Konsekuensi dari hal ‘takut Tuhan’ itu adalah keputusan-keputusan etis, a.l: - hidup menurut segala jalan yang ditunjukkanNya; dalam arti konsisten untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, tidak bertindak menurut kehendak dan maunya kita yang kadang lebih didominasi oleh keangkuhan dan cari hormat diri sendiri. - mengasihi Dia; dalam arti berpegang pada janji yang telah diikat dengan Tuhan. Matius 25:35-40 malah mengimplementasinya dalam kepedulian kepada orang-orang yang menderita, sebagai wujud melayani Tuhan. - beribadah kepadaNya, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu; dalam arti memberi kepada Tuhan totalitas hidup. Ibadah di sini tidak hanya dalam arti ritual, tetapi ju...

Beta dan Kasih Tuhan [yang bombong]

Mazmur 106:44-48 (Fokus ay.44) Teks kali ini mengantar kita untuk berusaha memahami bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan di dalam seluruh pengalaman hidup, termasuk pengalaman krisis. Atau sebenarnya, mengapa Tuhan berpihak kepada [keselamatan] manusia (bnd. Mzm.103:1-22). Teks Mazmur 106:44-48 adalah bagian terakhir dari Jilid IV Mazmur (90-106) yang berkisar di seputar hal: (1) perlindungan Allah terhadap umat; (2) sikap umat terhadap Tuhan; (4) kemahakuasaan Tuhan; dan (4) kebaikan hati Tuhan – dimensi kasih setia (ibr. hesed). (a) ‘Kasih setia Tuhan’: kasih yang bombong. Ay.44-48, Ibarat kata, kasih setia itu adalah pemberian Tuhan yang melebihi standar umum yang ada. Ibarat ukuran cupak beras, kasih setia Tuhan itu ‘bombong’, melebihi standar umum. Konsepsi ‘bombong’ tadi tampak dalam gambaran personifikasi Tuhan oleh pemazmur, bahwa ‘Ia menilik, dalam arti memeriksa sampai hal sekecil-kecilnya, kesusahan mereka. Ini adalah suatu aktifitas yang hanya bisa terjadi jika ada ‘bel...