TIMURNESIA:
BIARKAN KAMI MENYANYI DAN MENARI DENGAN LAGU KAMI
Oleh. Pdt. Elifas Tomix Maspaitella
00 – INTERLUDE
Kami menyanyi bukan untuk “jual suara”
Sebab nyanyian bagi kami itu denyut jantung yang memompa kehidupan
Nyanyian adalah kehidupan, tarian adalah gerakan naik turunnya
Kalimat itu mungkin terlalu berlebihan, tetapi narasi kehidupan orang Indonesia Timur sepertinya bukan baris-baris aksara seumpama sebuah novel atau cerpen. Kami tidak pandai merangkai cerita episode ke episode, apalagi cerita bersambung. Sebab jika kami bercerita, justru kami sedang memainkan irama, bunyi dan nada. Jadi kehidupan kami itu ibarat partiture, ditulis dalam bentuk notasi dan syair, setiap syair selalu bergantung pada not, dan setiap derap kehidupan mengalir mengikuti birama. Cuatan hati kami sangat bergantung pada tangga nada yang dipakai. Karena besar kecilnya suara kami itu seperti ombak dari tengah lautan menyapu bibir pantai, dan lenggang gemulai daun pohon kelapa dan sagu di pantai dan gunung.
Pergi ke hutan, ke kebun sambil mendaki gunung, menyeberang laut dan sungai, bersiul adalah cara kami mengatur pernapasan. Bataria, huele, adalah cara kami menyampaikan pesan dengan irama yang bervariasi. Jangan lagi bertanya dari mana kami pandai menari, sebab dalam peperangan pun kami menari, dan tarian-tarian perang kami adalah ekspresi dari heroika dan militansi pada tanah, pada saudara, pada negeri, pada hutan dan petuanan kami.
Tari-tarian kami tidak segemulai tarian di Jawa, tetapi spirit kasih dan persaudaraan dalam tarian kami adalah ekspresi kehidupan kami yang jujur, terbuka, menerima siapa saja untuk masuk dan menjadi bagian dari hidup kami. Kami tidak takut menerima orang lain untuk menjadi bagian hidup kami, sebaliknya tangan kami terbuka, dan ketulusan kami tercetus dalam syair-syair langsung, tanpa majas dan teka teki.
Saya bukan musisi, tidak belajar musik secara formil, dan saya lebih suka mendengar instrumen musik klasik. Kalau harus uptodate, saya suka alunan Jazz. Tetapi saya orang Timur, dan musik timur adalah roh yang merasuki hidup. Penyanyi dan Musisi Timur saya jadikan sebagai idola secara otomatis, karena kami sama-sama Timur. Suatu sifat eksklusifisme yang memang susah dihapus dari hidup semua orang Timur. Jadi tulisan ini saya susun sebagai wujud ekspektasi atas karya para musisi Timur, terutama generasi baru yang telah berani merintis jalan sendiri atau membangun rumah sendiri di atas tanah kita sendiri, yaitu #Timurnesia.
01 – MENYUSUN TANGGA NADA TIMURNESIA
Jagad musik Indonesia merekam dengan baik nama-nama penyanyi dan musisi dari Timur. Nama-nama mereka terlalu panjang untuk diurutkan, tetapi penting diakui genre musik mereka adalah genre yang sudah mendunia, mulai dari Pop sampai Dangdut, dan lagu-lagu mereka menjadi semacam “everlasting” ~lagu-lagu kenangan yang tidak pernah terhapus dalam deretan lagu-lagu top di Indonesia.
Namun, 28 Januari 2026 mungkin bisa ditahbiskan sebagai hari jadi genre music Timurnesia, dalam suatu pertemuan para musisi Timur dengan Menteri Kebudayaan RI. Gagasan itu adalah buah dari podcast Close the Door, ketika dua musisi Timur yaitu Ecko Chow dan Juan Reza menjadi bintang tamunya. Meskipun sebenarnya saat upacara HUT Proklamasi RI ke-80, lagu “Tabola Bale” dinyanyikan di Lapangan Upacara, Istana Presiden.
Saya menonton ulang podcast Close the door itu[1] (produksi 24 Desember 2025) dan menyimak percakapan tersebut dari awal sampai akhirnya. Video berdurasi 58.58 menit itu menjadi titik awal dari gayung bersambut dengan pertemuan 28 Januari 2026, ketika lagu “#acara” dan “#discotanah” menjelma menjadi #Timurnesia. Itu menandakan bahwa musik Timur keluar dari lingkungan domestiknya, dan para musisi Timur mendapat panggung yang besar, dan mengglobal.
02 - #TIMURNESIA ITU RUMAH PEMBEBASAN
Musik Etnik adalah bentuk musik tertua kelompok Melanesia dan Polinesia di Timur Indonesia. Lagu-lagu diatonik dengan iringan alat musik batu (litofon), kayu, bahkan tulang binatang, dan kemudian berkembang suling bambu dan tifa. Orang Portugis turut membawa berbagai jenis alat musik baru, terutama yang berdawai/alat musik petik (ukulele, juk), meskipun sasando harus disebut sebagai suatu perkembangan tersendiri dalam teknologi alat musik petik di Timor. Model diatonik adalah jenis musik etnik yang ada di seluruh wilayah Timur, sebab itu cara menyanyinya seperti orang sedang berbicara, dan nadanya mengikuti dialeg masing-masing daerah atau kampung. Dengan kata lain, menyanyi adalah musikalisasi dari cara berbicara masyarakat. Sulawesi, Timor, Maluku, Maluku Utara, Papua mungkin dapat ditahbiskan sebagai tempat lahirnya musik seperti itu.
Ada sejarah yang penting ditelusuri pula, sebab langgam lagu keroncong Tugu, adalah migrasi musik keroncong Ambon, sebagai bagian dari pengaruh Portugis. Artinya, kolonialisme telah membawa aliran musik klasik barat ke Timur. Walaupun lagu-lagu diatonik sudah menjadi lagu rakyat sejak zaman nenek moyang di seluruh wilayah Timur.
Musik Sacra adalah ragam lagu-lagu Barat yang hidup di kalangan agama (gereja), dan lagu-lagu padang pasir dari Arab telah berpadu dengan lagu-lagu diatonik di kalangan Islam. Saya merasa jejak itu penting diteliti secara khusus oleh para sejarahwan dan akademis di bidang musik. Artinya, Timurnesia, adalah cara baru menyebut suatu genre yang menyatukan jenis lagu-lagu yang senada dan tersebar di seluruh wilayah Timur, sehingga tidak melulu harus disamakan dengan genre lagu-lagu Barat yang ada selama ini.
Setelah saya menonton podcast Close The Door, Ecko Show dan Juan Reza mengakui ada kontribusi genre hip-hop dalam gaya bermusik mereka, tetapi mereka tidak mau serta merta memasukkan jenis musik mereka ke dalam genre itu, termasuk genre dangdut. Penyebutan “lagu acara” atau “disco tanah” adalah labelisasi yang diciptakan di masing-masing daerah di Timur, semisal Gorontalo dan Timor. Maka #Timurnesiaadalah genre yang menyatukan jenis-jenis musik yang sudah ada itu ke dalam satu rumah, rumah musik Timur, yang bukan musik Pop, Regee, Hip Hop, atau Dangdut.
Artinya #Timurnesia merupakan pencirian baru yang tidak sekedar untuk diterima atau diakui, tetapi rumah yang di dalamnya mereka merasa hidup, bebas berkarya, tidak bergantung dan tidak diidentikkan dengan paten-paten yang ada, karena ada soul yang bisa lebih hidup, lebih bebas dan merdeka, ada nafas yang bisa lebih membangkitkan gairah bermusik dan berkreasi tanpa henti. #Timurnesia adalah raja di rumahnya, entah diakui oleh orang atau tidak, tetapi bebas didengar dan dirasakan oleh siapa saja, dan juga undangan untuk orang datang dan melihat sejatinya musik #Timurnesia itu.
#Timurnesia adalah rumah pembebasan. Agar musik yang lahir dari Timur tidak dilihat dalam balutan busana luar, juga tidak menumpang dalam rumah orang. Pembebasan dari paten-paten besar, tetapi kelak menjadi paten yang mengglobal. Mengangkat nada-nada perjuangan generasi baru, bukan untuk dihormati, tetapi setidaknya didengar. Sebab orang Timur terbiasa hidup dalam satu rumah, satu keluarga, bersaudara, saling mendukung, menolong, tidak mau melihat orang lain susah. Karena itu musik #Timurnesia mengalirkan spirit pembebasan dari segala bentuk kungkungan mitos-mitos modern.
03 - #TIMURNESIA HIDUP
Menelusuri jejak-jejak antropologi musik di Timur, kita akan menemukan beragam keunikan yang menjadi saksi bahwa di sini musik telah menjadi bagian dari darah dan daging masyarakat. Ada jejak instrument yang khas seperti Prere (alat musik tiup di NTT), keta du mara dan heo (alat musik petik/berdawai di Timor), knobe oh (alat musik dari kulit bambu di Papua), tifa (alat musik pukul di Maluku), tahuri (alat musik tiup dari kulit kerang laut di Maluku). Semua alat musik itu adalah alat musik sakral, karena digunakan dalam ritus-ritus adat atau kebudayaan. Sebab itu jenis instrument ini diciptakan dan dimainkan oleh semua lapisan masyarakat, bahkan tanpa belajar secara terstruktur. Ada model “meniru dan jadi”. Artinya, cara memainkan dan irama serta fungsinya dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Maka dari generasi ke generasi penggunaannya lestari.
Dengan irama yang khas, musik itu menjadi lapisan identitas masyarakat. Karena itu musik itu menjelma menjadi milik publik, sehingga syair atau narasinya adalah milik publik. Dalam banyak syair dan yarka (=cara menyanyi orang Maluku Barat Daya), mereka bisa bercerita suatu kisah di masa lampau, atau kisah yang baru saja terjadi di saat bernyanyi. Saya menemukannya saat mengunjungi Jemaat-jemaat di Pulau Sermata (Maluku Barat Daya). Mereka bernyanyi, yarka, sambil menceritakan bagaimana saya berlayar di dalam ombak yang besar sambil menumpangi jolor (moda transportasi laut di sana), dan rela berbasah-basahan oleh ombak dan hujan. Saya tidak perlu memahami bahasanya, sebab diungkapkan dalam bahasa tanah setempat, tetapi mendengar irama, alunan syair, mimik dan gesture dalam yarka, hati saya tersentuh dan menitikan air mata. Setelah dijelaskan maknanya, jiwa saya seperti melayang masuk ke dalam bathin mereka dan mengakui bahwa seperti itu pula yang saya rasakan.
Musik Timur itu hidup karena orisinalitas suara para penyanyi yang memberi kepadanya warna. Ritmenya yang khas membuat musik itu, tanpa dimainkan pun, telah menjadi milik semua masyarakat. Jadi musik hidup di dalam perenungan hidup sehari-hari. Ketika dinyanyikan, masyarakat tidak perlu lagi menunggu booming, sebab mereka merasa hidup merekalah yang ada di dalam nyanyian itu. Itulah hidup. Itulah musik Timur, musik kami.
Eksistensi musik Timur sesungguhnya karena musik itu adalah ekspresi budaya dan identitas. Lagu-lagunya adalah gambaran kehidupan sehari-hari. Cinta mama, cinta saudara, cinta negeri/kampung, rindu pulang, sampai pada lagu-lagu yang mengagungkan keindahan alamnya, satwanya, pesona lautnya, adalah cerita kehidupan yang tidak terpisahkan dari jiwa. Musik itu lahir dari bathin yang melahirkan nada dan syair serta bathin yang merasakannya. Musik Timur itu bisa menyelesaikan konflik sosial, jadi punya peran sosial yang kuat.
04 - HIDUP #TIMURNESIA
Sebagai suatu genre, #Timurnesia dapat menjadi pusaran aliran budaya musik baru di Indonesia dan dunia. Genre ini akan melahirkan interaksi sosial dan influensi kebudayaan yang mengglobal, dengan dukungan media digital. Setidaknya ketika Lagu Tabola Bale dan Tor Monitor telah dinyanyikan orang-orang di Malaysia, Jepang, Belanda, dan beberapa negara di Eropa, patut diakui ada interaksi sosial-budaya tercipta, dan infulensi kebudayaan musik Timur mulai menyebar.
Karena itu bukan soal genre ini diakui, tetapi genre ini memberi dampak dan menjadi genre yang relevan serta digandrungi oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat sebagai penikmat musik. Jika masyarakat secara global bisa menyanyikan lagu-lagu #Timurnesia itu artinya pesan sosial dari musik ini masuk dan mempengaruhi pola sikap dan cara berpikir (mindset). Kita bisa melihat bagaimana hip-hop membentuk labelisasi diri pemuda, K-Pop membentuk trend busana dan gaya anak muda. Musik Regge menjadi cuatan kritik sosial konstruktif, maka #Timurnesia harus atau patut menjadi kanal pembebasan dan persaudaraan global.
Ketika Lagu “Tamang Pung Kisah” (Fresly Nikijuluw, Desember 2021), “Jang Ganggu” (Shine of Black, Desember 2023), dan “Tabola Bale” (Silet Open Up feat. Juan Reza & Diva Aurel, April 2025) turut menciptakan jenis tarian saja, sudah cukup untuk mengatakan bahwa genre ini telah menjadi genre yang khas, dan tersebar di semua daerah di Timur Indonesia.
Kita harus berusaha supaya lagu-lagu Timur dan genre #Timurnesia tetap hidup, bukan sekedar untuk industry musik tetapi mengawal peradaban persaudaraan dan pembebasan dari Timur untuk Indonesia dan dunia. Artinya #Timurnesia menjadi lagu rakyat dalam arti lagu publik, bukan folksong, yang berakar dalam ritme dan syair ketimuran. Namun inovasi terhadapnya menjadi perlu, dengan melibatkan kelompok musisi yang inovatif, menggebungkan elemen yang ada dan beragam menjadi satu bentuk baru, tanpa harus mengubah ritme musiknya, sambil menyusun lirik yang segar dengan tema yang relevan, dan masuk ke semua kalangan.
Musik Timur bukanlah musik individu, melainkan musik publik yang lahir dalam konteks sosial dan politik serta pentas sejarah Indonesia yang terus berkembang. #Timurnesia ibarat metamorfosa dari semua jenis musik di Timur ke dalam era digital dewasa ini, guna menegaskan bahwa identitas budaya Timur tidak tergerus oleh gempuran digitalisasi dan tidak hanyut ke dalam aliran sungai musik Barat atau Asia, melainkan menahbiskan dirinya sendiri.
Penyebarannya di berbagai platform media sosial adalah cara yang dengannya #Timurnesia menyebar dan mendapat pengakuan masyarakat global. Dengan begitu, industry musik menjadi jawaban bagi mengalirnya talenta-talenta Timur yang selama ini susah mengembangkan dirinya. Perhatian pemerintah dan masyarakat menjadi penentu eksistensi #Timurnesia.
Mari Manyanyi Katong pung Lagu. Mari Manare deng katong pung irama. #TIMURNESIA
Danke banya-banya musisi muda Timur. Ale dong Batu. Seng ada Lawan. Toma. Jang Undur e.
(Foto Cover diambil dari https://urbanvibes.id/2026/01/29/timurnesia-diusulkan-jadi-genre-musik-baru-kemenkebud-libatkan-musisi-indonesia-timur/)
Swisbell Hotel (146) - Merauke, 29 Januari 2026
[1] Podcast Close The Door, https://www.youtube.com/watch?v=F9dwQP4sbKI – dinonton pada 29 Januari 2026

Comments