Friday, January 28, 2011

ASKETISME BARU DALAM USAHA PEMBERDAYAAN

Perspektif Protestan
[Catatan Kecil dari Konferda V AMGPM Tanimbar Selatan]


Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

1. Kerja sebagai Panggilan
Tulisan ini dikerjakan sambil mendengar sebuah ceramah dari Bupati MTB, Drs. B.S. Temmar, di hadapan Forum Konferensi Daerah V AMGPM Tanimbar Selatan, di Balai Pembinaan Umat ‘Sejahtera’ Jemaat GPM Saumlaki, Senin, 17 Januari 2011. Sang Bupati yang kemarin genap 4 tahun memimpin Kabupaten Duan Lolat ini mempersoalkan kelemahan-kelemahan sistemik yang dapat membuat program pemberdayaan menjadi gagal.

Bupati yang belajar banyak tradisi sosiologi ini langsung menohok beberapa teori sosiologi –termasuk Etika Protestantisme dan Spirit Kapitalisme, karya termashyur Max Weber yang cukup dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran teologi Luther dan Calvin, dua pesohor gereja [baca. Protestantisme].

Meminjam defenisi teologi Calvin dan Luther, Weber menegaskan kembali kerja [work] sebagai ‘panggilan’ [calling]. Sebab bagi Calvin dan Luther, aktifitas keseharian manusia dalam lingkungan sosialnya, atau bekerja di bidang-bidang ekonomi, bukanlah hal yang tabu apalagi dosa. Kalangan gereja sebelumnya melihat bahwa pekerjaan yang kudus adalah pekerjaan di dalam lingkungan gerejawi –sebab itu menjadi Imam atau bekerja di dalam lingkungan agama merupakan bentuk pekerjaan yang kudus, dan adalah panggilan TUHAN.

Weber, seperti juga Calvin dan Luther membantah pemikiran itu dengan menisbikan batasan sakral dan profan. Secara sosiologis menurut Weber realitas kapitalisme tidak semata-mata bertujuan untuk memperkaya diri sendiri melalui aktifitas-aktifitas monopoli dan eksploitasi - apa yang juga dikritik Marx dengan melihat eksploitasi itu dalam bentuk tekanan kaum borjuis [pemilik pabrik] terhadap kaum proletar [buruh tani].

Kelemahan mendasar yang terjadi ialah perspektif yang kaku dari gereja, kala itu atau mungkin juga masih ada separuhnya saat ini, yang membuat orang tidak melihat hidupnya saat ini, di dalam dunia, di dalam lingkungannya sebagai arena pertanggungjawaban iman. Gereja telah membangun suatu cara pandang eskhatologis yang terarah pada keselamatan di sorga. Karena itu mengapa kemudian muncul pemahaman predestinasi [keselamatan yang telah ditentukan sebelumnya –atau orang yang selamat itu sudah ditentukan sebelumnya], yang lalu ditolak oleh protestantisme dengan pemahaman sola-fide [hanya oleh iman –juga sola-gratia –hanya oleh anugerah dan sola-scriptura –hanya oleh Alkitab, bukan kuasa imam atau surat penghapusan dosa].

Maka introduksi kerja sebagai panggilan yang kudus memutalkkan orang-orang kristen untuk masuk ke dalam dunia ekonomi dan produksi dengan jalan memaksimalkan kerja atau meningkatkan keterampilan untuk mengelola semua potensi yang tersedia. Kerja di dunia merupakan bagian dari panggilan TUHAN kepada manusia karena dua alasan teologi yang mendasar yakni: [a] manusia adalah makhluk pekerja [homo faber] dan [b] TUHAN itu juga masih terus bekerja. Pekerjaan TUHAN tidak terhenti hanya pada penciptaan, melainkan masih terus bekerja sampai saat ini [Yoh.5:17].

Bekerja di dalam dunia bukanlah dosa dan ternyata merupakan bagian dari panggilan TUHAN kepada kita. Beberapa referensi teks Alkitab cukup memberi dukungan terhadapnya terutama mandat kebudayaan [Kej.1] yang memosisikan manusia dalam tugas menatalayani alam ciptaan TUHAN.

Untuk itu berprofesi sebagai apa pun merupakan cara manusia memenuhi panggilan TUHAN, sejauh profesi itu bertujuan untuk membangun kesejahteraan hidup dan tidak bertentangan dengan perintah-perintah atau etika-etika dasar dari hidup masyarakat dan agama.

2. Asketisme Yang Mengarah ke dunia
Dorongan untuk bekerja atau berprofesi dalam Etika Kristen, seperti dikemukakan Weber dari dasar-dasar teologi Calvin dan Luther itu disebut ‘asketisme’ [suatu cara pandang hidup atau orientasi kehidupan]. Weber menyebut bahwa Calvin dan Luther tidak membangun asketisme naif yang diploting hanya dalam kerja keimamatan atau suatu kecenderungan hidup menyendiri, terpisah dari lingkungan sosial –melainkan asketisme yang mengarah ke dunia [worldly ascetism], yaitu suatu konsentrasi kehidupan baru yang diliputi oleh motivasi untuk berkarya di tengah-tengah dunia.

Ada tujuh sikap dalam asketisme yang dimaksudkan itu, sekaligus menjadi asketisme protestantisme dalam lingkungan ekonomi atau pasar kerja, yakni:
1. Kerja keras –dalam arti mengelola seluruh potensi yang ada sesuai dengan panggilan [baca. profesi] yang dimiliki masing-masing
2. Setia –dalam arti tekun dan berpegang pada prinsip-prinsip kerja yang baik
3. Disiplin –dalam arti bekerja tepat waktu [masuk kerja tepat waktu, bekerja efektif dalam waktu kerja yang tersedia dan beristirahat selesai waktu kerja –tidak ada lembur]
4. Jujur – dalam arti tidak mencuri dan mengambil barang atau merampas hak milik orang lain
5. Adil –dalam arti memperlakukan semua orang secara terhormat, tidak ‘pandang bulu’ dan melakukan hal-hal yang terpuji
6. Hemat –dalam arti tidak membelanjakan sesuatu yang tidak diperlukan, atau tidak menghabiskan pendapatan
7. Bertanggungjawab – dalam arti mengetahui cara bekerja yang baik dan bekerja sesuai dengan cara kerja yang baik itu.

Ketujuh sikap itu sekaligus menjadi standard etika kristen dalam dunia ekonomi atau prinsip-prinsip etika kristen dalam bekerja. Sebab itu menjadi jelas bahwa semua orang kristen dituntut untuk menekuni profesinya secara baik sebab di situlah ia mewujudkan panggilan TUHAN terhadapnya. [*]

1 comment:

Steve Gaspersz said...

Coretan refleksi teologis yang bernas. Setelah hampir setua gereja kita "ekonomi" dan "kerja" telah dikurung dalam penjara kesantunan para klerus.

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!