Posts

Kareda

Rekonsepsi Gereja dalam Teks Lokal Bahasa Yamdena Oleh. Elifas Tomix Maspaitella 1. Kesenjangan Makna Perjumpaan dengan komunitas Tanimbar (baca tulisan beta yang lain mengenai ‘Fangridin: Inisiasi Lokal dalam Konteks Budaya Tanimbar di Watmasa’) menimbulkan ketertarikan tersendiri terhadap pemahaman teologi lokal setempat yang kaya makna filosofinya. Pada saat mewawancarai Bpk. Meki Wuarlela (49) - Lanun Duan Watmasa, dan Bpk. Onesimus Wuarlela (67), di Watmasa (28 Mei 2011, jam 07.30- 08.20), beta sempat mendengar sebuah istilah lokal dalam bahasa Fordata, yakni kareda. Menelusuri jejak arti operasionalnya ternyata menemui kendala tersendiri karena mereka lazim menerjemahkan kata itu secara langsung berarti ‘gereja’. Dalam bentuk kata sandang, muncul beberapa istilah yang dilekatkan dengan kareda seperti mel-kareda, yang berarti Tuhan yang disembah. Ada pula mangun-kareda atau tamu gereja, dan dawan-kareda atau pelayan gereja (baca. Pendeta dan Majelis Jemaat). Tampaknya istilah gere...

ELMESEH

Ide Lokal orang Ameth – Nusalaut Tentang TUHAN Oleh. Elifas Tomix Maspaitella John Hicks, dalam salah satu bukunya menyebut bahwa Tuhan memiliki banyak sekali nama budaya (cultural name). Maksud Hicks bahwa tiap agama dan tiap masyarakat menyebut Tuhan menurut bahasa dan istilah mereka, malah mendefenisikan Tuhan menurut hal-hal yang berhasil mereka tangkap atau pengalaman mereka. Lebih dalam mengenai itu, Hicks mengatakan tentang Tuhan itu ada dua realitas, yakni realitas ‘nomenon’ dan ‘fenomenon’. Realitas ‘nomenon’ itu merupakan defenisi atau pengenalan tentang Tuhan yang mengandung dimensi kekekalan, atau penyebutan/ pengistilahan yang menunjuk pada sifat Tuhan yang Absolut, seperti Sang Kebenaran, Jalan Yang Benar, Air Hidup, Roti Hidup, Gembala, dan lainnya. Sedangkan realitas fenomenon ialah realitas penamaan yang tetap menurut bahasa atau budaya masyarakat. Nama-nama Tuhan seperti Shang Hyang Widi Wasa, Allah SWT, Thian, Tri Tunggal. Karena itu nama-nama budaya misalnya di Malu...

FANGRIDIN:

Image
Inisiasi Lokal dalam Konteks Budaya Tanimbar di Watmasa Oleh. Elifas Tomix Maspaitella Kamis, 26 Mei 2011, jam. 08.35, beta bersama Tim Penatar dari MPH Sinode GPM dan Klasis Tanimbar Utara (Pdt. Jopy Noya, Pdt. Yan Latuwael, Pdt. Nick Taberima, Pdt. Nor Refialy, Pdt. Da Salakory dan Pdt. Dece Herbawal - Ketua Klasis GPM Tanimbar Utara, Pdt. Rooy Maail, Penginjil Cepu Ratuanik, dan Wem Masrikat - Jurumudi Speed boat) melayari lautan dari Larat ke Jemaat GPM Watmasa, untuk melaksanakan kegiatan Penataran Majelis Jemaat Periode 2010-2015 di Klasis Tanimbar Utara. Pemandangan pulau-pulau kecil dan terkecil di hamparan lautan itu begitu indah. Usi Ana, demikian beta menyapa Ketua Klasis GPM Tanimbar Utara, bercerita banyak hal tentang pulau-pulau tersebut. Ada yang berpenghuni, ada yang kosong tak berpenghuni, tetapi sudah dimiliki oleh para kapitalis lokal. Usi Ana juga bercerita mengenai tantangan pelayanan antarpulau di kawasan yang kaya dan indah ini. Keindahan alam pesisir ini kelihat...

IJONISASI DAN IJONISME:

Problem Pertumbuhan Ekonomi Jemaat GPM di Kawasan Pedalaman dan Pulau Terluar oleh. Elifas Tomix Maspaitella Praktek ijonisasi telah menjadi salah satu simpul lingkaran setan kemelaratan atau pemiskinan masyarakat dan jemaat-jemaat Gereja protestan Maluku (GPM) di berbagai tempat (baca. Klasis). Sedangkan ijonisme merupakan kecenderungan perilaku masyarakat (baca.warga jemaat) untuk terus menghutang atau bekerja menutupi hutang kepada para pengijon dari generasi ke generasi. Ada semacam mental ketergantungan secara finansial dengan 'menggadaikan' atau 'menjaminkan' lahan potensial milik mereka kepada pengijon. Praktek dan kecenderungan perilaku semacam itu memperlihatkan bahwa kemiskinan struktural terjadi bukan sebagai sebab kebijakan publik dari pemerintah yang tidak menjangkau. Kemiskinan struktural juga disebabkan oleh kekuatan- kekuatan kapitalis lokal yang dari waktu ke waktu menguasai perputaran uang di suatu wilayah serta mengontrol harga suatu produk lokal (spa...

PERJAMUAN KUDUS GPM

Reproduksi Teks dan Identitas Sosial Orang Maluku Oleh. Elifas Tomix Maspaitella ANTROPOLOGI TEKS Beta merasa mulai tertarik untuk melihat kembali aktifitas-aktifitas beragama dewasa ini dengan asumsi: ‘mengapa kita masih terus mempraktekkannya?’ Sebab dari sekilas sejarah yang teranyam dalam bentuk tradisi lisan ( oral tradition ) maupun beberapa dokumen/buku, ternyata aktifitas-aktifitas itu dihasilkan di zaman lampau (baca.zaman leluhur). Begitu juga ketika melihat praktek budaya dan beragam folklore; malah beberapa kebiasaan yang sudah ada sejak dahulu itu tetap dipertahankan dan dipraktekkan seperti dahulu –tanpa mengubah forma dan tata caranya. Salah satu kebiasaan itu ialah tata cara perayaan Perjamuan Kudus di Gereja Protestan Maluku (GPM). Sebuah tradisi unik ( heritage ) yang terus terpelihara hingga waktu ini. Suatu kebiasaan di mana setiap perayaannya, sebuah meja putih berbentuk Salib diletakkan di dalam ruang ibadah –memanjang ke arah altar dan mimbar, dan di kiri-kananny...

KEBODOHAN TEOLOGI:

Teror Bom dan Kekerasan Atas Nama Agama sebagai Teks Buram Oleh. Elifas Tomix Maspaitella AJARAN DAMAI Semua orang di dunia ini akan berkata yang sama: ‘Agama sesekalipun tidak mengajarkan mengenai kekerasan atau teror terhadap kemanusiaan’. Tetapi kita hidup di dalam realitas yang antagois –bahwa atas nama agama, kekerasan dan teror terhadap kemanusiaan dimutlakkan oleh sekelompok orang. Sesederhana apa pun agama, termasuk agama suku-suku di pedalaman Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, ajaran mengenai kebaikan menjadi jantung hidup masyarakat. Dalam setiap agama, seperti disimpulkan Hans Küng dalam magna opusnya , The Global Ethics , tidak dibenarkan membunuh, mencuri, saling menyakiti, berbohong, dan lain sebagainya. Agama membangun sebuah norma dasar, atau the good and virtue, menurut bahasa Aristoteles yang menjadi common ground morality dan common goods atau common virtue . Yesus lalu meringkas norma yang panjang lebar itu dalam: ‘mengasihi Tuhan dan sesama seperti mengasihi...

PEREMPUAN, KARTINI DAN SEMANTIK PASKAH

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella EMANSIPASI SEBAGAI BENANG MERAH Perempuan-perempuan di zaman Yesus, pelopor gerakan kebangunan rohani kalangan murid Yesus yang ketakutan, kecewa, putus asa pasca kematian Yesus. Sama saja dengan Christina Martha Tiahahu, pendobrak aroganisi penjajahan (kolonialisme) di masanya. Sama saja dengan Raden Ajeng Kartini, pelopor pergerakan emansipasi perempuan Indonesia di masanya. Semua yang ‘sama saja’ itu menunjuk bahwa apa yang mereka lakukan di zamannya masing-masing adalah interupsi terhadap suatu keadaan yang tidak menjamin kebebasan dalam arti yang luas. Tiap masa ada orangnya, tiap orang lahir pada masanya. Begitulah kira-kira kita menempatkan diskusi ini dalam sebuah tukilan semantik (sistem tanda kebudayaan). Apa yang hendak dilihat adalah sebuah kemampuan perempuan ‘mendobrak’ atau ‘menggulingkan’ sesuatu halangan berat di tengah situasi di mana banyak orang sedang dalam kondisi keterpurukan akibat tekanan-tekanan psikologis, sosial, politik dan ke...