TIMURNESIA:
BIARKAN KAMI MENYANYI DAN MENARI DENGAN LAGU KAMI Oleh. Pdt. Elifas Tomix Maspaitella 00 – INTERLUDE Kami menyanyi bukan untuk “jual suara” Sebab nyanyian bagi kami itu denyut jantung yang memompa kehidupan Nyanyian adalah kehidupan, tarian adalah gerakan naik turunnya Kalimat itu mungkin terlalu berlebihan, tetapi narasi kehidupan orang Indonesia Timur sepertinya bukan baris-baris aksara seumpama sebuah novel atau cerpen. Kami tidak pandai merangkai cerita episode ke episode, apalagi cerita bersambung. Sebab jika kami bercerita, justru kami sedang memainkan irama, bunyi dan nada. Jadi kehidupan kami itu ibarat partiture, ditulis dalam bentuk notasi dan syair, setiap syair selalu bergantung pada not, dan setiap derap kehidupan mengalir mengikuti birama. Cuatan hati kami sangat bergantung pada tangga nada yang dipakai. Karena besar kecilnya suara kami itu seperti ombak dari tengah lautan menyapu bibir ...