Thursday, April 2, 2020

PATUNG TUMBUR

Catatan dan Dokumen: Elifas Tomix Maspaitella

Saya hanya bermaksud menyimpan dokumen ini sebagai suatu bahan etnografi, suatu waktu diperlukan untuk riset ilmiah yang lebih bermutu oleh siapa saja. Bila ada para kolektor seni, silahkan saja berkunjung ke Desa Tumbur, di Kota Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. 

Maaf, dalam tulisan ini masih ada nama MTB sebab saat ditulis, nomenklatur Kapubaten Kepulauan Tanimbar masih adalah Maluku Tenggara Barat.


PATUNG TUMBUR (1): Kerja sebagai ritus ekonomi keluarga

Di sela-sela Sidang ke-40 MPL Sinode GPM yang sedang berlangsung saat ini di kota Saumlaki, Kab. Maluku Tenggara Barat (MTB), saya mengunjungi desa Tumbur. Desa para pematung kayu yang khas di Tanimbar/MTB.
Adalah Bapak Modes Silolone, pematung itu. Sehari-hari ia membuat patung untuk melestarikan keterampilan yang diturunkan oleh orang tua dari zaman dahulu.
Patung dalam gambar ini adalah visualisasi orang Tanimbar yang sedang pergi ke kebun. Umumnya aktifitas berkebun dilaksanakan bersama oleh satu keluarga. Semua anggota keluarga berjalan bersama ke kebun.
Dalam formasi berjalan itu, laki-laki dewasa menjadi penjaga yang menjamin anggota keluarga aman dari berbagai gangguan. Sebab itu mereka selalu memegang tombak (simbol kejantanan/keperkasaan). Untuk memastikan keselamatan semua anggota keluarga, sekaligus menjamin semua tiba di kebun atau nanti kembali ke rumah bersama sama, anak-anak yang masih kecil selalu digendong oleh ayah mereka. Pada sisi lain hal itu melukiskan relasi batih yang memintal kasih sayang orang tua kepada anaknya.
Patung Tumbur selalu dibuat dalam motiv manusia lonjong. Menurut pembuatnya (Bpk. Modes), model ini ditemukan dari dalam "lovu" atau tempat menyimpan benda keramat yang selalu dibawa orang orang tua saat mereka bepergian ke suatu tempat. Model patung dibuat mengikuti aktifitas berbudaya sesehari masyarakat Tanimbar.
Melalui patung tadi, kita dapat mengenal ikatan komunalitas orang Tanimbar sekaligus solidaritas organis yang menjadi pemahaman terdasar (kosmologi) masyarakat Tanimbar. Bahwa kerja itu bernilai kebersamaan, pencapaian tujuan (goal attainment), jaminan keselamatan, dan kesejahteraan bersama.

PATUNG TUMBUR (2): Masih Tentang Aktifitas Ekonomi Sebagai Ritus Keluarga

Apakah patriakhi itu arogan? Apakah matriakhi itu tidak struktural? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya karena ada suatu teori substantif. Karena masyarakat Tanimbar dalam sistem Duan-Lolat menunjuk suatu sistem yang terbuka sebagai pemberi dan penerima. Seseorang menempati posisi Duan terhadap orang lain, namun mereka bisa juga adalah Lolat terhadap pihak lain.
Model relasi seperti itu menggambarkan bahwa dalam keluarga orang-orang Tanimbar, setiap anggota keluarga dewasa harus memainkan peran secara efektif. Umumnya peran bersama dalam bidang ekonomi itu berlangsung di kebun. Kita akan menjumpai satu keluarga pergi dan bekerja di kebun secara bersama-sama.
Dalam realitas tnyafar, malah tnyafar bisa disebut sebagai "rumah kedua" karena mereka akan menetap dalam waktu yang lama di sana untuk bekerja. Laki-laki dan perempuan melakoni tugas itu bersama-sama dan saling melindungi serta melayani satu sama lainnya. 
Patung Tumbur selalu dibuat dalam konsep budaya tersebut. Anda akan menjumpai patung di mana laki-laki (suami) memegang parang dan tombak dan perempuan (istri) membawa bakul. Perkakas itu menggambarkan apa fugsi keduanya yang akan kedapatan saling melengkapi untuk satu tujuan bersama. 
Seni adalah peta nyata dari lakon kehidupan.

PATUNG TUMBUR (3): Kepemimpinan Yang Baik Lahir dari Sistem Keluarga
Masih tentang aktifitas ekonomi masyarakat Tanimbar. Untuk bekerja bagi penghidupan keluarga, mereka pun melintasi laut dengan perahu-perahu. Sebagimana di darat, di laut pun kebersamaan keluarga merupakan aspek pokok dalam bekerja.
Formasi duduk di dalam perahu pun memperlihatkan aspek kepemimpinan lokal yang dibangun dalam keluarga. Perempuan (istri/mama) selalu menjadi pemberi arah yang memastikan semuanya aman untuk dilalui. Ini menjadi bukti bahwa perempuan Tanimbar tidak terkurung pada peran domestik. Dalam fungsinya memberi arah, ia sekaligus menghadapi tantangan di depan. 
Kemudian laki-laki (suami/papa) menjadi pemimpin yang berada di belakang untuk menahkodai perahu tersebut. Posisi ini sekaligus membuat laki-laki menjadi pemimpin yang tidak memerintah melainkan menjaga keseimbangan dan mengarahkan jalan sesuai arah jalan yang telah ditunjuk perempuan (istrinya). Keseimbangan ini menurut saya adalah salah satu implikasi etis dari pranata duan-lolat.
Dalam posisi itu, perlindungan kepada anak menjadi tujuannya. Posisi anak di tengah menegaskan ia berhak mendapatkan rasa aman, nyaman. Orang tuanya (pemimpin) bertugas menjaminkan hal itu kepadanya. Tanpa itu maka pranata keluarga akan mengalami gangguan.
Dari ruang keluarga itulah kita bisa memahami makna kepemimpinan dalam budaya masyarakat Tanimbar.

PATUNG TUMBUR (4): Dudu Adat
"Dudu Adat" (duduk dalam musyawarah adat) telah menjadi salah satu wujud tindakan adat untuk hampir segala urusan yang terkait dengan pribadi, keluarga, konflik antar-orang/kelompok, perkawinan, dan masalah-masalah lain.
Dalam "dudu adat", para tetua satu keluarga atau kampung, berperan penting dalam memimpin percakapan/musyawarah adat sampai pengambilan keputusan atas suatu masalah. 
Sopi adalah minuman adat, sekaligus minuman ritus yang penting. Sopi digunakan sebagai tanda dimulainya sebuah ritus adat dan legalisasi suatu keputusan adat. Cara meminumnya pung diatur rapih dalam norma yang bernilai atau beradab. Sopi dalam adat membentuk sebuah situasi bahwa ritus itu menjadi tanda kebersamaan di antara manusia dan manusia dengan leluhur dan penciptanya. Ikatan kosmos itu menegaskan ritus adat itu mengikat semua elemen masyarakat adat, dan pencipta menjadi penegasan bahwa ritus itu sesuatu yang baik. 
Anda tidak perlu mendebatkan sopi sebagai minuman yang memabukkan dalam konteks ini. Sebab cara minum sopi di dalam ritus adat berbeda dari kebiasaan meminum minuman keras. 
Melalui Patung Tumbur kita memperoleh gambaran bahwa cara duduk di dalam musyawarah adat di Tanimbar jika telah sampai pada tahap pengambilan keputusan, yaitu duduk dengan kaki tekuk tegak di depan badan sambil tangan diletakkan di atas lutut tepat di bawah dagu. Jika orang itu setuju maka ia tidak menjulurkan lidahnya. Namun jika ia menjulurkan lidah itu tanda tidak setuju. Demikian keterangan pematung Tumbur, bapak Modes.
Saya tidak memperoleh jawaban lebih lanjut tentang alasan dan maknanya. Namun dari keterangan yang diperoleh, orang Tanimbar sangat menghormati orang tua dan duan mereka. Jika dalam "dudu adat" ada hal yang belum dipenuhi atau kesalahan seseorang sangat melukai harkat satu keluarga, orang itu dipandang sangat hina. Ia harus melunasi denda adatnya sampai selesai sebagai wujud penghormatannya atas harkat sesamanya.
Dudu adat merupakan representasi kebersamaan dalam mengambil keputusan sesuai norma yang berlaku. 

PATUNG TUMBUR (5): PENARI ADAT

Orang Tanimbar adalah penari. Tarian telah menjiwa dalam diri mereka. Posisi tubuh yang nyaris diagonal menggambarkan mereka adalah orang-orang kuat, yang sanggup berdiri dengan memikul beban yang berat.
Bagi laki-laki Tanimbar, mereka menari sambil memegang tifa, panah atau tombak. Artinya tarian adalah representasi suasana hati para penjaga keluarga dan masyarakat serta alam atau tanah miliknya. Tarian adalah ilustrasi aktifitas keseharian mereka yang rajin berburu, berkebun, dan memimpin orang banyak.
Bagi perempuan-perempuan Tanimbar, dengan posisi tubuh yang nyaris diagonal dan setengah duduk, mereka melukiskan kokohnya mereka menjaga relasi akrab antara masyarakat dengan Sang Pencipta. Perempuan menjadi lukisan spiritualitas masyarakat Tanimbar.
Lagu dan musiknya menyentak setiap hati. Anda boleh tidak memahami bahasa lokal mereka tetapi jika anda mendengar sambil melihat mereka menyanyi, malah mendengar foruk, doa adatnya, anda akan memahami bahwa spiritualitas Tanimbar itu berirama, suatu seni yang tinggi dan lukisan keakraban mereka satu sama lain, dengan alam dan Tuhan.
Menjadi Tanimbar adalah panggilan berseni. Memahat kemolekan tubuh Tanimbar yang terbuka menerima siapa saja dan rela memberi apa yang terbaik. Panggilan berseni sebagai Tanimbar adalah panggilan memelihara harmoni. Sebab itu bahkan orang luar pun diambil masuk ke dalam salah satu keluarga setempat dan memiliki tanggungjawab yang sama dengan anggota keluarga lain. Menjadi Tanimbar adalah panggilan merawat seni kehidupan dari Sang Agung.

PATUNG TUMBUR (6): Perang dan Damai

Setiap suku memiliki mekanisme pertahanan diri/komunitas. Salah satunya ialah dengan pembagian peran adatis, termasuk dalam aspek pertahanan. Jabatan-jabatan adatis seperti kapitang, malesi (Maluku Tengah) menunjuk langsung ke aspek itu.
Patung Tumbur melukiskan satu aspek yang tidak kalah menariknya untuk disimak yakni keikutsertaan perempuan dalam perahu perang. Mereka menempati posisi di depan dan menari untuk memberi semangat kepada kaum laki-lakinya.
Ada seorang lelaki yang di depan perahu memegang dua bilah kayu untuk memukul lantai perahu, sebagai musik pengiring tarian dan penyemangat pasukan perang.
Lelaki pasukan perang bersiap dengan panah dan tombak di dalam perahu dan tentu siap untuk menyerang. 
Hal lain yang menarik adalah mereka menggunakan perahu naga sebagai perahu perang. Apakah ini budaya orang Tanimbar atau hasil akulturasi dengan budaya Cina atau India?
Gavin Mensies dalam salah satu bukunya memperlihatkan adanya sentuhan Cina di kawasan ini. Aspek ini penting dikaji lebih lanjut. Namun yang hendak saya maknai dari patung Tumbur ini ialah tidak ada harmoni tanpa konflik dan konflik tidak selalu berujung kehancuran.
Artinya masyarakat selalu punya segudang kearifan untuk menyelesaikan masalah mereka termasuk konflik.
Mari berdamai.
Terimakasih Tanimbar.
Ubu Naflahar



No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!