Wednesday, April 12, 2017

AKU HAUS: Masih Saja Ada Gagal Paham

(Yohanes 19:28-30)
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Gagal paham adalah sebuah fenomena di dalam tradisi ilmu dan sosial. Dalam tradisi ilmu, gagal paham menjadi petanda pengolahan rasio yang menjurus pada absurdisitas (unreasonable). Penolakan terhadap fakta/empiri yang menjadi jurang gagal paham itu. Ketika empiri ditolak maka orang akan berkutat pada dunia maya, suatu khayalan buta di luar diri dan lingkungan di mana ia ada. Para ilmuan sejarah selalu menghindari hal ini dengan menunjukkan sekumpulan data historis, sebab jika terjadi gagal paham dalam ilmu sejarah, sudah tentu narasi yang terbangun adalah fiktif.
Dalam tradisi sosial, gagal paham ditandai oleh penolakan atau sikap tidak mau menerima (refusing) suatu fakta atau seseorang. Fenomena ini biasa terjadi pada para deviant~yaitu orang yang tidak mau hidup menurut aturan-aturan normal, dan memaksakan kehendaknya sebagai sebuah standard yang ternyata bertolak belakang dengan apa yang menjadi kehendak umum. Kaum deviant tidak saja mengucilkan dirinya, tetapi menganggap orang lain tidak ada.
Pada kisah penyaliban Yesus, sebagaimana diceritakan dalam Injil Yohanes, bentuk gagal paham itu pun tampak. Sejak awal (Yoh.1:1,14), penginjil telah berusaha menjelaskan siapa Yesus yang ditolak oleh kaum gnostik. Hal ‘Firman yang menjadi manusia dan diam di antara kita’, merupakan klarifikasi Yohanes tentang TUHAN yang berbicara langsung kepada manusia, sebab Ia benar-benar menjadi manusia. Namun ternyata bentuk gagal paham itu terus mewarnai debat Yohanes dan kaum gnostik di sepanjang injilnya.
Sampai pada penyaliban Yesus, di atas kayu salib, Yesus berseru: ‘ ‘Aku haus’ (Yoh. 19:28). Seruan itu tidak berarti Yesus haus seperti rasa haus yang kita rasakan. Itu ungkapan metafora, mengenai orang yang menderita sesuai dengan kehendak kita.
Orang Yahudi dan pemerintah Romawi menghendaki Ia disalibkan. Dan Ia sudah menjalani itu, seperti yang mereka mau. Sebab itu seruan ‘Aku haus’ bagi Yohanes menunjukkan bahwa penyaliban Yesus itu telah sesuai dengan apa yang dirancangkan oleh mereka.
Di sisi kedua, seruan itu bermakna bahwa semua penderitaan manusia benar-benar sudah ditanggung olehNya. Ia sudah merasakan semua penderitaan yang dirasakan manusia dalam hidupNya. Dengan demikian seruan itu bermakna, Ia sudah menggantikan atau menanggung semua beban dosa umat.
Ini pun disalahpahami oleh prajurit Romawi, yang memberi kepadanya anggur asam pada sebatang hisop. Selain sebagai bentuk kesalahpahaman, tetapi sekaligus penghinaan. Di sini Yohanes meneruskan perbantahan dengan kaum gnostik yang salah memahami siapa Yesus sebenarnya.
Terlepas dari semua perbantahan dan gagal paham itu, di Kamis Putih ini, kita percaya bahwa ada orang benar yang menderita oleh sebab ketidakadilan. Namun lebih dari itu, Ia menderita sebagai wujud ketaatannya kepada Bapa-Nya.
Selamat Menjalani Kamis Putih.
Selamat mempersiapkan diri memasuki Jumat Agung.

Nos Autem Praedicamus Christum Crucifixum

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!