Monday, April 25, 2016

MENA MURIA DALAM STRUKTUR BAHASA LIO UPAA (KOA), MARAINA-MANUSELA di NUSA INA (PULAU SERAM)

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella


STRUKTUR BAHASA MASYARAKAT
Antropologi struktural, seperti diusung Levi Strauss, dalam dimensi tertentu telah mengantar kajian khusus strukturalisme yang selanjutnya merambah strukturalisme linguistik. Kecurigaan awal dari studi linguistik itu sendiri bahwa, sebenarnya strukturalisme itu menstudikan struktur sosial yang bisa diinterpretasi sebagai struktur bahasa. Lingkaran bahasa (linguistick turn, Lash) telah menjadi domain yang menggelisahkan banyak orang, termasuk Ferdinand Saussure (1857-1913) untuk menelaah lebih mendalam langue dan parole (wicara aktual). Sampai pada titik itu, strukturalisme bahasa sudah semakin berkembang, sebab tidak lagi semata dimengerti sebagai bagian dari struktur sosial.
Bahasa telah menyertakan di dalamnya kompleksitas tanda, termasuk elemen-elemen bunyi (phonic). Kembali ke Saussure, malah cara mengekspresikan suatu kata dalam bentuk parole menjadi perlu guna memahami struktur nilai yang terkandung di dalam cara membahasa seseorang atau suatu komunitas. Dalam hal itu, Saussure melihat bahwa ada hubungan antara signifer (petanda) dan signified (penanda).
Sampai di situ, menurut Saussure yang paling penting menurutnya adalah hubungan perbedaan dan oposisi biner. Artinya suatu kata diproduksi bukan karena makna esensial dari kata itu sendiri melainkan ada hubungan kata itu dengan kata lain yang menunjuk pada perbedaan esensial di antaranya.
Sebagai contoh menurut Saussure, kata hot (panas) bukan berasal dari sifat intrnisik dunia ‘yang nyata’ ~bahwa udara panas di waktu tertentu atau air panas karena proses tertentu, melainkan kata itu berasal dari hubungan dengan kata cold (dingin) sebagai oposisi binernya. Jadi manusia memproduksi suatu istilah untuk membentuk pula dunia sosialnya.
Adalah Roland Barthes kemudian melihat bahwa ruang-ruang yang terbatas dari realitas teori linguistik mendorong kita harus masuk ke apa yang disebutnya semiotik. Sebenarnya Barthes telah mengembangkan ide Saussure dalam ruang kehidupan sosial yang faktual. Bahwa bahasa tidak sekedar sebuah struktur bunyi dan tanda fonemik, melainkan lebih luas dari itu. Menurutnya:
Semiologi bertujuan untuk memahami sistem tanda, apapun substansi dan limitnya; image, gestur, suara musik, objek, dan segala yang terkait dengan semuanya, yang membentuk isi ritual, hiburan konvensi atau publik, jadi ini merupakan, jika tidak bahasa-bahasa sekurang-kurangnya sistem signifikansi (Barthes, 1964/1967:9).

Pendapat ini dikemukakan sebagai pintu masuk ke bahasan tentang Mena-Muria sebagai semantik budaya yang ternyata lahir dari realitas keseharian masyarakat di Maluku, mengenai bagaimana mereka membuat tanda untuk menandai lingkungan dan posisi teritori dalam dunia sosialnya.
Sistem tanda ini sangat terkait dengan aspek-aspek sosio-ekonomi, karena wilayah yang ditunjukkan dalam istilah Mena-Muria itu adalah teritori yang mengandung di dalamnya potensi sosial dan potensi ekonomi. Jika pun istilah itu menjadi semacam ideologi, maka hal itu adalah sebuah pemikiran filsafat alam (kosmologi) yang membimbing masyarakat untuk yakin bahwa wilayah yang ditunjuk oleh istilah itu sakral dan tidak boleh diganggu. Pengrusakan lingkungan pada dua wilayah itu adalah ‘dosa’ yang diikuti oleh hukuman Tuhan (Lahatala).


 GUNUNG DUNIA
Saya memiliki keterbatasan tersendiri untuk memahami struktur bahasa Lio Upaa (Koa) pada masyarakat adat Maraina-Manusela di Pulau Seram. Waktu berada di sana sangat singkat (21 – 26 November 2015) tentu tidak cukup untuk memahami semesta bahasa tanah yang tua itu. Murkele adalah pusat pancaran kehidupan semua masyarakat Maluku, maka sudah tentu bahasa Lio Upaa adalah bahasa ibu yang kemudian melahirkan sistem bahasa lain seperti Wemale, Alune, Nuaulu.
Dalam keyakinan masyarakat Maraina-Manusela (Sopa Maraina), Murkele adalah gunung dunia. Artinya gunung itu merupakan pusat pancaran kehidupan. Segala kehidupan semesta ini dimulai dari situ. Di situ pula segala bangsa berasal dan sub-sub suku bangsa berkembara ke seluruh penjuru dunia. Murkele adalah ‘gunung yang tidak terbatas’, artinya ‘segala sesuatu ada dan berasal dari situ’.
Murkele bukanlah gunung dalam arti ideologis tetapi suatu teritori sosial awal dari masyarakat Maluku. Gunung ini sendiri terdiri dari Murkele Besar dan Murkele Kecil.
Istilah Mena-Muria, dalam tuturan orang Maraina-Manusela lahir dari pengenaan teritori sakral pada gunung Murkele sebagai pusat kehidupan seluruh masyarakat Nusa Ina. Murkele menjadi sakral bukan karena deretan ritus tetapi pusat dari seluruh tatanan kehidupan dunia.
Bagi orang Maraina-Murkele (Sopa Maraina), tatanan dunia dimulai dari Murkele. Tanah dan batu adalah unsur dasar dari seluruh tatanan dunia. Tanah adalah unsur utama (berwarna putih yang artinya bersih dan hitam yang artinya besar atau agung) yang melaluinya badan atau tubuh dibangun/dibentuk. Karena itu tanah adalah material sakral, simbol yang menandakan atau menunjuk kepada manusia.
Dari situ terdapat kejelasan tentang makna sakral Nusa Ina – Pulau Ibu. Fisiologis ibu/mama yang melahirkan anak itu dapat dilihat dari susunan gunung Murkele Besar dan Murkele Kecil, laksana mama sedang berbaring dalam posisi untuk melahirkan. Karena itu gugusan kedua gunung ini harus dilihat sampai ke gunung Hoale, sebagai yang menunjuk pada vagina. Fisiologis ini yang menjadi alasan mengapa Murkele disebut gunung dunia dan pusat kehidupan.
Batu (berwarna merah yang artinya sungguh-sungguh, benar) merupakan unsur sakral yang menunjuk pada darah. Darah dalam arti ini bermakna sebagai sesuatu yang mahal, berharga, sehingga tidak boleh tertumpah sembarangan atau untuk kesia-siaan. Dari situ kita bisa memahami mengapa orang Maluku kuat berpegang pada sumpah atau janji, dan mengapa batu menjadi simbol legalisasi sumpah adat.
Mencampurkan tanah dan batu dalam satu tindakan sumpah adat (termasuk sasi tanah negeri) adalah ritus yang mengarahkan seluruh masyarakat adat pada Nusa Ina sebagai pusat kehidupan yang tidak boleh dibiarkan hancur. Sebab membiarkan hancur berarti membiarkan mama dijadikan korban oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Mama adalah pusat kehidupan. Mama adalah tanah dan batu.
Bagi masyarakat adat Sopa Maraina, yang bertugas menjaga mama adalah papa (suami) dan anak-anak laki-laki (menjaga keamanan diri mama, sehingga lebih condong para tindakan proteksi atau pembelaan) dan perempuan (menjaga kehormatan mama, sehingga lebih condong pada perbuatan kesusilaan, etika, moral).


MURKELE, MENA-MURIA
Paham Murkele sebagai gunung dunia menjadi bidang sosial yang menerangkan makna Mena Muria. Dalam bahasa Lio Upaa (Koa), istilah Mena Muria menjadi semacam istilah khusus yang jarang digunakan dalam percakapan sesehari. Nyaris kita tidak mendengar kosa kata itu muncul dalam langua maupun parole atau pola komunikasi dan cara membicara atau bertutur masyarakat.
Namun jika ditanyakan arti Mena Muria, dengan gestur yang khas, mereka akan menundukkan kepala, tanpa memandang lawan bicara. Pada orang tertentu mungkin mereka tidak menjawab pertanyaan itu. Jika kenyataan itu yang ditemui, hal tersebut tidak berarti ia tidak mengetahui jawabannya. Namun ia tidak boleh memberi jawaban sebab pertanyaan itu terkait dengan sesuatu yang sakral bagi masyarakat adat. Ada orang yang memang berhak menjawab hal-hal yang terbungkus kesakralan itu.
Makna Mena Muria ternyata dilekatkan langsung pada posisi Murkele dalam perspektif gunung dunia atau pusat kehidupan itu. Mena Muria sendiri berarti ‘di muka dan di belakang, (selalu) ada’. Arti ini menunjuk pada potensi kehidupan yang tidak akan pernah habis di Murkele.
Saat pertanyaan itu saya ajukan kepada Tete Cada ~seorang tetua adat di sana, ia menjawab ‘itu katong sudah tuh’ (=itulah kami, bukan yang lain). Mena Muria adalah lukisan tentang hakekat Murkele sebagai pusat kehidupan sosial dan ekonomi. Mena Muria adalah manifestasi kelimpahan potensi. Menurut Tete Cada, ‘katong’ adalah dunia. Ia menggunakan istilah ‘dunia’ untuk menegaskan bahwa di Murkele itulah seluruh tatanan ciptaan ini dimulai.
Kita bisa memahami bahwa ‘dunia’ dalam arti itu partikular, sebagaimana pengertian ‘dunia’ dalam tradisi Yahudi dan Romawi yang juga sebatas pada imperium Romawi. Namun kesan yang saya dapati dari pemaknaan itu adalah bahwa ‘dunia’ yang direpresentasi dalam tuturan masyarakat Sopa Maraina adalah ‘kehidupan’ itu sendiri.
Mena Muria, di muka dan di belakang, ada ~menerangkan tentang fisiologis gunung Murkele Besar dan Kecil yang menurut masyarakat, dari depan tampak seperti mama sedang tidur untuk melahirkan. Itulah kehidupan. Dan di belakang akan kelihatan seperti dapur atau meja makan, dan aneka makanan yang tersedia. Itulah kehidupan.
Tete Cada malah berujar ‘jadi mau takotang apa? Samua ada. Maluku tar miskin. Di muka deng di blakang samua su ada’ (=jadi mau takut apa? Semuanya tersedia. Maluku tidak miskin. Di semua tempat tersedia beragam potensi kehidupan).
Jadi istilah itu adalah representasi potensi kekayaan alam Maluku yang tersedia sebagai berkat kehidupan. Dengannya ‘dunia’ itu ditata dan diarahkan pada suatu hal yang luhur yakni ‘kehidupan’.
Murkele, itu mama yang melahirkan katong! Murkele, Maluku mari lia mama!
Mena Muria!

Ambon, 25 April 2016


No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!