Monday, April 17, 2017

Yusuf dari Arimatea

Cerita Fiksi Alkitab:
YUSUF DARI ARIMATEA

Pagi itu, orang semakin banyak memenuhi alun-alun Kota. Di teras atas Istana, tampak Pilatus hilir mudik, bersama beberapa pejabat lain. Beberapa orang Imam Besar Yahudi, Anggota Mahkamah Agung dan Majelis Besar (Bouleutes) juga terlihat di situ.

Sesekali Pilatus tampak marah. Di saat berikutnya ia seperti sedang berpikir keras. Bingung bercampur geram. Ternyata, ia berharap Herodes, rekannya itu, yang menjatuhkan vonis terhadap Yesus, namun Herodes malah mengembalikan Yesus kepadanya selaku gubernur wilayah.

Pilatus : (menggerutu dalam hati) Aku jadi bingung dengan keadaan ini. Tahukah kalian, aku semakin yakin, orang ini tidak melakukan satu pun pelanggaran, baik terhadap hukum negara maupun terhadap hukum agama kalian (sambil menunjuk pada beberapa anggota Mahkamah Agama dan majelis Besar).

Mereka semua terdiam

Anggota Mahkamah Agama : Yang Mulia, Tuanku. Sekiranya tuanku berkenan, biarlah tuanku menyatakan ia bersalah, dan biarlah ia dihukum sesuai aturan agama kami, sebab pada hari paskah harus ada domba yang dikorbankan

Pilatus : Kau berkata seenakmu saja. Bukankah hari paskahmu itu hari pembebasan? Lupakah kau akan sejarahmu sendiri? Bagaimana caranya kalian keluar dari Mesir? Dalam enskilik Mesir pun disebutkan bahwa ada tangan yang lebih kuat yang membawa kalian dari sana.

Anggota Mahkamah Agama : Yang Mulia, Tuanku. Benarlah kata tuanku. Bangsa Mesir, demikian pun Persia, sewaktu kami keluar dari Babilonia, telah mengakui kuasa Yahweh, TUHAN kami. Sebab itulah yang mereka lihat sewaktu kami dibawa keluar dari perbudakan. Dan untuk itulah kami merayakan Paskah

Pilatus : Lalu apa hubungannya dengang orang ini? Dia Yesus, bukan seekor domba yang harus kalian korbankan di hari Paskah

Anggota Mahkamah Agama : Yang Mulia, Tuanku. Itulah sebabnya, biarlah semua ini terjadi menurut hukum agama kami, asal tuanku bertitah untuk salibkan Dia seperti suara orang banyak di luar sana

Pilatus terdiam. Hening di dalam ruangan itu. Terdengar ribut-ribut di alun-alun, dan orang-orang tetap meneriakkan ‘Salibkan Dia’ berulang-ulang.

Pilatus : Yusuf dari Arimatea, aku tau engkau seorang anggota Majelis Besar. Apa pendapatmu tentang hal ini?

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Hambamu ini hanyalah anggota biasa. Biarlah hambamu tidak mengotori bibir dan hati ini dengan apa yang bukan menjadi hak hambamu ini.

Pilatus : Tetapi aku dengar diam-diam engkau telah mengikuti Yesus dan kagum akan pengajarannya

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Selama ini hambamu ini bersahabat dengan tuanku. Terima kasih karena bisa diundang makan di meja tuanku dan dari hidangan terbaik di istana ini. Hamba mengingat benar kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego di istana Babel. Sebab itu, jangan tuanku mengira-ngirakan hal yang tidak bisa hamba sangkali atau pun akui di hadapan tuanku. Biarlah itu menjadi jawabku kepada Yahweh, TUHANku

Pilatus : Kau membuat aku semakin bingung, sahabatku. Sebab dari semua anggota Majelis ini, kaulah yang aku lihat sangat tenang dan baik hati

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Hambamu ini hanyalah anggota biasa

Pilatus kemudian memanggil staf hukumnya dan berkonsultasi beberapa hal secara tertutup. Lalu ia keluar ke teras istana itu dan memakumkan pembebasan Barabas, dan menyerahkan Yesus untuk disalibkan.

Orang-orang banyak itu bersorak girang. Majelis Besar dan Mahkamah Agama pun bersukaria. Dan mulailah mereka menyiksa Yesus, memukulinya dengan cambuk. Beberapa perempuan dan murid-murid Yesus yang hadir di situ tampak sedih dan menangisi Yesus yang dicambuk.

Yusuf dari Arimatea berlari ke sisi tembok istana. Dengan sangat sedih dan menyesal ia merobek-robek bajunya, dan membuangnya dan menginjak-injak dan sambil memukul kepala dan dadanya sendiri. Ia sungguh menyesal, sebab tidak kuasa membebaskan Yesus dari vonis itu.

Sambil menangis:

Yusuf dari Arimatea : Yesus, Guruku. Jika Engkau berkenan, ampunilah aku. Sebab aku tak sanggup menjawab tanya Pilatus di hadapan para majelis lainnya.

Ia lalu pergi ke alun-alun, dan dari kejauhan ia melihat Yesus terus disiksa, dan ditarik oleh para prajurit untuk berdiri, sambil terus dicambuk dan dipukuli, Ia dipaksa memikul balok  kayu yang berat. Yesus pun disuruh berjalan menyusuri lorong-lorong kota ke luar menuju ke Golgota.

Di tengah hari, ketika Yesus telah disalibkan, terjadilah gempa teramat hebat, dan Yesus pun menyerahkan nyawaNya kepada Yahweh, Bapa-Nya. Ia mati. Para prajurit yang menjaga di bawah salibnya menikam lambungnya dengan tombak untuk membuktikan apakah Ia masih hidup atau sudah mati.

Yusuf dari Arimatea melihat semua itu, dan dengan hati berat, ia bergegas ke istana Pilatus dan meminta untuk menghadap.

Pilatus : Ada apa kau datang ke sini, Yusuf, sahabatku?

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Telah Tuanku tahu, bahwa Yesus telah mati di salib.

Pilatus: benar. Aku baru mendapat kabarnya beberapa jam yang lalu.

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Aku tahu akan seluruh hukum Romawi. Tentang orang yang tersalib, biarlah ia tergantung di sana dan binatang buas dan burung gagak akan memakan habis dagingnya. Namun, biarlah hambamu ini mendapati sedikit belas kasih Tuanku. Ijinkan hambamu ini menurunkan tubuh Yesus, dan mengapaninya, agar dimakamkan ke kuburan milik hambamu ini. Dengan begitu, hamba tidak terikat hutang kepada siapa pun.

Pilatus : sudah aku duga, engkau pasti telah menjadi pengikutnya

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Jika itu sangka tuanku, dan hambamu ini harus dihukumkan, biarlah hambamu ini mendapat kasihmu terlebih dahulu, dan setelah itu, hukumlah hambamu menurut mau tuanku

Pilatus : Yusuf, sahabatku. Tidak ada alasan bagiku menghukum engkau. Aku tahu, tidak ada salah pada diri Yesus. Yang membuatku menyesal, mengapa Ia tidak mau berbicara sekata pun, padahal Dia tahu, dari mulutku, aku bisa mengatakan hukum dan membatalkan hukum

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Biarlah itu terjadi sebab sudah seperti itulah Ia harus memenuhi kehendak Bapa-Nya.

Pilatus : dari mana engkau tahu?

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Dari mulut-Nya dan dari cerita para murid-Nya sendiri.

Pilatus : Karena engkau sahabatku dan ternyata hatimu tulus dan karena kerendahan hatimu itulah, layanilah Yesus seperti yang engkau kehendaki. Jika ada siapa pun yang mencegahnya, katakan: ‘Pilatus yang mengatakannya”.

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Kiranya Tuanku tetap sehat, bahagia dan hidup selamanya. Hambamu mohon diri

Yusuf dari Arimatea kemudian meninggalkan hadapan Pilatus. Ia bergegas keluar. Namun ia dicegat oleh seorang rekan Majelis Besar lainnya, Nikodemus.

Nikodemus : Yusuf, apa yang kau mintakan dari Pilatus?

Yusuf dari Arimatea : Sahabatku, apakah engkau bersama dengan aku?

Nikodemus : Iya, aku bersama dengan engkau. Di mana engkau mati, hukuman itu pun akan kena kepadaku

Yusuf dari Arimatea : Aku meminta supaya aku diijinkan mengapani Yesus dan membawanya ke kubur milikku

Nikodemus : demi kebaikan hatimu, biarlah aku ada dalam bagian yang sama dengan engkau, sebab aku pun tahu, Ia adalah TUHAN

Yusuf dari Arimatea : Jangan sebutkan itu di sini. Masih banyak orang yang melihat kita

Nikodemus : Tentu aku yakin, aku akan lahir kembali, seperti pernah dikatakan-Nya

Yusuf dari Arimatea : Sudahlah. Semakin lama kita berdua di sini, senja semakin rembang dan malam segera turun. Tidak baik kita membawanya ke kubur di malam hari.

Mereka lalu bergegas ke rumah Yusuf. Nikodemus memilih kain lenan terbaik dari persediaan Yusuf di rumahnya, dan mereka bergegas ke Golgota dan menurunkan tubuh Yesus dari Salib. Nikodemus mengapaninya dengan sangat rapih. Mereka memberi rempah-rempah ke tubuh-Nya seperti kebiasaan orang Yahudi, dan membawanya ke kuburan, tidak jauh dari Golgota. Kuburan itu sudah disiapkan Yusuf beberapa waktu lalu untuk keluarganya. Belum ada satu orang pun yang dikuburkan di situ.
Setelah tubuh Yesus diletakkan, mereka keluar dan menggulingkan batu penutup kubur itu.

Nikodemus : sahabatku, terima kasih engkau telah menjadikan aku bagianmu

Yusuf dari Arimatea : Hatiku bersukacita, karena Allah Juruselamatku. Hari ini, segala kebaikan-Nya aku alami. Tanganku yang penuh cela ini telah dikuduskan untuk menatang tubuh-Nya, dan tempatku yang aku sediakan untuk diriku dan keluargaku telah dijadikan-Nya kudus bagi Anak Domba Allah.

Yusuf berbalik melihat Nikodemus dan beberapa orang keluarga yang membantunya dan berkata:

Yusuf : Ingatlah jalan ini. Ke sinilah kita mambawa tubuh Yesus. Dan dalam kubur inilah kita memakamkannya. Suatu waktu jika ada orang yang sangsi akan hal ini, kitalah saksinya.

Mereka pun mengangguk, dan tanpa bersuara sedikit pun, mereka semua kembali ke tempat masing-masing.

Setiba di rumahnya, Yusuf mengumpulkan semua anggota keluarganya, dan membagi roti untuk mereka makan.

Yusuf dari Arimatea : Makanlah dengan hati penuh sukacita, sebab hari ini kita sudah dimungkinkan melakukan apa yang baik kepada TUHAN. Ketahuilah, bahwa Yesus telah dikuburkan ke dalam kubur kita semua. Dari mana kita berasal, orang tidak tahu. Kota kita pun hampir hilang. Yang diingat orang hanyalah Ramataim-Zofim. Tetapi orang tidak tahu, bapa kita ialah Daud. Jadi, yang ada di dalam kubur kita itu, adalah saudara kita sendiri, Anak Daud. Maka tepatlah ia ada di sana.

Dalam diam, mereka memakan makanan malam itu, dan semuanya pergi tidur di pembaringan masing-masing. Yusuf pun pergi tidur dengan hati penuh sukacita.(eltom)

Ambon, 13 April 2017
Elifas Tomix Maspaitella






Wednesday, April 12, 2017

AKU HAUS: Masih Saja Ada Gagal Paham

(Yohanes 19:28-30)
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Gagal paham adalah sebuah fenomena di dalam tradisi ilmu dan sosial. Dalam tradisi ilmu, gagal paham menjadi petanda pengolahan rasio yang menjurus pada absurdisitas (unreasonable). Penolakan terhadap fakta/empiri yang menjadi jurang gagal paham itu. Ketika empiri ditolak maka orang akan berkutat pada dunia maya, suatu khayalan buta di luar diri dan lingkungan di mana ia ada. Para ilmuan sejarah selalu menghindari hal ini dengan menunjukkan sekumpulan data historis, sebab jika terjadi gagal paham dalam ilmu sejarah, sudah tentu narasi yang terbangun adalah fiktif.
Dalam tradisi sosial, gagal paham ditandai oleh penolakan atau sikap tidak mau menerima (refusing) suatu fakta atau seseorang. Fenomena ini biasa terjadi pada para deviant~yaitu orang yang tidak mau hidup menurut aturan-aturan normal, dan memaksakan kehendaknya sebagai sebuah standard yang ternyata bertolak belakang dengan apa yang menjadi kehendak umum. Kaum deviant tidak saja mengucilkan dirinya, tetapi menganggap orang lain tidak ada.
Pada kisah penyaliban Yesus, sebagaimana diceritakan dalam Injil Yohanes, bentuk gagal paham itu pun tampak. Sejak awal (Yoh.1:1,14), penginjil telah berusaha menjelaskan siapa Yesus yang ditolak oleh kaum gnostik. Hal ‘Firman yang menjadi manusia dan diam di antara kita’, merupakan klarifikasi Yohanes tentang TUHAN yang berbicara langsung kepada manusia, sebab Ia benar-benar menjadi manusia. Namun ternyata bentuk gagal paham itu terus mewarnai debat Yohanes dan kaum gnostik di sepanjang injilnya.
Sampai pada penyaliban Yesus, di atas kayu salib, Yesus berseru: ‘ ‘Aku haus’ (Yoh. 19:28). Seruan itu tidak berarti Yesus haus seperti rasa haus yang kita rasakan. Itu ungkapan metafora, mengenai orang yang menderita sesuai dengan kehendak kita.
Orang Yahudi dan pemerintah Romawi menghendaki Ia disalibkan. Dan Ia sudah menjalani itu, seperti yang mereka mau. Sebab itu seruan ‘Aku haus’ bagi Yohanes menunjukkan bahwa penyaliban Yesus itu telah sesuai dengan apa yang dirancangkan oleh mereka.
Di sisi kedua, seruan itu bermakna bahwa semua penderitaan manusia benar-benar sudah ditanggung olehNya. Ia sudah merasakan semua penderitaan yang dirasakan manusia dalam hidupNya. Dengan demikian seruan itu bermakna, Ia sudah menggantikan atau menanggung semua beban dosa umat.
Ini pun disalahpahami oleh prajurit Romawi, yang memberi kepadanya anggur asam pada sebatang hisop. Selain sebagai bentuk kesalahpahaman, tetapi sekaligus penghinaan. Di sini Yohanes meneruskan perbantahan dengan kaum gnostik yang salah memahami siapa Yesus sebenarnya.
Terlepas dari semua perbantahan dan gagal paham itu, di Kamis Putih ini, kita percaya bahwa ada orang benar yang menderita oleh sebab ketidakadilan. Namun lebih dari itu, Ia menderita sebagai wujud ketaatannya kepada Bapa-Nya.
Selamat Menjalani Kamis Putih.
Selamat mempersiapkan diri memasuki Jumat Agung.

Nos Autem Praedicamus Christum Crucifixum

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!