Tuesday, May 24, 2016

BAGAIMANA MENAFSIR SURAT-SURAT PAULUS [Edisi 1]

Sebuah Pegangan Sederhana Untuk Berlatih Menafsir Alkitab
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Pengantar
Materi ini disusun untuk mendiskusikan apa-apa yang perlu diperhatikan jika kita hendak menafsir suatu teks dalam surat-surat Paulus. Sebab menafsir teks dalam Alkitab, ada hal-hal khusus dari teks itu yang perlu diperhatikan, supaya kita tidak menafsir sesuka hati kita [subyektif] melainkan menafsir teks dengan mencari tahu apa yang membuat sang penulis menulis seperti itu, kepada siapa ia menulis dan apa maksudnya di dalam konteks waktu itu? Jika itu sudah jelas, baru kita bisa menjelaskan maksud tafsiran itu kepada jemaat di saat ini.
Jadi menafsir sama dengan membangun jembatan ke masa lalu, kemudian berjalan di atas jembatan itu sambil membawa ‘pesan dari masa lalu’ kepada jemaat di masa kini tetapi sudah dikemas sesuai dengan konteks jemaat di masa kini. Di kesempatan ini kita akan mencoba bersama melihat apa-apa di dalam surat Paulus dan bagaimana menafsirnya.
Dalam materi ini kita akan melihat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menafsir Surat-surat Paulus agar hasil tafsir itu bisa kita gunakan dalam tugas pelayanan [melalui refleksi, khotbah, atau pesan-pesan firman lainnya].

Sang Penulis
Mengenai tanggal surat-surat Paulus ditulis banyak ahli PB tidak menyepakati satu tanggal secara patent, sebab ada banyak teori tentang sistem penanggalan tulisan PB [dan juga PL]. Tetapi tentang siapa penulisnya, disepakati bahwa Paulus yang bertindak menulis surat-suratnya itu dengan tangannya langsung. Untuk hal ini hampir tidak ada keraguan sebab secara intelektual dia adalah seorang yang terpelajar [dari gurunya Gamaliel]. Di kalangan pemuda-pemuda Yahudi, dia termasuk yang briliant dan pikirannya banyak menjadi rujukan dalam gerakan keyahudian di tahun-tahun 44-56 M, apalagi dia adalah seorang Farisi.
Dia salah satu penganjur dalam gerakan Keyahudian yang turut menentang kelompok yang menyebut dirinya ‘eklesia’ yaitu penganut ajaran Yesus yang kemudian menamakan dirinya Kristen. Tetapi ia kemudian masuk ke dalam kelompok Kristen itu dan memberitakan Injil tentang Yesus Kristus, bahkan sangat berpegang pada seluruh peristiwa Yesus mulai dari kelahiran, kematian, kebangkitan dan kedatangan kembali di kali kedua [parousia]. Malah Paulus lebih gencar memprovokasi jemaat tentang YESUS YANG TERSALIB. Seluruh teologinya berkisar di situ. Dia juga yang membangun harapan eskhatologi dalam kekristenan di atas dasar ajaran Yesus, dan dia yang mula-mula mendirikan Jemaat Kristen di luar Yerusalem.

Susunan Surat
Susunan surat-surat Paulus dalam Alkitab [PB] adalah Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, Titus, Filemon, dan Ibrani.  Dari 14 jenis surat itu kita dapat menggolongkannya menjadi [a] surat kepada jemaat, dengan alamat yang jelas, yakni Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Filipi, Kolose; [b] surat kepada jemaat dalam teritori yang luas artinya tidak hanya di satu tempat [diaspora] yakni Efesus,  1 dan 2 Tesalonika, dan Ibrani; dan [c] surat kiriman kepada dan mengenai sahabat yakni 1 dan 2 Timotius, Titus, dan Filemon.

JADI:
1.     Jika teks dari Surat Golongan [a], jangan lupa, Paulus melalui teks itu sedang atau hendak berbicara kepada suatu jemaat, dalam arti kolektif jemaat; orang banyak, tentang suatu masalah. Di situ sudah ada orang yang menjadi kristen.
2.    Jika teks dari Surat Golongan [b], jangan lupa, Paulus sedang atau hendak berbicara kepada suatu jemaat yang sudah terbentuk di beberapa tempat atas masalah yang sama. Surat golongan [b] ini lebih banyak bersifat pastoralia, atau bimbingan untuk memecahkan suatu masalah yang penting.
3.    Jika teks dari Surat Golongan [c], jangan lupa, Paulus hendak berbicara kepada atau tentang seorang sahabatnya yang menopang dia dalam pelayanan; apa yang harus diperhatikan sahabat itu, dan bagaimana jemaat harus menerima orang itu, menerima ajarannya dan memahami yang diajarkan sahabatnya itu sama dengan yang diajarkan Paulus. Wibawa ajaran ada pada Yesus Kristus.


MAKA:
1.     Teks dalam golongan [a] dan [b] dialamatkan untuk jemaat dalam arti kelompok yang besar – pesannya untuk orang banyak. MISALNYA, teks Roma 12:2 ‘janganlah kamu serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yuang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna’. INGAT: kata kamu dalam ay itu bukan orang kedua tunggal [=anda], melainkan orang kedua jamak [=kalian, anda semuanya –orang banyak].  Jadi ay itu diartikan dan penting kepada banyak orang, bukan satu orang saja.
2.    Teks dalam golongan [c] bercerita tentang satu orang, tetapi satu orang yang bertugas atau memiliki hubungan dengan orang banyak. Jadi pesan di dalamnya mengarah kepada orang itu, agar melalui orang itu, orang banyak turut terlayani. MISALNYA, Filemon 1:6 ‘dan aku berdoa, agar presekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus’. INGAT: kata aku menunjuk kepada Paulus sebagai rasul yang memberi pesan. Jadi pesan ini berasal dari Paulus, ditujukan kepada Filemon agar Filemon dapat membina jemaat. PERHATIKAN kalimat berikut ‘…agar persekutuanmu di dalam iman…’ menunjuk pada kualitas diri Filemon. PERHATIKAN pula rangkaian kalimat berikut, ‘…yang baik di antara kita untuk Kristus’. Maksudnya, kualitas iman Filemon itu mesti berdampak dalam hubungannya dengan Paulus dan dengan jemaat.

Gaya Penulisan
Ada satu gaya menulis sebagai ciri khas surat Paulus yaitu SALAM Pembukaan dan BERKAT di penutupan Suratnya. Paulus biasa membuka Suratnya dengan Salam Pembuka yang khas. Ia menyapa Jemaat sebagai saudara atau sahabatnya, dan merasa memiliki dan dimiliki oleh jemaat itu. Dari situ dimengerti bahwa relasinya dengan jemaat sangat dekat, dan kedekatan itu karena iman di dalam Yesus. Salam itu diikuti dengan langsung menunjuk dirinya sebagai HAMBA YESUS KRISTUS, dan ditutup dengan BERKAT. Hal yang sama dijumpai pula di bagian penutup setiap suratnya.
Dari situ dapat dimengerti bahwa nasehat-nasehat Paulus dalam surat ini bertujuan untuk [a] membangun iman, [b] memecahkan masalah sebagai orang percaya, [c] membentuk moralitas yang baik berdasar pada injil dan meneladani Yesus Kristus, [d] menjaga kekompakan di antara para pelayan, [e] menjaga keutuhan jemaat dan mendorong jemaat saling membantu, [f] mempersiapkan jemaat menyongsong kedatangan Tuhan sambil tetap berkarya dan berperilaku yang baik di dunia, [g] mendorong partisipasi jemaat sebagai masyarakat.

Tema-tema Teologi
Ada banyak tema teologi dalam surat Paulus. Kesempatan ini kita hanya akan mendisuksikan tiga tema sebagai penuntun untuk menafsir, yaitu:
1.    Kristosentrisme. Paulus sadar sepenuhnya bahwa ia adalah utusan Yesus untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Jadi jemaat yang dibentuknya itu adalah orang-orang non-Yahudi. Dari situ Paulus dapat disebut sebagai bapa Evangelisasi gereja. MAKA penting diingat, Paulus dalam surat-suratnya menerangkan tentang bagaimana ia menjelaskan YESUS kepada orang-orang non-Yahudi. Jadi juga tergambar kesulitan-kesulitan yang ia hadapi, dan bagaimana ia keluar dari kesulitan itu, atau bagaimana ia menghadapinya, dan mengapa ia tetap menghadapinya, termasuk sampai berkali-kali masuk penjara. Bahkan Surat kepada Jemaat di Filipi tergolong sebagai Surat dari dalam Penjara.
2.   Salibsentrisme. Yesus yang diperkenalkan Paulus adalah Yesus yang tersalib. Paulus sangat serius menerangkan tentang keselamatan yang bersumber dari pengorbanan Yesus di Salib. Ini sekaligus menggeserkan paham keselamatan dalam Keyahudian dan gnostisisme yang mengarah pada kualitas rohani pribadi.
3.   Persekutuan Jemaat. Karena ia sangat serius membangun jemaat, maka Paulus resah jika di dalam jemaat ada perselisihan. Ia terus mengajak jemaat untuk bersekutu, dan persekutuan itu diibaratkan sebagai ‘keluarga Allah’.

Demikian beberapa hal yang perlu dibagikan. Hal-hal lain akan dijelaskan di kesempatan lainnya.



[Materi Ibadah Keluarga Majelis Jemaat GPM Rumahtiga
21 Februari 2012, Kel. Pnt. L. Makatipu]


Makna Teologis dan Liturgis Kolekta/Persembahan

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella
[Materi Ibadah Keluarga Perangkat Pelayan Jemaat Rumahtiga, 17 September 2013]

Pengantar
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji beberapa bahan Alkitab tentang persembahan/kolekta, guna memberi pemahaman yang relevan sehingga terdapat pula praktek memberi persembahan yang benar dari Jemaat. Sebab itu saya akan mengkajinya dengan melihat pada [1] pengertian dasar persembahan; [2] bentuk-bentuk persembahan; [3] motivasi memberi/membawa persembahan. Tiga aspek ini akan dikaji dari dasar-dasar Alkitab [PL dan PB], sambil merefleksikan cara memberi yang selama ini diterapkan dalam praktek ibadah dan bergereja kita.

1. Pengertian Dasar Persembahan
Persembahan adalah sesuatu [in natura] yang diberikan kepada seseorang sebagai bentuk ketaatan pada hukum atau pemberian secara sukarela sebagai hadiah atau guna membantu meringankan beban orang lain [pemberian sukarela/sukacita].
Ketika istilah ini dijadikan bagian dari ritus agama, termasuk Kristen atau Gereja, maka pihak yang kepadanya persembahan itu  diberikan adalah TUHAN dan melalui imam Bait Allah/gereja, ditujukan pula kepada para imam itu sendiri dan orang-orang miskin. Dari pengertian itu maka persembahan itu adalah sesuatu yang kita persiapkan secara khusus, dan dibawa ke rumah TUHAN untuk dipersembahkan/diberikan kepada TUHAN sebagai tanda terima kasih, ucapan syukur, permohonan [nazar], permohonan pengampunan dosa, dan korban keselamatan.
Persembahan dibawa ke rumah TUHAN [Bait Allah] ---atau ke dalam ibadah jemaat---sebab umat percaya bahwa Allah hadir di tengah-tengah umat dan melalui kehadirannya ia menerima segala persembahan jemaat sambil memberi kepada mereka pengampunan dosa, jaminan keselamatan, atau berkat sesuai dengan permohonan mereka.
Dalam hal ini, imam menjadi pengantara, untuk membawa doa permohonan umat yang memberi persembahan, dan mempersembahkan kepada TUHAN segala persembahan umat itu. Jadi peran imam sangat besar dalam hal ini.

2. Bentuk-bentuk Persembahan
Saya tidak akan mengutarakan bentuk-bentuk persembahan dalam tradisi Yahudi [PL] secara detail. Namun akan lebih fokus pada bentuk-bentuk yang lazim dipraktekkan di GPM, yang sebenarnya berakar pula dari PL atau tradisi Yahudi itu sendiri. Bentuk-bentuk persembahan yang lazim dipraktekkan di GPM ialah persembahan syukur [kolekta], persepuluhan, ulu hasil, nazar, sumbangan sukarela/wajib.
a. Persembahan Syukur [Kolekta]. Bentuk ini adalah bentuk persembahan yang diberikan secara rutin oleh jemaat baik dalam ibadah di gereja maupun ibadah di rumah-rumah jemaat secara bergiliran. Apa pun jenis ibadahnya, persembahan syukur merupakan bentuk persembahan utama, dalam arti tidak boleh tidak ada. Sebab secara liturgis, persembahan syukur [thanks givings/offerings] ini adalah pernyataan syukur jemaat atas berkat keselamatan atasnya yang terjadi semata-mata oleh kasih karunia TUHAN. Sebuah pemberian terbesar yang diperoleh umat secara cuma-cuma.
Sebab itu, kolekta atau persembahan syukur yang diberi dalam setiap ibadah jemaat merupakan respons terima kasih atas berkat keselamatan yang bersumber hanya dari TUHAN. Dengan memberi kolekta umat sadar dan mengaku bahwa, ‘kami berdosa dan sepantasnya dihukum, tetapi kasih karunia TUHAN-lah yang menyelamatkan kami’, oleh sebab itu, kolekta merupakan bentuk ungkapan terima kasih dan syukur.
Dalam tradisi Yahudi, jenis persembahan ini harus dibawa ke altar di Bait Allah dalam Ruang Maha Kudus, dan diserahkan kepada imam. Motivasi ini yang juga menjadi motivasi kita memberi persembahan [kolekta]; setiap kali kita datang kepada TUHAN dalam ibadah.
Namun dalam tradisi GPM, ada dua cara memberi kolekta. Pertama, dalam ibadah-ibadah di rumah jemaat, kolekta langsung diberi dengan jalan diletakkan di dalam piring kolekta/nazar yang telah disediakan oleh keluarga di mana ibadah berlangsung di rumah mereka. Piring kolekta/nazar bukanlah piring yang biasa digunakan untuk makan sesehari. Ini adalah piring, atau wadah lain, yang sudah dikhususkan, dan biasanya ada di meja sumbayang keluarga itu.
Hal ini bermakna bahwa, jemaat GPM terpola secara teologis dan liturgis guna menyediakan bagi persembahan, suatu tempat yang telah dikhususkan/dikuduskan; dan wadah itu dipandang berbeda [sakral] dibandingkan wadah serupa yang digunakan sebagai peralatan rumah tangga sesehari. Di rumah-rumah jemaat, yang masih menjadikan meja sumbayang dan piring nazar sebagai kelengkapan khusus rumah tangga, maka uang yang diperuntukkan bagi kolekta seisi keluarga, diletakkan di dalam piring nazar di meja sumbayang. Setiap kali siapa pun dalam rumah itu hendak pergi beribadah, ia akan mengambil uang di dalam piring nazar itu sebagai kolektai-nya. Ada nilai kekudusan di situ. Dengan demikian uang guna persembahan syukur/kolekta itu adalah uang yang sudah dipersiapkan sejak awal atau telah diangkat secara khusus sebagai kolekta.
Hal ini penting, sebab kolekta sebagai persembahan keselamatan sudah harus didoakan terlebih dahulu sebelum kita membawanya sebagai persembahan kepada TUHAN. Dengan mendoakannya terlebih dahulu, kita sadar bahwa setiap hari kita hidup hanya karena kasih karunia TUHAN. Dan setiap hari kita berterima kasih kepadaNya.
 Bentuk kedua adalah kolekta yang kita beri dalam ibadah Minggu atau ibadah khusus lainnya, memiliki makna yang sama. Hanya cara kita memberi yang berbeda. Di dalam ibadah Minggu, kolekta jemaat dikumpulkan oleh petugas yang disebut kolektan/kolektanten. Mereka adalah pelayan khusus bait Allah yang bertugas mengumpulkan persembahan keselamatan jemaat untuk dibawa ke altar maha kudus. Secara dasariah, mestinya umat yang membawa sendiri persembahan mereka ke altar atau dalam ruang maha kudus kepada TUHAN melalui imam. Hanya dalam tradisi Protestan hal ini dilakukan sebab pusat ibadah Protestan adalah pada pemberitaan firman, dengan pemusatan pada mimbar. Sedangkan altar itu disimbolkan melalui meja persembahan syukur, yang di atasnya seluruh persembahan umat diletakkan.
b. Persepuluhan, Ulu Hasil dan Nazar. Hal ini telah dijelaskan dalam tulisan saya yang telah dibagikan pada beberapa waktu lalu. Karena itu saya tidak akan mengulanginya. Namun bahwa, jenis persembahan ini adalah juga persembahan wajib yang harus diberikan umat kepada TUHAN. Dalam prakteknya, biasanya di depan pintu gereja ada satu peti yang dikhususkan untuk persembahan khusus jemaat. Pada peti itu umat bisa meletakkan persepuluhan atau ulu hasil [di kota atau jemaat-jemaat pedesaan pun saat ini sudah dalam bentuk uang] atau nazar mereka. Khusus mengenai nazar, biasanya uang pergumulan khusus keluarga atas suatu masalah tertentu, yang digumuli bersama dengan Pendeta atau Majelis Jemaat atau oleh keluarga itu sendiri, biasanya dapat diletakkan dalam peti tersebut. Termasuk di dalam nazar itu adalah uang persembahan ibadah pengucapan syukur seperti syukur Ulang Tahun, Kenaikan Kelas, batu pengalasan rumah, syukur masuk rumah baru, lulus ujian, mendapat kerja, sembuh dari sakit; karena itu jenis pemberian ini sesungguhnya dibawa sendiri oleh jemaat ke rumah TUHAN dan diserahkan sendiri/langsung kepada TUHAN. Dengan demikian, jemaat yang memberi persembahan adalah jemaat yang datang beribadah supaya ia/mereka berjumpa langsung dengan TUHAN dan memberikan persembahannya.
c. Persembahan/Sumbangan Sukarela/Wajib. Ini pun adalah bentuk persembahan syukur sebagai wujud jemaat menopang pekerjaan pelayanan di rumah TUHAN atau pekerjaan pembangunan rumah TUHAN. Dalam praktek di GPM, persembahan ini berupa iuran jemaat atau tanggungan keluarga, atau persembahan lainnya dalam bentuk Peti Persembahan Khusus yang diperuntukkan bagi suatu program pelayanan gereja seperti untuk Persidangan Jemaat, Bantuan Korban Bencana Alam, Sehari Berkorban Untuk Pekabaran Injil, Peti Khusus Pembangunan dan/atau Pemeliharaan Gedung Gereja, dll.
Jenis-jenis persembahan ini merupakan respons terima kasih jemaat atas berkat-berkat yang diperolehnya, dan dari berkat itu mereka menjadi saluran berkat bagi orang lain, serta menopang tugas-tugas pelayanan gereja yang kudus di muka bumi. Intinya adalah segala berkat dari TUHAN digunakan bukan untuk diri sendiri melainkan untuk meringankan beban orang lain pula [Galatia 6:1-10] dan guna pembangunan rumah TUHAN [Ezr. 2:68]. 

3. Motivasi Memberi/Membawa Persembahan
Dalam teks-teks Alkitab, persembahan syukur itu diberikan umat harus disertai dengan sukarela atau sukacita. Teks 1 Tawarikh 29:9 menggambarkan bagaimana umat memberi persembahan mereka dengan sukarela atau sukacita guna menopang pembangunan Bait Allah. Alasan teologis dari aspek sukarela atau sukacita ini ada dalam 1 Tawarikh 29:14 ‘sebab siapakah aku ini dan siapa bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu’. Hal ini menegaskan bahwa aspek sukacita atau sukarela merupakan dorongan dalam memberi persembahan kepada TUHAN karena segala berkat itu bersumber dari-Nya. Dan Ia memberi berkat kepada kita oleh sebab ia memedulikan kita sebagai umat kesayangan-Nya. Artinya orang yang memberi persembahan dengan sukarela adalah orang yang percaya bahwa ia mendapat kasih sayang/kasih karunia dari TUHAN.
Aspek sukacita berikutnya ditegaskan dalam 2 Kor. 9:7-9. Teks ini menarik disimak:
97Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinyam hangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.8Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.9Seperti ada tertulis:
“Ia membagi-bagikan kepada orang miskin,
Kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”

Dari teks itu tergambar jelas bahwa, motivasi memberi persembahan syukur adalah sukacita. Dan karena berkat itu bersumber dari TUHAN [1 Taw. 29:14], maka orang yang memberi persembahan dalam bentuk apa pun, tidak akan pernah berkekurangan; malah orang miskin sekalipun. Yesus menunjukkan hal itu dalam meresponi persembahan seorang ibu Janda. Bahwa ia telah memberi dari apa yang ada padanya, bukan dari apa yang tidak ada padanya. Artinya, TUHAN memberi sesuatu kepadanya, dan ia memberi dari yang diberikan TUHAN kepadanya pula [baca. Mark. 12:41-44]. Jadi tidak ada penetapan besaran persembahan syukur [kolekta] yang wajib diberikan umat sebagai persembahan keselamatannya. Artinya, setiap orang wajib memberi persembahan keselamatan kepada TUHAN sesuai dengan apa yang ada padanya. Sebab jika ia memaksakan diri, maka persembahannya tidak tulus, dan mungkin dari hasil rampasan/mencuri. Itu tidak kudus. Jika ia memberi dengan sedih hati, maka ia mengikatkan dirinya kepada uang dan bukan pada kasih karunia TUHAN. Memberi dengan sedih hati, berdampak pada tindakan membohongi TUHAN [bnd. Kisah Ananias dan Safira, Kisah 5:1-11].
Dengan didasarkan pada sukacita, maka dari setiap pemberian atau persembahan syukur kita, kepada kita diberikan yang lebih berkelimpahan, bukan hanya dalam hal material tetapi lebih penting dalam hal kebajikan/hikmat [2 Kor. 9:8]. Artinya jemaat yang memberi persembahan syukur adalah jemaat yang gemar melakukan perbuatan baik, jujur, penuh hormat kepada TUHAN, mencintai pekerjaan dan usahanya dan tidak melakukkan hal yang salah dalam bekerja atau berusaha, serta mengasihi orang lain dan gemar menopang pekerjaan pembangunan gereja/umat.

[Rumahtiga, 18/9-2013 – rumah Dkn. V. Pattikawa]




Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!