Saturday, June 13, 2020

DENGARLAH TANGISAN IBU BUMI

(Refleksi Terhadap Yeremia 14:1-9)


I

Bumi adalah ibu
Tanah adalah rahim dari mana kita berasal 
ke situ pula kelak kita kembali
setiap hari ibu merintih
sebab sembari ia merenggang nafas melahirkan anak-anak 
ia pun meratapi mereka yang jatuh, rebah, membujur setanah
sambil menahan malu diperkosa anaknya sendiri yang bebal
yang merusak perutnya
merobek-robek rahim yang melahirkannya:
“Ibu kita menangis”

II
Ibu kita berkabung
Pagarnya diterobos mesin yang mengaum melebihi singa muda
Segala rumput dan bunga di halaman dibabat dan dilahap api
Pintu rumahnya hancur berkeping
Kamarnya, tempat yang paling sakral, disusupi anaknya dan merampok harta di koper tua tempat ia menyimpan kain sarung bekas darah bayi-bayi yang dilahirkannya
Ujung kakinya berdarah digilas sepatu baja anaknya
Bajunya, jubahnya disingkapkan, dirobek
Ia ditelanjangi
Ibu kita duduk memeluk kaki telanjangnya yang ditekuk
Ibu kita sedih
Ibu kita meratapi dirinya
Ibu kita menangis

III
Ibu kita bersedih
Ia tak kuasa melakukan apa pun karena menahan malu
Bayi-bayi yang terus lahir menjerit minta setetes air
Ia tak kuasa mengambilnya sebab segala air kering
Segala telaga hilang
Embun pun tiada karena tiada dedaun di taman yang tak lagi hijau
Air di sumurnya kering
Jika pun ada telah berminyak dan mengandung gas beracun
Bayi-bayi yang baru lahir menangis kelaparan
Mereka harus disuapi
Tapi tiada lagi umbi dan buah
Rahimnya kering
Ibu kita sedih
Ia membiarkan dirinya lapar, asal berusaha menyuapi bayi-bayinya yang baru lahir dari air susunya yang hampir kering pada buah dadanya yang semakin layu
Ibu kita menangis

IV
Suatu hari:
ibu bercanda dengan segala ternak
menyanyi bersama segala burung dan unggas
menari bersama semua rumput dan pohon
datanglah singa, harimau, serigala, beruang, heina, buaya, ular berbisa, lebah, elang
dan sang singa berbisik kepadanya: 
“Ibu, cukuplah candamu. Senyapkan suara merdumu. Hentikanlah tarianmu yang selalu memanggil bulan dan matahari untuk turut bersuka. Kini, lagumu tidak lagi dapat merayu langit mencumbuimu. Kita malu terhadap matahari yang setiap hari melihat segala yang palsu. Jika malam bulan dan gemintang berkumpul, tidak ada lagi pesta di bumi, sebab kami semua bersembunyi. Bukan karena takut. Kami malu, ibu”

Lagi sang ibu berkata: 
“aku hanya mengajakmu bergirang, sebab aku tidak tahu siapa yang datang besok untuk merampas lagi makananmu; siapa yang akan mencemari sumur dan sungai; siapa yang akan merobek lagi sisa bajuku, dan jangan-jangan ada lagi yang memperkosa tubuh tuaku ini. Tapi aku tidak mau kalian kembali ke tempat dari mana kalian datang dan berasal. Dalam tangis dan dukaku, aku mau kalian tetap hidup”

V
Ibu kita sedih
Ia menangis:
“Ya Penguasa Jagad Raya, Engkau pernah menemukan aku dan menjadikan aku bagian milikmu. 
Telah kau jadikan aku istri kesayanganmu
Kau penuhkan rahimku dengan anak-anakmu
Dan aku tak berhenti bersalin, melahirkan, menyusui dan memberi mereka makan
Tubuhku terus tua tetapi buah dadaku tetap sanggup menyusui anak yang lahir hingga hari ini
Apakah kau biarkan aku yang tua ini melahirkan tanpa kau pedulikan
Sanggupkah engkau melihat anakmu sendiri saling membinasakan
Sanggupkah engkau melihat mereka merebahkan aku, ibunya, dan merobek baju-bajuku
Tidakkah kau dengar tangis anak-anakmu yang susah
Air tiada
Umbi tak tumbuh
Udara beracun
Aku menghukum diriku dalam amarah dan sayang
Marah atas ulah mereka
Tetapi aku tak mampu menutupi sayangku
Kini, mereka sedang susah
Aku pun


Ya Penguasa Jagad Raya, 
Kini aku terpapar wabah
Insan mulia yang kau beri padaku terpapar pandemik 
cukuplah air mataku menangisi mereka yang kembali ke rahimku
lihatlah, Ya Penguasa Jagad Raya
pada butir-butir air mataku aku menulis nama mereka yang kulahirkan
telah aku tampung di ujung kainku
aku sedih
aku menangis
tetapi terimalah tangisku, sang ibu lemah ini, sebagai doaku:
“Ampunilah aku
Kasihanilah anak-anakku
Pulihkanlah mereka
Dan aku pun pulih”
Aku bersedih
Di sedihku itu aku berdoa
Aku ibu
Aku bumi

(eltom, 14 Juni 2020)



   


Sunday, April 19, 2020

MENYANYIKAN LAGU TANAH

Obituary Kepada Pendeta Christian I. Tamaela, Ph.D
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella


INTERULDE

Hari ini (19 April 2020), jam 11.50, seorang komposer yang namanya kesohor di dunia, Christian I. Tamaela, tutup usia. Berita duka itu datang dari Prof. Agus Batlajery, sebagaimana tertulis dalam pesan WA di banyak WAG yang saya ikuti. 

Saya membuka laman facebook dan membaca beberapa status yang baru diupdate, antara lain milik Steve Gaspersz dan JusNick Anamofa. Saya tidak sanggup menulis yang lebih di situ, kecuali penggalan pengalaman pada laman JusNick Anamofa, sebab saya pernah ada dalam pengalaman yang tulisnya sebagai rekaman peristiwa bersama Pak Chris ~demikian saya menyapanya sejak masih kuliah. Setelah HP dikembalikan anak saya, lalu saya membaca informasi duka dari Pendeta Jacky Manuputty di WAG Pimpinan PGI diikuti rentetan ucapan belasungkawa dari banyak pimpinan sinode anggota PGI. Pengalaman Pak Chris di banyak event gereja nasional, regional dan internasional dilukiskan mereka, termasuk Ibu Ery Lebang-Hutabarat, yang pernah menjabat di Sebagai Sekretaris Umum CCA dan Ketua Umum PGI. Saat kami berkuliah pun, bila beliau hendak berangkat ke event WCC, kepada kami disampaikan hal itu, dan tugasnya adalah melayani liturgi di event gerejawi itu. Sebagai mahasiswanya, tentu kami memiliki sedikit saja pengalaman dengannya, sisanya ada pada mahasiswa lain dari satu ke angkatan lainnya. Sebagai Pendeta GPM pun demikian. Malah beberapa hal tentang beliau saya dapati saat menjadi Pendeta di Rumahtiga, karena Pak Chris menjalani kevakiariatannya di Jemaat GPM Rumahtiga.


TAMAELA: DALAM REKAMAN DE QUADRES, “THE CAMBRIDGE COMPANION TO CHORAL MUSIC”

Sebenarnya saya tidak bisa menulis apa pun dalam status fb; sebab rasa dukacita sebagai gereja adalah sesuatu yang mendalam sepeninggalnya. Lalu saya mengutak-atik saya layar laptop dan mencoba googlingdengan menulis Namanya: Christian I. Tamaela. Salah satu yang saya rujuk ialah pada website https://www.musicroom.com/product/hl08764517/christian-izaak-tamaela-toki-gong-sambil-menari-haleluya-arr-christian-izaak-tamaela-satb.aspx. Di situ ada Bukunya, TokiGong Sambil Menari, Haleluya, yang dieditori oleh Andre de Quadros. Nama de Quadros ini kemudian mengantar saya menemukan sebuah buku yang berjudul “The Cambridge Companion to Choral Music”, yang dieditori pula olehnya dan diterbitkan oleh Cambridge University, Press, 2012. 

Dengan bantuan internet pula, saya akhirnya menemukan edisi digital lengkap buku itu lengkap. Dari situ saya mencari di index ternyata ada nama Christian Isaac Tamaela pada halaman 164. Halaman itu adalah bagian dari artikel Andre de Quadres yang berjudul “New voices in ancient lands: choral music in South and Southeast Asia”. Di situ, de Quadras menyebut secara eksplsit bahwa ada peningkatan yang luar biasa antara (penggunaan) bahasa lokal, liturgi dan musik di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Malah menurutnya gereja-gereja Protestan seperti tidak lagi mempunyai beban terhadap bahasa dan kebudayaan di dalam liturgi, melainkan hal itu berlansung dengan juga ditopang oleh proses penerjemahan Alkitab. De Quadras mencontohkan bahwa setelah Perang Dunia II, proses ini berlangsung secara mantap di Philipina. Francisco Feliciano dan Jonathan Velasco, sebagai pimpinan Asian Institute of Liturgical Music (AILM) di Manila, telah melatih banyak komposer Paduan Suara Gereja di Asia Tenggara.

Di sini memori saya terbawa ke tahun 1995, ketika dua orang pimpinan AILM itu datang ke Kampus UKIM dan GPM, sebagai bagian dari tour liturgi dan musik dari AILM, dan UKIM serta GPM dipilih sebab Pak Chris adalah salah seorang alumninya. Mereka berdua melatih banyak sekali pemimpin Paduan Suara dan Paduan Musik Suling Bambu dan Terompet di Aula UKIM dan di beberapa Gereja di Klasis Kota Ambon dan Klasis Pulau Ambon (saat itu, sebelum pemekaran Klasis ini). Bersama dengan mereka saat itu adalah 19 orang mahasiswa AILM yang sekaligus menjadi Paduan Suara AILM. Mereka mengadakan konser di Baileu Oikumene, dan lagu-lagu yang dinyanyikan pun adalah juga hasil ciptaan Pak Chris, termasuk “Toki Gong” yang sudah menginternasional itu.

Kembali ke tulisan de Quadras. Ia menyebut secara eksplisit nama Christian Isaac Tamaela, sebagai salah satu komposer di Indonesia yang konsisten untuk tidak meneruskan gaya bermusik Barat dalam musik gerejawi. Dengan mencontohkan lagu-lagu spiritualis Africa-America, Tamaela, juga nama-nama lain seperti Budi Santoso Yohanes, E.L. Pohan, Bonar Gultom-Gorga, Pontas Purba, dan Ivan Yohan, telah memberi suatu warna musik gerejawi yang berbeda atau punya ciri khusus.

De Quadres memang tidak menulis khusus tentang Tamaela, tetapi karya-karyanya telah menjadi referensi dari adanya suatu karakter musik gerejawi di Asia Tenggara yang tidak sekedar meneruskan warisan kidung gerejawi tua, melainkan berani menggali warisan-warisan etik dan menuangkan loyalitas keagamaan masyarakat di Indonesia (Maluku) ke dalam baris-baris nada dan syair musik dan nyanyian gerejawi. Beberapa lagunya yang memiliki kelas internasional, seperti Toki Gong dan beberapa lagunya dalam buku Nyanyian Dewan Gereja Asia, The Sound of Bambbo, adalah lukisan spiritualitas orang Maluku yang meramu di dalamnya untaian jiwa seni dan lukisan kebesaran Tuhan.

Nama Christian I. Tamaela menunjuk pada sosok seniman yang berkarakter. Ia tidak hanya menghasilkan musik, tetapi beragam hasil kebudayaan material yang terus tersimpan di banyak memori dan jiwa anak-anak Maluku. Ia tidak hanya bermain musik tetapi mampu menjadikan ibadah sebagai Teater Gerejawi yang hidup di hadapan Tuhan. Gereja telah menjadi panggung teater dalam karya-karya Tamaela.


TAMAELA DAN NYANYIAN JEMAAT GPM

Telah lama sekali Gereja Protestan Maluku ingin memiliki kekayaan-kekayaan rohani di bidang musik gerejawi. Buku-buku Nyayian Gereja yang selama ini digunakan dalam ibadah-ibadah GPM, yang memuat lagu-lagu rohani gereja-gereja Reformed di seluruh dunia antara lain Tahlil, Dua Sahabat Lama, Nyanyian Rohani. GPM pun pernah menggunakan Buku Nyanyian Oktolseja. Namun sudah jarang dilagukan dan bukunya pun sudah jarang ditemui. Mungkin masih tersisa beberapa saja di Pulau Lease dan Ambon (Gunung). Selain itu, beberapa kidung pujian lain seperti Kidung Jemaat dan Pelengkap Kidung Jemaat digunakan secara bergiliran dalam ibadah setiap minggu.

Pada Sidang Sinode GPM tahun 2005, lahirlah sebuah Rekomendasi untuk segera membentuk Tim Penuyusun Nyanyian Jemaat GPM, suatu buku nyanyian yang baru. Tim ini bekerja sangat luar biasa dalam dinamika yang turun-naik. Beberapa kali Tim direshufle, dan pada beberapa Sidang MPL Sinode GPM, hasil kerja Tim ini menjadi sorotan seluruh gereja ini melalui Klasis-klasis. Adalah Monica Pariela-Parera (almh) dan Esaf Malioy yang akhirnya menjadi Ketua dan Sekretaris Tim, yang telah melaksanakan beberapa seri pelatihan penyusunan lagu Nyanyian Jemaat GPM. Pada seri-seri Pelatihan itu, Pak Chris tidak pernah absen sebagai fasilitator. Dan ia telah memompa semangat para kompser di seluruh GPM untuk menciptakan lagu gerejawi yang adalah milik GPM.

Pak Chris menjadi jiwa di dalam seluruh kerja itu, bahkan juga jiwa di dalam Sayembara Hymne dan Mars GPM yang khusus diadakan berbarengan dengan proses penyusunan Nyanyian Jemaat GPM itu. Akhirnya, tahun 2012, buku Nyanyian Jemaat GPM berhasil diterbitkan dan digunakan dalam ibadah jemaat GPM sampai saat ini. Pada penjelasan Buku Biru dengan simbol cover Simbol Salib ini dijelaskan:  “Sebuah Salib yang tertancap tegak, kuat, hidup dan indah pada badan sebuah not balok berwarna putih, melambangkan semua nyanyian dalam buku ini merupakan bagian integral dari pelayanan liturgis dan ibadah gerejawi. Sebuah kulit bia yang terletak menyatu dengan badan not balok dan salib tersebut, melambangkan buku Nyanyian Jemaat ini mengandung sejumlah nyanyian yang bernuansa budaya seni musik daerah Maluku”. (GPM, 2012). Simbol itu adalah karya Pak Chris, dan saya percaya penjelasan simbol tersebut juga disusun olehnya. Di situlah kita bisa memahami keberakaran Pak Chris di dalam kebudayaan dan bagaimana kebudayaan itu membangun karakter seni dan musiknya.

Dalam Nyanyian Jemaat GPM, terdapat 42 lagu hasil karya Christian Izaac Tamaela, antara lain:
No. Urut
Nomor Lagu
Judul
1.
1
Akang Manis Lawang
2.
10
Haleluya, Hale, Haleluya
3.
11
Haleluya, Puji Tuhan
4.
12
Indah Namamu, Bapa
5.
15
Mae O, Basudara E
6.
19
Mae Pese Eko
7.
25
Mari Puji Tuhan Yesus
8.
27
O Upu Yesus, Huau Raem
9.
29
Pujian dan Penyembahan
10.
55
Tuhan Kasihani (Kyrie Eleison)
11.
63
Gloria Bagi Bapa, Putra dan Roh Kudus
12.
65
Bapa, Siapkanlah Hatiku
13.
77
Ya Roh Kudus Tuntun Kami
14.
92
Kemuliaan Bagi Allah
15.
95
Bintang di Timur
16.
98
Lilin Kecil
17.
99
Lonceng Natal
18.
103
S’lamat Natal Lai
19.
106
Ya Tuhanku (Nyanyian Pujian Simeon)
20.
110
Bapa Kami Yang Di Sorga
21.
117
Anak Domba Allah
22.
129
Kubur Yesus Telah Terbuka
23.
131
Sinar Paskah Sudah Terbit
24.
139
O Datang, Datang
25.
142
Ya Roh Kudus, Baruilah dan Persatukan Kami
26.
153
Aku Percaya Kepada Allah
27.
160
Tuhan, Gunung Batuku
28.
164
Ada Lagi Ungkapan Syukur (Lirik Fransina F. Anakota-Tamaela)
29.
166
Ayo Bawa Persembahanmu
30.
189
Nikmatnya Perjamuan Kudus Ini
31.
192
Tuhan, Berkatilah Nikah Kami
32.
194
Berjumpa Lagi
33.
219
Bapa, Utuslah Kami
34.
235
Tuhan Berkati Basudara
35.
242
Dengarkanlah Suara Tuhan
36.
266
Kasih Tuhan
37.
274
Berjalan Bersama Yesus
38.
275
Carilah Tuhan
39.
305
Memberlakukan Perdamaian Allah
40.
330
Ubu, Mrenar Mam Tsembayang (Tuhan Dengar Doa Kami)
41.
338
O, Kalwedo, Haleluya
42.
342
Helo
    

Ia telah mendedikasikan diri dan membuat jiwanya memasuki ruang perenungan dan spiritualitas jemaat dan GPM.


TAMAELA, “ELO”

Saya mau mengakiri obituary ini dengan menganalisis, dari segi semantik, syair lagunya dalam Nyanyian Jemaat GPM, dan saya memilih Nomor 15. Mae O, Basudara E. Saya harus terlebih dahulu meminta maaf, karena tidak fasih membunyikan notasi dan bermain alat musik. Mungkin saya pun bukan penikmat musik, tetapi saya suka menyanyikan lagu-lagunya, seperti Pela, Mae Ka Lao, Siwalima Arika, dan lainnya. Saya tidak akan membahas notasinya, walau dari Kuliah Musik Gereja saya masih ingat ia berkata: “Nada Do (1) itu Domini, nada agung, nada yang menunjuk pada Tuhan”. Itulah alasan saya memilih lagu ini namun akan mendekatinya dengan meminjam teori analisis semantik yang lebih fokus pada produksi bahasa/membahasa masyarakat.

 










Lagu ini diawali dengan nada do (tinggi) dan syair yang dibunyikan pada nada itu ialah Mapenggalan kata mae, istilah dalam bahasa tanah dari Maluku Tengah yang berarti “mari”. Frasa mae o itu sendiri mendapat tiga nada dalam empat ketukan; artinya pada satu helaan nafas, seruan itu dibunyikan, yang berarti memanggil atau mengajak orang-orang untuk datang. Sesuai ingatan saya pada kuliahnya itu, pada nada do (tinggi) itu, maka sapaan mae o itu adalah suatu bentuk sapaan yang luhur, sebuah ajakan yang bertujuan untuk suatu akta kehidupan umat. 

Syairnya begini:
Mae o basudara e, Elo, elo
Mae o basudara e, Elo, elo
Katong rame-rame somba Yesus e, Upu Lanite
Katong rame-rame somba Yesus e, Upu Lanite
Mae o basudara e, Elo, Elo, Elo, Elo, Elo, Elo

Dalam keterangannya, lagu ini adalah lagu dalam bahasa Melayu Ambon dan bahasa tanah dari Maluku Tengah, sebuah lagu berdasarkan lagu Tradisional Maluku Tengah. Elo,atau helo (Helo adalah lagunya yang lain pada NJ GPM Nomor 342) sendiri berarti Amin/benar. Dalam komposisi NJ GPM, lagu ini berada dalam rumpun Menghadap Allah, Puji-pujian dan Pembukaan Ibadah. Dengan demikian lagu ini adalah ajakan kepada umat untuk beribadah. Mae o basudara e, marilah saudara-saudara. Kata sandang “e”, dalam bahasa Melayu Ambon menggambarkan pensifatan yang lebih pada suatu subyek/obyek. Dalam cara memanggil, ungkapan mae e, ataumari (jua) e menghendaki orang yang dipanggil tidak boleh berdiam diri tetapi segera datang. Ini bukan hanya sebuah lukisan harapan dari subyek yang memanggil tetapi ada proses peleburan diri subyek ke dalam diri orang yang dipanggilnya itu. Dengan demikian si subyek tidak lagi tunggal melainkan jamak (katong). 

Bila ditempatkan dalam tata liturgi, sapaan mae o adalah sapaan Pelayan Ibadah kepada umat. Ia mengajak umat untuk datang menyembah Tuhan, dan di hadapan Tuhan ia tidak lagi sendiri melainkan ia telah menyatu dengan jemaatnya. Mereka kini telah menjadi subyek yang jamak yaitu jemaat yang berhimpun dan beribadah kepada Tuhan. Tamaela menggunakan sapaan itu sekaligus sebagai representasi dirinya sebagai Pendeta yang tidak pernah berdiri sebagai subyek tunggal di hadapan Tuhan melainkan bersama dengan jemaat menjadi subyek yang jamak. Kependetaannya telah menjadi dasar dari untaian melodi dan syair lagu ini. Kerinduannya pada ibadah telah menjadi jiwa yang menghidupkan lagu ini. Karena itu ibadah umat/jemaat atau ibadah gereja adalah bagian dari kehidupannya yang telah membuatnya menyusun notasi dan syair ini.

Tamaela adalah komposer yang menyanyikan lagu tanah atau lagu dalam bahasa tanah di hadapan orang banyak dan di hadapan Tuhan. Upu Lanite adalah ungkapan tentang Tuhan dalam bahasa tanah di Maluku Tengah (kelompok Wemale dan Alune). Tamaela adalah Putra Nusa Ina yang menjadikan bahasa sebagai gambaran total jiwa dan hidupnya. Upu Lanite adalah subyek adikodrati yang disembah, dan di sini Tamaela membawa diksi teologi kontekstual ke dalam nyanyian Jemaat dan refleksi teologi jemaat GPM. Pada lagu lainnya misalnya NJ GPM No. 19, 27, 330,  ia masih bermain di ranah bahasa Maluku Tengah. Namun pada NJ GPM No. 338, Tamaela berdiri di dalam kehidupan orang-orang Maluku Barat Daya, dalam lagu “O Kalwedo, Haleluya”.

Katong rame-rame somba Yesus e, Upu Lanite adalah syair yang menjelaskan pada pemosisian Yesus sebagai Tuhan. Di sini Tamaela mencoba menggali sumber-sumber dogma tradisional Maluku dan menempatkan bahasannya pada konsep ketuhanan (theoporic element) dengan menyebut Yesus sebagai Tuhan (Upu Lanite). Ketuhanan Yesus menjadi penting dalam liturgi gereja terutama dalam ibadah umat yang bersifat Kristosentris. Di situlah ajakan agar umat beramai-ramai menyembah Yesus, Tuhan, dibangun dari konsep ibadah yang kristosentrik itu. Dalam tulisannya di Buku “Menelusuri Identitas Kemalukuan” (LKDM, 2017:645) pada artikelnya “Falsafah Siwalima dalam Simbol-simbol Tradisional Maluku”, relasi dengan Upu Lanite itu disebutnya sebagai relasi ketergantungan. Di situlah saya kira, syair NJ GPM 15 ini menggambarkan pertalian yang kuat antara umat dengan Upu Lanite itu. Hal tersebut dikukuhkan dengan syair Elo yang berarti amin.

CODA
Saya menutup obituary ini dengan kalimat yang ditulis Pak Chris (2017:641) “semua bentuk, arti, makna, fungsi, dan waktu penggunaan dari simbol-simbol tradisional lokal yang telah dirancangbangun (constructing local symbols) oleh para leluhur akan terus tersimbolisasi dalam kehidupan kita, bila kita semua terus peduli akan hal itu….Itu pertanda bahwa peradaban hidup orang Maluku sudah berada pada level kreatifitas dan inovasi kkultur yang cukup tinggi di masa lampau, walaupun belum sebanding dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang kita alami dewasa ini”.

Pak Chris, kami tidak kehilangan dirimu, sebab jiwamu lestari di puji-pujian kami, dan kami merayakan sukmamu di denyut nadi Identitas Kemalukan kami.

Elo Kokuanya


Referensi Bacaan:

de Quadres, Andre, “New voices in ancient lands: choral music in South and Southeast Asia” dalam The Cambridge Companion to Choral Music, eds. Andre de Quadras, New York: Cambridge University, Press, 2012:161 

Gereja Protestan Maluku, Nyanyian Jemaat, Ambon: GPM, 2012

Tamaela, Christian I. “Falsafah Siwalima dalam Simbol-simbol Tradisional Maluku”, Dalam Menelusuri Identitas Kemalukuan, Editor: Tim LKDM, Rosa Delima, Ambon: LKDM, 2017:645





Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!