Friday, August 4, 2017

Cukup

Lukas 3:10-14
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella


K
isah dalam Lukas 3:10-14 merupakan bagian dari kesaksian Yohanes Pembaptis. Tokoh ini penting di zamannya, dan juga di zaman kita untuk memahami bahwa menyambut kedatangan TUHAN itu memerlukan pertobatan dan pemahaman yang mendalam tentang ajaran-ajaran TUHAN yaitu ajaran tentang hidup baik dan berkualitas. Ia datang guna mempersiapkan kedatangan Mesias. Ajaran-ajarannya bertujuan agar umat mempersiapkan hidup bagi kedatangan mesias.
Ajaran Yohanes Pembaptis dalam injil yang kita baca ini, menegaskan beberapa hal penting, antara lain:
Pertama, pentingnya berbagi agar tercipta keseimbangan. Dalam hal berbagi diperlukan kepedulian dan pengorbanan. Contoh dalam ay.11, soal memberi baju dan pakaian kepada yang tidak mempunyai baju dan makanan, menjurus pada upaya menjaminkan hidup orang lain. Sebab hal tidak mempunyai baju dan pakaian adalah gambaran kemiskinan; dan bahwa orang yang telanjang dan lapar itu seakan sudah berada di ujung kematian. Jika kita yang memiliki kelebihan itu bisa berbagi dengan mereka, sudah tentu mereka hidup dalam arti tidak mati. Dan apa yang kita dapati? Jawabannya ialah kebahagiaan karena sudah menyelamatkan hidup sesama.
Pada ay.12, pertanyaan para pemungut cukai dijawab Yohanes untuk menegaskan nilai keadilan dan kejujuran. Ini penting untuk melawan perilaku pemerasan atau korupsi berlebihan dengan menekan orang kecil. Para pemungut cukai adalah kelompok orang yang tidak puas dengan gaji atau upah mereka sendiri. Sebab itu mereka menarik pajak yang tinggi, melebihi standar resmi. Kelebihan itu tidak disetor ke kantor cukai melainkan digunakan untuk diri sendiri. Yohanes mempersoalkan hal itu sebagai tindakan yang tidak baik, sebab itu ia melarang mereka melakukannya. Dengan kata lain, mereka bisa hidup dari upah yang sudah ditentukan kepada mereka tanpa merampas milik orang lain secara paksa. Jadi jangan ingin sesuatu yang lebih apalagi karena itu kita harus merampas milik orang lain.
Sedangkan pada ay.14, ketika yang datang adalah para prajurit, maka Yohanes Pembaptis menganjurkan mereka untuk tidak boleh merampas dan memeras, apalagi jika itu harus dilakukan dengan pengerahan kekuatan atau kekerasan. Para prajurit dianjurkan puaskan diri dengan gaji yang ada. Ini pelajaran yang berharga, sebab setiap orang digajikan menurut kerjanya. Sebab itu kita tidak perlu melakukan pekerjaan yang tidak ditentukan kepada kita. Kerjalah saja sesuai dengan tugas yang dipercayakan untuk kita.
Pada ajaran-ajaran ini, Yohanes Pembaptis mau supaya orang-orang yang mengikutinya menyadari bahwa mereka sebenarnya sudah mendapatkan berkat yang terbaik sesuai dengan kadar profesi dan tanggungjawab masing-masing. Itu adalah cara TUHAN memelihara mereka. TUHAN juga memelihara orang lain dengan caraNya, dan melalui pekerjaan atau keadaan hidup masing-masing.
Baiklah kita memuaskan diri dengan apa yang ada, sebab yang paling penting adalah mempersiapkan hati. Setiap kali kita berjumpa dengan TUHAN, karena itu mempersiapkan hati dan hidup kudus jauh lebih penting daripada memuaskan diri dengan harta duniawi yang tidak kekal sifatnya.
Upaya kearah itu juga penting menjadi perhatian gereja karena apa pun yang terjadi, kita dituntut menjadi teladan dalam berbuat baik. Mengapa demikian? Kita bertugas mendewasakan seisi rumah tangga. Dan jangan lupa bahwa anak kita berpola dari diri orang tuanya.
Bersamaan dengan itu, ternyata suka sekali tergoda, baik oleh kekuasaan, jabatan, kedudukan, uang, atau harta benda lain yang memberi kepuasan sesaat. Di situlah makanya kita perlu meningkatkan kualitas spiritual sebagai laki-laki gereja agar kita tidak mudah terjebak dalam kenikmatan dunia, dan membuat kita tidak pernah puas dengan apa yang sudah kita miliki selama ini.
Kecenderungan tidak pernah puas itu adalah sumber godaan yang dapat meruntuhkan spiritualitas kristen. Spiritualitas kristen itu harus selalu merasa cukup dengan apa yang ada, sebab itu adalah pemberian TUHAN. Bahwa TUHAN tahu kadar kemampuan kita mengelolah berkat yang telah IA berikan. Jika kita tergoda dengan rasa puas, dan terjebak untuk juga mengambil milik orang lain, kita mengabaikan TUHAN yang tetap ada bersama kita.
Spiritualitas kristen mengajarkan bahwa di saat kita bekerja atau berusaha, TUHAN ada dan ia selalu akan memberi kepada kita kuasaNya yang menuntun untuk melakukan kebaikan. Cukuplah dengan apa yang dimiliki, karena itu yakinlah bahwa itu bagian pemberian yang kudus dari TUHAN. Itulah berkat. Amin!

Monday, April 17, 2017

Yusuf dari Arimatea

Cerita Fiksi Alkitab:
YUSUF DARI ARIMATEA

Pagi itu, orang semakin banyak memenuhi alun-alun Kota. Di teras atas Istana, tampak Pilatus hilir mudik, bersama beberapa pejabat lain. Beberapa orang Imam Besar Yahudi, Anggota Mahkamah Agung dan Majelis Besar (Bouleutes) juga terlihat di situ.

Sesekali Pilatus tampak marah. Di saat berikutnya ia seperti sedang berpikir keras. Bingung bercampur geram. Ternyata, ia berharap Herodes, rekannya itu, yang menjatuhkan vonis terhadap Yesus, namun Herodes malah mengembalikan Yesus kepadanya selaku gubernur wilayah.

Pilatus : (menggerutu dalam hati) Aku jadi bingung dengan keadaan ini. Tahukah kalian, aku semakin yakin, orang ini tidak melakukan satu pun pelanggaran, baik terhadap hukum negara maupun terhadap hukum agama kalian (sambil menunjuk pada beberapa anggota Mahkamah Agama dan majelis Besar).

Mereka semua terdiam

Anggota Mahkamah Agama : Yang Mulia, Tuanku. Sekiranya tuanku berkenan, biarlah tuanku menyatakan ia bersalah, dan biarlah ia dihukum sesuai aturan agama kami, sebab pada hari paskah harus ada domba yang dikorbankan

Pilatus : Kau berkata seenakmu saja. Bukankah hari paskahmu itu hari pembebasan? Lupakah kau akan sejarahmu sendiri? Bagaimana caranya kalian keluar dari Mesir? Dalam enskilik Mesir pun disebutkan bahwa ada tangan yang lebih kuat yang membawa kalian dari sana.

Anggota Mahkamah Agama : Yang Mulia, Tuanku. Benarlah kata tuanku. Bangsa Mesir, demikian pun Persia, sewaktu kami keluar dari Babilonia, telah mengakui kuasa Yahweh, TUHAN kami. Sebab itulah yang mereka lihat sewaktu kami dibawa keluar dari perbudakan. Dan untuk itulah kami merayakan Paskah

Pilatus : Lalu apa hubungannya dengang orang ini? Dia Yesus, bukan seekor domba yang harus kalian korbankan di hari Paskah

Anggota Mahkamah Agama : Yang Mulia, Tuanku. Itulah sebabnya, biarlah semua ini terjadi menurut hukum agama kami, asal tuanku bertitah untuk salibkan Dia seperti suara orang banyak di luar sana

Pilatus terdiam. Hening di dalam ruangan itu. Terdengar ribut-ribut di alun-alun, dan orang-orang tetap meneriakkan ‘Salibkan Dia’ berulang-ulang.

Pilatus : Yusuf dari Arimatea, aku tau engkau seorang anggota Majelis Besar. Apa pendapatmu tentang hal ini?

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Hambamu ini hanyalah anggota biasa. Biarlah hambamu tidak mengotori bibir dan hati ini dengan apa yang bukan menjadi hak hambamu ini.

Pilatus : Tetapi aku dengar diam-diam engkau telah mengikuti Yesus dan kagum akan pengajarannya

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Selama ini hambamu ini bersahabat dengan tuanku. Terima kasih karena bisa diundang makan di meja tuanku dan dari hidangan terbaik di istana ini. Hamba mengingat benar kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego di istana Babel. Sebab itu, jangan tuanku mengira-ngirakan hal yang tidak bisa hamba sangkali atau pun akui di hadapan tuanku. Biarlah itu menjadi jawabku kepada Yahweh, TUHANku

Pilatus : Kau membuat aku semakin bingung, sahabatku. Sebab dari semua anggota Majelis ini, kaulah yang aku lihat sangat tenang dan baik hati

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Hambamu ini hanyalah anggota biasa

Pilatus kemudian memanggil staf hukumnya dan berkonsultasi beberapa hal secara tertutup. Lalu ia keluar ke teras istana itu dan memakumkan pembebasan Barabas, dan menyerahkan Yesus untuk disalibkan.

Orang-orang banyak itu bersorak girang. Majelis Besar dan Mahkamah Agama pun bersukaria. Dan mulailah mereka menyiksa Yesus, memukulinya dengan cambuk. Beberapa perempuan dan murid-murid Yesus yang hadir di situ tampak sedih dan menangisi Yesus yang dicambuk.

Yusuf dari Arimatea berlari ke sisi tembok istana. Dengan sangat sedih dan menyesal ia merobek-robek bajunya, dan membuangnya dan menginjak-injak dan sambil memukul kepala dan dadanya sendiri. Ia sungguh menyesal, sebab tidak kuasa membebaskan Yesus dari vonis itu.

Sambil menangis:

Yusuf dari Arimatea : Yesus, Guruku. Jika Engkau berkenan, ampunilah aku. Sebab aku tak sanggup menjawab tanya Pilatus di hadapan para majelis lainnya.

Ia lalu pergi ke alun-alun, dan dari kejauhan ia melihat Yesus terus disiksa, dan ditarik oleh para prajurit untuk berdiri, sambil terus dicambuk dan dipukuli, Ia dipaksa memikul balok  kayu yang berat. Yesus pun disuruh berjalan menyusuri lorong-lorong kota ke luar menuju ke Golgota.

Di tengah hari, ketika Yesus telah disalibkan, terjadilah gempa teramat hebat, dan Yesus pun menyerahkan nyawaNya kepada Yahweh, Bapa-Nya. Ia mati. Para prajurit yang menjaga di bawah salibnya menikam lambungnya dengan tombak untuk membuktikan apakah Ia masih hidup atau sudah mati.

Yusuf dari Arimatea melihat semua itu, dan dengan hati berat, ia bergegas ke istana Pilatus dan meminta untuk menghadap.

Pilatus : Ada apa kau datang ke sini, Yusuf, sahabatku?

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Telah Tuanku tahu, bahwa Yesus telah mati di salib.

Pilatus: benar. Aku baru mendapat kabarnya beberapa jam yang lalu.

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Aku tahu akan seluruh hukum Romawi. Tentang orang yang tersalib, biarlah ia tergantung di sana dan binatang buas dan burung gagak akan memakan habis dagingnya. Namun, biarlah hambamu ini mendapati sedikit belas kasih Tuanku. Ijinkan hambamu ini menurunkan tubuh Yesus, dan mengapaninya, agar dimakamkan ke kuburan milik hambamu ini. Dengan begitu, hamba tidak terikat hutang kepada siapa pun.

Pilatus : sudah aku duga, engkau pasti telah menjadi pengikutnya

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Jika itu sangka tuanku, dan hambamu ini harus dihukumkan, biarlah hambamu ini mendapat kasihmu terlebih dahulu, dan setelah itu, hukumlah hambamu menurut mau tuanku

Pilatus : Yusuf, sahabatku. Tidak ada alasan bagiku menghukum engkau. Aku tahu, tidak ada salah pada diri Yesus. Yang membuatku menyesal, mengapa Ia tidak mau berbicara sekata pun, padahal Dia tahu, dari mulutku, aku bisa mengatakan hukum dan membatalkan hukum

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Biarlah itu terjadi sebab sudah seperti itulah Ia harus memenuhi kehendak Bapa-Nya.

Pilatus : dari mana engkau tahu?

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Dari mulut-Nya dan dari cerita para murid-Nya sendiri.

Pilatus : Karena engkau sahabatku dan ternyata hatimu tulus dan karena kerendahan hatimu itulah, layanilah Yesus seperti yang engkau kehendaki. Jika ada siapa pun yang mencegahnya, katakan: ‘Pilatus yang mengatakannya”.

Yusuf dari Arimatea : Yang Mulia, Tuanku. Kiranya Tuanku tetap sehat, bahagia dan hidup selamanya. Hambamu mohon diri

Yusuf dari Arimatea kemudian meninggalkan hadapan Pilatus. Ia bergegas keluar. Namun ia dicegat oleh seorang rekan Majelis Besar lainnya, Nikodemus.

Nikodemus : Yusuf, apa yang kau mintakan dari Pilatus?

Yusuf dari Arimatea : Sahabatku, apakah engkau bersama dengan aku?

Nikodemus : Iya, aku bersama dengan engkau. Di mana engkau mati, hukuman itu pun akan kena kepadaku

Yusuf dari Arimatea : Aku meminta supaya aku diijinkan mengapani Yesus dan membawanya ke kubur milikku

Nikodemus : demi kebaikan hatimu, biarlah aku ada dalam bagian yang sama dengan engkau, sebab aku pun tahu, Ia adalah TUHAN

Yusuf dari Arimatea : Jangan sebutkan itu di sini. Masih banyak orang yang melihat kita

Nikodemus : Tentu aku yakin, aku akan lahir kembali, seperti pernah dikatakan-Nya

Yusuf dari Arimatea : Sudahlah. Semakin lama kita berdua di sini, senja semakin rembang dan malam segera turun. Tidak baik kita membawanya ke kubur di malam hari.

Mereka lalu bergegas ke rumah Yusuf. Nikodemus memilih kain lenan terbaik dari persediaan Yusuf di rumahnya, dan mereka bergegas ke Golgota dan menurunkan tubuh Yesus dari Salib. Nikodemus mengapaninya dengan sangat rapih. Mereka memberi rempah-rempah ke tubuh-Nya seperti kebiasaan orang Yahudi, dan membawanya ke kuburan, tidak jauh dari Golgota. Kuburan itu sudah disiapkan Yusuf beberapa waktu lalu untuk keluarganya. Belum ada satu orang pun yang dikuburkan di situ.
Setelah tubuh Yesus diletakkan, mereka keluar dan menggulingkan batu penutup kubur itu.

Nikodemus : sahabatku, terima kasih engkau telah menjadikan aku bagianmu

Yusuf dari Arimatea : Hatiku bersukacita, karena Allah Juruselamatku. Hari ini, segala kebaikan-Nya aku alami. Tanganku yang penuh cela ini telah dikuduskan untuk menatang tubuh-Nya, dan tempatku yang aku sediakan untuk diriku dan keluargaku telah dijadikan-Nya kudus bagi Anak Domba Allah.

Yusuf berbalik melihat Nikodemus dan beberapa orang keluarga yang membantunya dan berkata:

Yusuf : Ingatlah jalan ini. Ke sinilah kita mambawa tubuh Yesus. Dan dalam kubur inilah kita memakamkannya. Suatu waktu jika ada orang yang sangsi akan hal ini, kitalah saksinya.

Mereka pun mengangguk, dan tanpa bersuara sedikit pun, mereka semua kembali ke tempat masing-masing.

Setiba di rumahnya, Yusuf mengumpulkan semua anggota keluarganya, dan membagi roti untuk mereka makan.

Yusuf dari Arimatea : Makanlah dengan hati penuh sukacita, sebab hari ini kita sudah dimungkinkan melakukan apa yang baik kepada TUHAN. Ketahuilah, bahwa Yesus telah dikuburkan ke dalam kubur kita semua. Dari mana kita berasal, orang tidak tahu. Kota kita pun hampir hilang. Yang diingat orang hanyalah Ramataim-Zofim. Tetapi orang tidak tahu, bapa kita ialah Daud. Jadi, yang ada di dalam kubur kita itu, adalah saudara kita sendiri, Anak Daud. Maka tepatlah ia ada di sana.

Dalam diam, mereka memakan makanan malam itu, dan semuanya pergi tidur di pembaringan masing-masing. Yusuf pun pergi tidur dengan hati penuh sukacita.(eltom)

Ambon, 13 April 2017
Elifas Tomix Maspaitella






Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!