Sunday, November 10, 2019

TURU DAN WUNU:

TURU DAN WUNU: Saksi Injil di Jemaat GKS Tanalingu, Sumba[1]
Oleh. Pdt. Elifas Tomix Maspaitella


Siapakah yang membawa injil ke pelosok-pelosok dan pedalaman di pulau-pulau kita di Nusantara ini? Orang-orang putih. Orang Belanda. Orang-orang dari jauh. Istilah “orang-orang putih atau orang Belanda” menunjuk pada memori masyarakat mengenai para pekabar injil (zendeling) dari Eropa (umumnya Belanda, Jerman (dan Inggris)). Sedangkan istilah “orang-orang dari jauh” cenderung menunjuk pada para pekabar injil lokal yang berasal dari pulau-pulau lain di Nusantara, yang di dalam masa pekabaran injil, ditugaskan misalnya melalui Gereja Protestan di Hindia Belanda ke pulau-pulau di Nusantara. 
Penyebutan itu sekaligus menerangkan bahwa narasi sejarah yang penting itu tidak tertulis dan dibaca secara umum dari generasi ke generasi. Tuturan lisan tersebut membuat nama-nama para pekabar injil itu dilupakan dan bila tidak tertulis, sudah tentu akan hilang. Namun itu masih bisa ditelusuri dari arsip-arsip sejarah, terutama laporan para zendeling dan guru-guru injil yang juga banyak tersimpan di Arsip Nasional Belanda atau Arsip Nasional Republik Indonesia; atau juga arsip-arsip yang masih tersimpan di jemaat-jemaat atau kantor-kantor Klasis/Sinode masing-masing.
Namun catatan sejarah kekristenan tidak harus dipatokkan pada para pekabar injil itu. Sebab ketika di suatu tempat terdapat dan masih terawat komunitas Kristen atau bahkan sudah menjadi suatu gereja yang mandiri, itu membuktikan bahwa respons masyarakat setempatlah yang membuat kekristenan itu kuat mengakar dan terus hidup sampai saat ini. Para responder lokal itu terkadang tidak tercatat juga dalam narasi sejarah. Misalnya, mereka yang dibaptis paling banyak disebutkan jumlahnya dan nama orang yang dibaptis itu terlupakan. Kecuali pada jemaat-jemaat di zaman Gereja Protestan di Hindia Belanda yang sudah memiliki manajemen kearsipan yang baik, sehingga nama orang yang dibaptis tercatat dalam Register Baptisan. Adanya orang lokal itu akan membuat narasi kekristenan menolong pemaknaan injil secara baru, yaitu injil yang bukan hanya diberitakan kepada melainkan injil yang telah menjadi milik atau bagian eksistensi orang setempat.

SAKSI-SAKSI INJIL DI TANALINGU
Turu Maukuanda (64 th), lelaki tua berusia 64 tahun ini mengaku lahir pada tahun 1955. Saat ini ia adalah Pentua yang melayani di Jemaat GKS Tanalingu sejak tahun 1984. Lelaki sederhana ini mengenakan kemeja putih dalam balutan baju khas Sumba yang diakuinya sebagai pakaian yang sehari-hari dikenakan, termasuk dalam menjalankan tugas pelayanan gereja, semisal Ibadah-ibadah Rumah Tangga. 
Darinya diketahui bahwa kekristenan di Sumba itu dibawa oleh orang-orang Belanda. Dan kekristenan sudah ada di kampung-kampung sekitar, berkembang di antara kepercayaan lokal Marapu sebagai suatu warisan agama dari masyarakat Sumba yang masih eksis sampai saat ini. Pada tahun 1984, ia terdorong sendiri untuk berjalan kaki ke Laburung atau Kabalu, kurang lebih 5 km dari Tanalingu semata-mata untuk mendengar firman. 
“(ber)Jalan kaki cari TUHAN”, itulah pengakuannya ketika ditanyakan mengapa ia rela berjalan sendiri untuk mendengar firman. Menurut Papa Tunu, firman TUHAN itu harus sampai juga pada kita, jangan pada mereka yang di kampung-kampung sebelah saja. Menurutnya saat itu yang membawa injil adalah Pendeta dari Sabu. Setiap hari ia akan berjalan kaki untuk mendengar firman. Hingga suatu waktu di tahun 1984 ia berhasil mengajak kurang lebih 138 orang dari Tanalingu untuk mengikutinya dan mereka selanjutnya dibaptis. Tanggal 28 Desember 1984 merupakan waktu yang indah itu. 130 orang Tanalingu itu dibaptis secara massal.
Bersama dengannya, bapak Wunu Mbilijora (83 tahun) juga turut dibaptis. Sebagai seorang tamatan Sekolah Rakyat, papa Wunu mengaku bahwa bisa menerima injil karena injil membuat TUHAN menyediakan segala sesuatu kepada kita. Ia mengaku bahwa anak-anaknya kemudian bisa bersekolah tinggi itu semua karena TUHAN sudah menyediakannya saat kita bisa menerima injil. 
Mereka adalah saksi-saksi hidup dari respons orang Tanalingu yang menerima injil Kristus dan melalui respons mereka, Jemaat GKS Tanalingu lahir dan berkembang sampai saat ini. Begitulah cara kerja TUHAN dalam gerejaNya. Ia bekerja dengan dan melalui orang-orang setempat, sebab Ia berpihak pada kehidupan. Motivasi Tunu “berjalan kaki cari TUHAN” merupakan bentuk spiritualitas kemuridan sama dengan orang-orang banyak yang mengikuti Yesus ke mana saja Ia pergi. Tujuan mereka sederhana, yaitu untuk mendengar pengajaran dan melihat perbuatan-perbuatan ajaib yang dikerjakanNya. 
Spiritualitas kemuridan seperti itu memberi isyarat bahwa ada kepercayaan pada orang-orang setempat tentang kabar injil yang sampai ke telinga mereka; entah pernah atau belum pernah berjumpa dengan Yesus. Pada saat mereka mengalami perjumpaan dengan Yesus, mereka tidak secara otomatis pergi mengikuti Yesus dan meninggalkan kampung halamannya. Banyak di antara mereka yang kembali ke kampung halaman dan membagi cerita tentang perjumpaan tersebut. Bahkan mereka juga yang melakukan klarifikasi atau semacam apologi kepada orang banyak jika ada “kabar bohong” tentang apa yang dikatakan dan dilakukan Yesus.
Dengan kembali ke kampung halaman itulah mereka selanjutnya yang berperan untuk menghidupkan narasi tentang Yesus kepada para pendengar baru. Rasa percaya yang sudah tumbuh pada diri mereka ditularkan kepada para pendengar baru yang adalah saudara-saudara mereka sendiri. Dari situlah maka injil semakin tersiar luas.
Spiritualitas itu yang ada pada diri Turu Maukuanda, sehingga ia patut disebut sebagai pembawa kabar baik setelah “jalan kaki cari TUHAN”. (Waingapu, 11 November 2019).

(Ketgam: Gbr. 1 - Papa Turu Maukuanda; Gbr. 2 - Papa Wunu Mbilijora)


[1]Data dalam tulisan ini diperoleh dari wawancara singkat dengan Papa Turu Maukunanda dan Papa Wunu Mbilijora, warga Jemaat GKS Tanalingu, Minggu, 10 November 2019. Kebetulan Peserta Sidang Raya ke-17 PGI dari Sinode GPM diberi kesempatan beribadah dan melayani ibadah di Jemaat GKS Tanalingu. Ibadah tersebut dilayani Pdt. Ny. L. Bakarbessy-R, Ketua Klasis GPM Tanimbar Selatan.

Thursday, October 31, 2019

MEJA MAKANG KASIANG

RITUS KELUARGA DAN KOMUNITAS DI MALUKU
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

"Mari makang". Frasa sesungguhnya ialah "mari katong makang sama-sama". Ini bukan sekedar ajakan. Lebih daripada itu, suatu panggilan, sebab: pertama, mama sudah selesai memasak, dan sudah mempersiapkannya di atas meja makan, dan kedua, meja makan merupakan media penyatuan semua anggota keluarga.
Meja makang kasiang! Itu suatu istilah dipakai dalam beberapa ruang kegunaan (makna). 

I. MEJA MAKANG KASIANG DALAM KESEHARIAN 
Istilah itu menunjuk pada meja makan di ruang makan yang menjadi tempat makan semua anggota keluarga. 
"Makang tuh dudu di meja makang". Ini adalah suatu ungkapan yang menunjuk pada tata etik keluarga, sebab tidak dibenarkan seorang anggota keluarga makan di tempat lain selain di meja makan dalam ruang makan. Kaidah etik ini terkait dengan konsep dogma tradisional. 
Pertama, makanan adalah berkat. Berkat harus disaji atau ditempatkan pada tempat yang sudah dikhususkan (kudus). Harus ada kesopanan dalam menikmati berkat. Sebab itu di meja makan, mama yang membagi dan melayankan makanan kepada setiap anggota keluarga. Rupanya ini merupakan tindakan liturgis yang membuat meja makan semacam mendapat kesakralannya. 
Kedua, menghormati meja makan sebagai media penyatuan keluarga. Sebab itu pada saat makan, tidak boleh sambil bercerita, tidak boleh "baku malawang", tidak dibenarkan berdiri meninggalkan meja makan sebelum semua selesai makan. Biasa di sela-sela makan, atau sambil "bale papeda", atau "tambah sayor", mama memberi nasehat-nasehat kehidupan, yang wajib didengar. Itu merupakan cara membentuk karakter anggota keluarga. 

II. MEJA MAKANG KASIANG DALAM RITUAL ADAT
Makna ini lahir dalam ruang jamuan adat seperti pada pesta pernikahan, makan patita negeri, atau ritual adat lain seperti acara perdamaian antar-negeri. Meja makang kasiang di sini ditutupi kain panjang berwarna putih. Kain ini biasa dibuat dari "kaeng putih 1 kayo" yang biasa menjadi harta kawin seorang dagang yang menikah dengan anak perempuan negeri tersebut atau dari "bayar denda adat".
Dimensi penyatuan di sini lebih terbuka sebab partisipannya adalah semua masyarakat di dalam negeri (asli dan dagang), atau dari negeri pela-gandong, atau negeri tetangga (misalnya pada meja makang perdamaian). 

III. ADA APA? BUKA LA LIA 
Apa yang ada di meja makang kasiang? Makanan! Yaitu jenis makanan yang selalu menjadi hidangan utama (makanan pokok). Kita tidak bisa melihat makanan yang disajikan itu terpisah dari pekerjaan utama anggota keluarga.
"Mari la makang sabarang-sabarang jua". Ungkapan ini sering diucapkan, saat seorang saudara diajak untuk makan bersama-sama. Tentu bukan karena menunya yang salah (=sabarang-sabarang), melainkan suatu gambaran kesederhanaan bahwa di meja makan kita makan makanan yang sama, keluarga itu tidak menyembunyikan makanan dari saudaranya. Apa yang kami makan, itu juga yang dijamu kepada seorang saudara.
Ungkapan lain, "dangke lai su mau makang biar deng kurang-kurang". Ruang maknanya sama, sebagai rasa terima kasih sekaligus merasa dihormati, karena saudara itu mau menyatu dengan keluarga kita (=su dudu makang di katong meja makang kasiang). Sehingga ikatan kekerabatan menjadi semakin kuat. Malah ada pernyataan yang menarik tentang bagaimana seseorang menyatu sebegitu erat dengan keluarga lain, walau tidak ada hubungan kekerabatan, yakni: "itu beta pung rumah tampa makang tuh". Tentu bukan karena orang Maluku "suka makang", tetapi meja makan telah menjadi simbol penyatuan secara universal.
Bila kita sudah akrab, maka saat berkunjung ke rumah saudara atau teman, lalu minta makan, si empunya rumah mempersilahkan kita menuju meja makan keluarganya sambil berucap "buka la lia jua". Sebab itu, setelah satu keluarga selesai makan, sisa makanan dibiarkan di atas meja. Bisa saja karena masih ada anggota keluarga yang tidak berkesempatan makan bersama-sama atau karena meja makan harus terbuka melayani saudara lainnya.
Karena itu sebagai simbol penyatuan, di atas meja makan kasiang, pada jam makan atau setelah makan, tampa garam tidak boleh dipindahkan dari atasnya. Ini adalah media penyatuan itu. Seluruh tindakan simbolik tentang penyatuan di meja makan diletakkan pada tampa garam. Cili dan garam adalah jenis bumbu yang tidak dipahami secara material begitu saja. Dua jenis bumbu ini, pada tampa garam berubah sifatnya menjadi senyawa penyatuan, yang mempersatukan anggota keluarga dan kerabat lainnya. Tampa garam tidak boleh dibiarkan kosong, karena ada keyakinan tradisional bahwa "tampa garang kosong, awas berkat lari". Makna sebenarnya bukan kita mengosongkannya, tetapi jika kita tidak bersedia berbagi dengan saudara, kita tidak diberkati.
Selain itu, tampa garam adalah simbol kohesi dalam ranah keluarga tetapi juga sosial. Ada ungkapan "jaga babae, awas tampa garang pica." Sebab persaudaraan itu yang utama. Di tampa garam, "katong laeng rasa laeng". Karena itu kebiasaan makan di meja makan, setiap anggota keluarga mencelup jarinya pada garam untuk dicicipi. Jika saat kita sedang makan di meja makan, datang seorang saudara, dia harus diajak makan bersama. Bila ia sudah makan, ia tidak bisa menolak secara negatif. Ia harus mencelupkan jari ke tempat garam dan mencicipi garam di telunjuknya, atau pada cili yang juga tersedia di situ. Itu pertanda dia sudah makan bersama kita.

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!