Sunday, April 17, 2011

‘Muhabet dan Makburet’

Reproduksi Teks Dalam Beragama di Maluku
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella


Hari Sabtu lalu [16/4-2011] beta berada di Siri Sori Sarane [SirSa], tetapi dalam dua peristiwa dukacita. Sisi satu adalah dukacita keluarga Ririhena, anggota Jemaat GPM Rumahtiga di Wayame (Pulau Ambon), dan sisi kedua ialah dukacita keluarga Seipatiratu di SirSa.

Lazimnya jemaat-jemaat GPM, urusan dukacita diorganisir oleh Muhabet; sebuah organisasi sosial di negeri-negeri Kristen yang berperan mengurus berbagai keperluan dukacita keluarga anggotanya, meliputi pemandian jenazah [kas’mandi mayat], pembuatan peti jenazah [biking peti], penggalian liang lahat [gale kubur] dan keperluan lain seperti ‘biking sabua’ dan ‘angka bangko’ [bangku/kursi]. Di beberapa negeri justru kelompok Muhabet sudah memiliki sarana-sarana itu sebagai inventaris.

Sejak tiba di SirSa [jam 11.00 WIT], beta mendengar serangkaian percakapan di depan rumah duka. Narasinya mengenai anggota Muhabet di Jemaat SirSa yang sedang menggali liang kuburan dan ‘angka bangko’ dari kantor negeri ke rumah duka. Narasi-narasi sederhana ini memperlihatkan bagaimana pola berorganisasi dalam jemaat-jemaat terus bertahan sampai saat ini.

Kemudian kami bersama mengikuti ibadah Makburet dalam rangka pemakaman jenazah Alm. Bapak Neles Seipaturatu, atau di SirSa lebih dikenal dengan sapaan ‘Mantri Kaibobu’ –yang adalah ‘papa tua’ dari istri beta, Dessy.

Jejak historis ke tahapan awal tradisi ini perlu dilakukan dengan memperhatikan berbagai hal seputar cara-cara lokal itu dilahirkan dan digunakan dalam praktek hidup masyarakat/jemaat. Penelitian sejarah dan antropologi mungkin akan membantu menerangkan alasan-alasan kelaziman ini terus bertahan dan menjadi tradisi masyarakat dan jemaat.

Jejak itu menjadi pertanyaan yang sudah lama berkutat di benak beta. Tetapi sebuah kesan yang menggelitik ialah dari mana istilah Muhabet dan Makburet muncul dan menjadi istilah lazim dalam Melayu Ambon. Ruang maknanya pun menjadi pertanyaan khusus ketika ternyata kedua istilah itu adalah representasi komunalitas dalam dukacita di Jemaat-jemaat GPM/Maluku.

MUHABET
Teman beta, Sumanto Al Qurtuby, jebolan salah satu Pesantren di Pekalongan dan fasih berbahasa Arab dan tradisi keislaman klasik, membantu menerangkan istilah dari bahasa Arab yang memiliki kaitan dengan Muhabet dan Makburet.
Penjelasannya mengenai akar kata dari bahasa Arab itu menarik dan dapat diterima sebab bahasa Melayu Ambon bertumbuh ketika bahasa Arab telah menjadi sebuah bahasa yang dikenal orang-orang Ambon di zaman Belanda.

Malah beberapa teks Alkitab ada yang ditulis dalam bahasa Arab dan beredar sampai ke pelosok termasuk di Saparua. Istilah-istilah serapan dari bahasa Arab, Portugis dan Belanda menjadi kosakata Melayu Ambon yang terus digunakan sampai saat ini.
Mengenai Muhabet, ada istilah dalam bahasa Arab yang diperkirakan sebagai etimologinya. Istilah tersebut ialah ‘muhiba’ [kata benda, noun] yang berarti = kunjungan. Kata sifatnya [adjective] ialah ‘hibat’, dan keduanya bersumber dari akar kata ‘hub’ yang berarti = cinta, kepedulian, atau orang-orang yang mendermakan sesuatu untuk orang yang dia cintai.

Di situ dapat dikatakan bahwa Muhabet ialah suatu perhimpunan yang terdiri dari anggota masyarakat atas dasar kepedulian sosial, cinta kasih dan bertujuan untuk membantu anggota masyarakat lain yang perlu dibantu, atau yang berada dalam kesusahan/dukacita.

Lihat saja respeksitas anggota Muhabet kepada keluarga yang berduka. Ini adalah lukisan dari empati dan solidaritas sosial yang telah menjadi modal sosial jemaat-jemaat di GPM.

Dimensi komunalitas itu menempatkan keluarga ke dalam organisasi sipil ini. Jadi satu keluarga yang menjadi anggota suatu Muhabet wajib diurus ketika keluarga itu ada dalam kesusahan/dukacita oleh sebab salah satu anggota keluarganya meninggal dunia.

Dahulu ada pula istilah lokal lain mengenai Muhabet yaitu ‘PARAMPONANG’. Penelusuran leksilkal terhadapnya patut dilakukan. Di duga istilah itu adalah bentuk polisemi dalam Melayu Ambon tentang kata ‘perhimpunan’ dari kosa kata Bahasa Indonesia. Banding saja kebiasaan membahasa orang Ambon yang sering diakhiri akhiran ‘ang’ –misalnya: perempuan = parampuang.

Walau begitu makna sosialnya sama dengan Muhabet, tetap menonjolkan aspek komunalitasnya.

MAKBURET
Demikian pun dengan Makburet. Kata ini beta tanyakan dari Sumanto ketika membaca di gapura kuburan di Kota Jawa, Rumahtiga, tulisan ‘Maqbar’.

Pada waktu beta sampaikan, Manto agak ‘takajou’, sebab menurutnya istilah itu sudah jarang digunakan. Dari pertanyaan beta itu dia malah berniat meneliti aliran-aliran [madzhab] Islam di Maluku. Biarlah itu menjadi kerjanya yang berikut, sebab dia memang ahli dalam urusan-urusan keislaman.

Kata ‘makburet’ berasal dari kata Arab ‘maqbar’ adalah kata benda yang menunjukkan tempat dan artinya = kuburan, makam. Kata kerjanya ialah ‘Qubaro’ artinya = menguburkan; atau ‘orang menguburkan’. Sedangkan ‘muqbir’ ialah = orang yang menguburkan, dan ‘maqbur[ot] = jenazah, orang yang dikuburkan.

Dalam prakteknya, Muhabet mengorganisir anggota-anggotanya untuk mengurusi Makburet. Ada kepala kubur yang bertanggungjawab mengurusi pengerjaan kuburan. Dia kemudian berperan menyambut iringan jenazah di ‘pintu kuburan’. Di beberapa negeri di Ambon petugas penyambut iringan jenazah ini disebut ‘paidadu’ [masih ada dan dipraktekkan di Hukurila – Leitimor Selatan]. Kepala kubur membawahi para penggali kuburan yaitu anggota Muhabet laki-laki.

Ada tukang yang bertanggungjawab mengerjakan peti jenazah; petugas pemandian jenazah yang bertanggungjawab memandikan jenazah. Petugas ini terbagi antara laki-laki dan perempuan.

Makburet selanjutnya dipahami sebagai ibadah persiapan pemakaman. Untuk urusan ini menjadi bagian tugas dan peran Majelis Jemaat. Dalam hal tanda dimulainya Makburet biasanya melalui bunyi Tifa Muhabet dan Lonceng Gereja.

MATAWANA
Beta agak kehilangan etimologi dari kata ‘matawana’. Praktek ini berlangsung pada malam-malam selama jenazah belum dimakamkan. Biasanya karena menunggu suami atau istri, kakak atau adik, papa atau mama dari almarhum/ah, atau orang-orang terdekat tertentu yang berada di luar daerah dalam rangka ibadah Makburet.

Pada Matawana, setiap orang datang dan menemani keluarga sepanjang malam sampai pagi hari. Dalam praktek di GPM malam-malam itu berlangsung ibadah penghiburan dan persiapan pemakanan.

Demikian beberapa catatan yang semoga membantu kita menjelaskan praktek-praktek budaya dalam hidup beragama kita. Catatan ini menjadi semakin menarik karena sambil mengerjakannya [dari HP Nokia N9300]m, sedang berlangsung ibadah Makburet. Beta duduk di bagian dapur. Sedang ibadah berlangsung, beriring basudara dari Siri Sori Salam, mama-mama berkerudung dan berjilbab, nenek-nenek, orang-orang muda, yang sama-sama berucap: ‘bapa mantri e, su tolong katong banya lawang e. kalu saki katong mau pi panggel sapa lai? [bapak mantri, sudah banyak sekali membantu kami . Jika kami sakit nanti, siapa lagi yang bisa kami panggil –istilah ini menunjuk pada kondisi bahwa pelayanan ‘papa tua’ itu tidak kenal waktu dan kadang gratis, tidak mematok harga atau tidak meminta bayaran].

Ucap-ucap mereka menunjuk kekayaan agama kita di Maluku. Sebuah kekayaan agama yang dijumpai dan dipraktekkan justru oleh masyarakat di level bawah dalam ranah ‘pelayanan kemanusiaan’. Kalau orang mengatakan hal itu dilakukan tanpa berpegang pada teks dan doktrin agama, beta malah berpendapat lain. Mereka melakukannya karena mereka meresapi ajaran agama masing-masing secara sahih dan benar-benar, benar.
Mereka menunjukkan bagaimana teks-teks dan doktrin-doktrin itu direproduksi secara kontekstual. Sebuah tafsir yang jujur dan tanpa kepentingan pemutlakan. Hal yang ditakuti dan ditabukan oleh banyak teolog dan alim-ulama serta kelompok yang merasa menjadi pengawal kesucian agama dan ajaran justru dipakai oleh mereka dalam kesederhanaan tafsir yang ternyata lebih benar dan lebih terhormat dari tafsir umum para teolog dan alim-ulama serta ‘penjaga kesucian agama’ itu.

Reproduksi teks seperti ini merupakan modal sosial beragama yang mereka hidupi dari waktu ke waktu. Mereka menemukan kebenaran agama yang orisinil dan berbagi di dalam kebenaran yang sesungguhnya sama dan satu. [*]

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!