Saturday, March 7, 2009

APA ITU ALKITAB?

Kajian Sosiologis Terhadap Dinamika Penulisan
dan Pemahaman Mengenai Alkitab
oleh. Elifas Tomix Maspaitella


00. Debat Tak Berakhir
I keep you dangling between belief and disbelief by turns, and I don’t mind admitting that I have a reason for it. It’s the new method, sir. For when you lose your faith in me completely, you will at once begin assuring me to my face that I’m not a dream, but do really exist (V. Ivanov, Freedom and the Tragic Life, Nonday Press, 1957, p.759)

Mempersoalkan Alkitab, apa masih perlu. Paling tidak pertanyaan mengenai signifikansinya sudah barang tentu membuat diskursus mengenai Alkitab akan mengalami pebenturan pemahaman dan penghayatan iman.

Benturan pemahaman merupakan sebuah gejala akademis (epistemologis) mengenai dasar-dasar keilmuan dari Alkitab itu sendiri. Ini dapat saja terjadi karena warisan pemahaman teologi yang berbeda-beda. Teologi biblika akan menghadapkan kita pada varian pemahaman mengenai Alkitab itu sendiri. Sebagai contoh formulasi masalahnya ialah apakah Alkitab itu firman Tuhan, atau apa hubungan otoritas ilahi dengan karya para penulis menyusun tulisan-tulisan tersebut.

Pada fase penghayatan, faktor iman mendominasi seluruh kerangka pengertian kita mengenai Alkitab. Kalau orang sudah mendefinisikan Alkitab sebagai Firman Tuhan dan memahaminya secara harfiah, jangan harap ada sikap kritis terhadapnya. Dan jika ada sikap kritis, orang itu akan dimasukkan dalam “gheto” bersama dengan “orang-orang yang tidak beriman”.

Mengapa fenomena itu ada. Norman K. Gottwald membantu kita memetakan kecenderungan pemahaman umum mengenai Alkitab dan kemudian paradigma pemahaman teologi. Fenomena tadi bagi Gottwald merupakan kecenderungan dari dual causality approach dalam pemahaman teologis masyarakat. Prinsip “dua penyebab” ini adalah pendekatan yang mengarah ke Tuhan (divine system) dan pendekatan yang mengarah ke manusia (human system).

Corak pemahaman divine system lebih condong kepada sebab-sebab ketuhanan, sebaliknya human system condong kepada sebab-sebab kemanusiaan. Dinamika transenden dan dinamika sosial nampak sebagai penyebab terjadinya sesuatu, demikian juga terhadap tulisan suci. Yairah Amit, seperti dikutip Gottwald, melihat bahwa dua pendekatan ini mesti saling mengisi, tanpa harus dipertentangkan. Pokok soalnya ialah hubungan dinamika kemanusiaan itu menjelaskan realitas ketuhanan, dan sebaliknya sebab-sebab ketuhanan itu bermakna dalam dinamika sosial manusia melalui “providencia”.

Pendapat-pendapat tersebut dijadikan sebagai dasar membangun kajian ini secara teoretik. Di samping itu, dalam rangka membahas tema tulisan ini, saya mencoba menarik sintesa dari berbagai studi sosiologis mengenai dinamika sosial dan politik penyusunan tulisan-tulisan suci, yang kemudian disebut Alkitab.

01. Latar Sosial Israel Alkitab
Alkitab sebagai karya tulis para scriba dihasilkan melalui pergumulan panjang dalam suatu lingkungan sosial. Scriba tidak menulis dalam “alam fantasi” atau dari tengah kondisi “ekstasi”, mereka sadar akan realita yang dihadapinya, berupa tekanan, keresahan rakyat, harapan dan keputusasaan, kelaparan, kesejahteraan, dan kemenangan. Mereka mengangkat dan menuangkan ekspresi rakyat dan/atau ekspresinya sendiri dalam bentuk tulisan, yang bisa juga berupa propaganda politik dalam rangka mendukung tegaknya suatu dinasti (royal writings), atau sebagai dasar legitimasi bagi naiknya seseorang menjadi raja (bnd. karya J sebagai propaganda politik Daud; dan karya Dh sebagai propaganda mendukung Yosia sebagai pewaris sah dinasti Daud).
Dunia sosial (social setting) dari tulisan-tulisan menuangkan latar belakang ekspresi dan artikulasi iman dalam bentuk tulisan, yang kemudian disebut Alkitab (tulisan suci). Dunia sosial yang dimaksud di sini tidak menunjuk sebatas pada lokasi geografis (place), tetapi issu dan tujuan bersama (common will) masyarakat serta masalah sosial yang dialami dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, ada tiga unsur pokok dalam dunia sosial, yaitu tempat dan ruang (lingkungan, relasi/kontak, tokoh), ideologi (issu, harapan, tujuan, keresahan, dsb) dan waktu (pergerakan sejarah, peristiwa).

Ekspresi umat yang dikristalkan dalam bentuk tulisan merupakan kulminasi dari pengalaman nyata rakyat, baik secara teologis maupun sosiologis, dalam hubungan dengan orang lain dan dengan Tuhan. Bentuk-bentuk ekspresi dalam Alkitab seperti saga, legenda, ucapan-ucapan (logia), puisi, lagu, theater, drama, liturgi, cerita sejarah,hukum, dsb. Bentuk-bentuk itu ditulis dan dikodefikasi sebagai tulisan suci dalam kanon.

a. Teritori dan Konteks Sosio-Politis Israel Alkitab
Dunia darimana Alkitab ditulis adalah suatu lingkungan masyarakat agraris di Palestina yang gemar menanam jelai (semacam padi/gandum). Kelompok masyarakat ini terbilang kecil, sebab lingkungannya yang tandus, dan kurang produktif untuk mendukung hidup populasi masyarakat. Karena itu mudah dikuasai oleh bangsa-bangsa besar, seperti Siria, Mesir, Babel, Yunani dan Romawi.

Israel, merupakan lokus lahirnya tulisan suci yang kemudian dikodefikasikan sebagai Alkitab yang kini ada di tangan kita. Israel, darimana tulisan itu lahir, tidak seperti Israel yang kini kita ketahui bersama. Suatu lingkungan suku-suku yang semula merupakan suatu wilayah konfiderasi, tidak menyatu seperti diceritakan dalam Alkitab. Sebuah liga suku yang tinggal di daerah padang gurun Trans Yordan.

Wilayah-wilayah penting sebagai teritori konfiderasi suku-suku itu ialah wilayah pesisir Laut Tengah (tepatnya di teluk Acconorth di lembah gunung Karmel), di sepanjang Delta sungai Nil. Wilayah ini dihuni oleh orang-orang Filistin, dan kemudian oleh tentara-tentara Daud ketika ia membangun persepakatan militer dengan Filistin. Wilayah berikutnya ialah kota perbukitan Yehuda. Pusatnya berada di puncak bukit (kemudian dinamakan Sion), dengan wilayah yang agak tandus dibagian barat, sedangkan wilayah timurnya agak subur karena dekat dengan perairan dan bermuara di Laut Mati.

Teritori ketiga ialah kota perbukitan Samaria, yang berada di antara perbatasan Yehuda dengan Benjamin. Posisinya menyerupai sadel (pelana) kuda di antara dua bukit Yehuda dan Benjamin tadi. Wilayah lain yang cukup subur sebagai penghasil minyak dan anggur adalah kota perbukitan Galilea. Wilayah ini menjadi salah satu bandar dagang terbesar di Palestina.

Suku-suku itu tersebar di seluruh wilayah tadi, dan sebagiannya ada di dataran Gilead, atau juga di wilayah Amon, Edom dan Moab. Intensitas hubungan sosio-politik antar suku dan/atau dengan bangsa-bangsa sekitar cukup tinggi, baik dalam hubungan dagang, maupun karena faktor koloni (penjajahan).

Mesir merupakan negara adidaya yang besar pengaruhnya. Kekuatan ini mengalami masa jayanya pada penghujung abad ke-14, dan terutama pada masa pemerintahan Ramses II (1279-1212), Merenptah (1212-1202) dan Ramses III (1183-1152). Kekaisaran baru ini terus mengembangkan kekuasaannya di seluruh wilayah Palestina dengan jalan membangun gudang-gudang granisium, gudang makanan, dan mega proyek lainnya. Seluruh wilayah taklukan diwajibkan tunduk kepada hukum Mesir, termasuk di dalamnya sistem perpajakan dan aneka arsitektur seni, ritual maupun kultus.

Pengaruh politik itu berimplikasi pada perubahan mata pencarian dan sistem permukiman dari orang-orang yang hendak melepaskan diri dari cengkeraman politik Mesir. Oleh sebab itu kota dibangun di puncak bukit, dan orang mulai melepaskan pekerjaan pertaniannya ke pekerjaan sebagai penggembala dan/atau bandit yang beroperasi di padang gurun. Sebagian besar kelompok itu adalah orang-orang apiru, yaitu orang-orang yang bermigrasi karena tekanan sosial, politik dan ekonomi, sehingga kehilangan identitasnya sebagai suatu bangsa. Karena kesulitan ekonomi, dan terlilit pajak atau hutang, mereka menyebar dan selalu membentuk kelompok gank yang dapat disewa sebagai “tentara upahan” untuk kepentingan kelompok tertentu.

Israel Alkitab terpaksa harus ada dalam pergumulan politis seperti itu. Suku-suku pun menjadi bagian dari penaklukan bangsa-bangsa asing. Kenyataan itu menjadi salah satu taget politik Daud untuk menyatukan suku-suku yang ada sebagai suatu liga yang besar untuk menentang dominasi bangsa-bangsa asing.

Dari waktu ke waktu, kekuatan politik Mesir jatuh. Dalam konteks itu, Daud membangun persepakatan militer dengan Filistin. Usaha itu bertujuan untuk menentang kekuatan Mesir. Persepakatan politik itu bertujuan untuk memperkuat posisinya sebagai pemimpin di Israel Alkitab.

Dalam rangka memperkuat posisi politiknya Daud menyusun cerita-cerita sebagai suatu alat propaganda politik. Di sinilah para scriba dipakainya untuk membuat dan menyebar tulisan-tulisan itu. Pada masa itu dunia tulis-menulis hanya dikuasai oleh sekelompok orang tertentu, dan umumnya adalah kelompok elite sosial. Tulisan-tulisan itu muncul dalam berbagai rupa, seperti karya sastra, berupa puisi, drama, fragmen, saga, apos, atau juga musik. Di samping itu, rumusan hukum kemudian muncul sebagai suatu alat legitimasi kekuasaan, baik hukum pajak, hukum militer, hukum kemanusiaan, dll. Tampak kepentingan politis dari tulisan-tulisan tersebut.

Dengan demikian jelas bahwa tulisan paling awal muncul dari dalam lingkungan kekuasaan (istana – the royal writings), dan bukan dari konteks keseharian masyarakat. Dari segi ini, jika tulisan-tulisan itu menceritakan tentang nasib orang-orang miskin, semata-mata dimanipulasi untuk menarik interese rakyat kecil kepada kekuasaan itu sendiri.

Sketsa 1: Koalisi Sosiopolitik Israel Alkitab



b. Corak Davidik dalam Hebrew Bible
Hebrew Bible (HB) atau yang kita kenal dengan nama Perjanjian Lama menunjuk pada otoritas Daud. Pada sisi itu, interpretasi Yahudi dan Kristen terhadap HB berbeda. Coote-Coote menulis bahwa:
HB memperhatikan tata tertib sosial, hukum dan wewenang bait suci. Orang Yahudi dan Kristen berbeda dalam menentukan wewenang apa yang harus disandang kitab suci,bait suci setelah penghancurannya oleh tentara Romawi pada tahun 70 M. Interpretasi Yahudi menekankan wewenang lokal yang didasarkan atas kepercayaan akan kesinambungan kesucian bangsa dan bait sucinya, meskipun bait suci sudah tidak ada lagi di sana. Interpretasi orang Kristen menerima wewenang kerajaan yang didasarkan pada keyakinan bahwa bait suci dan segala sesuatu yang didukung sudah digantikan oleh peraturan Allah yang akan datang. Hal ini membuat orang Kristen lambat dalam menegaskan wewenang mereka di bait suci, dan siap tuntuk untuk sementara pada, entah senang atau tidak, wewenang Romawi.

Sebagai karya yang lahir dari lingkungan istana Daud, Daud memiliki kepentingan dasar dengan tulisan-tulisan suci itu. Tema teologis yang kuat dalam masa itu ialah berkat dan kutuk dengan pola hukum bersyarat (conditional law) dan hukum tak bersyarat (unconditional law).

Formulasi berkat dan kutuk dilekatkan pada identitas kebangsaan. Mesir diidentikkan dengan bangsa yang mendapat kutuk sebaliknya Israel adalah bangsa yang diberkati. Cerita ini dimulai dari kisah Adam dan Hawa sebagai generasi kutuk. Karena itu mereka diusir keluar dari taman eden, berbeda dengan Abram dan Sarah, sebagai generasi berkat yang mendapat kelimpahan tanah perjanjian. Sejalan dengan itu, Kain dan Habel adalah representasi dari Mesir yang dikutuki, penuh kecemburuan, dan jahat (Kain), dan Israel sebaagi representasi negeri yang diberkati. Sejajar dengan itu, adalah kisah Ismail dan Ishak, atau kemudian Esau dan Yakub adalah reduplikasi cerita Kain dan Habel, yang menggambarkan kisah otoritas Yahweh menentukan yang terbaik menurut “kehendak bebasNya”. Pertentangan Esau dengan Yakub sejak dalam kandungan, dan bahkan kisah penipuan Yakub untuk mendapat berkat dari Ishak tidak diekspos sebagai bentuk penghianatan si adik, melainkan dialihkan secara transhistoris ke otoritas kehendak bebas Allah.

Di samping menegaskan berkat dan kutuk, Daud memiliki kepentingan lain dengan kisah genealogis seperti itu. Tujuannya sederhana, ia sadar bahwa dirinya bukan anak sulung, melainkan si bungsu dari Isai. Oleh sebab itu, kisah-kisah tadi disusun untuk membentuk opini umum, secara politis, bahwa tidak selamanya yang sulung itu berhak atas kekuasaan dalam suku-suku.

Demikian pun komposisi cerita 12 anak Yakub. Sebetulnya merupakan sebuah mithos yang bertujuan untuk mengintegrasikan suku-suku yang menyebar di TransYordan ke dalam satu liga yang besar. Terbaca dari komposisi 12 suku itu, Yehuda sebagai pemegang tampuk kekuasaan “kekal”. Siapa Yehuda itu, tentunya Bani Daud. Oleh sebab itu, ketika kudeta yang dilakukannya terhadap Saul bukanlah sebuah pelanggaran politis, melainkan terjadi karena, sekali lagi, kehendak Yahweh. Kehendak Yahweh ini mendapat justifikasi pada, pertama, Saul bukan keturunan Yehuda, melainkan dari suku Benjamin. Mereka tidak layak menjadi pemimpin atas Israel. Kedua, Saul dipilih berdasarkan undian, dan Yahweh dikisahkan “terpaksa” menyetujui keinginan umat melalui Samuel. Ketiga, tetapi Daud ditunjuk oleh Yahweh, dan langsung menugaskan Samuel untuk menobatkan dia sebagai raja atas Israel.

Kehadiran Samuel pun memiliki makna politis tersendiri. Samuel adala orang Rama di bagian Utara. Kedatangan Samuel dari Utara untuk menobatkan Daud menjadi Raja adalah gambaran figuratif dari ketundukan secara langsung suku-suku di utara kepada kekuasaan Daud.
Tindakan-tindakan politis itu berpengaruh juga dalam tata kultus Yahudi. Daud membangun corak pemerintahan yang sentralistis dengan menjadikan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan. Konsekuensinya ialah ia membentuk ideologi Yahwisme sebagai ideologi nasional, dan dengan demikian menjadikan Yahweh sebagai Tuhan nasional, yang kekuasaannya di atas kuasa El-El sebagai Tuhan lokal suku-suku.

Kultus Israel dialihkan ke kultus Yahwisme, dengan menjadikan Yerusalem sebagai pusat kultus. Maka dibangunlah tradisi ziarah. Setiap suku harus berziarah ke Yerusalem. Untuk itu Daud mengambil Tabut Perjanjian dan meletakkannya di dalam kemah suci (tabernakel) di Yerusalem, serta berkeinginan membangun Bait Allah.

Menariknya ialah, semua keinginan politik Daud itu dikemas dalam bentuk tulisan suci, sebagai tulisan-tulisan istana. Tulisan-tulisan ini kemudian disebar kepada semua pejabat elite, demikian juga kepada penguasa-penguasa di sekitar Israel, dan disosialisasikan kepada masyarakat suku.

3. Alkitab
Pergumulan politik seputar penulisan Alkitab yang tersaji di atas baru memperlihatkan dasar realita sosial dan beberapa tendensi penulisannya. Saya tidak sempat mengulas seluruh tendensi itu, tetapi saya yakin apa yang tersaji dapat menunjukkan kepada kita corak dasar penulisan Alkitab itu sendiri. Dan itu berlaku surut sampai dengan penulisan Perjanjian Baru.

Beberapa hal hendak ditegaskan ialah:
Pertama, sebagai kumpulan tulisan-tulisan, Alkitab adalah sebuah karya teologis. Karya yang memuat dan memformulasi bagaimana orang Yahudi dan juga Yunani-Romawi memahami diri, lingkungan, kontak sosial, tata kehidupan politik, ekonomi, agama, dan kemudian cara mereka memahami Tuhan. Cara itu kiranya menjadi model bagi kita memahami dunia dan konteks hidup kita.

Kedua, pemahaman teologi yang kita anut bahwa para penulis mendapat inspirasi dari Roh Kudus, lalu mereka menuangkannya itu ke dalam bentuk tulisan. Pertanyaannya ialah, apa wujud inspirasi itu. Kalau inspirasi itu berupa kata-kata dan kalimat-kalimat, maka para penulis itu digerakkan tangannya oleh kekuatan terselubung lalu membimbing mereka mengambil alat tulis, pelepah papirus, pergamen, dll, membukanya, dan kemudian menulis kata-kata dan kalimat-kalimat yang diinspirasikan itu. Jika itu yang terjadi, saya curiga, saat mereka menulis kata demi kata atau kalimat demi kalimat, mata mereka terpejam, telinga mereka tertutup terhadap kebisingan lingkungan, mereka berada di dalam sebuah ruangan yang tertutup pintu-jendelanya. Setelah itu, tulisan itu disimpan ke dalam peti, atau diberikan kepada orang lain, yang juga bisa membaca.

Tetapi jika inspirasi itu datang dalam wujud kesadaran, kepekaan sosial, perhatian dan solidaritas, tetapi juga keresahan dan keputusasaan, atau malah tangisan dan kesenangan, pasti kita pun bisa menerima inspirasi yang sama dengan para penulis itu. Dengan demikian, apakah tidak mungkin kita juga menghasilkan sebuah tulisan suci dalam konteks saat ini.

Ketiga, dari konstatasi itu, kalau Alkitab itu didefinisikan sebagai Firman Allah, sejauhmana dimensi firmannya itu memiliki rentang kendali kepada manusia sampai saat ini, di berbagai wilayah, di luar Israel Alkitab. Apakah firman Tuhan itu sekali datang kepada Israel Alkitab dan berlaku surut kepada semua bangsa dan semua manusia di sepanjang abad. Bagaimana dengan konteks yang kita hadapi saat ini. Apakah semua sudah difirmankan akan terjadi seperti begitu? Jika demikian maka keagamaan kita tak lebih dari sebuah kisah Film Casandra yang diputar ulang di SCTV.

Saya kira demikian dulu paparan saya. Saya justru bingung sendiri dengan apa yang saya paparkan. Kalau saya sudah bingung saya tidak memaksakan peserta diskusi untuk “bingung” seperti saya. Saya justru ingin anda tidak bingung. Sebab ketika anda tidak bingung, saat itulah anda mulai yakin, bahwa yang dipahami selama ini “masih kurang”. (*)

1 comment:

Panitia Festival Penulis dan Pembaca Kristiani said...

Tulisan Anda sangat inspiratif. Dalam rangka memuculkan penulis-penulis Kristen kreatif, akan diselenggarakan festival penulis dan pembaca kristiani. Salah satu pre-event adalah lomba menulis cerpen dan novelet berdasar Alkitab. Anda mungkin berminat untuk ikut? Info lengkap dapat Anda klik di Lomba Menulis Cerpen dan Novelet Berdasar Alkitab

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!