Sunday, August 17, 2014

MERdEKA TANPA HURUF ‘D’




I

Aku,
Kalau sampai waktuku
‘ku mau tak seorang pun merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Begitu kata Chairil Anwar
Yang mengaum laksana binatang jalang
Untuk merobek jantung mereka yang suka menelan
Dan mengejar mereka yang tidak tahu malu bukan kepalang

II

Auman anak bangsa bagai garuda mengangkasa mencari mangsa
Matanya tajam menembus belukar dan muka air
Suaranya merobek angkasa dan berkata: “ku robek jantungmu wahai penjajah”
Ia terbang tinggi dan menukik tajam
Membela tanah
Menembus muka air
Dan sekali menerkam, cakarnya menancap tak terlepas
Tubuh penjajah dirobek
Dan sang garuda mengangkasa teriakkan : “kemerdekaan adalah hak segala bangsa”

III

Persada nusantara gegap gempita
Tak sejengkal tanah ini dibiarkan lagi terjajah
Berpuluh orang maju selangkah
Menantang bahaya di bawah hujan mesiu
Bara di dada melihat tanah dilindas
Marah di dada melihat saudara ditindas
Api di mata melihat cengkeh dirampas
Nusantara bangkit dan siap menebas

IV
Berteriaklah kalian wahai Andalas
Kau besar dan gugusmu panjang
Nyaringkan suaramu
Pekikkan amarahmu
Biar kaki mereka gemetar
Dan pontang panting berputar terpencar

V
Bangunlah kau hai Jawadwipa
Kau besar dan gugusmu panjang
Larilah dan hadanglah mereka dengan pedang
Jangan biarkan kaki mereka menendang tanah
Teruslah berlari biar mereka jatuh membujur di sawah-sawah

VI
Kumandangkan amarahmu wahai Borneo
Laksana garuda, kibaskan sayapmu
Biar pohon meranggasmu menjadi pagar
Jangan biar setitik api mereka membakar

VII
Walau kau kecil di sudut nusantara
Bangunlah wahai Raja-raja
Maluku marah
Keluarlah wahai kapitang-kapitang
Sebelum mereka meruncingkan bambu
Sebelum mereka menghunus keris
Pattimura cakalele parang deng salawaku
Cengkeh mereka rampas
Beta balas deng ramas
Pala mereka tebang
Beta balas deng serang
Mutiara mereka ambil
Beta balas deng cungkel

VIII
Saat perempuan-perempuanmu dipingit dan berpuisi
Nusahulawano di pulau anyo-anyo tidak manare lengso
Martha Christina rampas tombak
Lari, balumpa meti, tikang mereka yang berlaku jahat

IX
Hingga suatu hari
Persada ini teriakkan ‘MERDEKA’
Merah Putih mengangkasa
Membela langit biru
Bertudung awan putih berarak dari pagi ke senja


X
Lalu
Republik ini belajar berjalan
Negara ini belajar berdiri
Bangsa ini belajar berlari
Berlari dan semakin jauh
Melompat dan semakin tinggi

XI
Kami di pulau kecil ini
Nyaris tak mau menyanyi ‘dari sabang sampai merauke’
Karena saudara kami di Timor-Timur kini sudah menjadi tetangga
Kami di pulau kecil ini
Nyaris tak mau menyanyi ‘maju tak gentar’
Sebab saudara kami kadang ditembak
Padahal dada mereka menggemuruh jantung Indonesia
Darah mereka mendidihkan Indonesia
Kami di pulau kecil ini
Nyaris tak mau melagukan ‘Indonesia tanah air beta’
Sebab kami dituduh dengan rupa-rupa sebab
Kami dialamatkan rupa-rupa bencana
Telunjukmu menunjuk kami yang bukan-bukan

XII
Jika kami berteriak, disangka pemberontak
Maka maukah kau sedikit mendengar bisik kami?
Pergilah ke surga
Jangan ke neraka
Minta ijinlah pada Tuhan
‘Selamat Hari Merdeka, Tuhan. Bisakah saya berjumpa Menner Alexander Yacob Patty?’
Maka ia akan bertutur kepadamu:
‘Sebelum Republik ini jadi, Jong Ambon telah merintis pergerakan kemerdekaan’
Sebelum kalian memimpikan Merdeka, putra-putra kami sudah merancangnya
Sebelum kalian mengenal solidaritas, rasa cinta pada persada ini ibarat papeda dan colo-colo di meja makang kasiang kami
Ia tidak akan menipumu
Sebab para penipu adanya di neraka
Dan Tete Alex ada di Surga

XIII
Kami, remaja pulau seribu ini masih mau berbisik kepadamu
Pergilah ke surga
Jangan ke neraka
Minta ijinlah pada Tuhan
‘Selamat Hari Merdeka, Tuhan. Bisakah saya berjumpa Mr. Johanis Latuharhary?’
Maka ia akan menceritakan kepadamu
Bahwa tanah tampa potong pusa ini
Maluku, negeri kecil ini
Adalah pulau yang melahirkan negara dan bangsa Indonesia
‘Kibar Sang Saka Merah Putih, beta ada par oras itu di situ’
Ia tidak akan menipumu
Sebab para penipu adanya di neraka
Dan Tete Nani ada di Surga

XIV
Kami, remaja pulau seribu ini masih mau berbisik kepadamu
Pergilah ke surga
Jangan ke neraka
Minta ijinlah pada Tuhan
‘Selamat Hari Merdeka, Tuhan. Bisakah saya berjumpa Johannis Leimena?’
Maka ia akan menuturkan kepadamu:
‘Untung beta cegah Presiden Seokarno ‘jangan ke Madiun, tetapi pergilah ke Bogor’
Kalau tidak, bukan Indonesia ini yang ada saat ini
Tetapi Indonesia yang berwajah lain
Ia tidak akan menipumu
Sebab para penipu adanya di neraka
Dan Tete Yo ada di Surga


XV
Masihkah kalian tidak percaya
Kalau tangan kami mengepal, Indonesia yang kami genggam?
Maka, remaja pulau seribu ini masih mau berbisik kepadamu
Pergilah ke surga
Jangan ke neraka
Minta ijinlah pada Tuhan
‘Selamat Hari Merdeka, Tuhan. Bisakah saya berjumpa Gerrit Siwabessy?’
Maka ia akan menuturkan kepadamu:
‘bangsa-bangsa saat ini berlomba dengan nuklir
Herannya orang Indonesia termangu-mangu
Padahal, beta yang perkenalkan atom dan nuklir di persada ini’
Ia tidak akan menipumu
Sebab para penipu adanya di neraka
Dan Tete Gerrit ada di Surga

XVI
Maka dengarlah wahai Indonesia
Kami remaja seribu pulau ini
Adalah pewaris nilai MERDEKA itu
Kami tidak suka diusik oleh tuduhan
Karena kami mau belajar
Kami tidak mau diganggu oleh angkara
Karena ini tanah MERDEKA

XVII
Hari ini kami serukan MERDEKA
Kami mau MERDEKA tanpa huruf ‘D’

XVIII
MERDEKA
Harus tanpa DARAH
Sebab tidak ada penjajah yang berbangsa sama
Tidak ada lawan yang bersaudara
Warga negara bukanlah musuh
Maka berilah kami MERDEKA tanpa DARAH

XIX
Hari ini kami serukan MERDEKA
Kami mau MERDEKA tanpa huruf ‘D’

XX
MERDEKA
Harus tanpa DENDAM
Sebab merdeka diraih dengan bersatu
Merdeka diperoleh karena sehati
Merdeka adalah untuk semua SAUDARA
Maka berilah kami MERDEKA tanpa DENDAM




XXI
Hari ini kami serukan MERDEKA
Kami mau MERDEKA tanpa huruf ‘D’

XXII
MERDEKA
Harus tanpa DUSTA
Sebab merdeka adalah janji hidup bersama
Merdeka adalah tekad membangun bangsa
Berjanji setia pada Pancasila dan UUD 1945
Berbahasa yang sama, bahasa Indonesia
Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia
Merdeka adalah harapan kesejahteraan
Merdeka adalah adil
Maka berilah kami MERDEKA tanpa DUSTA

XXIII
Hari ini kami serukan MERDEKA
Kami mau MERDEKA tanpa huruf ‘D’

XXIV
MERDEKA
Harus tanpa DERITA
Maka hentikan pertikaian
Hentikan perbudakan
Hentikan diskriminasi HAM
Hentikan monopoli dan perampasan hak ulayat
Biarlah kami makan dari tanah dan laut kami
Maka berilah kami MERDEKA tanpa DERITA

XXV
Hari ini kami serukan MERDEKA
Kami mau MERDEKA ada ‘DADA’
Sebab di DADA remaja seribu pulau ini
ADA INDONESIA


Eltom – 16/8-2014
[dibacakan dalam Ibadah Syukur HUT ke-69 RI
Ibadah Remaja Klasis GPM Kota Ambon,
Gereja Maranatha, 17 Agustus 2014]

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!