Wednesday, February 9, 2011

Miringkanlah Telinga-Mu, Ya TUHAN!

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Ungkapan itu telah menjadi ‘ungkapan formulir’ dalam hampir setiap doa orang Kristen. Biasanya diungkapkan diakhir permohonan tertentu kepada TUHAN. Beta yakin tujuannya adalah supaya TUHAN mendengar apa yang kita sampaikan/mintakan.

Ungkapan ini ternyata diambil dari kebiasaan kita sesehari. ‘Miring talingang’, biasa dilakukan saat kita hendak berbisik kepada seseorang. Lazimnya berbisik atau membisikkan, maka tindakan itu dilakukan sebab hal yang dibisikkan itu sifatnya rahasia; tidak bole/tidak bisa diketahui oleh orang lain. Cukup antara beta [sebagai pembisik] dengan orang lain –yang dibisikin. Tindakan itu pertanda bahwa orang tidak mendengar suara kita, serta tidak bisa membaca gerak bibir, karena tindakan berbisik selalu disertai dengan satu tangan menutupi bibi/mulut. Artinya kita tahu bahwa orang bisa tahu dari bunyi suara melainkan dari gerak bibir pun bisa diketahui. Tindakan itu sekali lagi berarti pesan yang dibisikkan itu sifatnya rahasia. Sangat personal.

Jika itu dimaknai dalam tindakan berdoa, maka TUHAN diminta ‘miring talingang’ karena kita hendak menyampaikan pesan khusus [rahasia] antara kita dengan TUHAN. Doa menjadi hubungan yang sangat personal dengan TUHAN. Semoga pesannya tidak personalistik atau bermuatan ‘mangado’ [mengadu] akan perbuatan seseorang sambil meminta TUHAN menimpakan hukuman. Sebab kita bukan pembisik dalam arti yang sering disalah artikan dan TUHAN bukan pula orang yang ‘talingang tipis’ –lalu menjadi berubah emosional sehingga kita merasa TUHAN bisa diatur-atur.

Situasi tindakan ‘miring talingang’ yang kedua yaitu, orang ‘miring talingang’ untuk berusaha mendengar suara seseorang karena suara orang itu nyaris tak terdengar: bisa karena bising atau juga karena suaranya dan penyampaian pesannya sangat tidak jelas. Akibatnya bisa terjadi ‘salah tanggap’, ‘salah paham’, dan tentu salah pula dalam menangani pesan tersebut. Di sini sering terjadi pertengkaran/cekcok.

Jika itu dibawa ke dalam ranah doa lagi, maka jangan-jangan TUHAN sedang berusaha habis-habisan ‘miring talingang’ untuk mendengar doa kita karena kita yang kurang jelas menyampaikan pesan kepada TUHAN. Tentu itu akan membuat semua hal menjadi tidak terurus. Situasi itu pun bisa terjadi mungkin karena kita kurang berani berkata jujur dalam doa kita kepada TUHAN. Kita berdoa seperti orang sedang menyampaikan laporan pertanggungjawaban dengan menonjolkan kelebihan kita saja; lalu berlaku sebagai orang benar. Doa yang disemangati oleh ‘kesombongan spiritual’.

Situasi tindakan ‘miring talingang’ yang ketiga bisa dilihat dalam sikap orang tua. Sebagai refleksi sayang kepada anak-anaknya, selalu suka miring talingang mendengar permintaan khusus anak yang masih malu menyampaikannya. Tindakan itu dilakukan agar anak merasa bahwa dia bisa berbicara menyampaikan sesuatu kepada orang tuanya. Anak merasa dihargai dan didengar kebutuhannya. Tindakan itu saja sudah menjadi semacam janji orang tua itu bahwa ia akan mendengar dan memenuhi permohonan itu. Ada relasi yang mesra terjalin di situ.

Jika ini dibawa ke ranah doa, maka relasi mesra dengan TUHAN itu harus dibina sehingga doa kita menjadi suatu wahana komunikasi kasih yang jujur, tulus, apa adanya dengan TUHAN untuk kepentingan banyak orang.

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!