Thursday, November 18, 2010

Ethos Semut

Fabel dan Kritik Sosial dalam Amsal 6:6-8
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

1. Dialog dan Tingkah Pola: Unsur Dasar Fabel


Tahun 1992, waktu duduk di Kelas II [A4] SMA Negeri 1 Ambon, kami mendapat pelajaran Sastra. Ibu Guru Sastra kami waktu itu adalah Dra. Tomasoa, yang juga seorang pujangga perempuan daerah Maluku. Beliau menerangkan tentang fabel, atau suatu jenis cerita dengan mencontohi dari hewan atau binatang.

Beberapa cerita lokal yang kala itu dituturkan a.l: kancil dan buaya, atau ‘monyet dan tuturuga’ (penyu). Cerita-cerita lucu itu memang menjadi cerita favorit orang tua kepada anak-anak mereka menjelang tidur. Lakon fabel, menunjuk pada ada suatu tingkah-pola yang perlu diperhatikan karena bisa saja menjadi bagian dari tingkah-pola manusia dalam dunia nyata. Artinya, tingkah-pola hewan-hewan/binatang itu hanyalah pemajasan atau parafrasa dari tindakan manusia yang non-fiksi, demikian penjelasan guru kami itu –kurang lebih begitu yang masih bisa saya rekam.

Dari segi kritik sastra, tingkah-pola hewan merupakan unsur baku dalam narasi fabel, yang perlu dimaknai dari dialog dalam fabel, sebab dialog tersebut menggambarkan bagaimana kira-kira tingkah-pola itu terjadi dalam suatu alam nyata. Perspektif itu yang kemudian mentransfer tingkah pola hewan ke alam hidup dan perilaku manusia.

Maka tidak heran jika semua kita tertawa geli ketika dengan cerdiknya sang kancil menipu buaya yang mau memangsanya dengan menyuruh buaya itu berjejer dulu di sepanjang sungai, lalu sang kancil akan menghitung jumlah buaya; setiba di seberang, sang kancil lalu berlari sambil tertawa terbahak-bahak.

Atau sang ‘monyet’ yang kemudian menyesal ketika terjatuh ke dalam air laut dan tidak ditolong oleh ‘tuturuga’ yang dendam karena tidak diberi pisang olehnya.

Dialog dan tingkah pola di dalam dua fabel itu mungkin saja terjadi dalam alam hidup manusia, dalam hubungan seorang dengan lainnya.

2. Oh….Pemalas

Si pemalas patut dimarahi. Sebab si pemalas tidak menggunakan dan mengembangkan potensi dalam dirinya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

Si pemalas patut dimarahi. Karena mereka tidak menghargai waktu. Sering dan kemudian suka sekali datang terlambat. Sering dan suka sekali bekerja ‘pancuri tulang’, tidak sungguh-sungguh, apalagi jika bekerja dalam tim – sering ‘harap gampang’ (gampangan), karena merasa ada orang lain yang bisa mengerjakan tugas yang sama. Orang lain menjadi korban dari kemalasannya.

Si pemalas patut dimarahi. Mereka suka meminta upah yang adil, padahal tidak sebanding dengan kerjanya. Suka juga makan ‘gaji buta’; lalu ‘setor muka’ untuk mengisi absensi pada penghujung bulan, atau tengat gajian.

Si pemalas patut dimarahi. Mereka suka sekali yang instant. Mau yang ‘cepat saji’, dalam arti tidak mau sedikit berkorban. Mau sekali jadi, sehingga tidak mau menjalani suatu proses dengan bersungguh-sungguh. Mau makan, tetapi tidak tahu dari mana dan bagaimana mendapatkan makanan.

Si pemalas patut dimarahi. Mereka kurang bertanggungjawab, dan suka lempar salah kepada orang lain.

Si pemalas; bukannya mereka tidak mampu atau terbelakang tetapi mereka memiliki pandangan hidup yang terbatas dan sempit. Melihat hidup sebatas pada makan di hari ini. Tidak ada mental berjuang yang pantang menyerah. Mereka bukan pasrah pada kenyataan, tetapi tidak berani menghadapi kenyataan. Mereka bukan korban ketidakadilan, melainkan orang yang terkapar karena ulah sendiri di dalam suatu jalan yang bernama persaingan/kompetisi.

3. Lihatlah pada Semut

[Amsal 6:6-8]
‘Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen’.

‘Hai pemalas, pergilah kepada semut....’
Seberapa malasnya orang itu, sehingga bekerja saja tidak dilakukannya. Seberapa malasnya orang itu, sehingga tidak ada aktifitas apa pun yang dilakukannya. Bagaimana mungkin ada hasil, bekerja saja tidak! Bagaimana mungkin cukup makanan, berusaha saja tidak! Kemiskinan sudah tentu menjadi buah dari kemalasannya.

Seberapa resahnya orang yang hidup atau tinggal bersama dengan pemalas. Bukan hanya kecewa, tetapi orang seisi rumahnya marah besar. Susah berbicara kepada orang pemalas, sebab sudah pemalas, keras kepala, masa bodoh, lamban dan tidak berperspektif masa depan. Mereka menganggap segala sesuatu mudah, tetapi tidak berusaha walau sebenarnya mudah. Menganggap segala sesuatu gampang, tetapi tidak bisa memecahkan suatu masalah walau memang gampang. Menganggap sesuatu itu biasa, tetapi tidak pernah melakukan kebiasaan yang baik. Menganggap kerja itu ringan/enteng, tetapi tidak pernah mau bekerja yang ringan-ringan sekali pun [seperti mengambil air, mencuci pakaian, menyapu halaman].

Kepada siapa seorang pemalas harus mencontohi? Kepada Si A yang rajin belajar, sudah! Tetapi ia tetap malas belajar. Kepada si B yang rajin membantu orang tua, sudah! Tetapi waktunya selalu terbuang di luar rumah. Kepada si C yang suka berkebun, sudah! Tetapi ia tetap duduk-duduk dari pagi sampai sore bahkan di tepi jalan dan tempat kumpul kawanan pemalas. Kepada si D yang tidak pernah menumpuk pekrejaan kantor, sudah! Tetapi tugasnya tidak pernah beres dan sering dimarahi pimpinan/atasan. Kepada si E, si F, si G, sampai si Z, tetapi ia tidak pernah berhenti jadi pemalas.

Kepada semut saja. Artinya apa? Guru hikmat atau orang tuanya sendiri sudah bosan mendidiksi pemalas ini. Watak tidak mau berubah sudah mendarah-daging. Jadi daripada diajar berulang-ulang lebih baik disuruh belajar saja sendiri. Tetapi bukan lagi kepada manusia, melainkan kepada semut, sejenis serangga yang kecil, dan mungkin tidak terhitung sebagai yang disegani. Semut sebangsa serangga yang sering menjengkelkan karena suka mengerubuni makanan yang manis-manis, teh, suka menggigit kala sarangnya diinjak.

‘Pergilah kepada semut’ –biar dia bisa sadari bahwa setiap makhluk itu punya potensi untuk hidup dan menghidupi orang lain atau kelompoknya.
‘Pergilah kepada semut’ –biar dia bisa sadar bahwa bekerja itu perlu, apalagi jika bersama-sama, tentu tidak ada yang sulit.
‘Pergilah kepada semut’ –biar dia melakukan aktifitas [pergi] dan melihat langsung, bukan lagi mendengar. Ia harus bertindak, tidak lagi berpangku tangan. Ia harus bekerja bukan lagi duduk-duduk.
‘Pegilah kepada semut’ –biar lebih tahu diri [sadar].

‘Perhatikan lakunya dan jadilah bijak!’
Si pemalas itu termasuk orang bodoh. Bukan karena tidak tahu apa-apa, tetapi karena tahu sesuatu yang baik [bekerja] tetapi tidak mau melakukan yang baik itu. Semut tahu yang baik, dan mau melakukannya bersama-sama, dalam kelompok.

Si bodoh ini memiliki potensi [sebagai manusia] tetapi tidak didayagunakan secara optimal. Punya pikiran, tetapi tidak digunakan untuk merancang pekerjaannya. Punya tenaga tetapi tidak digunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Punya saudara, teman, keluarga, tetapi tidak pernah diajak bekerja bersama-sama, malah tidak mau berkorban bagi keluarga sendiri. Punya masa depan, tetapi hanya memikirkan hari ini; yang penting ada makanan, bisa tidur, bisa bangun, dan makan, tidur, bangun dan begitu seterusnya sepanjang hari. Bertadah tangan dan bergantung terus pada orang lain. Si pemalas ini selalu mengeksploitasi orang lain, bahkan istri/suami dan anaknya sendiri.

Hikmatnya rendah dari seekor atau sekawanan semut, serangga itu. Kebijaksanaan semut melebihi diri si pemalas. Perspektif masa depan semut lebih luas darinya. Semut lebih hebat merancang hidupnya dari si pemalas.

Lihatlah hikmat semut: ‘biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen’.

Tanpa pemimpin dan pengatur, berjalan dalam barisan, tidak saling mendahului, kalau berpapasan dengan teman, selalu bercium-ciuman dan saling menyapa.
Tanpa pengatur dan penguasa, bisa bekerja sama dengan baik. Mengangkat remah roti atau potongan makanan bersama-sama, dan bergilir dari satu etape ke etape berikutnya. Mencari lokasi makanan secara mandiri bersama-sama, mampu menyerang bersama-sama jika terancam, jika tidak terancam, tetap bekerja tanpa mengganggu orang lain. Saling menghormati, karena itu saat masuk keluar lobang [pintu] tidak pernah saling mendahului atau menyikut teman, tetapi masuk keluar beriring-iringan.

Menyediakan roti di musim panas –artinya bekerja di masa krisis, tidak pesimis, tidak putus asa, tidak menyalahkan hari: pagi, siang, sore malam; tidak menyalahkan cuaca: hujan, panas, mendung; tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan alam. Bekerja di masa sulit, tidak peduli pada hama, tidak mengeluh saat harga barang naik, karena terus saja bekerja. Tidak mencari-cari alasan dan menipu diri sendiri.

Pasca masa krisis, ia sudah berkelimpahan, dan dalam masa panen ia tidak lagi bekerja tetapi makan dari makanan cadangan yang dikumpulkan di waktu musim panas. Tidak seperti kita, waktu panen berfoya-foya, habis panen, habis uang, habis bahan makanan, dan habis daya untuk bekerja lagi. Itu juga irama si pemalas.

Hai pemalas, jadilah bijak dan berjuanglah walau di masa krisis sekalipun!
Lihatlah pada si semut kecil!

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!