Saturday, October 16, 2010

Si Miskin Berhikmat yang Dilupakan

[Pengkhotbah 9:13-18]
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella


Sia-sia! Begitulah kesan umum orang membaca kitab Pengkhotbah. Tetapi apakah memang kitab ini ditulis untuk membuat kita menjadi pesimis? Ataukah ada pelajaran lain yang positif dari kitab ini, namun kita kurang mendalaminya, karena terjebak dengan kesan ‘sia-sia’ tadi? Mari membaca secara teliti kitab ini. Karena berbagai perumpamaan, seperti ‘menjaring angin’ tidak harus dipahami sebagai ajaran yang menanamkan rasa pesimisme di kalangan umat.

Penulis kitab Pengkhotbah sebenarnya mau berkata begini: apalah artinya kita memiliki hikmat atau berkata kita orang beriman, jika kita selalu menjadi ragu-ragu atas segala sesuatu yang sudah kita lakukan atau kerjakan? Kita selalu mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi selalu ragu-ragu pula dengan rencana dan maksud Tuhan dalam hidup kita. Ibarat kita tidak sepenuhnya menaruh percaya kepada Tuhan, dan percaya sekedar sebatas bibir, tidak disertai dengan hati. Di sinilah letak soalnya mengapa penulis kitab Pengkhotbah mengatakan segala sesuatu sia-sia.

Sebab hati adalah pusat pengambilan keputusan moral-etika, sosial, keagamaan/iman. Hati selalu menyeimbangkan kerja akal dan rasa agar melaluinya keluar keputusan yang menentramkan hati, keputusan yang berlandaskan pada kebenaran/keadilan, keputusan yang tidak bisa diubah hanya karena suap, kekuasaan, dan emosionalitas semata. Keputusan yang keluar dari hati itu mendatangkan keharmonisan, keutuhan karena keputusan hikmat itu berguna bagi hidup di dalam masyarakat/jemaat.

Dalam teks kita ini Pengkhotbah melanjutkan sebuah pelajaran hikmat yang mendalam. Ia melihat sendiri bagaimana orang-orang menyelewengkan kekuasaannya tetapi berlagak laksana orang-orang pintar, orang yang berjasa, dan laksana orang berhikmat. Padahal mereka sudah melakukan suatu kesalahan vatal, yakni mempraktekkan kekuasaan yang menindas dan karena itu menyengsarakan orang lain hanya untuk kepentingan dan nafsu mereka. Tetapi lucunya, orang-orang seperti itu yang disegani dan ditakuti di dalam masyarakat. Malah mereka sendiri bertindak seakan-akan mereka yang penting dan patut didengarkan oleh siapa pun. Sesungguhnya yang seperti itu adalah sia-sia.

Nah lalu Pengkhotbah membandingkannya dengan hikmat seorang miskin tetapi tahu melakukan suatu perbuatan yang tujuannya menyelamatkan nasib banyak orang dari kehancuran. Orang miskin itu sudah mengambil suatu keputusan penting demi hidup masyarakat satu kota. Ia memandang nasib banyak orang itu jauh lebih berharga dari hanya dirinya; tentu bukan karena dia hanya orang miskin yang tidak punya apa-apa, sehingga kalau mati toh tidak ada yang rugi dan tidak perlu memikirkan harta-bendanya. Kekuatan hikmat seorang miskin itu ialah ketika ia mampu bukan hanya berpikir tetapi bertindak di luar kepentingan dirinya sendiri; berpikir dan bertindak demi kehidupan. Di situlah kita bisa mengerti bahwa tujuan hikmat adalah kehidupan atau terpeliharanya hidup.

Memang jasanya itu tidak diingat orang banyak, karena ia adalah orang miskin yang tidak punya pengaruh apa-apa. Tetapi si miskin itu telah memberi pelajaran hikmat yang berharga: bahwa keputusan hikmat itu lahir dari ketenangan diri. Ketenangan diri itu tidak berarti mengasingkan diri dari realitas ketidakadilan, penindasan, kemiskinan, malapetaka, melainkan keterlibatan di dalam seluruh realitas itu sambil melihat bahwa hidup yang adil, bebas, sejahtera, aman, jauh lebih penting dan harus diperjuangkan, walau kita bukanlah orang yang berkuasa, bukan orang kaya dan terpandang.

Perjuangan untuk hidup itu jauh lebih penting dari perkelahian, pertengkaran, iri hati, cemburu, dan hawa nafsu lainnya. Di situlah letak kekuatan hikmat. Hikmat itu bisa dimiliki dan dilahirkan oleh siapa pun tanpa dipengaruhi oleh status pendidikan, ekonomi, jabatan dan kekuasaan. Hikmat itu lahir dalam hidup orang-orang yang takut TUHAN.

Laki-laki gereja akan tetap dituntut untuk menjaga ketenangan hati dan hidupnya, sebab ia bertanggungjawab menjaga keutuhan hidup keluarga, jemaat, masyarakat dan bangsa. Jika kepadanya diberi tanggungjawab dan peran khusus, ia harus mampu melepaskan ambisi pada kekuasaan dan harta benda, agar ia bisa melihat kepentingan pelayanan kepada orang banyak. Ia tidak usah mencari nama atau hormat, sebab yang menjadi fokusnya adalah hidup orang banyak. Mereka berhak atas keadilan, kebebasan, keamanan, perdamaian, semua itu merupakan buah keputusan hikmat yang harus diambil.
Setiap laki-laki gereja juga diminta untuk memperhatikan cara ia berbicara, cara ia berpikir, cara ia bertindak, dan cara ia berelasi dengan orang banyak. Semua itu harus bermuara pada hikmat yang tetap baik, yaitu hikmat yang diberi TUHAN untuk hidup dalam dunia yang nyata. (*)

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!