Wednesday, December 16, 2009

Dan Kunyalakan Lilinku
[eltom, 16/12-09]

Solo: Lagu ‘Seribu Lilin’
[masuk 3 anak sambil membawa lilin masing-masing – dengan gerak tariannya]

Narasi : Dan kunyalakan lilinku

Anak 1 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN IMAN. Sebab merah warnamu, merah pula nyalamu, dan kupegang engkau erat sebab larik sinarmu menembusi hatiku.

Anak 2 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN SUKACITA. Sebab hijau warnamu, merah kehijauan apimu, dan kuangkat engkau tinggi-tinggi sebab cahayamu harus menerangi setiap hati yang bersedih

Anak 3 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN DAMAI. Kuning warnamu tanda teduh hatiku. Larik sinarmu merah kekuningan, tanda dunia yang tenang dan tangan yang saling merangkul

Narasi : [3 anak tadi memeragakan lilin yang dihadang berbagai tantangan sambil menggoyang-goyang lilinnya]. Dan menyalalah lilinku. Terus menyala lilinku. Angin menerpamu, tetapi teruslah menyala lilinku. Badai menerpamu, hujan membasahimu, teruslah menyala lilinku, dan teruslah menyala lilinkuuuuuuuu……..te….rus…..lah…..me…..nya….la….lilin….k…k…k….ku [3 anak tadi jatuh sambil berlutut, lalu perlahan-lahan menurunkan lilinnya dan menyembah ke tanah] lalu….

Anak 1 : AKU IMAN. Mereka mengandalkanku. Kusinari hidup mereka setiap waktu. Kuhangatkan dan kubakar agar tetap membara….tetapi angin bertiup ke kiri, aku hampir terseret olehnya. Angin ke kanan, aku nyaris diterbangkannya. Nyaris saja…..dan akhirnya, mereka membuangku, mereka menerbangkanku karena angin masuk ke hati mereka, menusuk ke jantung mereka, dan mereka terbuai oleh sepoi-sepoinya, lalu aku: IMAN mulai terlepas helai demi helai….aku terhempas dari terbang jauh…..jadi nyalaku MATI [langsung mematikan lilinnya]

Anak 2 : AKU SUKACITA. Tiap hari mereka bernyanyi, tertawa, dan berbagi. Tetapi lambat laun tawanya tak tertahan, nyanyiannya semakin memekakkan telinga. Orang mulai berlomba untuk dirinya sendiri. Egoisme muncul. Kesombongan memuncak. Emosi menjadi raja. Sikap keras kepala merajalela. Tangan mulai ringan diangkat untuk memukul. Mulut mulai ringan berucap fitnah dan makian. Mata mulai suka menonton kesalahan dan menurutinya. Hilang SUKACITA, dan aku: SUKACITA mulai jauh dari hati mereka. maka….lilinku pun mati [langsung mematikan lilinnya]

Anak 3 : AKU DAMAI. Dahulu damai, tetapi perang datang juga. Dahulu cinta, tetapi pertengkaran muncul pula. Dua tangan tak lagi berjabat. Tidak lagi merangkul, tetapi mengepal dan saling undang adu kekuatan. Kata-kata manis jauh dari tiap mulut. Senyum pun berubah garang. Kelembutan tak lagi ada karena dendam dan amarah semakin membara. Aku tak lagi dicari. Aku telah dijauhi. Dan nyalaku pun redup, dan …mati [langsung mematikan lilinnya]

Narator : Memang IMAN, SUKACITA dan DAMAI bisa saja hilang dari hati dan hidup manusia. Adakah yang bersedih dengannya?

Anak 4 : [sambil berlari masuk, dan menangis] mengapa kamarku jadi gelap begini? Mengapa rumahku jadi gulita begini? Di mana cahaya yang dahulu meneranginya? [ke lilin IMAN] Mengapa tiada lagi nyalamu? [ke lilin SUKACITA] Mengapa sinarmu tiada kini? [ke lilin DAMAI] Di mana sinarmu itu? [langsung duduk di depan ketiga lilin dan terus menangis] mengapa semuanya tiada bersinar. Padahal aku perlukan kalian semua tuk mengisi hatiku ini. Mengapa semuanya menjadi begitu egois, padahal aku inginkan belaian lembut sinarmu. Mengapa duniaku seperti ini, padahal aku perlu cahaya untuk melihat jalanku

Anak 5 : [sambil membawa lilin PENGHARAPAN yang menyala, dan berjalan ke arah anak yang sedang menangis] kawanku, tak usah bersedih. IMAN itu perlu, tapi kadang oleh rayu zaman, orang membuangnya. Tapi ada aku PENGHARAPAN. Ambillah nyalaku, dan bakarlah lagi IMAN itu [anak 4 mengambil lilin PENGHARAPAN dan membakar Lilin IMAN]

Anak 4 : Hore…..Lilin IMANKu sudah menyala [anak 1 berdiri dengan lilin IMAN yang sudah menyala]. Terima kasih PENGHARAPANKU [menyerahkan lilin PENGHARAPAN kepada Anak 5] tapi, aku perlu SUKACITA pula, sebab bagaimana mungkin imanku menyala tetapi sukacitaku padam? [kembali menangis]

Anak 5 : [ke anak 4 yang sedang menangis] Tadi ku bilang, jangan menangis. Masih ada aku. Kini ambillah lagi nyalaku, dan bakarlah SUKACITA itu [anak 4 mengambil lilin PENGHARAPAN dan membakar Lilin SUKACITA]

Anak 4 : Hore…..Lilin SUKACITAKu sudah menyala [anak 2 berdiri dengan lilin SUKACITA yang sudah menyala]. Terima kasih PENGHARAPANKU [menyerahkan lilin PENGHARAPAN kepada Anak 5] tapi, jika DAMAI tiada, semuanya kan hilang [kembali menangis]

Anak 5 : [ke anak 4 yang sedang menangis] Tadi ku bilang, jangan menangis. Masih ada aku. Dengan nyalaku, kita kan bisa membakar semuanya lagi. Kini ambillah lagi nyalaku, dan bakarlah DAMAI itu [anak 4 mengambil lilin PENGHARAPAN dan membakar Lilin DAMAI]

Anak 4 : Hore…..Lilin DAMAIKu sudah menyala [anak 3 berdiri dengan lilin DAMAI yang sudah menyala]. Terima kasih PENGHARAPANKU [menyerahkan lilin PENGHARAPAN kepada Anak 5]. Lilin-lilinku teruslah menyala. Angin apa pun yang datang, jangan redup nyalamu. Teruslah menyala dan mari kita nyalakan semua lilin dunia ini

[semuanya menyanyi Lagu ‘Seribu Lilin’ sambil menyalakan lilin di tangan jemaat]
Seribu lilin nyalakan di tengah dunia, biar sinarnya menyatakan Kemuliaan Tuhan
Wartakan pada dunia kabar sukacita, t’lah lahir Yesus Penebus Juduselamat dunia
Hai bintang indah Betlehem, kiranya sinarmu bawa harapan dan damai bahagia di kalbu
KehangatanMu kirimkan di hati yang beku, kehangatan kasih Tuhan di natal yang syahdu

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!