Wednesday, December 16, 2009

NATAL DENG PAPEDA SABALE

Katanya cinta meramas kasbi
Pancangkan kain di kuda-kuda
Tabaos cinta panggil anak negeri
Lihat mama meramas kasbi
Dengar suara rindu gadis sebelah rumah
Teriakan lapar tangisan dahagA
Dan suara himpitan kerongkongan kering
Bunyi perut berirama tifa pica

Katanya cinta membakar sukma
Lalu mama naikkan syukur siang
Singgahsana Allah memutih bagaikan toya
Panci tumpah ruah gelombang air panas
Sempe diramaikan jari yang me-lomi toya
Aru-aru menentramkan perut tertabu
Sukacita hadir siang malam dirumah tua

“Tuhan berkatilah makanan kami”
doa ini terdengar indah
karena papeda sabale akan datang
Tuhan…… nikmatnya kuah lemon.
Yang teruras bagaikan anggur hermon
Dijilati lidah penikmat bungaran
Pernahkah kau cicipi Tuhan…..?????

“Tuhan inilah makanan kami yang Kau beri
makanan natal orang pinggiran
yang hanya bisa mengolah kasbi
makanan natal anak negeri
yang susah beras secupak
dan cuma ada ikan meti

“Tuhan………. Trima kasih atas berkatMu”
doa itu begitu syahdu
karena hati hampir menangis
adakah ganti dinatal mendatang..?
akankah meja makan diramaikan tabuhan sendok..?
ataukah jari tetap memercik kuah..?
dari mana sejahtera..?
dari mana kekenyangan..?
DARI PAPEDA SABALE
UNTUK NATAL INI

Karya : Elifas Tomix Maspaitella (1995)
Dan Kunyalakan Lilinku
[eltom, 16/12-09]

Solo: Lagu ‘Seribu Lilin’
[masuk 3 anak sambil membawa lilin masing-masing – dengan gerak tariannya]

Narasi : Dan kunyalakan lilinku

Anak 1 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN IMAN. Sebab merah warnamu, merah pula nyalamu, dan kupegang engkau erat sebab larik sinarmu menembusi hatiku.

Anak 2 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN SUKACITA. Sebab hijau warnamu, merah kehijauan apimu, dan kuangkat engkau tinggi-tinggi sebab cahayamu harus menerangi setiap hati yang bersedih

Anak 3 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN DAMAI. Kuning warnamu tanda teduh hatiku. Larik sinarmu merah kekuningan, tanda dunia yang tenang dan tangan yang saling merangkul

Narasi : [3 anak tadi memeragakan lilin yang dihadang berbagai tantangan sambil menggoyang-goyang lilinnya]. Dan menyalalah lilinku. Terus menyala lilinku. Angin menerpamu, tetapi teruslah menyala lilinku. Badai menerpamu, hujan membasahimu, teruslah menyala lilinku, dan teruslah menyala lilinkuuuuuuuu……..te….rus…..lah…..me…..nya….la….lilin….k…k…k….ku [3 anak tadi jatuh sambil berlutut, lalu perlahan-lahan menurunkan lilinnya dan menyembah ke tanah] lalu….

Anak 1 : AKU IMAN. Mereka mengandalkanku. Kusinari hidup mereka setiap waktu. Kuhangatkan dan kubakar agar tetap membara….tetapi angin bertiup ke kiri, aku hampir terseret olehnya. Angin ke kanan, aku nyaris diterbangkannya. Nyaris saja…..dan akhirnya, mereka membuangku, mereka menerbangkanku karena angin masuk ke hati mereka, menusuk ke jantung mereka, dan mereka terbuai oleh sepoi-sepoinya, lalu aku: IMAN mulai terlepas helai demi helai….aku terhempas dari terbang jauh…..jadi nyalaku MATI [langsung mematikan lilinnya]

Anak 2 : AKU SUKACITA. Tiap hari mereka bernyanyi, tertawa, dan berbagi. Tetapi lambat laun tawanya tak tertahan, nyanyiannya semakin memekakkan telinga. Orang mulai berlomba untuk dirinya sendiri. Egoisme muncul. Kesombongan memuncak. Emosi menjadi raja. Sikap keras kepala merajalela. Tangan mulai ringan diangkat untuk memukul. Mulut mulai ringan berucap fitnah dan makian. Mata mulai suka menonton kesalahan dan menurutinya. Hilang SUKACITA, dan aku: SUKACITA mulai jauh dari hati mereka. maka….lilinku pun mati [langsung mematikan lilinnya]

Anak 3 : AKU DAMAI. Dahulu damai, tetapi perang datang juga. Dahulu cinta, tetapi pertengkaran muncul pula. Dua tangan tak lagi berjabat. Tidak lagi merangkul, tetapi mengepal dan saling undang adu kekuatan. Kata-kata manis jauh dari tiap mulut. Senyum pun berubah garang. Kelembutan tak lagi ada karena dendam dan amarah semakin membara. Aku tak lagi dicari. Aku telah dijauhi. Dan nyalaku pun redup, dan …mati [langsung mematikan lilinnya]

Narator : Memang IMAN, SUKACITA dan DAMAI bisa saja hilang dari hati dan hidup manusia. Adakah yang bersedih dengannya?

Anak 4 : [sambil berlari masuk, dan menangis] mengapa kamarku jadi gelap begini? Mengapa rumahku jadi gulita begini? Di mana cahaya yang dahulu meneranginya? [ke lilin IMAN] Mengapa tiada lagi nyalamu? [ke lilin SUKACITA] Mengapa sinarmu tiada kini? [ke lilin DAMAI] Di mana sinarmu itu? [langsung duduk di depan ketiga lilin dan terus menangis] mengapa semuanya tiada bersinar. Padahal aku perlukan kalian semua tuk mengisi hatiku ini. Mengapa semuanya menjadi begitu egois, padahal aku inginkan belaian lembut sinarmu. Mengapa duniaku seperti ini, padahal aku perlu cahaya untuk melihat jalanku

Anak 5 : [sambil membawa lilin PENGHARAPAN yang menyala, dan berjalan ke arah anak yang sedang menangis] kawanku, tak usah bersedih. IMAN itu perlu, tapi kadang oleh rayu zaman, orang membuangnya. Tapi ada aku PENGHARAPAN. Ambillah nyalaku, dan bakarlah lagi IMAN itu [anak 4 mengambil lilin PENGHARAPAN dan membakar Lilin IMAN]

Anak 4 : Hore…..Lilin IMANKu sudah menyala [anak 1 berdiri dengan lilin IMAN yang sudah menyala]. Terima kasih PENGHARAPANKU [menyerahkan lilin PENGHARAPAN kepada Anak 5] tapi, aku perlu SUKACITA pula, sebab bagaimana mungkin imanku menyala tetapi sukacitaku padam? [kembali menangis]

Anak 5 : [ke anak 4 yang sedang menangis] Tadi ku bilang, jangan menangis. Masih ada aku. Kini ambillah lagi nyalaku, dan bakarlah SUKACITA itu [anak 4 mengambil lilin PENGHARAPAN dan membakar Lilin SUKACITA]

Anak 4 : Hore…..Lilin SUKACITAKu sudah menyala [anak 2 berdiri dengan lilin SUKACITA yang sudah menyala]. Terima kasih PENGHARAPANKU [menyerahkan lilin PENGHARAPAN kepada Anak 5] tapi, jika DAMAI tiada, semuanya kan hilang [kembali menangis]

Anak 5 : [ke anak 4 yang sedang menangis] Tadi ku bilang, jangan menangis. Masih ada aku. Dengan nyalaku, kita kan bisa membakar semuanya lagi. Kini ambillah lagi nyalaku, dan bakarlah DAMAI itu [anak 4 mengambil lilin PENGHARAPAN dan membakar Lilin DAMAI]

Anak 4 : Hore…..Lilin DAMAIKu sudah menyala [anak 3 berdiri dengan lilin DAMAI yang sudah menyala]. Terima kasih PENGHARAPANKU [menyerahkan lilin PENGHARAPAN kepada Anak 5]. Lilin-lilinku teruslah menyala. Angin apa pun yang datang, jangan redup nyalamu. Teruslah menyala dan mari kita nyalakan semua lilin dunia ini

[semuanya menyanyi Lagu ‘Seribu Lilin’ sambil menyalakan lilin di tangan jemaat]
Seribu lilin nyalakan di tengah dunia, biar sinarnya menyatakan Kemuliaan Tuhan
Wartakan pada dunia kabar sukacita, t’lah lahir Yesus Penebus Juduselamat dunia
Hai bintang indah Betlehem, kiranya sinarmu bawa harapan dan damai bahagia di kalbu
KehangatanMu kirimkan di hati yang beku, kehangatan kasih Tuhan di natal yang syahdu

Cerita Perempuan itu Tentang Dirinya

(eltom, 25/11-09)

Instrumen: “Anak Maria Dalam Palungan” (KJ.No. 112)
[penari latar – tarian yang melukiskan Perempuan yang terdiam setelah melahirkan]

[ketiga pembaca puisi di depan podium dengan wajah muram/sedih, sambil menunduk kepala]

 Dapatkah aku lukiskan suasana hatiku yang sebenarnya?
 Pernakah orang merasa apa yang sebenarnya membara dalam kalbuku?
 Bisakah aku berbagi cerita bahwa sebenarnya hatiku gunda?
 Mungkin tiada yang percaya
[penari menarikan gerakan perempuan yang menanggung malu]

 Aku malu menunjukkan wajahku
 Aku tak kuasa menanggung berat badanku
 Haruskah aku mengurung diri dan berharap tiada seorang pun tahu
 Bagaimana jika beban di perutku tambah berat
Dan perutku tambah membesar
Dan sang bayi ini terus bertumbuh
 Oh…..perempuan sepertiku…..
Kan kugurat hari-hariku dengan cerita sedih
Aku kan dipandang dengan mata memincing
Sudut bibir mereka kan berseloroh sinis
 Dengan beban membathin aku harus berjalan jika tidak mau susah melahirkan
Tapi siapa penyanggah berat bebanku
 Aku harus bekerja jika mau anakku lahir sehat
Dia harus mendapat asupan vitamin
Dan sering diperiksa sang bidan
Tapi siapa yang harus menuntun menutupi rasa maluku
 Oh….perempuan sepertiku…..
Cerita orang tentu kan miring
Mata orang tentu kan mengerling
Bibir orang tentu mencibir sampai manyun
 Sindiran kan jadi bajuku
Umpatan kan jadi telekungku
Cercaan bisa menjadi penutup kepalaku
Perempuan sepertiku pasti kan menangisi dan memaki diri sendiri
 Tapi
 Apakah
 Aku
 Yang
 Salah
 Atas
 Semua
 Ini???
Jika aku pun tak kuasa menahan amukan cinta Sang Roh Kudus
 Dan rahimku tak kuasa mencegah benih dari sang Ilahi
 Lalu perutku harus menjadi tempat sang Kudus bertumbuh
…….
 Yang masuk melalui mulutku dimakan pula janin sorgawi ini
 Yang kuteguk setiap waktu diminum sang janin mulia ini
 Tetapi
 Mengapa
 Semua
 Mata
 Terus
 Memandang
 Miring
 Kepada
 Ku
[penari latar menarikan tarian Perempuan yang Bangkit dari tekanan]

 Terserah apa mereka memandangku
 Terserah apa kata mereka untukku
 Terserah apa cerita mereka tentang diriku
 Jika padaku kau tanyakan: ‘mengapa?’
‘Ku jawab: ‘entahlah’
 Jika padaku kau tanyakan: ‘siapa gerangan?’
‘Ku jawab pula: ‘entahlah’
 Dan jika kau buru aku dengan pertanyaan: ‘milik siapa ini’?
Kepadamu pun ku jawab: ‘entahlah’
 Sebab aku hanyalah HAMBA
Tapi bukan untuk kau injak
Dan bukan untuk kau perbudak dengan alasan cinta
 Sebab aku hanyalah HAMBA
Tapi bukan untuk kau paksa merentang kaki karena mampu kau bayari
Juga tidak untuk alasan cinta kalau kau muncul dalam rupa ‘si rakus’
 Sebab aku hanyalah HAMBA
Yang mengisi hari dunia ini dengan CINTA
‘Ku dandani waktu ini dengan KASIH
‘Ku meteraikan hidup semesta ini dengan CINTA PUTIH

[penari latar menarikan tarian Perempuan bersukacita]

 Tak ada lagi awan bertudung malu
Dan mega putih berarak di angkasa
 Alam bercerita tentang cinta
Padang rumput disirami cahaya putih
 Lihat mereka: gembala, orang kurang beruntung
kini berlari mengejar suka
 Dan aku perempuan itu
ku dengar semua umpatan
telingaku dipenuhi kidung malak
 Mataku terus memandang dunia yang memincing
penglihatanku tertumbuk kejar-kejaran orang dari kandang domba
 Aku perempuan itu
Hanya memendam dalam hati
tugas kudus
Karena rahimku dibuahi sang Roh
anakku buah sang Ilahi
 Bukan tiada maksud aku berbisik dari hati yang lirih hari ini:
Kepada semua perempuan yang diperlakukan tidak adil
Jika kalian diinjak di ranjang
Dan jubah kalian dirobek di pematang
diperah
menanggung beban di perutmu
Tanpa ada yang berkata: ‘benih itu ku punya’
 Dengarlah kataku:
Bangunlah
ukirlah hari-hari baru ke depan
 Berteriaklah
tuturkan kisah pedihmu di atas tanah ini
Sebab kita bungkam
mereka sangka kita bisa dipermainkan
 Berjalanlah
atur langkahmu dengan sigap
 Jagalah
Agar yang tak berdosa menikmati indahnya dunia
Dia bersaksi: Ibuku bersih
 Untuk perempuan di dunia
‘Suarakan keadilan’

Majus Yang Terlambat

Sketsa Natal
Majus yang Terlambat

[Narator]: Dunia adalah tanda tanya besar. Dan bentuknya pun adalah tanda tanya besar. Dari ujung yang satu ke tepi yang berikut laksana titik-titik yang berujung juga pada tanda tanya. Ibarat untaian kata dan susunan kalimat, berujung jua pada tanda tanya besar. Besar….besar….besar….tiada bertepi, tiada berujung, semuanya dipenuhi tanda tanya besar………………………

Solo: O Little Town Of Betlehem (KJ. No. 94]

VOTUM

[empat orang majusi memasuki pentas : berjalan mengitari podium dan berpapasan dengan beberapa orang lain yang juga berjalan untuk melakukan aktifitas mereka, sampai berpapasan dengan kelompok penyanyi….]

Penyanyi : [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
…..jedah…..
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
…..jedah…..
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
…..jedah…..
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana???? Kau arahkah langkahmu

Majusi : [menyanyi] kami ikut titah raja dan berjalan tak henti!
Lewat gurun dan dataran arah kami ke istana
Arah kami ke istana kota Raja Yang Kudus [2x]

…..jedah…..[sambil para majusi berdebat mengenai jalan yang kan dituju]
[chanting]
3 Majusi : Lihat bintang di atas/tunjuk jalan ke kota kecil

Majusi Terlambat: Lihat bintang di angkasa/arah mana kan ku turut

3 Majusi : Bintang itu sinarnya gerlap

Majusi Terlambat: Bintang ini cahyanya cerlang

[dialog]
3 Majusi: Kawan, ke arah ini jalannya
Majusi Terlambat: ke sini arahnya, kawan
3 Majusi: Kalau begitu, kami ikut arah ini
Majusi Terlambat: aku pun menuruti jalan yang ini
3 Majusi: Mengapa kita harus terpisah, kawan?
Majusi Terlambat: Aku hanya tidak paham mengapa kalian memilih jalan itu
3 Majusi: Tetapi kita berjanji bersama-sama
Majusi Terlambat: Asalkan jalanku yang dipilih
3 Majusi: Mungkin jalan kami berliku, tapi tentu tidak salah
Majusi Terlambat: Mungkin jalanku curam, tapi tentu tidak salah

Penyanyi: [soprano+tenor – mengurung satu orang musafir yang terpisah dari 3 temannya]
[menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????

PS : [menyanyi] Hai musafir mau ke mana, kau arahkan langkahmu

Majusi : [dalam posisi terpisah] - menyanyi
kami ikut titah raja dan berjalan tak henti!
Lewat gurun dan dataran arah kami ke istana
Arah kami ke istana kota Raja Yang Kudus [2x]

Majusi terlambat:
[menyanyi] Arah kami ……..
[shout] kawan-kawan, di manakah kalian….????

PS : [menyanyi] Hai musafir mau ke mana, kau arahkan langkahmu

Majusi Terlambat:
[bingung] [menyanyi] Aku ikut titah raja dan berjalan tak henti
Lewat gurun dan dataran arah…..[bingung karena sudah terpisah dari 3 temannya]
Lewat gurun dan dataran arah aku ke istana
Arah aku ke istana kota raja yang kudus
Arah aku ke istana kota raja yang kudus

PS : [menyanyi full lagu]

[Narator] Di kala orang menemukan Yesus, masih ada orang lain yang berusaha mencarinya. Kini, majusi terlambat sedang merenung akan langkahnya. Hatinya sedih terpisah dari rekan-rekannya. Dia terus bertanya, benarkah jalannya? Lalu di manakah ketiga rekannya itu? Sudahkah mereka menemukan ‘Sang Bayi’ itu, atau dia kan menjadi yang pertama menemukannya?

PS: Little Drumer Boy

[Majusi Terlambat terus berjalan mengelilingi podium sambil mencari-cari arah bintang. Sedangkan di bagian lain podium, 3 rekannya sudah menemukan ‘kandang domba’ tempat Yesus lahir, dan sedang memberi persembahan mereka. Mereka segera pulang, dan berjalan ke negerinya. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Majusi Terlambat hanya tidak saling bertegur sapa]


Majusi Terlambat: bukankah itu rekan-rekanku???
Tapi, di mana persembahan yang mereka bawa
Jangan-jangan mereka sudah mempersembahkannya kepada ‘Sang Bayi’ itu?
….
Ah, tidak mungkin.
[menyanyi KJ. No.133:1 ditingkahi PS]
Hai Bintang Timur terbitlah kembali
Dalam semarak cahaya terang, sama dengan kau pernah menyinari para majusi di malam kelam

Majusi Terlambat: wahai bintang gemintang, di mana wajahmu
Buruk rupakah aku sehingga kau tidak lagi mau menjadi cermin bagiku???
[lighting effect]…..cahaya bintang muncul beberapa saat…….
[menyanyi KJ. No.133: 2 ditingkahi PS]
Mari, tunjukkan tempat Yesus lahir! Sungguhkan Dia di kandang rendah
Bayi lembut di palungan terbaring, langit dan bumi KerajaanNya

[Majusi Terlambat berlari mengitari podium mengikuti petunjuk bintang itu]
[lighting effect]…..cahaya bintang hilang…….

[Majusi Terlambat langsung terjatuh]
Majusi Terlambat: [dalam posisi terjatuh] [shout] haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Dalam tanda yang kami dapati dulu, cahaya itu kan terus mengantar ke tempat Dia lahir
Tapi mengapa hilang kini
Apakah ada salah dunia
Atau salah diriku
[Majusi Terlambat berdiri dan sambil berkacak pinggang]
Hai yang Ilahi. Jika Engkau bersemayam di atas sana, tunjukkan batang hidungMu
dan kita berperkara tentang pengetahuan.
Apakah tanda yang Kau munculkan itu benar
Atau jalanku yang benar
Kau bertindak seperti penguasa waktu dan hidup manusia
Lalu mengapa tanda itu hilang dari nanarku
Dan mengapa cahaya itu sirna dari tatar netraku???

[PS: Silent Night]
[Masuk penari lilin – sambil mengiring pembakaran Lilin Natal di Podium. Majusi Terlambat terus berdiri mengamati para penari lilin di podium bagian lain]
Majusi Terlambat: Sedang apakah lagi mereka ini
Aku tidak memerlukan cahaya kandilmu
Aku mencari cahaya bintang di angkasa
Aku berpengetahuan, dan tahu mana kandil mana bintang
Aku kan terus berjalan mengikuti arah langkahku

[Narator]: Dia berperkara tentang pengetahuan dengan Tuhan. Dia melangkah menurut timbangan hati dan akalnya. Tetapi jauh di lubuk hatinya, dia ingin berjumpa dengan Tuhan itu. Jauh di dasar kalbunya, ada kerinduan besar tuk melihat wajah Sang Tuhan. Jauh di dasar sanubarinya ada rindu untuk bertelut dan menyembah Tuhan.
[Majusi Terlambat mengelilingi podium dan keluar]
PUJI-PUJIAN [REJOICE]
beberapa lagu bernuansa sukacita, dipandu Worship Leader dan Song Leader

[Pada lagu terakhir, Majusi Terlambat kembali memasuki podium dan duduk sambil memeriksa perbekalan dan persembahannya. Dia kelihatan letih, dan pakaiannya sudah agak rusak]
Majusi Terlambat: Bekalku sudah hampir habis, tapi syukurlah, persembahanku masih utuh
Aku masih bisa mencari makan, bahkan mengais remah-remah pun aku bersedia
Asal persembahanku tetap utuh dan bisa kupersembahkan kepada DIA yang KUDUS
[menatap ke langit]
Lighting effect – banyak cahaya bintang di angkasa
Majusi Terlambat: hanya, tidak ada lagi bintang yang paling terang
Lalu, aku harus ikut tanda yang mana???

PS : [Aleluya Handle atau Aleluya Beethoven]
[Yesus dalam gambaran Anak Tanggung masuk dan sedang bermain bersama beberapa temannya. Pakaiannya berwarna putih, berbeda dari teman-teman lainnya. Jika bisa dia memakai ‘lingkaran kemuliaan’ di kepalanya. Mereka terus bermain dan diamat-amati oleh Majusi Terlambat]

[Backing Cantoria: KJ. No. 105]
Majusi Terlambat: Oh anak kecil, Kau anak lembut
Tapi inikah engkau yang diutus sang Ilahi itu???
[Majusi Terlambat terus mengamati Yesus kecil, dan anak-anak kecil itu berjalan keluar podium]

Majusi Terlambat: Jangan-jangan itu dia, sang Bayi Kudus
Lalu, bagaimana dengan persembahanku???
[kembali duduk sambil memeriksa persembahannya. Lalu berjalan dan berpapasan dengan banyak orang miskin, orang-orang yang bekerja di kolong jembatan, para buruh bangunan, buruh tani, pedagang asongan, dan orang-orang sakit]

Majusi Terlambat: Inikah wajah dunia yang harus kujumpai??
O Sang Ilahi, arahku harusnya ke istana raja tempat Bayi Kudus dilahirkan
Tapi mengapa aku berjumpa dengan mereka ini????
Aku harus ke istana
Bukan ke dalam kubangan manusia ini
Tempatku dengan para pembesar
Bukan….[terhenti, karena tiba-tiba Yesus Remaja berada bersama
di kerumunan orang-orang yang tidak beruntung tadi]
Dalam kitab pengetahuan, Sang Bayi Kudus tidak boleh ada di sini
Tapi mengapa dalam dunia nyata, Dia ada di sini???
[menuju Yesus Remaja] Anakku, siapa namamu? [Yesus Remaja tersenyum]
[berlutut] Anakku, aku ingin tahu siapa namamu? [Yesus Remaja tersenyum
Sambil melirik persembahan yang dibawa Majusi Terlambat
Ini bawaanku, dan yang tersisa dan terus kujaga hanya ini
Kau tahu mengapa? [Yesus Remaja tersenyum]
Ini untuk BAYI KUDUS yang kucari dari bintang yang sudah hilang
[Yesus Remaja mengelus kepala Majusi Terlambat]


[Narator1 – di kiri podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
Majusi Terlambat: Bukan, bukan dia
[Narator2 – di kanan podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
Majusi Terlambat: Bukan, bukan dia
[Narator3 – di tengah podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
Majusi Terlambat: Bukan, bukan dia
[beberapa orang dari tengah-tengah Jemaat]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
Majusi Terlambat: Apa????
Kalian tidak tahu apa-apa
Kalian tidak berpengetahuan, dari mana kalian tahu
[beberapa orang dari tengah-tengah Jemaat]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
[Narator1 – di kiri podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
[Narator2 – di kanan podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
[Narator3 – di tengah podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS

[Majusi terlambat berlari kembali ke tempat orang-orang miskin tadi, tapi tidak menemukan siapa pun di sana, hanya satu bungkusan kecil yang tertinggal di situ. Ia memungut bungkusan itu dan mulai membukanya]

Majusi Terlambat: Bukankah ini bungkusan tempat persembahanku
Tapi di manakah isinya
Di manakah persembahanku
Hai orang-orang susah, mengapa persembahanku kalian ambil
Sudah miskin mencuri lagi
Kembalikan persembahanku
[Majusi itu mengamati lagi isi di dalam bungkusan persembahannya itu. Yang ada hanya secarik kertas yang bertuliskan: ‘Kemuliaan Bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi’ – sebagai naskah Tema Natal dan Bahan Khotbah Pendeta]

KHOTBAH – oleh. Pendeta

PUJI-PUJIAN
Lagu-lagu bernuansa Pesan Natal untuk Hidup di Dunia
(sambil memberi persembahan syukur)

[Majusi Terlambat kembali masuk podium, dan berjalan mengelilingi podium, bertemu dengan kelompok-kelompok pemuda. Ada yang mencari pekerjaan, ada yang sedang bekerja, ada yang sedang duduk dalam kelompok gank. Tampak YESUS PEMUDA di antara kelompok gank sedang duduk bercerita sambil tertawa terbahak-bahak dengan mereka]
Majusi Terlambat: Dia inikah orangnya?
Mengapa kini dia ada di antara mereka yang garang wajahnya
Mereka tertawa
Apakah ini Dia yang disebut BAYI KUDUS dahulu???
[ke arah gank pemuda di mana YESUS PEMUDA ada di situ]
Saudaraku, rupanya kita sudah beberapa kali bertemu [Yesus pemuda tersenyum]
Setiap ku sapa, Dia tersenyum
Apakah dia menertawai diriku???
[Majusi Terlambat berjalan mengelilingi podium dan duduk sejenak. Tanpa sadar, dia tertidur karena letihnya. Kelompok pemuda tadi keluar dari podium]
[Narator]: Bertahun-tahun sudah dia berjalan. Tempat lahir Sang BAYI KUDUS saja tidak ditemui. Apakah dia bisa berjumpa dengan BAYI KUDUS itu?? Jika berjumpa saat ini, sudah seperti apakah bayi itu?? Dan persembahannya sudah tidak ada lagi. Begitulah yang menerawang dalam ingatan Majusi Terlambat yang dibawa di dalam tidur nyenaknya.

….sound effect….gemuruh………………
[Majusi Terlambat terbangun dari tidurnya, dan ternyata sudah dikelilingi para Penyanyi]

Penyanyi: [mengurung Majusi Terlambat – sambil Majusi Terlambat berusaha keluar dari kerumunan itu tetapi tidak sanggup. Dia terjatuh…..bangun…..terjatuh…..bangun…..dan begitu seterusnya, sebagai gambaran kesulitan yang dialaminya]
Hai musafir
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana???? Kau arahkah langkahmu
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Majusi Terlambat: Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
[Semua penyanyi berdiri mematung. Majusi Terlambat terjatuh, dan bangun perlahan sambil berjalan keluar dari lingkaran para penyanyi yang terus mematung. Masuk 4 orang rekan Pemuda di sekeliling para penyanyi dan mengamati para penyanyi serta Majusi Terlambat sebagai bentuk solidaritas untuk membantunya, tiba-tiba…..]
Penyanyi: [kembali mengurung Majusi Terlambat – sambil Majusi Terlambat berusaha keluar dari kerumunan itu tetapi tidak sanggup. Dia terjatuh…..bangun…..terjatuh…..bangun…..dan begitu seterusnya, sebagai gambaran kesulitan yang dialaminya, dan 4 Pemuda tadi hendak berusaha menolongnya tetapi tidak sanggup memasuki lingkaran para penyanyi]
Hai musafir
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????

[Majusi Terlambat terus berjuang keluar, sampai suatu ketika dia terjatuh, tetapi belum sampai di tanah sudah ditatang oleh 4 Pemuda tadi dan mereka berontak keluar dari para penyanyi, dan para penyanyi terjatuh….lalu muncul cahaya dari arah samping podium…]
Majusi Terlambat: [dalam posisi rebah di atas tangan 4 pemuda] Kawan, lihatlah cahaya itu
Aku memang berjalan mencarinya
Tapi aku sudah tak kuasa menuju ke arahnya
Kalian tidak usah menolongku
Lebih baik kalian ke sana, jangan terlambat sepertiku
Solo: ‘Penebusku’
[Sambil Yesus Pemuda masuk memanggul salib dan berjalan mengitari podium]

Majusi Terlambat: Oh…..mengapa aku benar-benar terlambat
Kala keluar dari negeriku, aku hendak menemui sang Bayi yang baru lahir
Tapi aku menuruti bintangku
Dan tidak menemuinya
Aku pernah berjumpa dengan dia di kanak-kanaknya
Tapi mengapa aku tak mengenalnya
Aku pernah berjumpa dengan dia di masa remajanya
Tapi mengapa aku tak kenal rupanya
Aku pernah berjumpa dengan dia di hari mudanya
Tapi mengapa aku sangsi kepadanya
[sambil mengikut bagian belakang orang yang mengantar Yesus memanggul salib, lalu bersujud berdoa, dan terus menatap Yesus berjalan meninggalkan podium]

SYAFAAT (oleh Pendeta)

PS : ….
Puji-pujian
(Lagu Persembahan Hidup)

[Majusi Terlambat kembali memasuki podium]
Majusi Terlambat: Aku berterima kasih kepada setiap tangan yang menopangku
Aku berterima kasih kepada keterlambatanku
Sebab aku mampu belajar untuk tidak menurut kehendakku
Belajar untuk tidak memisahkan diri dari sahabat-sahabat yang berjuang denganku
Maafkan aku kawanku,
Sebab karena angkuhku, aku menempuh jalan yang bukan jalan kita
Maafkan aku Tuhanku,
Sebab rinduku bertemu engkau
Membutakan mataku
Aku telah berjumpa
Dan berulang kali berjumpa denganMu
Tapi mata dan akalku tak menjadi cerah
Aku telah membawa persembahanku
Semuanya hilang
Yang ada hanya secarik kertas yang sudah kubaca bagi dunia
Lalu, tiada apa yang tersisa dari diriku
Dari hari mudaku, sampai hari tuaku
Tiada lagi yang indah dari milikku
Kalau Kau berkenan,
Inilah hidupku
Aku tahu sudah terlambat aku berjumpa
Mungkin lebih terlambat lagi aku memberi hidupku
Sebab hari mudaku ku habiskan mencari Engkau
Padahal aku sudah berjumpa denganMu setiap waktu
Di tengah orang miskin
Di antara orang sakit
Di tengah orang berduka
Di antara orang yang menangis
Bahkan di antara pemuda yang dinilai rusak mentalnya
Tapi, aku ragu Engkau di situ
Maka kini ya TUHAN
Pakailah hidupku, jika kau kenankan

BERKAT (Oleh Pendeta)

PUJI-PUJIAN [Sukacita]



Selamat Hari Natal


Eltom, 25/11-09
(ide cerita – Eltom, Empy, Alda)

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!