Wednesday, December 16, 2009

NATAL DENG PAPEDA SABALE

Katanya cinta meramas kasbi
Pancangkan kain di kuda-kuda
Tabaos cinta panggil anak negeri
Lihat mama meramas kasbi
Dengar suara rindu gadis sebelah rumah
Teriakan lapar tangisan dahagA
Dan suara himpitan kerongkongan kering
Bunyi perut berirama tifa pica

Katanya cinta membakar sukma
Lalu mama naikkan syukur siang
Singgahsana Allah memutih bagaikan toya
Panci tumpah ruah gelombang air panas
Sempe diramaikan jari yang me-lomi toya
Aru-aru menentramkan perut tertabu
Sukacita hadir siang malam dirumah tua

“Tuhan berkatilah makanan kami”
doa ini terdengar indah
karena papeda sabale akan datang
Tuhan…… nikmatnya kuah lemon.
Yang teruras bagaikan anggur hermon
Dijilati lidah penikmat bungaran
Pernahkah kau cicipi Tuhan…..?????

“Tuhan inilah makanan kami yang Kau beri
makanan natal orang pinggiran
yang hanya bisa mengolah kasbi
makanan natal anak negeri
yang susah beras secupak
dan cuma ada ikan meti

“Tuhan………. Trima kasih atas berkatMu”
doa itu begitu syahdu
karena hati hampir menangis
adakah ganti dinatal mendatang..?
akankah meja makan diramaikan tabuhan sendok..?
ataukah jari tetap memercik kuah..?
dari mana sejahtera..?
dari mana kekenyangan..?
DARI PAPEDA SABALE
UNTUK NATAL INI

Karya : Elifas Tomix Maspaitella (1995)
Dan Kunyalakan Lilinku
[eltom, 16/12-09]

Solo: Lagu ‘Seribu Lilin’
[masuk 3 anak sambil membawa lilin masing-masing – dengan gerak tariannya]

Narasi : Dan kunyalakan lilinku

Anak 1 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN IMAN. Sebab merah warnamu, merah pula nyalamu, dan kupegang engkau erat sebab larik sinarmu menembusi hatiku.

Anak 2 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN SUKACITA. Sebab hijau warnamu, merah kehijauan apimu, dan kuangkat engkau tinggi-tinggi sebab cahayamu harus menerangi setiap hati yang bersedih

Anak 3 : Menyala lilinku [langsung menyalakan lilinnya]. Kunamai engkau LILIN DAMAI. Kuning warnamu tanda teduh hatiku. Larik sinarmu merah kekuningan, tanda dunia yang tenang dan tangan yang saling merangkul

Narasi : [3 anak tadi memeragakan lilin yang dihadang berbagai tantangan sambil menggoyang-goyang lilinnya]. Dan menyalalah lilinku. Terus menyala lilinku. Angin menerpamu, tetapi teruslah menyala lilinku. Badai menerpamu, hujan membasahimu, teruslah menyala lilinku, dan teruslah menyala lilinkuuuuuuuu……..te….rus…..lah…..me…..nya….la….lilin….k…k…k….ku [3 anak tadi jatuh sambil berlutut, lalu perlahan-lahan menurunkan lilinnya dan menyembah ke tanah] lalu….

Anak 1 : AKU IMAN. Mereka mengandalkanku. Kusinari hidup mereka setiap waktu. Kuhangatkan dan kubakar agar tetap membara….tetapi angin bertiup ke kiri, aku hampir terseret olehnya. Angin ke kanan, aku nyaris diterbangkannya. Nyaris saja…..dan akhirnya, mereka membuangku, mereka menerbangkanku karena angin masuk ke hati mereka, menusuk ke jantung mereka, dan mereka terbuai oleh sepoi-sepoinya, lalu aku: IMAN mulai terlepas helai demi helai….aku terhempas dari terbang jauh…..jadi nyalaku MATI [langsung mematikan lilinnya]

Anak 2 : AKU SUKACITA. Tiap hari mereka bernyanyi, tertawa, dan berbagi. Tetapi lambat laun tawanya tak tertahan, nyanyiannya semakin memekakkan telinga. Orang mulai berlomba untuk dirinya sendiri. Egoisme muncul. Kesombongan memuncak. Emosi menjadi raja. Sikap keras kepala merajalela. Tangan mulai ringan diangkat untuk memukul. Mulut mulai ringan berucap fitnah dan makian. Mata mulai suka menonton kesalahan dan menurutinya. Hilang SUKACITA, dan aku: SUKACITA mulai jauh dari hati mereka. maka….lilinku pun mati [langsung mematikan lilinnya]

Anak 3 : AKU DAMAI. Dahulu damai, tetapi perang datang juga. Dahulu cinta, tetapi pertengkaran muncul pula. Dua tangan tak lagi berjabat. Tidak lagi merangkul, tetapi mengepal dan saling undang adu kekuatan. Kata-kata manis jauh dari tiap mulut. Senyum pun berubah garang. Kelembutan tak lagi ada karena dendam dan amarah semakin membara. Aku tak lagi dicari. Aku telah dijauhi. Dan nyalaku pun redup, dan …mati [langsung mematikan lilinnya]

Narator : Memang IMAN, SUKACITA dan DAMAI bisa saja hilang dari hati dan hidup manusia. Adakah yang bersedih dengannya?

Anak 4 : [sambil berlari masuk, dan menangis] mengapa kamarku jadi gelap begini? Mengapa rumahku jadi gulita begini? Di mana cahaya yang dahulu meneranginya? [ke lilin IMAN] Mengapa tiada lagi nyalamu? [ke lilin SUKACITA] Mengapa sinarmu tiada kini? [ke lilin DAMAI] Di mana sinarmu itu? [langsung duduk di depan ketiga lilin dan terus menangis] mengapa semuanya tiada bersinar. Padahal aku perlukan kalian semua tuk mengisi hatiku ini. Mengapa semuanya menjadi begitu egois, padahal aku inginkan belaian lembut sinarmu. Mengapa duniaku seperti ini, padahal aku perlu cahaya untuk melihat jalanku

Anak 5 : [sambil membawa lilin PENGHARAPAN yang menyala, dan berjalan ke arah anak yang sedang menangis] kawanku, tak usah bersedih. IMAN itu perlu, tapi kadang oleh rayu zaman, orang membuangnya. Tapi ada aku PENGHARAPAN. Ambillah nyalaku, dan bakarlah lagi IMAN itu [anak 4 mengambil lilin PENGHARAPAN dan membakar Lilin IMAN]

Anak 4 : Hore…..Lilin IMANKu sudah menyala [anak 1 berdiri dengan lilin IMAN yang sudah menyala]. Terima kasih PENGHARAPANKU [menyerahkan lilin PENGHARAPAN kepada Anak 5] tapi, aku perlu SUKACITA pula, sebab bagaimana mungkin imanku menyala tetapi sukacitaku padam? [kembali menangis]

Anak 5 : [ke anak 4 yang sedang menangis] Tadi ku bilang, jangan menangis. Masih ada aku. Kini ambillah lagi nyalaku, dan bakarlah SUKACITA itu [anak 4 mengambil lilin PENGHARAPAN dan membakar Lilin SUKACITA]

Anak 4 : Hore…..Lilin SUKACITAKu sudah menyala [anak 2 berdiri dengan lilin SUKACITA yang sudah menyala]. Terima kasih PENGHARAPANKU [menyerahkan lilin PENGHARAPAN kepada Anak 5] tapi, jika DAMAI tiada, semuanya kan hilang [kembali menangis]

Anak 5 : [ke anak 4 yang sedang menangis] Tadi ku bilang, jangan menangis. Masih ada aku. Dengan nyalaku, kita kan bisa membakar semuanya lagi. Kini ambillah lagi nyalaku, dan bakarlah DAMAI itu [anak 4 mengambil lilin PENGHARAPAN dan membakar Lilin DAMAI]

Anak 4 : Hore…..Lilin DAMAIKu sudah menyala [anak 3 berdiri dengan lilin DAMAI yang sudah menyala]. Terima kasih PENGHARAPANKU [menyerahkan lilin PENGHARAPAN kepada Anak 5]. Lilin-lilinku teruslah menyala. Angin apa pun yang datang, jangan redup nyalamu. Teruslah menyala dan mari kita nyalakan semua lilin dunia ini

[semuanya menyanyi Lagu ‘Seribu Lilin’ sambil menyalakan lilin di tangan jemaat]
Seribu lilin nyalakan di tengah dunia, biar sinarnya menyatakan Kemuliaan Tuhan
Wartakan pada dunia kabar sukacita, t’lah lahir Yesus Penebus Juduselamat dunia
Hai bintang indah Betlehem, kiranya sinarmu bawa harapan dan damai bahagia di kalbu
KehangatanMu kirimkan di hati yang beku, kehangatan kasih Tuhan di natal yang syahdu

Cerita Perempuan itu Tentang Dirinya

(eltom, 25/11-09)

Instrumen: “Anak Maria Dalam Palungan” (KJ.No. 112)
[penari latar – tarian yang melukiskan Perempuan yang terdiam setelah melahirkan]

[ketiga pembaca puisi di depan podium dengan wajah muram/sedih, sambil menunduk kepala]

 Dapatkah aku lukiskan suasana hatiku yang sebenarnya?
 Pernakah orang merasa apa yang sebenarnya membara dalam kalbuku?
 Bisakah aku berbagi cerita bahwa sebenarnya hatiku gunda?
 Mungkin tiada yang percaya
[penari menarikan gerakan perempuan yang menanggung malu]

 Aku malu menunjukkan wajahku
 Aku tak kuasa menanggung berat badanku
 Haruskah aku mengurung diri dan berharap tiada seorang pun tahu
 Bagaimana jika beban di perutku tambah berat
Dan perutku tambah membesar
Dan sang bayi ini terus bertumbuh
 Oh…..perempuan sepertiku…..
Kan kugurat hari-hariku dengan cerita sedih
Aku kan dipandang dengan mata memincing
Sudut bibir mereka kan berseloroh sinis
 Dengan beban membathin aku harus berjalan jika tidak mau susah melahirkan
Tapi siapa penyanggah berat bebanku
 Aku harus bekerja jika mau anakku lahir sehat
Dia harus mendapat asupan vitamin
Dan sering diperiksa sang bidan
Tapi siapa yang harus menuntun menutupi rasa maluku
 Oh….perempuan sepertiku…..
Cerita orang tentu kan miring
Mata orang tentu kan mengerling
Bibir orang tentu mencibir sampai manyun
 Sindiran kan jadi bajuku
Umpatan kan jadi telekungku
Cercaan bisa menjadi penutup kepalaku
Perempuan sepertiku pasti kan menangisi dan memaki diri sendiri
 Tapi
 Apakah
 Aku
 Yang
 Salah
 Atas
 Semua
 Ini???
Jika aku pun tak kuasa menahan amukan cinta Sang Roh Kudus
 Dan rahimku tak kuasa mencegah benih dari sang Ilahi
 Lalu perutku harus menjadi tempat sang Kudus bertumbuh
…….
 Yang masuk melalui mulutku dimakan pula janin sorgawi ini
 Yang kuteguk setiap waktu diminum sang janin mulia ini
 Tetapi
 Mengapa
 Semua
 Mata
 Terus
 Memandang
 Miring
 Kepada
 Ku
[penari latar menarikan tarian Perempuan yang Bangkit dari tekanan]

 Terserah apa mereka memandangku
 Terserah apa kata mereka untukku
 Terserah apa cerita mereka tentang diriku
 Jika padaku kau tanyakan: ‘mengapa?’
‘Ku jawab: ‘entahlah’
 Jika padaku kau tanyakan: ‘siapa gerangan?’
‘Ku jawab pula: ‘entahlah’
 Dan jika kau buru aku dengan pertanyaan: ‘milik siapa ini’?
Kepadamu pun ku jawab: ‘entahlah’
 Sebab aku hanyalah HAMBA
Tapi bukan untuk kau injak
Dan bukan untuk kau perbudak dengan alasan cinta
 Sebab aku hanyalah HAMBA
Tapi bukan untuk kau paksa merentang kaki karena mampu kau bayari
Juga tidak untuk alasan cinta kalau kau muncul dalam rupa ‘si rakus’
 Sebab aku hanyalah HAMBA
Yang mengisi hari dunia ini dengan CINTA
‘Ku dandani waktu ini dengan KASIH
‘Ku meteraikan hidup semesta ini dengan CINTA PUTIH

[penari latar menarikan tarian Perempuan bersukacita]

 Tak ada lagi awan bertudung malu
Dan mega putih berarak di angkasa
 Alam bercerita tentang cinta
Padang rumput disirami cahaya putih
 Lihat mereka: gembala, orang kurang beruntung
kini berlari mengejar suka
 Dan aku perempuan itu
ku dengar semua umpatan
telingaku dipenuhi kidung malak
 Mataku terus memandang dunia yang memincing
penglihatanku tertumbuk kejar-kejaran orang dari kandang domba
 Aku perempuan itu
Hanya memendam dalam hati
tugas kudus
Karena rahimku dibuahi sang Roh
anakku buah sang Ilahi
 Bukan tiada maksud aku berbisik dari hati yang lirih hari ini:
Kepada semua perempuan yang diperlakukan tidak adil
Jika kalian diinjak di ranjang
Dan jubah kalian dirobek di pematang
diperah
menanggung beban di perutmu
Tanpa ada yang berkata: ‘benih itu ku punya’
 Dengarlah kataku:
Bangunlah
ukirlah hari-hari baru ke depan
 Berteriaklah
tuturkan kisah pedihmu di atas tanah ini
Sebab kita bungkam
mereka sangka kita bisa dipermainkan
 Berjalanlah
atur langkahmu dengan sigap
 Jagalah
Agar yang tak berdosa menikmati indahnya dunia
Dia bersaksi: Ibuku bersih
 Untuk perempuan di dunia
‘Suarakan keadilan’

Majus Yang Terlambat

Sketsa Natal
Majus yang Terlambat

[Narator]: Dunia adalah tanda tanya besar. Dan bentuknya pun adalah tanda tanya besar. Dari ujung yang satu ke tepi yang berikut laksana titik-titik yang berujung juga pada tanda tanya. Ibarat untaian kata dan susunan kalimat, berujung jua pada tanda tanya besar. Besar….besar….besar….tiada bertepi, tiada berujung, semuanya dipenuhi tanda tanya besar………………………

Solo: O Little Town Of Betlehem (KJ. No. 94]

VOTUM

[empat orang majusi memasuki pentas : berjalan mengitari podium dan berpapasan dengan beberapa orang lain yang juga berjalan untuk melakukan aktifitas mereka, sampai berpapasan dengan kelompok penyanyi….]

Penyanyi : [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
…..jedah…..
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
…..jedah…..
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
…..jedah…..
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana???? Kau arahkah langkahmu

Majusi : [menyanyi] kami ikut titah raja dan berjalan tak henti!
Lewat gurun dan dataran arah kami ke istana
Arah kami ke istana kota Raja Yang Kudus [2x]

…..jedah…..[sambil para majusi berdebat mengenai jalan yang kan dituju]
[chanting]
3 Majusi : Lihat bintang di atas/tunjuk jalan ke kota kecil

Majusi Terlambat: Lihat bintang di angkasa/arah mana kan ku turut

3 Majusi : Bintang itu sinarnya gerlap

Majusi Terlambat: Bintang ini cahyanya cerlang

[dialog]
3 Majusi: Kawan, ke arah ini jalannya
Majusi Terlambat: ke sini arahnya, kawan
3 Majusi: Kalau begitu, kami ikut arah ini
Majusi Terlambat: aku pun menuruti jalan yang ini
3 Majusi: Mengapa kita harus terpisah, kawan?
Majusi Terlambat: Aku hanya tidak paham mengapa kalian memilih jalan itu
3 Majusi: Tetapi kita berjanji bersama-sama
Majusi Terlambat: Asalkan jalanku yang dipilih
3 Majusi: Mungkin jalan kami berliku, tapi tentu tidak salah
Majusi Terlambat: Mungkin jalanku curam, tapi tentu tidak salah

Penyanyi: [soprano+tenor – mengurung satu orang musafir yang terpisah dari 3 temannya]
[menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????

PS : [menyanyi] Hai musafir mau ke mana, kau arahkan langkahmu

Majusi : [dalam posisi terpisah] - menyanyi
kami ikut titah raja dan berjalan tak henti!
Lewat gurun dan dataran arah kami ke istana
Arah kami ke istana kota Raja Yang Kudus [2x]

Majusi terlambat:
[menyanyi] Arah kami ……..
[shout] kawan-kawan, di manakah kalian….????

PS : [menyanyi] Hai musafir mau ke mana, kau arahkan langkahmu

Majusi Terlambat:
[bingung] [menyanyi] Aku ikut titah raja dan berjalan tak henti
Lewat gurun dan dataran arah…..[bingung karena sudah terpisah dari 3 temannya]
Lewat gurun dan dataran arah aku ke istana
Arah aku ke istana kota raja yang kudus
Arah aku ke istana kota raja yang kudus

PS : [menyanyi full lagu]

[Narator] Di kala orang menemukan Yesus, masih ada orang lain yang berusaha mencarinya. Kini, majusi terlambat sedang merenung akan langkahnya. Hatinya sedih terpisah dari rekan-rekannya. Dia terus bertanya, benarkah jalannya? Lalu di manakah ketiga rekannya itu? Sudahkah mereka menemukan ‘Sang Bayi’ itu, atau dia kan menjadi yang pertama menemukannya?

PS: Little Drumer Boy

[Majusi Terlambat terus berjalan mengelilingi podium sambil mencari-cari arah bintang. Sedangkan di bagian lain podium, 3 rekannya sudah menemukan ‘kandang domba’ tempat Yesus lahir, dan sedang memberi persembahan mereka. Mereka segera pulang, dan berjalan ke negerinya. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Majusi Terlambat hanya tidak saling bertegur sapa]


Majusi Terlambat: bukankah itu rekan-rekanku???
Tapi, di mana persembahan yang mereka bawa
Jangan-jangan mereka sudah mempersembahkannya kepada ‘Sang Bayi’ itu?
….
Ah, tidak mungkin.
[menyanyi KJ. No.133:1 ditingkahi PS]
Hai Bintang Timur terbitlah kembali
Dalam semarak cahaya terang, sama dengan kau pernah menyinari para majusi di malam kelam

Majusi Terlambat: wahai bintang gemintang, di mana wajahmu
Buruk rupakah aku sehingga kau tidak lagi mau menjadi cermin bagiku???
[lighting effect]…..cahaya bintang muncul beberapa saat…….
[menyanyi KJ. No.133: 2 ditingkahi PS]
Mari, tunjukkan tempat Yesus lahir! Sungguhkan Dia di kandang rendah
Bayi lembut di palungan terbaring, langit dan bumi KerajaanNya

[Majusi Terlambat berlari mengitari podium mengikuti petunjuk bintang itu]
[lighting effect]…..cahaya bintang hilang…….

[Majusi Terlambat langsung terjatuh]
Majusi Terlambat: [dalam posisi terjatuh] [shout] haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Dalam tanda yang kami dapati dulu, cahaya itu kan terus mengantar ke tempat Dia lahir
Tapi mengapa hilang kini
Apakah ada salah dunia
Atau salah diriku
[Majusi Terlambat berdiri dan sambil berkacak pinggang]
Hai yang Ilahi. Jika Engkau bersemayam di atas sana, tunjukkan batang hidungMu
dan kita berperkara tentang pengetahuan.
Apakah tanda yang Kau munculkan itu benar
Atau jalanku yang benar
Kau bertindak seperti penguasa waktu dan hidup manusia
Lalu mengapa tanda itu hilang dari nanarku
Dan mengapa cahaya itu sirna dari tatar netraku???

[PS: Silent Night]
[Masuk penari lilin – sambil mengiring pembakaran Lilin Natal di Podium. Majusi Terlambat terus berdiri mengamati para penari lilin di podium bagian lain]
Majusi Terlambat: Sedang apakah lagi mereka ini
Aku tidak memerlukan cahaya kandilmu
Aku mencari cahaya bintang di angkasa
Aku berpengetahuan, dan tahu mana kandil mana bintang
Aku kan terus berjalan mengikuti arah langkahku

[Narator]: Dia berperkara tentang pengetahuan dengan Tuhan. Dia melangkah menurut timbangan hati dan akalnya. Tetapi jauh di lubuk hatinya, dia ingin berjumpa dengan Tuhan itu. Jauh di dasar kalbunya, ada kerinduan besar tuk melihat wajah Sang Tuhan. Jauh di dasar sanubarinya ada rindu untuk bertelut dan menyembah Tuhan.
[Majusi Terlambat mengelilingi podium dan keluar]
PUJI-PUJIAN [REJOICE]
beberapa lagu bernuansa sukacita, dipandu Worship Leader dan Song Leader

[Pada lagu terakhir, Majusi Terlambat kembali memasuki podium dan duduk sambil memeriksa perbekalan dan persembahannya. Dia kelihatan letih, dan pakaiannya sudah agak rusak]
Majusi Terlambat: Bekalku sudah hampir habis, tapi syukurlah, persembahanku masih utuh
Aku masih bisa mencari makan, bahkan mengais remah-remah pun aku bersedia
Asal persembahanku tetap utuh dan bisa kupersembahkan kepada DIA yang KUDUS
[menatap ke langit]
Lighting effect – banyak cahaya bintang di angkasa
Majusi Terlambat: hanya, tidak ada lagi bintang yang paling terang
Lalu, aku harus ikut tanda yang mana???

PS : [Aleluya Handle atau Aleluya Beethoven]
[Yesus dalam gambaran Anak Tanggung masuk dan sedang bermain bersama beberapa temannya. Pakaiannya berwarna putih, berbeda dari teman-teman lainnya. Jika bisa dia memakai ‘lingkaran kemuliaan’ di kepalanya. Mereka terus bermain dan diamat-amati oleh Majusi Terlambat]

[Backing Cantoria: KJ. No. 105]
Majusi Terlambat: Oh anak kecil, Kau anak lembut
Tapi inikah engkau yang diutus sang Ilahi itu???
[Majusi Terlambat terus mengamati Yesus kecil, dan anak-anak kecil itu berjalan keluar podium]

Majusi Terlambat: Jangan-jangan itu dia, sang Bayi Kudus
Lalu, bagaimana dengan persembahanku???
[kembali duduk sambil memeriksa persembahannya. Lalu berjalan dan berpapasan dengan banyak orang miskin, orang-orang yang bekerja di kolong jembatan, para buruh bangunan, buruh tani, pedagang asongan, dan orang-orang sakit]

Majusi Terlambat: Inikah wajah dunia yang harus kujumpai??
O Sang Ilahi, arahku harusnya ke istana raja tempat Bayi Kudus dilahirkan
Tapi mengapa aku berjumpa dengan mereka ini????
Aku harus ke istana
Bukan ke dalam kubangan manusia ini
Tempatku dengan para pembesar
Bukan….[terhenti, karena tiba-tiba Yesus Remaja berada bersama
di kerumunan orang-orang yang tidak beruntung tadi]
Dalam kitab pengetahuan, Sang Bayi Kudus tidak boleh ada di sini
Tapi mengapa dalam dunia nyata, Dia ada di sini???
[menuju Yesus Remaja] Anakku, siapa namamu? [Yesus Remaja tersenyum]
[berlutut] Anakku, aku ingin tahu siapa namamu? [Yesus Remaja tersenyum
Sambil melirik persembahan yang dibawa Majusi Terlambat
Ini bawaanku, dan yang tersisa dan terus kujaga hanya ini
Kau tahu mengapa? [Yesus Remaja tersenyum]
Ini untuk BAYI KUDUS yang kucari dari bintang yang sudah hilang
[Yesus Remaja mengelus kepala Majusi Terlambat]


[Narator1 – di kiri podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
Majusi Terlambat: Bukan, bukan dia
[Narator2 – di kanan podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
Majusi Terlambat: Bukan, bukan dia
[Narator3 – di tengah podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
Majusi Terlambat: Bukan, bukan dia
[beberapa orang dari tengah-tengah Jemaat]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
Majusi Terlambat: Apa????
Kalian tidak tahu apa-apa
Kalian tidak berpengetahuan, dari mana kalian tahu
[beberapa orang dari tengah-tengah Jemaat]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
[Narator1 – di kiri podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
[Narator2 – di kanan podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS
[Narator3 – di tengah podium]: Engkau telah berjumpa dengan Sang BAYI KUDUS

[Majusi terlambat berlari kembali ke tempat orang-orang miskin tadi, tapi tidak menemukan siapa pun di sana, hanya satu bungkusan kecil yang tertinggal di situ. Ia memungut bungkusan itu dan mulai membukanya]

Majusi Terlambat: Bukankah ini bungkusan tempat persembahanku
Tapi di manakah isinya
Di manakah persembahanku
Hai orang-orang susah, mengapa persembahanku kalian ambil
Sudah miskin mencuri lagi
Kembalikan persembahanku
[Majusi itu mengamati lagi isi di dalam bungkusan persembahannya itu. Yang ada hanya secarik kertas yang bertuliskan: ‘Kemuliaan Bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi’ – sebagai naskah Tema Natal dan Bahan Khotbah Pendeta]

KHOTBAH – oleh. Pendeta

PUJI-PUJIAN
Lagu-lagu bernuansa Pesan Natal untuk Hidup di Dunia
(sambil memberi persembahan syukur)

[Majusi Terlambat kembali masuk podium, dan berjalan mengelilingi podium, bertemu dengan kelompok-kelompok pemuda. Ada yang mencari pekerjaan, ada yang sedang bekerja, ada yang sedang duduk dalam kelompok gank. Tampak YESUS PEMUDA di antara kelompok gank sedang duduk bercerita sambil tertawa terbahak-bahak dengan mereka]
Majusi Terlambat: Dia inikah orangnya?
Mengapa kini dia ada di antara mereka yang garang wajahnya
Mereka tertawa
Apakah ini Dia yang disebut BAYI KUDUS dahulu???
[ke arah gank pemuda di mana YESUS PEMUDA ada di situ]
Saudaraku, rupanya kita sudah beberapa kali bertemu [Yesus pemuda tersenyum]
Setiap ku sapa, Dia tersenyum
Apakah dia menertawai diriku???
[Majusi Terlambat berjalan mengelilingi podium dan duduk sejenak. Tanpa sadar, dia tertidur karena letihnya. Kelompok pemuda tadi keluar dari podium]
[Narator]: Bertahun-tahun sudah dia berjalan. Tempat lahir Sang BAYI KUDUS saja tidak ditemui. Apakah dia bisa berjumpa dengan BAYI KUDUS itu?? Jika berjumpa saat ini, sudah seperti apakah bayi itu?? Dan persembahannya sudah tidak ada lagi. Begitulah yang menerawang dalam ingatan Majusi Terlambat yang dibawa di dalam tidur nyenaknya.

….sound effect….gemuruh………………
[Majusi Terlambat terbangun dari tidurnya, dan ternyata sudah dikelilingi para Penyanyi]

Penyanyi: [mengurung Majusi Terlambat – sambil Majusi Terlambat berusaha keluar dari kerumunan itu tetapi tidak sanggup. Dia terjatuh…..bangun…..terjatuh…..bangun…..dan begitu seterusnya, sebagai gambaran kesulitan yang dialaminya]
Hai musafir
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana???? Kau arahkah langkahmu
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Majusi Terlambat: Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
[Semua penyanyi berdiri mematung. Majusi Terlambat terjatuh, dan bangun perlahan sambil berjalan keluar dari lingkaran para penyanyi yang terus mematung. Masuk 4 orang rekan Pemuda di sekeliling para penyanyi dan mengamati para penyanyi serta Majusi Terlambat sebagai bentuk solidaritas untuk membantunya, tiba-tiba…..]
Penyanyi: [kembali mengurung Majusi Terlambat – sambil Majusi Terlambat berusaha keluar dari kerumunan itu tetapi tidak sanggup. Dia terjatuh…..bangun…..terjatuh…..bangun…..dan begitu seterusnya, sebagai gambaran kesulitan yang dialaminya, dan 4 Pemuda tadi hendak berusaha menolongnya tetapi tidak sanggup memasuki lingkaran para penyanyi]
Hai musafir
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone] [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????
Soprano+tenor: [menyanyi] Hai musafir….
Mau ke mana????
[over tone – alto+bas] Hai musafir….
Mau ke mana????

[Majusi Terlambat terus berjuang keluar, sampai suatu ketika dia terjatuh, tetapi belum sampai di tanah sudah ditatang oleh 4 Pemuda tadi dan mereka berontak keluar dari para penyanyi, dan para penyanyi terjatuh….lalu muncul cahaya dari arah samping podium…]
Majusi Terlambat: [dalam posisi rebah di atas tangan 4 pemuda] Kawan, lihatlah cahaya itu
Aku memang berjalan mencarinya
Tapi aku sudah tak kuasa menuju ke arahnya
Kalian tidak usah menolongku
Lebih baik kalian ke sana, jangan terlambat sepertiku
Solo: ‘Penebusku’
[Sambil Yesus Pemuda masuk memanggul salib dan berjalan mengitari podium]

Majusi Terlambat: Oh…..mengapa aku benar-benar terlambat
Kala keluar dari negeriku, aku hendak menemui sang Bayi yang baru lahir
Tapi aku menuruti bintangku
Dan tidak menemuinya
Aku pernah berjumpa dengan dia di kanak-kanaknya
Tapi mengapa aku tak mengenalnya
Aku pernah berjumpa dengan dia di masa remajanya
Tapi mengapa aku tak kenal rupanya
Aku pernah berjumpa dengan dia di hari mudanya
Tapi mengapa aku sangsi kepadanya
[sambil mengikut bagian belakang orang yang mengantar Yesus memanggul salib, lalu bersujud berdoa, dan terus menatap Yesus berjalan meninggalkan podium]

SYAFAAT (oleh Pendeta)

PS : ….
Puji-pujian
(Lagu Persembahan Hidup)

[Majusi Terlambat kembali memasuki podium]
Majusi Terlambat: Aku berterima kasih kepada setiap tangan yang menopangku
Aku berterima kasih kepada keterlambatanku
Sebab aku mampu belajar untuk tidak menurut kehendakku
Belajar untuk tidak memisahkan diri dari sahabat-sahabat yang berjuang denganku
Maafkan aku kawanku,
Sebab karena angkuhku, aku menempuh jalan yang bukan jalan kita
Maafkan aku Tuhanku,
Sebab rinduku bertemu engkau
Membutakan mataku
Aku telah berjumpa
Dan berulang kali berjumpa denganMu
Tapi mata dan akalku tak menjadi cerah
Aku telah membawa persembahanku
Semuanya hilang
Yang ada hanya secarik kertas yang sudah kubaca bagi dunia
Lalu, tiada apa yang tersisa dari diriku
Dari hari mudaku, sampai hari tuaku
Tiada lagi yang indah dari milikku
Kalau Kau berkenan,
Inilah hidupku
Aku tahu sudah terlambat aku berjumpa
Mungkin lebih terlambat lagi aku memberi hidupku
Sebab hari mudaku ku habiskan mencari Engkau
Padahal aku sudah berjumpa denganMu setiap waktu
Di tengah orang miskin
Di antara orang sakit
Di tengah orang berduka
Di antara orang yang menangis
Bahkan di antara pemuda yang dinilai rusak mentalnya
Tapi, aku ragu Engkau di situ
Maka kini ya TUHAN
Pakailah hidupku, jika kau kenankan

BERKAT (Oleh Pendeta)

PUJI-PUJIAN [Sukacita]



Selamat Hari Natal


Eltom, 25/11-09
(ide cerita – Eltom, Empy, Alda)

Thursday, September 24, 2009

Obama & Amerika Utusan Iblis????


Membaca Secara Kritis Buku Weal Aheon, “Membongkar Rahasia Besar Obama 2012”




Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

1. Carapandang Bersama

Memang tidak mudah memahami buku-buku seperti yang ditulis Weal Aheon, apalagi sang penulis sudah menghasilkan banyak buku serupa – yang bernuansa tafsir nubuat. Jadi agak sulit untuk meraba ke mana arah pemikiran sang penulis. Bahkan untuk memastikan di pihak mana sang penulis berada pun sedikit sulit.
Aheon cukup familiar dengan berbagai nubuat di dalam teks-teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, bahkan hal-hal yang krusial seperti AntiKristus juga dibahas secara gamblang dalam tulisannya yang lain.

Tentang “Membongkar Rahasia Besar Obama 2012”, Weal Aheon menulis bahwa: “buku ini ditulis bukanlah untuk menuduh, mencurigai, atau mendeskreditkan seseorang, siapapun dia”…tetapi “mengajak anda untuk ikut andil dalam membongkar rencana besar Iblis”.

Nah, yang membuat buku ini menarik ialah Aheon menunjuk kepada suatu bangsa, yakni Amerika Serikat, dan seorang Presiden yakni Barak Husein Obama, sebagai ‘pelaksana rencana Iblis’, dengan terlebih dahulu menafsir beberapa dokumen dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang memuat nubuat akhir zaman, khusus kitab Daniel dan Wahyu.

Kita tidak akan mengulas seluruh isi buku ini. Saya punya beberapa alasan. Pertama, Aheon bukan satu-satunya dan orang pertama yang menulis ‘nubuat akhir zaman’. Ada banyak penulis dan buku yang sudah menyingkap rahasia bahkan menentukan waktu dari akhir zaman itu. Jika kita membahas Aheon, karena kemunculan buku ini cukup ‘menggelitik”. Dia menunjuk langsung ke Amerika Serikat yang kini sedang memulai suatu sejarah baru, persis ketika negara itu untuk pertama kalinya juga dipimpin oleh seorang Presiden kulit hitam.

Kedua, Aheon menyebut keberadaan Amerika Serikat, dan Presiden Barak Obama, sebagai ‘penggenapan’ beberapa nubuat tentang ‘tanda-tanda datangnya’ akhir zaman. Ketiga, karena itu jangan sampai muncul semacam sikap paranoid terhadap Amerika Serikat, atau menjadikan Amerika dan krisis global sebagai semacam ‘momok’. Celakanya lagi, jika sikap itu menjadi semacam bentuk refleksi iman/kristiani terhadap isi dan pesan buku ini.

Karena itu aspek tafsir nubuat sebagai aspek pertama yang perlu dijelaskan, kemudian bagaimana memaknainya dalam konteks hidup, dihadapkan pada berbagai hal yang terjadi.

2. Aspek dalam Nubuat Pewahyuan

Tulisan yang berbentuk wahyu atau apokaliptik kadang sulit dipahami, karena memuat nubuat mengenai masa depan. Namun yang menarik adalah nubuat itu adalah sesuatu yang muncul di masa kini, walau nanti baru berlaku esok atau di masa depan yang bahkan untuk jangka waktu yang panjang.

Kita bisa memahaminya jika kita bisa melihat dua hal, yaitu: (a) bentuk; dan (2) isi dari nubuat atau wahyu dimaksud.

Tentang bentuk (form), secara teoretik, nubuat biasanya disampaikan atau dikirimkan melalui penglihatan (vision), atau suatu pernyataan/kata-kata yang dinyatakan (audition), atau oleh kedua-duanya secara bersama-sama, dan kemudian dilanjutkan dalam bentuk tulisan/dokumen. Ini banyak sekali dicontohkan dalam Alkitab.

Penglihatan bisa terjadi melalui semacam ‘perjalanan ke dunia yang lain’, atau disampaikan oleh makhluk seperti atau menyerupai malaikat. Karena buku-buku mengenai ‘akhir zaman’ kadang merupakan cerita (pengalaman) sang tokoh mengenai perjalanannya ke surga (bersama Yesus), atau pengalaman setelah bangkit dari kematian (termasuk mati suri); seakan-akan mereka diantar berkeliling surga dan neraka dan menyaksikan berbagai kejadian di sana. Di Ambon banyak bentuk cerita seperti itu dari ‘orang mati bangkit’. Yang menarik ialah ada satu hal yang kabarnya tidak mau disampaikan oleh semua orang yang ‘mati bangkit’ tadi. Apa itu?
Dalam apokaliptik Yahudi, gambaran-gambaran mengenai ‘masa akhir’ muncul dari berbagai periode. Periode awal dari Henokh dan Abraham, kemudian berkembang di era pembuangan dan dalam masa pembangunan kembali Yerusalem, atau dalam masa Barukh, Daniel dan Ezra.
Mengenai isinya (content), sebuah wahyu berisi pesan yang berlaku dalam kurun waktu ‘temporal’ (temporal revelation) atau pada suatu ‘ruang waktu’ (spatial revelation).

‘Wahyu temporal’ memuat seruan mengenai hal-hal yang terjadi dalam masa krisis, atau kejadian-kejadian yang teratur dan berkembang (melewati proses) sampai akhirnya dalam bentuk penyelamatan/pembebasan. Bagian akhir dari wahyu jenis ini disebut sebagai suatu bentuk transformasi, termasuk penyelamatan/pembebasan seseorang, atau kehidupan setelah mati, atau kebangkitan tubuh. Wahyu jenis ini banyak berkisah mengenai sejarah di masa lampau, yang ditujukan kepada penerimanya yang ada di masa lampau itu.

Di sini wahyu dalam Kitab Daniel harus ditempatkan, sebab mengungkapkan suatu periode yang ‘diharapkan’ atau ‘dinubuatkan’ bakal terjadi dengan orang-orang Israel, yaitu pembebasan dari tekanan politik Babel. Ada seorang Juruselamat dalam wujud sesosok pribadi yang kuat yang mengalahkan Babel dan membebaskan orang-orang Israel. Pembebasan Israel itu yang juga dipahami sebagai ‘kebangkitan’/transformasi.

Sedangkan ‘wahyu spatial’ menunjuk bahwa manusia penerimanya adalah penghuni suatu alam yang disebut surga dan neraka, atau suatu petualangan/perjalanan melalui alam kosmis di mana malaikat dan setan juga bisa ditemui, dan kerajaan Allah dinyatakan. Tidak semua wahyu bersifat temporal atau spatial, dan bahkan adakalanya merupakan gabungan dari dua-duanya. Bahkan kaum gnostik mengakui bahwa wahyu itu tidak berkisah mengenai akhir dari sejarah tetapi lebih kepada alam sorga atau spiritual yang dihuni oleh suatu makhluk yang lebih besar.
Nah, selama ini kita memahami nubuat akhir zaman dalam kategori yang kedua ini, karena itu bayangan kita dibawa ke surga dan neraka, lalu masa di mana Tuhan (dan orang percaya/kristen) akan berperang melawan iblis/setan. Jadi bayang-bayang akhir zaman adalah pertempuran Tuhan dan orang percaya melawan kuasa kegelapan/setan, dan pengadilan serta penghukuman.

Dengan memahami bentuk dan isi wahyu itu, mari kita mencoba menelusuri serangkaian ‘nubuat’ dalam buku karya Aheon ini.

3. Benarkah Nubuat Menjadi Genap Pada Amerika?

Aheon memulai tulisannya ini dengan dua ulasan yang sangat provokatif, yaitu penglihatan Jean Dixon (5 Februari 1962) dan ‘Obama Sihir Dunia’ yaitu kemenangan Obama dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat dan sambutan dunia atas kemenangannya itu.

Dari situ tesis Aheon adalah Amerika dan sang Presidennya adalah ‘Sang Utusan Iblis’. Pertanyaan sederhana diajukan Aheon dalam kaitan dengan tesis ini, yakni:
‘siapakah yang membuat PD I diakhiri dengan gencatan senjata ditandatangani? Jawabannya adalah Amerika Serikat….siapakah, atau negara manakah yang menjadi penentu kemenangan dan mengakhiri PD II? Jawabannya sama Amerika Serikat. Negara manakah yang berhasil mengalahkan Irak? Amerika Serikat (h.40,41).

Tidak hanya itu, kolaborasi Amerika dengan Israel juga dimaknai Aheon sebagai suatu cara yang disukai Iblis untuk: (a) membuat orang/bangsa/negara jadi lengah; menjadi lemah; dan terkecoh. Dan tiga kondisi itu, menurut Aheon yang akan terjadi pada Israel, karena ‘Amerika akan membawa mereka ke sebuah perjanjian damai, lalu yang terakhir…Israel akan dikhianati’ (h.42).

Ternyata Aheon menunjuk kepada Amerika dengan menafsir nubuat dalam kitab Daniel 7.
7:1. Pada tahun pertama pemerintahan Belsyazar, raja Babel, bermimpilah Daniel dan mendapat penglihatan-penglihatan di tempat tidurnya. Lalu dituliskannya mimpi itu, dan inilah garis besarnya:
2 Berkatalah Daniel, demikian: "Pada malam hari aku mendapat penglihatan, tampak keempat angin dari langit mengguncangkan laut besar,
3 dan empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain.
4 Yang pertama rupanya seperti seekor singa, dan mempunyai sayap burung rajawali; aku terus melihatnya sampai sayapnya tercabut dan ia terangkat dari tanah dan ditegakkan pada dua kaki seperti manusia, dan kepadanya diberikan hati manusia.
5 Dan tampak ada seekor binatang yang lain, yang kedua, rupanya seperti beruang; ia berdiri pada sisinya yang sebelah, dan tiga tulang rusuk masih ada di dalam mulutnya di antara giginya. Dan demikianlah dikatakan kepadanya: Ayo, makanlah daging banyak-banyak.
6 Kemudian aku melihat, tampak seekor binatang yang lain, rupanya seperti macan tutul; ada empat sayap burung pada punggungnya, lagipula binatang itu berkepala empat, dan kepadanya diberikan kekuasaan.
7 Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang yang keempat, yang menakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh.
8 Sementara aku memperhatikan tanduk-tanduk itu, tampak tumbuh di antaranya suatu tanduk lain yang kecil, sehingga tiga dari tanduk-tanduk yang dahulu itu tercabut; dan pada tanduk itu tampak ada mata seperti mata manusia dan mulut yang menyombong.

Dalam nubuat Daniel itu, keempat binatang buas yang aneh itu adalah simbol dari empat bangsa, masing-masing:
Binatang ke-1: Singa bersayap burung Rajawali – Babel (Irak) - 605/6 - 539 BC
Binatang ke-2: Beruang dg 3 tulang rusuk di mulutnya – Media-Persia (Iran) - 539 BC (Persia menaklukkan Babel)
Binatang ke-3: Macan Tutul berkepala empat dan bersayap empat – Yunani - 331-168 BC
Binatang ke-4: Binatang Buas bertanduk 10 - Roma/Eropa - 168 BC-476 AD

70 tahun Israel dalam Dominasi Bangsa Asing
Tahun Peristiwa
609 Pertempuran di Megido
605 Pertempuran di Karkhemish
597 Pembuangan ke Babel
586 Penghancuran Bait Allah
539 Penaklukan Babel oleh Persia
535 Pemerintahan Syrus
516 Rencana Pembangunan Kembali Bait Allah

Jika mengambil waktu dari tahun perampungan Kitab Daniel (165 B.C.E), maka wahyu dalam kitab Daniel ini adalah sebuah proyeksi ke depan – ke masa yang tidak tentu, mengacu dari peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi. Beberapa ahli PL mengatakan bahwa penglihatan Daniel itu berlangsung justru di waktu ketika Persia sudah menaklukkan Babel. Jika demikian, maka peristiwa masa lampau dalam penglihatan Daniel menjadi acuan tentang suatu kondisi yang akan terjadi di masa depan.



Nah, persoalan kita dengan buku Aheon adalah Binatang ke-4, dengan sepuluh tanduk itu adalah Kerajaan Roma, atau sebenarnya Eropa. Teks Daniel 7:7-8 seperti di atas ditafsir Aheon bahwa:
…Dari Imperium Romawi (pusatnya Italia) akan muncul 10 tanduk (10 negara) yang berasal dari wilayah Eropa. Namun, dari ke-10 negara/bangsa-bangsa Eropa akan lahir satu Tanduk (satu negara) yang awalnya kecil, tapi kemudian menjadi makin besar, makin kuat dan akhirnya menjadi yang terbesar dan terkuat di Akhir Zaman, sampai di Ujung Akhir Zaman ini. …Negara manakah…?

Saudaraku, jawabannya cuma satu, yaitu negara Amerika Serikat! Yang lahir di tahun 1776 sebagai negara kecil (tanduk ke-11) di bawah kepemimpinan Presiden George Washington, terus tumbuh jadi yang terbesar/terkuat di dunia pada saat ini. (h.36)
Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) pada akhirnya melahirkan kesepakatan bersama. Diawali dengan 12 negara, lalu dua negara mundur, yaitu Inggris dan Denmark. Hingga akhirnya (12-2), ada 10 negara (10 tanduk), yang mendeklarasikan lahirnya Uni Eropa, dengan melahirkan mata uang bersama, Euro. Lalu, ada lagi yang lebih spesifik. Apakah itu? (h.38)

Aheon bahkan menafsir beberapa simbol dari bangsa ini (Amerika) yang juga mengalamatkan bahwa mereka (Amerika) adalah utusan iblis. Misalnya pada uang kertas 1 US Dolar terdapat simbol dua ‘perkumpulan rahasia’ yaitu Freemason dan Iluminati.

Pada logo Freemason, terdapat 13 bintang. Daun yang dicengkeram di kaki kanan burung berjumlah 13. Anak panah di kaki kiri juga 13 batang. Begitupula tumbukan batu pada piramida, dalam logo Iluminati, juga 13 susun. Angka 13 adalah angka Lucifer (Iblis) atau angka Yudas Iskariot (h.43). …betapa cermatnya rencana iblis ‘yang akan mencapai klimaksnya dengan menampilkan sang Juruselamat di akhir zaman. Juruselamat versi iblis! Tidak dapat tidak, orang itu adalah/harus menjadi Presiden Amerika Serikat pada saat yang telah ditetapkan, yang kami sebut di Ujung Akhir Zaman (h.44).

Jika tarikh akhir zaman itu adalah 21 Desember 2012, maka Presiden yang dimaksud tentu adalah Barak Obama. Masalahnya ialah apakah kita menerima tafsir Aheon tentang tanduk ke-11 yang muncul pada penglihatan Daniel itu adalah Amerika sebagai suatu kerajaan baru yang terus menjadi kuat dan apakah kemunculan Amerika itu adalah bagian dari rencana Iblis? Apakah adanya suatu bangsa itu merupakan buah kerja Iblis (untuk bangsa-bangsa tertentu) dan Tuhan (untuk bangsa-bangsa tertentu juga).

Jika wahyu itu dibentangkan dalam masa karya Daniel, maka bisa saja kita mengatakan apa yang tampak pada penglihatan Daniel itu sudah terjadi dalam seluruh rentang sejarah dunia (kala itu). Mengenai masa depan dan datangnya Mesias, itu yang masih menjadi problem bagi Yahudi dan juga Kristen. Apakah wahyu Daniel itu mengarah kepada ‘Kedatangan Tuhan yang kedua’, dalam arti pasca kebangkitan Yesus? Apakah Daniel sebagai orang Yahudi mengalamatkan Mesias itu kepada Yesus? Dan apakah Yesus yang adalah orang Yahudi itu menjadi bagian dari lobi Yahudi dan Amerika Serikat?

Bangsa dalam penglihatan keempat itu adalah Eropa yang berpusat di Roma (Italia), dan kemunculannya sekaligus mengakhiri episode penjajahan oleh tiga bangsa terdahulu. Bagaimana dengan tanduk yang kemudian muncul? Dalam perspektif Yahudi, hal itu bisa saja menunjuk pada kemunculan Israel sebagai suatu bangsa, melalui Proklamasinya pada 14 Mei 1948. Mengapa? Sebab Wahyu Daniel muncul pada saat Kerajaan Israel Raya sudah terpecah dua (Utara dan Selatan), dan malah kedua kerajaan bersaudara itu terus bertikai dan kemudian hancur dan dikuasai Babel, Medio-Persia, Yunani, Roma, dan bangsa-bangsa lain seperti Mesir, dll. Jadi harapan akan pembangunan dan reunifikasi Israel Bersatu menjadi suatu harapan eskhatologis yang kuat pada waktu itu. Ini yang juga mendorong munculnya harapan Mesianik Yahudi dalam arti politis yang akan membebaskan mereka dari penjajahan. Karena itu, jika pada tahun 1948 Israel merdeka menjadi suatu bangsa yang berdaulat (kembali), dapat saja hal itu merupakan suatu penggenapan nubuat Daniel.

Tetapi mengapa Amerika? Pertanyaannya muncul kembali. Aheon agaknya mendasarkan kesimpulannya itu pada adanya semacam kolaborasi Yahudi dan Amerika dalam banyak hal. Aheon menyebut ada dua kategori orang Yahudi.

Yang pertama adalah orang Yahudi yang sejati. Mereka adalah umat yang menyembah Allah dengan segala ketulusan hati, tetapi tergolong fanatik. …Mereka benar-benar mendambakan dan merindukan kedatangan Mesias, atau sang Juruselamat. Sedangkan ‘orang Yahudi’ kelompok kedua adalah utusan Iblis. Mereka adalah orang-orangnya Iblis/setan yang ingin menguasai dunia ini, baik di bidang ekonomi dan keuangan, maupun bidang yang lain, seperti agama, adat dan budaya. Tapi terutama juga di bidang politik, persenjataan dan birokrasi. ‘Yahudi’ yang secara supranatural adalah orangnya Iblis, tampilan luarnya tidak ada bedanya dengan orang Yahudi yang tulus menyembah Allah. Orang Yahudi ini disusupkan iblis masuk ke dalam, menjadi ‘bagian’ dari orang Yahudi yang ‘murni’. …Mereka harus punya kendaraan, yaitu kekuatan politik, senjata, ekonomi dan keuangan…Puncak target orang ‘Yahudi’ adalah membuat orang mereka bisa menjadi presiden bagi bangsa yang terkuat di Akhir Zaman ini. Sebab dengan menjadi Presiden Amerika Serikat dan dengan bergandengan tangan dengan Uni Eropa, cita-cita utama mereka bisa terwujud (h.64-65).

Aheon semakin yakin bahwa Amerika merupakan utusan Iblis, karena menurutnya bangsa ini turut menciptakan berbagai produk yang bertujuan untuk menguasai aspek ekonomi, keuangan, persenjataan, birokrasi, dll. Produk-produk seperti Cash Box (Peti Besi khusus), ATM, Kartu Kredit, Cek, Giro, microchip, hand scan machine, dll, menurut Aheon adalah produk yang lahir dalam rencana Iblis dan dengan begitu Amerika akan menguasai dunia dalam segala aspek. Menurut Aheon, itu merupakan inti dari nubuat Daniel, bahwa bangsa itu akan tumbuh, mula-mula kecil, kemudian menjadi semakin besar dan berpengaruh, lalu mematahkan bangsa-bangsa (tanduk) yang lain.

4. Mengapa Obama?

Aheon agaknya memasukkan penglihatan Jean Dixon pada 5 Februari 1962. Jean Dixon juga meramalkan bahwa Presiden AS, J.F. Kennedy akan mati tertembak. Bahkan penglihatan Dixon itu ditafsir bahwa pada tahun 1962 atau dalam masa menjelangnya telah lahir sang utusan Iblis. Kebetulan sekali Obama lahir pada 4 Agustus 1961. Ini menjadi semacam petunjuk paling awal bahwa Obama-lah utusan iblis yang dimaksud.

[secara ringkas, penglihatan Dixon] …akan tetapi mataku tertarik pada Nefertiti dan bayi yang dengan lembut dibuai olehnya pada lengannya yang sebelah. Bayi yang baru lahir itu terbungkus dalam kain-kain bedung yang kasar dan kotor. Bayi tersebut sangat berbeda dengan pasangan kerajaan yang berdandan dengan indah/bagus sekali itu. …kemudian aku baru menyadari akan adanya sekumpulan besar orang yang muncul di antara aku dan bayi tersebut. Tampaknya seakan-akan seluruh isi dunia ini memperhatikan pasangan kerajaan itu memberikan sang bayi. … mataku sekali lagi terpusat pada si bayi. Sekarang ia sudah tumbuh dewasa, dan sebuah salib kecil yang telah terbentuk di atas kepalanya menjadi semakin besar dan meluas sehingga salib tersebut menutupi bumi ke segala jurusan. …orang-orang yang menderita dalam segala bangsa sujud berlutut menyembah, dengan mengangkat tangan dan mempersembahkan hati mereka kepada orang tersebut. ..tetapi saluran yang keluar darinya bukanlah saluran yang keluar dari Trinitas Suci….Ia akan membentuk dan lahirkan satu Agama Baru, berdasarkan ‘kekuasaannya yang hebat’, tetapi dengan membawa manusia ke arah/tujuan yang jauh menyimpang dari ajaran kehidupan Sang Anak. …Apakah arti semua penglihatan ini? (h.17-19)

Ada beberapa sinyal lain yang ditunjuk Aheon: pertama, landasan iman Obama kurang terlalu kuat. Dia dinilai sebagai penganut paham universalisme. Ceritanya ibunya sejak kecil mengajak dia ke beberapa pusat agama: gereja, vihara, dan membaca semua kitab suci (bibel, Al-Qur’an, Bhagavad Gita, Filsafat Yunani, dll) merayakan natal, paskah, imlek, dan lainnya. Kedua, ia memiliki garis keturunan yang unik. Ayahnya keturunan Ham (Kenya, Afrika), ibunya Indian Cherokee. Ketiga, latar belakang Atheis dan universalisme (h.114,115).

Karena itu, dengan latar belakang nubuat Daniel, dan beberapa referensi lain dari Perjanjian Baru, Aheon berkesimpulan bahwa di kemudian hari, Obama akan lari dari komitmen dan janjinya dalam kampanye, dan itu yang dimaksudkannya dengan “Israel akan dikhianati”. Ini juga yang Aheon maksudkan dengan ‘rencana utusan iblis’.

Saat Obama menjadi Presiden, Amerika dan dunia mengalami krisis keuangan global. Aheon mengatakan, dalam situasi itu, Obama akan mengambil kebijakan strategis dan berhasil mengatasi situasi dimaksud. Tetapi baginya, itu adalah bagian dari rekayasa Iblis untuk menaikkan rating utusannya itu. (h.134). Lagi-lagi ini dilihat sebagai bagian dari campur tangan iblis di Ujung Akhir Zaman.

Kolaborasi dengan ‘Yahudi’ akan membuat Israel bersedia menandatangani Perjanjian Damai. Aheon menyebut bahwa hal itu membuat orang Yahudi meyakini bahwa tokoh yang satu ini adalah Mesias yang selama ini mereka tunggu-tunggu (h.141), sebab Obama diyakini akan mendukung mereka membangun Bait Allah yang ketiga. Tetapi apakah hal itu akan terwujud? Tidak! Sebab akhirnya Israel dikhianati, dan mereka akan menjadi bangsa yang lemah, lalu Amerika muncul sebagai satu-satunya pengatur di dunia ini. Itu adalah target besar Iblis, menurut Aheon.

5. Benarkah Tahun 2012?
Aheon berkata: ‘mengenai hari dan jamnya, tidak seorang pun tahu’ (Mark.13:30a). Artinya, ketepatan jamnya tidak bisa diprediksi, tetapi waktunya tepat – yaitu 2012.

Mari kita melihat sedikit perihal waktu ini. Penanggalan tahun 2012 (tepatnya 21 Desember) ditetapkan mengikuti prakiraan kalender bangsa Maya Kuno. Sebelum kita ke situ, beberapa cara menghitung waktu yang dipakai Aheon juga menarik disimak.

Israel ditaklukkan Babel pada 596 SM. Kemudian Yerusalem ditaklukkan pasukan Jenderal Titus pada 69 M, dan Bait Allah hancur 70M. Artinya Israel dijajah dan dibawa ke dalam pembuangan. Israel baru merdeka sebagai bangsa pada 1948. Artinya, mereka mengalami penjajahan selama 2500 tahun, atau hidup dalam perserakan selama 1878 tahun di hampir 100 negara.

Kemunculannya di 1948, dinilai sebagai penggenapan nubuat dalam Lukas 21:29-31, tentang tunas pohon ara. Nah, acuan tahun 1948 ini yang menjadi pijakan menghitung Akhir Zaman. Ada beberapa cara penghitungan. Pertama, mengacu pada siklus 40 tahun. Angka ini merupakan angka yang dominan dalam sejarah Israel. 40 tahun dalam pembuangan di Mesir, 40 tahun dalam pengembaraan di padang gurun. 1948+40=1988. Tetapi tidak terjadi akhir zaman. Menurut Aheon ‘bukan itu’ maksud Allah (h.83).

Siklus 50 tahunan. Satu angkatan adalah 50 tahun. Tiap 50 tahun dirayakan sebagai tahun Yobel, tahun pembebasan. Jadi 1948+50=1998. Juga tidak terjadi. Tafsirnya salah. Kemudian siklus 70 tahunan, atau 80 tahunan (bnd. Mzm.90:10 – mengenai masa hidup maksimal seorang manusia). Jadi 1948+70=2018, atau 1948+80=2028. Rumusnya tidak sampai di situ saja, Aheon mengkaitkannya dengan Rapture atau pengangkatan jemaat yakni 7 tahun (atau 3 ½ tahun); jadi 2018-7=2011, atau 2018-4=2014.

Nah, ini sejalan dengan siklus kalender Maya Kuno, yang meletakkan siklus galaktika itu dalam rentang tahun 1980 - 2016. Jadi zona 2012 itu berada dalam rentang waktu itu. Dalam sebuah buku yang lain, The Mistery of 2012, pada salah satu tulisan John Major Jenkins disebut:
Konfigurasi zaman 2012 ini disebabkan oleh gejala yang dikenal sebagai perubahan perlahan tetapi terus-menerus yang disebabkan oleh gravitasi dalam sumbu rotasionalnya atau jalur orbitalnya. Bisa juga diartikan sebagai perubahan bertahap dalam orientasi sumbu rotasi bumi. Bumi bergerak sangat perlahan pada sumbunya dan mengubah orientasi kita pada gugusan bintang yang lebih luas, termasuk Galaksi Bimasakti. Etek yang paling terperhatikan dalam gejala ini bahwa posisi matahari pada titik equinox (ketika matahari ada pada salah satu dari dua titik berlawanan pada ruang angkasa di mana ekuator ruang angkasa dan jalur matahari bersilangan. …gejala ini memengaruhi titik balik matahari, sehingga posisi titik balik matahari Desember bergeser perlahan, tampak bertemu dengan pusat Galaksi Bimasakti sepanjang ribuan tahun. (h.62,63)

Namun kesimpulan Jenkins cukup menarik, yaitu bahwa 2012 itu tidak mesti dimengerti sebagai akhir zaman dalam arti ‘berakhirnya kehidupan di dunia’. Ia menyebut pada 2012 itu “alam lebih tinggi kita tidak merusak alam yang lebih rendah tetapi memeluknya. Begitu juga waktu dinormalkan kembali dalam hubungannya dengan keabadian ketika kesadaran manusia memperoleh kembali perspektif yang abadi, tak terikat waktu. Dunia yang terlihat seperti yang terwujud dinormalkan kembali kepada kemungkinan tak terbatas ketika kesadaran manusia mewujudkan kembali hubungannya dengan ketakterbatasan” (h.65).

Kesimpulan Jenkins itu sejalan dengan Carl Johan Calleman, kontributor lain dalam buku yang sama, bahwa “tahun 2012 mungkin juga merupakan sebuah periode yang di dalamnya banyak manusia akan mendapatkan cara beradaptasi dengan rangka kesadaran kosmis yang baru. Bila tidak ada yang lain, kita harus beradaptasi pada kenyataan bahwa setiap orang di sekitar kita kini tercerahkan dan memiliki keyakinan penuh bahwa milenium perdamaian, Era Solar Emas, akhirnya bermula di bumi. Hal ini tidak berarti bahwa ‘siklus baru’ akan mulai. Ini adalah akhir dari siklus (h.119).

Jadi kesimpulan kita, dalam kepemimpinan Obama, Amerika akan berusaha menguasai semua sektor kehidupan manusia yang vital. Kolaborasi dengan Yahudi justru dimanfaatkan untuk memperkuat basis-basis pengaruh Amerika Serikat, dan juga kepentingan Yahudi. Apakah itu proyek Iblis? Kita tidak punya cukup alasan untuk mengatakan hal itu, sebab toh di negara kita Indonesia, yang akan memasuki usia merdeka 64 tahun, korupsi masih terjadi, kekerasan terus meningkat, angka bunuh diri juga begitu, pengrusakan hutan, laut, minyak illegal, dll. Apakah Obama juga adalah utusan Iblis? Jangan-jangan ada yang membenarkannya karena saat diambil sumpah, terjadi kesalahan, kemudian dalam pengambilan sumpah ulang, dia tidak bersumpah sambil meletakkan tangan di atas Alkitab.

Dan apakah tahun 2012 adalah kiamat? Apakah hari kiamat itu? Mungkin ini pertanyaan penting yang harus didiskusikan lagi (di lain waktu).
Tulisan ini disusun sebagai bahan Diskusi atas permintaan Wadah Pelayanan Laki-laki Jemaat GPM Rumahtiga Sektor Kota. Disampaikan dalam Ibadah Koinonia dengan Wadah Pelayanan Perempuan Jemaat Rumahtiga Sektor Kota dan Unit 1,2 Sektor Kota, pada 8 Juli 2009 di rumah Kel. G. Manusama - Jl. Karpan

Wednesday, September 23, 2009

Tahap Perkembangan Kepercayaan

Sari Pemikiran James W. Fowler dalam “Teori Perkembangan Kepercayaan: Karya-karya Penting James W. Fowler”, Editor. A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius, 1995

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Satu Manusia sebagai Pemberi Makna

James W. Fowler mengembangkan suatu teori yang disebutnya “Faith Development Theory”. Teorinya ini lebih menjurus pada psikologi agama. Namun pendekatannya ini membantu kita dalam memahami tahapan perkembangan percaya seorang manusia dan satu komunitas. Atau membantu dalam memahami alasan-alasan mengapa dan bagaimana seorang menjadi percaya atau beragama.

Beragama bagi Fowler adalah bagian dari proses mencari makna, sebab itu menurutnya manusia adalah meaning maker (pemberi arti). Manusia adalah subyek yang bermakna dan memberi/menciptakan makna pada sesuatu atau pada iman (faith), dan kepercayaan (belief)/agama. Proses memberi makna itu yang memperlihatkan bahwa manusialah yang menyusun suatu penjelasan terhadap berbagai pengertian yang semula tidak tersusun secara rapi. Fenomena-fenomena percaya awal adalah suatu susunan pemikiran dan pengertian yang ‘talamburang’ (tidak teratur, ajeg). Manusialah yang menyusunnya. Dalam proses penyusunan itu manusia juga yang mencari sesuatu material/simbol (sign) yang sinonim atau bisa merepresentasi hal yang dipercayainya itu. Karena itu menjadi percaya, atau iman adalah juga suatu proses semantik yang dibuat oleh manusia.

Rupanya Fowler tidak mau terlalu dipusingkan dengan hal-hal semantik itu seperti halnya para antropolog agama seperti E.B. Tylor (di masa Klasik) atau Ruth Benedict dan Fiona Bowie (di masa modern).

Sederhananya bagi Fowler ialah bahwa faith dimengertinya sebagai sesuatu yang luas dari sekedar ‘kepercayaan’ (belief), walau keduanya sinonim dengan ‘tindak pengartian’ (upaya memberi arti/menjelaskan). Sebab kepercayaan menyangkut mental untuk menciptakan, memelihara dan mentransformasi arti. Hasilnya adalah apa yang disebutnya sebagai ‘kepercayaan eksistensial’.

Kepercayaan eksistensial itu sendiri menurutnya merupakan suatu kegiatan relasional, artinya ‘berada-dalam-relasi-dengan-sesuatu’. Maka kepercayaan eksistensial diawali oleh ‘rasa percaya’ (yun. Pisteuo = saya percaya dalam arti bahwa saya menyerahkan diri seluruhnya dan mengandalkan engkau).

Hal itu berarti:
Pertama, kepercayaan sebagai cara seorang pribadi (atau kelompok) melihat hubungannya dengan orang lain, dengan siapa ia merasa diri bersatu berdasarkan latar belakang sejumlah tujuan dan pengartian yang dimiliki bersama.

Ini menjurus pada adanya suatu ajaran yang membentuk ranah kognisi dalam hal menjadi percaya. Tetapi juga suatu sistem praktek yang membentuk ranah afeksi dan motorik.
Kedua, kepercayaan sebagai cara tertentu, dengan mana pribadi menafsirkan dan menjelaskan seluruh peristiwa dan pengalaman yang berlangsung dalam segala lapangan daya kehidupannya yang majemuk dan kompleks.

Aktifitas menafsir (interpretation) dan menjelaskan (clarification, verstehen) di sini mengamanatkan bahwa kepercayaan adalah bagian dari suatu hermeneutika kehidupan, yang terkait bukan dengan dokumen-dokumen kudus yang turut menyusun dogma agama melainkan dokumen-dokumen kehidupan yang selalu dijumpai manusia dalam pengalaman nyata di masyarakat/dunianya.

Ketiga, kepercayaan sebagai cara pribadi melihat seluruh nilai dan kekuatan yang merupakan realitas paling akhir dan pasti bagi diri dan sesamanya. Di sini ditentukan mana ‘gambaran penuntun’ mengenai yang ultim yang akhirnya dapat menggerakkan dan menjadi acuan hidup kita.

Pada sisi ini muncul seperangkat etika dalam agama, serta ajaran mengenai Tuhan sebagai yang ultim.

Dua Fides quae creditur, Fides qua creditur

Untuk merinci isi dari kepercayaan itu, Fowler membedakan antara fides quae creditur, yaitu substansi dan isi kognisi dari hal yang dipercayai, dan fides qua creditur yakni cara kita percaya akan hal tersebut.
Dengan demikian kepercayaan selalu ada dalam dialektika antara ajaran untuk menjadi percaya dan cara/praktek menjadi percaya. Apa yang disebut percaya tidak sekedar menerima secara taken for granted tetapi belajar secara kritis melalui praksis. Sebab apa yang menjadi isi kognisi (ajaran) sesungguhnya adalah kumulasi dari apa yang dialami dalam hidup sehari-hari.
Beberapa teolog lain seperti John B. Cobb, jr, menunjukkan bahwa hal menjadi percaya baru datang pada saat manusia melakoni aktitifitas sehari-hari (dailiy activity). Maka kepercayaan juga ditentukan oleh aktifitas dan peran sosial/tanggungjawab.

Tiga Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan

Tahap 0: Kepercayaan Elementer Awal
(Primal Faith)

Tahap ini timbul sebagai Tahap 0 (nol) atau Pratahap (pre-stage, yaitu masa orok, bayi, 0 sampai 2 atau 3 tahun). Kepercayaan ini disebut juga pratahap “kepercayaan yang belum terdiferensiasi (undifferentiated faith), karena: (a) ciri disposisi praverbal si bayi terhadap lingkungannya yang belum dirasakan dan disadari sebagai hal yang terpisah dan berbeda dari dirinya, dan (b) daya-daya seperti kepercayaan dasar, keberanian, harapan dan cinta (serta daya-daya lawannya) belum dibedakan lewat proses pertumbuhan, melainkan masih saling tercampur satu ama lain dalam suatu keadaan kesatuan yang samar-samar. Rasa percaya elementer ini bersifat pralinguistis (sebelum tumbuh kemampuan membahasa), praverbal, dan prakonseptual.


Tahap 1: Kepercayaan Intuitif-Proyektif
(Intuitive-Projective Faith)

Pola eksistensial yang intuitif-proyektif menandai tahap perkembangan pertama (umur 3-7 tahun) karena daya imajinasi dan dunia gambaran sangat berkembang. Apa yang dialami di Tahap 0 (nol) menjadi hal yang sangat berarti dalam Tahap 1. Dunia pengalaman sudah mulai disusun melalui seperangkat pengalaman inderawi dan kesan-kesan emosional yang kuar. Namun kesan-kesan itu diangkat ke dalam alam imajinasi. Walau demikian pada tahap ini anak sudah mulai peka terhadap dunia misteri dan Yang Ilagi serta tanda-tanda nyata kekuasaan.

Tahap 2: Kepercayaan Mitis-Harfiah
(Mithic-Literal Faith)

Bentuk kepercayaan ini muncul sebagai tahap kedua (umur 7-12 tahun). Di sini mulai bertumbuh operasi-operasi logis terhadap pengalaman imajinatif di Tahap 1. Operasi-operasi logis itu mulai bersifat konkret, dan mengarah pada adanya kategori sebab-akibat. Di sini anak berusaha melepaskan diri dari skiap egosentrismenya, mulai membedakan antara perspektifnya sendiri dan perspektif orang lain, serta memperluas pandangannya dengan mengambil alih pandangan (perspektif) orang lain. Kemampuan untuk menguji dan memeriksa perspektifnya sudah mulai tersusun baik, walau pada tingkat moral anak belum bisa menyusun dunia batin seperti perasaan, sikap dan proses penuntun batiniah yang dimilikinya sendiri.

Tahap 3: Kepercayaan Sintetis-Konvensional
(Synthetic-Conventional Faith)
Tahap ini muncul pada masa adolesen (umur 12-20 tahun). Di sini muncul kemampuan kognitif baru, yaitu operasi-operasi formal, maka remaja mulai mengambil alih pandangan pribadi rang lain menurut pola pengambilan perspektif antar-pribadi secara timbal balik. Di sini sudah ada kemampuan menyusun gambaran percaya pada person tertentu, termasuk person yang Ilahi.

Tahap 4: Kepercayaan Individuatif-Reflektif
(Individuative-Reflective Faith)
Tahap ini muncul pada umur 20 tahun ke atas (awal masa dewasa). Pola ini ditandai oleh lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan, dan nilai (religius) lama. Pribadi sudah mampu melihat diri sendiri dan orang lain sebagai bagian dari suatu sistem kemasyarakatan, tetapi juga yakin bahwa dia sendirilah yang memikul tanggungjawab atas penentuan pilihan ideologis dan gaya hidup yang membuka jalan baginya untuk mengikatkan diri dengan cara menunjukkan kesetiaan pada seluruh hubungan dan pangilan tugas. Disebut ‘individuatif’ karena baru saat inilah manusia tidak semata-mata bergantung pada orang lain, tetapi dengan kesanggupannya sendiri mampu mengadakan dialog antara berbaagai ‘diri; sebagaimana dilihat dan dipantulkan orang-orang dengan ‘diri sejati’ yang hanya dikenal oleh pribadi yang bersangkutan itu sendiri. Manusia mengalami dirinya sebagai yang khas, unik, aktif, kritis, kreatif penuh daya.

Tahap 5: Kepercayaan Eksistensial Konjungtif
(Conjunctive Faith)

Kepercayaan eksistensial konjungtif timbul pada masa usia pertengahan (sekitar umur 35 tahun ke atas). Tahap ini ditandai oleh suatu keterbukaan dan perhatian baru terhadap adanya polaritas, ketegangan, paradoks, dan ambiguitas dalam kodrat kebenaran diri dan hidupnya. Kebenaran hanya akan dicapai melalui dialektika, karena sadar bahwa manusia memerlukan suatu tafsiran yang majemuk.
Di sini beragama dan kepercayaan juga dibayang-bayangi oleh simbol, metafora, cerita, mitos, dll yang memerlukan penafsiran kembali.

Tahap 6: Kepercayaan Eksistensial yang Mengacu pada Universalitas
(Universalizing Faith)
Kepercayaan ini berkembang pada umur 45 tahun ke atas. Pribadi melampaui tingkatan paradoks dan polaritas, karena gaya hidupnya langsung berakat pada kesatuan dengan Yang Ultim, yaitu pusat nilai, kekuasaan dan keterlibatan yang terdalam. Pribadi sudah berhasil melepaskan diri (kenosis) dari egonya dan dari pandangan bahwa ego adalah pusat, titik acuan, dan tolok ukur kehidupan yang mutlak. Perjuangan akan kebenaran, keadilan, dan kesatuan sejati berdasarkan semangat cinta universal ini secara antisipatif menjelmakan daya dan dinamika Kerajaan Allah sebagai persekutuan cinta dan kesetiakawanan antara segala sesuatu yang ada.

Sunday, September 20, 2009

Panas Gandong Amalopu 1980

Panas Gandong merupakan ‘ritus adat’ antara dua negeri gandong, Rumahkay (Amakele Lorimalahitu) dan Rutong (Loupurisa Uritalai) yang diselenggarakan tiap 5 tahun sekali, sesuai dengan pengelompokkan Pata (Kelompok) Lima, sebagai persekutuan (liga) adat kedua negeri.

Dalam tradisinya, kedua negeri ini mengakui sekandung (kakak-adik), karena itu sapaan yang biasa dikenakan kepada tiap anggota masyarakat adalah “gandong kaka” dan “gandong ade”. Jadi tiap orang Rutong menyapa saudara gandongnya, harus diawali dengan sebutan “gandong kaka…” baru menyebut namanya, sebaliknya juga demikian.

Ritus Panas Gandong tahun 1980, adalah yang terakhir dalam kurun waktu 1980-an sampai kini. Beberapa kali harus dilaksanakan, namun terkendala oleh beberapa hal prinsip. Pada tahun 1995, kendalanya adalah Pemerintahan Negeri di kedua Negeri yang belum terbentuk; dan selanjutnya oleh alasan situasi keamanan Maluku yang belum kondusif.


Sebagai generasi muda Amalopu, kita mendambakan agar tali ikatan gandong ini tetap terpelihara. Sekarang semua masyarakat sudah mulai bangun dari dasar kearifan lokalnya. Amalopu harus lebih berakar lagi.


Gambar ini adalah gambar anak-anak SD Negeri Rutong yang sedang menanti kedatangan gandong kaka di jalan depan sekolah, sambil mendendangkan lagu Penyambutan berjudul “Hidop Gandong” Melodi & Syair diciptakan oleh Frans Pesulima:

Syairnya:

Dengan gembira kami sambut gandong eee
Ya lima tahun kita telah bercerai
sekarang kita kembali baku dapa
sio sungguh manis pri hidup gandong eee

Reef.


Gandong eeee (gandong eee)….gandong eeee
Mengarung laut sengsara badan eee
Si gandong (sio gandong)
Potong di kuku rasa di daging eee
Hidop ade kaka

Monday, August 17, 2009

INDONESIA ‘KU MARAH INDONESIA ‘KU MERAH


(Eltom, 17/8-2009)

Yang ‘ku bangun,
Indonesia yang ber-SATU
Bukan ber-SATU lalu ada yang terlepas
Bukan ber-SATU lalu ada yang mengatur hukumnya sendiri

Kalau itu Indonesiamu ‘ku MARAH

Yang ‘ku bangun,
Indonesia yang ber-keADILan
Bukan hukum yang pandang muka
Bukan mega proyek yang menindas

Kalau itu Indonesiamu ‘ku MARAH

Yang ‘ku bangun,
Indonesia yang berperikeMANUSIAan
Bukan manusia tak berhati
Bukan pendendam dan pengacau

Kalau itu Indonesiamu ‘ku MARAH

Indonesiaku harus ber-SATU
SATU
Ya karena SATU Bangsa, SATU Tanah Air, SATU Bahasa
SATU jua TUHAN

Kalau itu Indonesiamu ‘ku MERAH

Indonesiaku hari ber-keADILan
Miskin, Buta, Tertindas, Sakit, Sehat, Gizi Buruk, Pengungsi, Anak Kecil, Perempuan, TKI, TKW, Buruh, semua punya hak yang sama
Tidak pandang muka, tidak pandang dasi, tidak takut jas, tidak kejar kursi dan bintang

Kalau itu Indonesiamu ‘ku MERAH

Indonesiaku harua berperikeMANUSIAan

Kalau itu Indonesiamu ‘ku MERAH

Beta Anak Merdeka


(eltom, 11/08-09)

Indonesia ini punya kita
Anugerah Dia yang kita sebut: Tuhan
Demokrasi ini untuk kita
Sebab keadilan untuk semua
Damai hak semua orang
Kebenaran untuk semua
Semua setara
Yang beda biar tetap beda
Jangan dibedakan
Yang sama tidak sama persis
Biarkan tetap bertumbuh

Indonesia ini punya kita
Anugerah Dia: Yang Maha Esa
Pembangunan adalah untuk semua
Sebab kemakmuran hak semua
Bukan di Barat
Bukan di Tengah
Bukan di Timur
Tapi satu persada satu nusantara

Indonesia ini punya kami
yang masih belia
yang beranjak remaja
punya kami yang cinta damai
agar jangan lagi bertengkar
punya kami yang cinta keadilan
agar jangan lagi main curang

Indonesia
Masa depanmu di tangan kami
Masa depan kami untuk Indonesia
Untuk Merdeka

Monday, August 3, 2009

MENGAPA ‘SIA-SIA’?

Bahan Bacaan: Pengkhotbah 4:17-5:6
oleh. Elifas Tomix Maspaitella


Sudah tentu semua orang membaca teks Pengkhotbah dan menyimpulkan bahwa ‘segala sesuatu adalah sia-sia’, atau ‘ibarat menjaring angin’, atau ibarat ‘hidup di bawah bayang-bayang maut’. Artinya yang ada hanyalah kekelaman atau kelam-kabut, kekosongan, dan kegelapan. Ringkasnya, seperti halnya ungkapan pengkhotbah: SIA-SIA.

Akibatnya, kita mendapat gambaran bahwa kitab Pengkhotbah diwarnai oleh suasana pesmistis. Sepertinya tidak perlu lagi melakukan apa pun di hidup ini, karena toh sia-sia saja. Atau tidak perlu mencita-citakan sesuatu yang lebih tinggi, karena toh semuanya sia-sia.

Kesan umum itu tidak bisa disalahkan, apalagi jika disertai dengan cara membaca teks Pengkhotbah secara harfiah atau leter-leg.

Padahal jika dibaca secara hati-hati, dan terutama pada pasal 4:11-5:6, kita akan mendapati alasan mengapa penulis kitab ini menegaskan secara berulang ‘kesia-siaan’ itu.

Sebagai bagian dari Sastra Hikmat, teks Pengkhotbah, seperti halnya juga Amsal, Ayub, Ruth, Kidung Agung, dan juga Mazmur menekankan mengenai hal TAKUT TUHAN sebagai kunci dari semua pengetahuan dan perilaku hikmat (bnd. Amsal 1:7).

Memang, tema TAKUT TUHAN merupakan tema pokok dalam teologi Perjanjian Lama. Kalangan guru-guru hikmat menggunakan tema ini sebagai ajaran pokok atau kunci dari semua didikan hikmat kepada umat.

Bagaimana akan halnya dalam Pengkhotbah? Ada tiga bentuk perwujudan TAKUT TUHAN yang mau ditekankan Pengkhotbah, atau tulisan-tulisan Hikmat lainnya, yaitu:

Pertama, Mencintai Hukum. Taurat selalu menjadi pangkalan seluruh perilaku dan tata kehidupan umat. Lazimnya sebagai hukum, Taurat itu berfungsi menertibkan hidup manusia, baik dalam relasi dengan Tuhan maupun relasi dengan sesama; termasuk yang tersangkut dengan hal-hal moral, susila dan kesopanan.

Idealnya dalam teologi Perjanjian Lama, mencintai Taurat berarti menjalankan tuntutan Taurat sebagaimana tertulis, tanpa mengurangi atau menafsir menurut kepentingan tiap pribadi dan kelompok. Suatu perilaku hukum yang tegak lurus, dalam arti karena tertulis demikian, perlakuannya pun harus sesuai dengan yang tertulis.

Mengapa TAKUT TUHAN? Karena Taurat diyakini bersumber dari TUHAN, dan dialamatkan kepada semua manusia. Dalam rangka itu, mencintai hukum di sini berarti patuh atau taat kepada perintah Tuhan, karena dimensi penting dari Taurat bukanlah rumusan hukum secara material, tetapi PERINTAH TUHAN. Jadi terhadap Taurat biasanya terjadi ketaatan legalistik.
Hal ini menurut Pengkhotbah digambarkan dengan istilah: ‘jagalah langkahmu, kelau engkau ke rumah Allah!’ (4:17). Tindakan itu sama dengan menjaga agar hidup bersesuaian dengan Perintah Tuhan.

Kedua, Mencintai Keadilan. Keadilan merupakan unsur di dalam praktek Taurat. Karena itu Taurat pun mengatur bagaimana perlindungan hak-hak orang lain, sampai pada bagaimana pembagian upah yang wajar, atau pembebasan budak dan hutang.

Dimensi ini menjadi penting karena dalam masyarakat yang semakin kompleks, kaum menengah dan kelas atas atau elite dalam masyarakat dan agama-agama diharapkan menjadi pelaksana berbagai tuntutan keadilan secara merata. Rata-rata pada dua kelas sosial ini adalah imam, pemerintah, wakil pemerintahan, tuan tanah, orang kaya, dll.

Mereka diharapkan bisa menjadi pihak yang memberi jaminan keadilan kepada orang-orang miskin, yatim-piatu, janda, orang asing dalam masyarakat. Tetapi ternyata mereka berfungsi sebaliknya. Tidak ada praktek keadilan dalam perlakuan mereka sehari-hari. Mereka cenderung mengejar keuntungan dan kehormatan diri sendiri dan kelompok, yang karena itu bisa saja mengorbankan orang miskin atau kelas bawah dalam masyarakat.

Beberapa contoh bisa diungkapkan, seperti praktek suap di pengadilan yang jelas-jelas berdampak pada perampasan tanah orang-orang miskin, hutang dengan bunga pinjaman yang tinggi, ditahannya upah pekerja harian sehingga mereka terpaksa berhutang dan pada gilirannya menjadi budak juga, dll.

Ringkasnya tidak ada keadilan dalam seluruh dimensi hidup masyarakat. Ini adalah gambaran dari tidak adanya rasa TAKUT TUHAN.

Pada Pengkhotbah 5:1, perilaku seperti itu dilukiskan dalam kalimat-kalimat: ‘janganlah terburu-buru dengan mulutmu, janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, ….biarlah perkataanmu sedikit”.

Atau dalam ay.2, perihal mimpi yang disebabkan oleh banyak kesibukan, dan percakapan bodoh yang disebabkan oleh banyak perkataan. Yang berarti terlalu banyak janji yang muluk-muluk dan rencana yang tidak jelas wujud pelaksanaannya. Apa yang kini lazim disebut wacana atau lip service.

Atau tuntutan untuk membayar nazar kepada Tuhan dalam ay.3 dan 4, yang bermuara pada kejujuran dan kesungguhan dalam bernazar. Artinya tidak boleh berbohong termasuk kepada Tuhan. Demikianlah seterusnya sampai dengan ayat 6. Suatu lukisan mengenai pentingnya perhitungan yang matang dan perencanaan yang tepat, daripada janji-janji yang tidak bisa ditepati karena disertai kebohongan dan kemunafikan.

Hal-hal itu telah mengaburkan arti keadilan dalam hidup dengan sesama dan dengan Tuhan. Ini yang menjadi alasan mengapa Pengkhotbah mengatakan segala sesuatu sia-sia saja. Yaitu sebab ia tidak mendapati lagi orang-orang yang konsisten dengan sikap dan perilakunya. Untuk itu, ibarat kata menjaring angin, semuanya sia-sia.

Ketiga, Mencintai Didikan. Dalam mewujudkan hal TAKUT TUHAN, umat dituntut untuk mencintai didikan. Didikan ini berasal dari kalangan guru hikmat, atau orang-orang yang dikuduskan Tuhan. Mereka mengajar dengan hikmat yang bersumber dari Tuhan, dan ajaran mereka juga bersumber dari Tuhan. Karena itu ajaran hikmat adalah Firman Tuhan.

Hal mencintai didikan bertujuan agar umat menjadi taat dan setia pada apa yang difirmankan atau dikehendaki Tuhan untuk diwujudkan dalam hidupnya.

Dalam kisah-kisah PL, ajaran hikmat selalu membawa kita untuk mempertimbangkan apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita hindari. Karena itu, lukisan tentang perilaku orang baik, atau orang berhikmat, atau orang pandai, atau orang percaya yang mendatangkan berkat Tuhan kepadanya menjadi dimensi pertama dari ajaran hikmat. Sejalan dengan itu, lukisan mengenai perilaku orang fasik, orang bodoh, atau orang jahat yang mendatangkan kecelakaan, kebinasaan atau kutukan, menjadi dimensi kedua dari ajaran hikmat itu pula.

Dari kedua bentuk lukisan itu, apa yang mesti dilakukan seorang manusia? Di sini kita harus memilih dan menentukan sikap kita sendiri.

Nah, pada ketiga aspek tadi, Pengkhotbah bermaksud memperlihatkan bahwa segala sesuatu sia-sia karena orang tidak lagi konsisten dengan apa yang harus dilakukannya, sebagai bentuk TAKUT TUHAN.

Karena itu, teks Pengkhotbah perlu dibaca dalam semangat pemulihan perilaku dan konsistensi sikap hidup. Pada pasal 7:8, disebutkan: “akhir suatu hal lebih baik daripada awalnya”.

Maksudnya, bukan titik berangkat yang perlu, tetapi proses menuju hasil akhir yang penting.
Di dalam proses itu memerlukan konsistensi sikap dan perilaku sebagai tanda TAKUT TUHAN. Jika kondisi itu terwujud secara baik, tidak ada yang sia-sia di bawah kolong langit.

Karena itu, teks Pengkhotbah ini mengajarkan kita bukan sekedar mengenai untuk apa kita ada, tujuan kita hidup. Ini bukan sekedar tentang cara beradanya seseorang, sekelompok orang, atau suatu bangsa, suatu agama, melainkan tujuan dari adanya seseorang, tujuan adanya suatu masyarakat, tujuan adanya suatu negeri, tujuan adanya suatu agama, dan tujuan adanya suatu bangsa.

Tujuannya itu yang perlu kita wujudkan melalui tiga sikap TAKUT TUHAN tadi. Amin




Disampaikan sebagai Pelengkap Materi Diskusi dalam Ibadah Wadah Pelayanan Laki-laki Sektor Kalvari - Jemaat GPM Rumahtiga, Maret 2009

Wednesday, May 27, 2009

Surat Terbuka dan Seruan dari Pemimpin-pemimpin Agama Islam

Sebuah Persamaan (Kalimat Bersama) di Antara Kami dan Kamu
(Ringkasan dan Ikhtisar)

Kaum Muslim dan Nasrani bersama-sama berjumlah lebih dari setengah populasi dunia. Tanpa perdamaian dan keadilan antara kedua komunitas agama ini, tidak ada perdamaian yang berarti di dunia. Masa depan dunia ini tergantung pada perdamaian antar kaum Muslim dan Nasrani.

Dasar dari perdamaian dan pengertian ini sudah ada. Yaitu bagian dari prinsip yang sangat mendasar dari kedua kepercayaan: kasih kepada Allah yang Maha Esa dan kasih kepada sesama. Prinsip-prinsip ini ditemukan berulang-ulang di dalam teks-teks suci Islam dan Kekristenan. Kesatuan Allah, pentingnya kasih kepada Dia, dan pentingnya kasih kepada sesama dengan demikian menjadi dasar yang sama dalam Islam dan Kekristenan. Yang berikut hanyalah beberapa contoh:

Tentang Kesatuan Allah, Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an: Katakanlan (ya Muhammad): Dialah Allah yang Mahaesa. Allah yang dituju (untuk meminta hayat) (Al-Ikhlas, 112:1-2). Mengenai pentingnya kasih kepada Allah, Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an: Sebutlah, nama Tuhanmu dan berbaktilah kepadaNya sebenar-benarnya berbakti (Al-Muzzammil, 73:8). Mengenai pentingnya kasih kepada sesama, Nabi Muhammad SAW berkata: “Tidak seorangpun dari kamu memiliki iman sampai kamu mengasihi sesamamu sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri.”

Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus berkata: “Hukum yang terutama ialah: ‘Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Inilah hukum yang pertama’. Dan hukum yang kedua ialah: ‘Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri’. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum.” (Mark 12:29-31)

Dalam Kitab Suci Al Qur’an, Allah yang Maha Tinggi memerintahkan kaum Muslim untuk memberikan seruan kepada kaum Nasrani (dan Yahudi - Ahli Kitab):

Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah kamu kepada kalimat yang bersamaan antara kami dan antara kamu, (yaitu) bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah dan tiada kita mempersekutukanNya dengan sesuatupun dan tiada setengah kita mengangkat yang lain menjadi Tuhan, selain dari Allah. Kalau mereka berpaling, katakanlah kepadanya: Jadi saksilah kamu bahwa kami orang-orang Islam. (Aal ‘Imran 3:64)

Kata-kata: tiada kita mempersekutukanNya dengan sesuatupun berhubungan dengan Kesatuan Allah dan kata-kata: tiada yang kita sembah kecuali Allah berhubungan dengan sungguh-sungguh mengasihi Allah. Oleh sebab itu semua kata tersebut berhubungan dengan Hukum yang Terutama dan Terbesar. Menurut salah satu tafsir paling tua dan paling berwenang di atas Kitab Suci Al Qur’an kata-kata: tiada setengah kita mengangkat yang lain menjadi Tuhan selain dari Allah, berarti ‘bahwa tidak seorang pun dari kita boleh mematuhi yang lain, sehingga tidak taat pada apa yang telah diperintahkan Allah’. Inilah berhubungan dengan Hukum Kedua, karena di mana keadilan dan kemerdekaan dalam agama merupakan sebuah bagian penting dari mengasihi sesama.

Oleh sebab itu untuk mentaati Kitab Suci Al Qur’an kami sebagai kaum Muslim mengundang kaum Nasrani untuk berkumpul bersama kami berdasarkan apa sama di antara kita, yang juga merupakan hal terpenting bagi iman dan amalan hidup kita: Dua Hukum tentang kasih.


Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Penyayang
Dan semoga damai dan berkat ada pada Nabi Muhammad

Sebuah Persamaan (Kalimat Bersama) di antara Kami dan Kamu
Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Penyayang,

Serulah (manusia) ke jalan (agama) Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik, dan berbantahlah (berdebatlah) dengan mereka dengan (jalan) yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalanNya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
(Kitab Suci Al Qur’an, Al-Nahl, 16:125)

(I) KASIH KEPADA ALLAH

KASIH KEPADA ALLAH DALAM ISLAM

Kesaksian Iman

Inti kepercayaan dalam Islam terdiri dari dua kesaksian iman atau Shahadat i, yang menyatakan bahwa: Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah. Dua Kesaksian ini adalah hal-hal mendasar dalam Islam. Orang yang menyaksikannya adalah seorang Muslim; orang yang menolaknya bukanlah seorang Muslim. Lebih dari itu, Nabi Muhammad SAW mengatakan: Ingatan yang terbaik adalah: ‘tidak ada Tuhan selain Allah’….ii

Hal Terbaik yang Pernah Dikatakan Semua Nabi-nabi

Memperluas arti ingatan yang terbaik tersebut, Nabi Muhammad SAW juga berkata: Hal terbaik yang sudah saya katakan – diri saya sendiri, dan nabi-nabi yang datang sebelum saya- adalah: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia Esa, Dia tidak memiliki sekutu, Dia yang memerintah dan Dia adalah pujian dan Dia yang berkuasa atas segala sesuatu’iii. Kalimat-kalimat sesudah Kesaksian Iman yang Pertama semuanya diambil dari Kitab Suci Al Qur’an; masing-masing menjelaskan suatu cara mengasihi Allah, dan ketaatan kepadaNya.

Kata-kata: Dia Esa, mengingatkan kaum Muslim bahwa hati.iv mereka harus diserahkan Allah yang Esa, karena Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an: Allah tidak menjadikan dua buah hati dalam dada seorang laki-laki (Al-Ahzab, 33:4). Allah itu Absolut dan oleh karena itu ketaatan kepadaNya harus sungguh-sungguh tulus.

Kata-kata: Dia tidak memiliki sekutu, mengingatkan Kaum Muslim bahwa mereka harus mengasihi Allah secara khusus, tanpa saingan di dalam jiwa mereka, karena Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an: Di antara manusia ada yang mengambil lain daripada Allah beberapa sekutu (berhala), sedang mereka itu mengasihinya, seperti mengasihi Allah. Tetapi orang-orang yang beriman amat kasih kepada Allah.…. (Al-Baqarah, 2:165). Tentu saja, …..kemudian menjadi lembut kulit dan hati mereka untuk mengingat Allah…. (Az-Zumar, 39:23).

Kata-kata: Dialah yang memerintah, mengingatkan kaum Muslim bahwa pikiran atau pengertian mereka harus secara menyeluruh diserahkan kepada Allah, karena memerintah tepatnya adalah segala sesuatu dalam penciptaan atau keberadaan dan segala sesuatu yang dapat dipahami pikiran. Dan semua adalah di Tangan Allah, karena Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an: Maha suci (Allah) yang di tanganNya kerajaan (pemerintahan), dan Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. (Al-Mulk, 67:1).

Kata-kata: Dia adalah pujian mengingatkan kaum Muslim bahwa mereka harus bersyukur kepada Allah dan mempercayaiNya dengan semua perasaan dan emosi mereka. Allah mengatakan dalam Kitab Suci Al Qur’an:

Demi, kalau engkau tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, niscaya mereka menjawab: Allah. Maka ke manakah mereka berpaling? Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya dan menyempitkannya bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui tiap-tiap sesuatu. Demi, kalau engkau tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu dihidupkanNya bumi yang telah mati, niscaya mereka menjawab: Allah. Katakanlan: Puj-pujian bagi Allah (atas pengakuan kamu itu). Tetapi kebanyakan mereka tiada memikirkan. (Al-‘Ankabut, 29:61-63)v

Untuk semua rahmat ini dan lebih lagi, manusia harus selalu sungguh-sungguh bersyukur.

Allah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air dari langit, lalu dikeluarkanNya dengan air itu buah-buahan untuk rezekimu, dan dimudahkanNya kapal, supaya berlayar di lautan dengan perintahNya, begitu pula dimudahkanNya untukmu sungai-sungai. DitundukkanNya untukmu matahari dan bulan yang beredar keduanya, serta ditundukkanNya pula untukmu siang dan malam. DiberikanNya kepadamu tiap-tiap apa yang kamu minta. Jika kamu menghitung nikmat Allah, tiadalah sanggup kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu amat aniaya dan banyak ingkar (kafir nikmat). (Ibrahim, 14:32-34)vi

Memang, Al Fatihah – yang merupakan bab terbesar dalam Kitab Suci Al Qur’an vii— dimulai dengan pujian kepada Allah:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Penyayang, (saya baca).
Segala puji bagi Allah,Tuhan (yang mendidik) semesta alam.
Yang Mahapengasih, Penyayang.
Lagi mempunyai (penguasa) hari pembalasan.
Hanya Engkaulah (ya Allah) yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan.
Tunjukilah (hati) kami ke jalan yang lurus.
Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka, sedang mereka itu bukan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat. (Al Fatihah, 1 :1-7)

Al Fatihah, yang diucapkan setidaknya tujuh belas kali setiap hari oleh kaum Muslim dalam shalat wajib, mengingatkan kami tentang pujian dan rasa syukur yang layak bagi Allah karena SifatNya yang Maha Pengasih dan Penyayang, tidak hanya karena Kasih dan SayangNya kepada kami dalam hidup ini, tetapi akhirnya, pada Hari Pembalasan viii ketika hal terpenting dan ketika kami berharap untuk diampuni atas dosa-dosa kami. Itulah sebabnya diakhiri dengan doa-doa untuk karunia dan tuntunan, sehingga kami mungkin dapat mencapai –melalui apa yang dimulai dengan pujian dan rasa syukur- keselamatan dan kasih, karena Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan yang baik-baik, Yang Maha Pengasih akan mengadakan bagi mereka (perasaan) kasih sayang (sesamanya).. (Maryam, 19:96)

Kata-kata: dan Dialah yang berkuasa atas sela sesuatu, mengingatkan kaum Muslim bahwa mereka harus sadar akan Kemahakuasaan Allah dan oleh karena itu takut akan Allahix. Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an:

Bulan haram (dibalas) dengan bulan haram dan kehormatan itu berbalasan juga. Barangsiapa yang aniaya kepadamu, maka boleh kamu aniaya kepadanya, seumpama keaniayaannya kepadamu dan takutlah kepada Allah dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang taqwa. Belanjakan (hartamu) pada jalan Allah dan janganlah kamu jatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berbuat baik. (Al-Baqarah, 2:194-5)…
…..
Takutlah kepada Allah dan ketahuilah bahwasanya Allah amat keras siksaanNya.. (Al-Baqarah, 2:196)

Melalui takut akan Allah, seharusnya tindakan, keperkasaan dan kekuatan kaum Muslim diperuntukkan seluruhnya bagi Allah. Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an:

…Ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang yang taqwa. (At-Taubah, 9:36)

Hai orang-orang beriman, mengapa kamu, jika dikatakan orang kepadamu: “Berperanglah kamu pada jalan Allah” lalu kamu berlambat-lambat (duduk) di tanah? Adakah kamu suka dengan kehidupan di dunia ini dari pada akhirat? Maka tak adalah kesukaan hidup di dunia, diperbandingkan dengan akhirat, melainkan sedikit sekali.
Jika kamu tiada mau berperang, niscaya Allah menyiksamu dengan adzab yang pedih dan Dia akan menukar kamu dengan kaum yang lain, sedang kamu tiada mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. (At-Taubah, 9:38-39)

Kata-kata: Dia yang memerintah dan Dia adalah pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu, ketika diartkan secara menyeluruh, mengingatkan kaum Muslim bahwa sama seperti segala sesuatu yang diciptakan memuliakan Allah, segala sesuatu yang ada dalam jiwa mereka harus diperuntukkan bagi Allah:

Tasbih kepada Allah apa-apa yang di langit dan apa-apa yang di bumi, bagiNya kerajaan dan bagiNya puji-pujian, dan Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. (Al-Taghabun, 64:1)

Karena tentu saja, segala sesuatu yang ada di dalam jiwa manusia diketahui oleh, dan bertanggungjawab kepada, Allah:

Dia mengetahui apa-apa yang di langit dan di bumi, dan mengetahui apa-apa yang kamu rahasiakan dan apa-apa yang kamu nyatakan.. Allah Maha Mengetahui apa-apa yang dalam dada. (Al-Taghabun, 64:4)

Seperti yang dapat kita lihat dari semua bagian yang dikutip di atas, dalam Kitab Suci Al Qur’an jiwa-jiwa dilukiskan memiliki tiga kemampuan dasar: pikiran atau inteligen, yang dibuat untuk mengerti kebenaran, keinginan yang dibuat untuk kebebasan memilih, dan perasaan yang dibuat untuk mengasihi yang baik dan indahx. Dengan cara lain, kita dapat mengatakan bahwa jiwa manusia mengetahui dengan cara mengerti kebenaran, dengan cara menginginkan kebaikan dan melalui emosi yang saleh dan merasakan kasih untuk Allah. Selanjutnya di dalam bab yang sama dari Kitab Suci Al Qur’an (seperti dikutip di atas), Allah memerintahkan manusia untuk takut kepadaNya sebesar mungkin, dan untuk mendengarkan (dan dengan demikian mengerti kebenaran); untuk taat (dan dengan demikian mengehendaki yang baik), dan untuk menggunakan (dan dengan demikian berlaku kasih dan berbudi luhur), yang, kataNya, adalah lebih baik bagi jiwa kita. Dengan melibatkan segala sesuatu di dalam jiwa kami –kemampuan dalam pengetahuan, kehendak dan kasih- kami dapati disucikan dan mencapai keberhasilan utama:

Takutlah kamu kepada Allah sekadar tenagamu dan dengarkanlah dan ikutilah dan berdermalah, niscaya lebih baik bagi dirimu. Barangsiapa yang memelihara dirinya dari kebakhilan, maka mereka yang menang. (Al-Taghabun, 64:16)

Ringkasannya dengan demikian, jika seluruh kalimat Dia Esa, Dia tidak memiliki sekutu, Dia yang memerintah, dan Dia adalah pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu ditambahkan kepada kesaksian iman –Tidak ada Tuhan selain Allah- itu ingatkan kaum Muslim bahwa hati mereka, jiwa individual mereka dan semua kemampuan dan kekuatan jiwa (atau sesederhananya seluruh hati dan jiwa mereka) harus secara total diserahkan dan dilekatkan kepada Allah. Karena itulah Allah berkata kepada Nabi Muhammad SAW dalam Kitab Suci Al Qur’an:

Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku semuanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tiada bagiNya sekutu dan dengan demikian aku disuruh dan aku orang yang mula-mula Islam (tunduk kepada Allah)”. Katakanlah: “Apakah patut kucari Tuhan, selain daripada Allah? Padahal Dia Tuhan dari tiap-tiap sesuatu? Tiadalah usaha masing-masing orang, melainkan atas dirinya. Tiadalah orang berdosa akan memikul dosa orang yang lain….. “(Al-An’am, 6:162-164)

Ayat-ayat ini mencontohkan penyerahan Nabi Muhammad SAW yang menyeluruh dan sepenuhnya kepada Allah. Karena itu dalam Kitab Suci Al Qur’an Allah memerintahkan kaum Muslim yang benar-benar mengasihi Allah untuk mengikutu teladan ini, agar sebagai balasannya dikasihixii oleh Allah.

Katakanlah: Jika kamu mengasihi Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Penyayang”. (Aal ‘Imran, 3:31)

Kasih kepada Allah dalam Islam oleh sebab itu adalah bagian dari ketaatan menyeluruh dan sepenuhnya kepada Allah; itu bukan hanya sebuah emosi yang cepat berlalu dan terpisah. Seperti dapat dilihat di atas, Allah memerintahkan di dalam Kitab Suci Al Qur’an: Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku semuanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tiada bagiNya sekutu. Panggilan untuk sepenuhnya taat dan melekat pada hati dan jiwa Allah, jauh dari sekedar sebuah panggilan untuk sebuah emosi atau sebuah suasana hati saja, nyatanya merupakan sebuah perintah yang mengharuskan kasih kepada Allah yang mencakup segala sesuatu, konstan dan aktip. Itu menuntut sebuah kasih di mana hati spiritual paling dalam dan keselurahan jiwa – dengan inteligen, kehendak dan perasaannya- berpartisipasi melalui ketaatan.

Tiada Ada Sesuatu pun yang Mendatangkan Hal yang Lebih Baik

Kita sudah melihat bagaimana kalimat yang penuh berkah: Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia Esa, Dia tidak memiliki sekutu, Dialah Yang memerintah dan Dia adalah pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu - yang merupakan hal yang pernah diucapkan semua nabi –menjelaskan apa yang tersirat dalam ingatan terbaik (Tidak ada Tuhan selain Allah) dengan cara menunjukkan apa yang diwajibkan dan diperlukan, dalam hal ketaatan. Masih perlu dikatakan bahwa formula yang penuh berkah itu sendiri merupakan sebuah doa yang suci – semacam perpanjangan dari Kesaksian iman Pertama (Tidak ada Tuhan selain Allah)- pengulangan ritual yang dapat menghadirkan, melalui kasih karunia Allah, beberapa sikap ketaatan yang disyaratkannya, yaitu, mengasihi dan taat kepada Allah dengan sepenuh hati, seluruh jiwa, seluruh pikiran, seluruh keinginan atau kekuatan dan seluruh perasaan seseorang. Oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW memerintahkan ingatan ini dengan mengatakan:

Dia yang mengucapkan: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia Esa, Dia tidak memiliki sekutu, Dia yang memerintah dan Dia adalah pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu’ seratus kali sehari, bagi mereka hal itu sama dengan memerdekakan sepuluh budak, dan seratus perbuatan baik ditulis bagi mereka dan seratus perbuatan jahat dihapuskan, dan bagi merekalah perlindungan terhadap iblis untuk hari itu sampai malamnya. Dan tidak ada yang menawarkan apa pun yang lebih baik dari itu, kecuali seseorang yang melakukan lebih dari itu.xiii

Dengan kata lain, pengingat yang penuh berkah: Tiada Tuhan selain Allah, Dia Esa, Dia tidak memiliki sekutu, Dia yang memerintah dan Dia adalah pujian dan Dia yang berkuasa atas segala sesuatu, tidak hanya mengharuskan dan menyiratkan bahwa kaum Muslim harus secara sungguh-sungguh taat kepada Allah dan mengasihi Dia dengan sepenuh hati dan seluruh jiwa mereka dan segala sesuatu yang ada di dalam diri mereka, tetapi menyediakan cara, seperti kalimat awal (pengakuan iman) – dengan cara sering mengulanginyaxiv- agar mereka dapat merealisasikan kasih ini dengan seluruh keberadaan mereka.

Allah mengatakan dalam salah satu pewahyuan paling awal dalam Kitab Suci Al Qur’an: Sebutlah nama Tuhanmu dan berbaktilah kepadaNya sebenar-benarnya berbakti. (Al-Muzzammil, 73:8).

KASIH KEPADA ALLAH ADALAH HUKUM YANG TERUTAMA DAN TERBESAR DI DALAM ALKITAB

Shema dalam Kitab Ulangan (6:4-5), suatu bagian penting dalam Perjanjian Lama dan liturgi Yahudi, mengatakan: Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.xv

Demikian juga dalam Perjanjian Baru, ketika Yesus Kristus, Sang Mesias, ditanya mengenai Hukum yang Terutama, Ia jawab:

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mattius 22:34-40)

Dan juga:

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepadaNya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:28-31)

Firman untuk sepenuhnya mengasihi Allah dengan demikian adalah Hukum yang Pertama dan yang Terutama dari Alkitab. Memang, hal tersebut dapat ditemukan di banyak bagian lain di seluruh Alkitab termasuk: Ulangan 4:29, 10:12, 11:13 (juga bagian dari Shema), 13:3, 26:16, 30:2, 30:6, 30:10; Yosua 22:5; Markus 12:32-33 dan Lukas 10:27-28.

Walaupun begitu di berbagai bagian di dalam seluruh Alkitab, dinyatakan dengan bentuk dan versi yang sedikit berbeda. Sebagai contoh, dalam Mattius 22:37 (Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu), kata Yunani untuk “hati” adalah kardia, kata untuk “jiwa” adalah psyche, dan kata untuk “pikiran” adalah dianoia. Versi dalam Markus 12:30 (Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu) kata “kekuatan” ditambahkan untuk tiga hal yang disebut sebelumnya, menerjemahkan kata Yunani ischus.

Kata-kata ahli Taurat dalam Lukas 10:27 (yang ditegaskan oleh Yesus Kristusdalam Lukas 10:28) berisi empat istilah yang sama seperti dalam Markus 12:30. Kata-kata ahli Taurat dalam Markus 12:32 (yang disetujui oleh Yesus Kristus dalam Mark 12:34) berisi juga tiga istilah tersebut: kardia (“hati”), dianoia (“pikiran”), dan ischus (“kekuatan”).

Dalam Shema di Ulangan 6:4-5 (Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan kekuatanmu). Dalam bahasa Ibrani kata untuk “hati” adalah lev, kata untuk “jiwa” adalah nefesh, dan kata untuk “kekuatan” adalah me’od.

Dalam Yosua 22:5, bangsa Israel diperintahkan oleh Yosua sebagai berikut untuk mengasihi Allah dan taat kepadaNya sebagai berikut:
“Hanya, lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum, yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, yakni mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkanNya, tetap mengikuti perintahNya, berpaut padaNya dan berbakti kepadaNya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (Joshua 22:5)

Dengan demikian apa yang sama-sama dimiliki semua versi ini -walaupun ada perbedaan antara bahasa Ibrani Perjanjian Lama, kata-kata asli Yesus Kristus dalam bahasa Aram, dan bahasa Yunani yang awalnya digunakan untuk Perjanjian Baru- adalah perintah hukum untuk sepenuhnya mengasihi Allah dengan hati dan jiwa seseorang dan untuk sepenuhnya taat kepadaNya. Inilah Hukum yang Pertama dan Terutama untuk manusia.

Dengan menyoroti apa yang kita lihat sebagai sesuatu yang penting disiratkan dan diungkapkan oleh perkataan Nabi Muhammad SAW yang penuh berkah: ‘Hal terbaik yang sudah saya katakan –diri saya sendiri, dan nabi-nabi yang datang sebelum saya- adalah: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia Esa, Dia tidak memiliki sekutu, Dia yang memerintah dan Dia adalah pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatuxvi, kita sekarang mungkin mengerti kata-kata ‘Hal terbaik saya katakan –diri saya sendiri, dan nabi-nabi yang datang sebelum saya’ sebagai menyamakan formula yang penuh berkah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia Esa, Dia tidak memiliki sekutu, Dia yang memerintah dan Dia adalah pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu’ secara tepat dengan ‘Hukum yang Pertama dan Terutama’ untuk mengasihi Allah dengan seluruh hati dan jiwa seseorang, seperti ditemukan di berbagai bagian di dalam Alkitab. Maksudnya untuk menyatakan, dengan kata-kata lain bahwa Nabi Muhammad SAW mungkin, melalui inspirasi, menyatakan kembali dan menyinggung Hukum Alkitab yang Terutama. Allah tahu yang terbaik, tetapi jelas kita telah melihat kesamaan mereka yang efektip dalam arti. Lebih dari itu, kita juga sudah tahu (seperti yang dapat dilihat di catatan akhir), bahwa kedua formula memiliki persamaan lain yang luar biasa: cara mereka muncul dalam beberapa versi berbeda, di mana semuanya, walaupun begitu, menekankan keutamaan kasih dan ketaatan menyeluruh kepada Allah xvii.

(II) KASIH KEPADA SESAMA MANUSIA

KASIH KEPADA SESAMA MANUSIA DALAM ISLAM

Ada banyak perintah dalam Islam mengenai perlunya dan sangat pentingnya kasih untuk -dan belas kasihan kepada- sesama. Kasih kepada sesama adalah bagian yang penting dan integral dalam iman kepada Allah dan kasih untuk Allah, karena dalam Islam tanpa kasih kepada sesama tidak ada iman yang benar kepada Allah dan tidak ada kebenaran. Nabi Mohammad SAW mengatakan: “Tidak ada seorang dari kamu memiliki iman sampai kamu mengasihi saudaramu sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri.”xviii Dan: “Tidak seorang pun dari kamu memiliki iman sampai kamu mengasihi sesamamu sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri.”xix

Namun demikian, empati dan simpati kepada sesama -dan bahkan doa formal- tidaklah cukup. Mereka harus disertai oleh kemurahan dan pengorbanan diri. Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an:

Bukalah kebaikan, bahwa kamu hadapkan mukamuxx arah ke Timur dan ke Barat; tetapi yang kebaikan itu ialah orang beriman kepada Allah, hari yang kemudian, malaikat-malaikat dan kitab-kitab dan nabi-nabi; dan dia memberikan harta, yang dikasihinya kepada karib kerabatnya dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan orang berjalan, orang-orang yang meminta, dan untuk memerdekakan hamba sahaja; mendirikan sembahyang, memberikan zakat dan menepati janji dan berhati sabar atas kemiskinan, kemelaratan dan ketika peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang taqwah. (Al-Baqarah 2:177)

Dan juga:
Kamu tiada akan mendapat kebajikan kecuali kalau kamu nafkahkan sebagian barang yang kamu kasihi. Barang sesuatu yang kamu nafkahkan, sungguh Allah Mahamengetahuinya. (Al Imran, 3:92)

Tanpa memberikan kepada sesama apa yang kita sendiri kasihi, kita tidak benar-benar mengasihi Allah.

KASIH KEPADA SESAMA DALAM ALKITAB

Kita sudah menyebutkan kata-kata Mesias, Yesus Kristus, tentang hal yang sangat penting, menjadi nomor dua hanya setelah kasih kepada Allah, mengenai kasih kepada sesama:

Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan para nabi. (Matthew 22:38-40)

Dan:
Dan hukum yang kedua ialah: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’. Tidak ada hukum lain dan lebih utama dari pada kedua hukum ini. (Mark 12:31)

Hanya masih perlu dicatat bahwa hukum ini juga dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama:
Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. (Imamat 19:17-18)

Oleh karena itu Hukum Kedua, seperti Hukum Pertama, mengharuskan kemurahan dan pengorbanan diri, dan pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.


(III) SAMPAI PADA SEBUAH PERSAMAAN (PADA KALIMAT BERSAMA) DI ANTARA KAMI DAN KAMU
Sampai pada sebuah Persamaan (Kalimat Bersama)!

Walaupun Islam dan Kekristenan jelas merupakan agama-agama yang berbeda – dan walaupun tidak mungkin memperkecil beberapa perbedaan formal mereka- jelas bahwa Kedua Hukum yang Terutama adalah sebuah arena dengan dasar bersama dan sebuah mata rantai antara Al Qur’an, Taurat dan Perjanjian Baru. Yang menjadi pengantar Dua Hukum dalam Taurat dan Perjanjian Baru, dan yang menjadi sumber mereka, adalah Kesatuan Allah – bahwa hanya ada satu Allah. Karena Shema dalam Taurat, dimulai: (Ulangan 6:4) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN, Allah kita, TUHAN itu Esa! Demikian juga Yesus mengatakan: (Markus 12:29) “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan, Allah kita Tuhan itu esa. Demikian juga Allah mengatakan dalam dalam Kitab Suci Al Qur’an: Katakanlah (ya Muhammad): Dialah Allah yang Mahaesa. Allah yang dituju (untuk meminta hajat). (Al Ikhlas, 112:1-2). Oleh karena itu Kesatuan Allah, mengasihi Dia, dan mengasihi sesama membentuk suatu dasar yang sama di mana Islam dan Kekristenan (dan Yahudi) ditemukan.

Tidak bisa lain sejak Yesus mengatakan: (Mattius 22:40) “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”. Lebih dari itu, Allah menegaskan dalam Kitab Suci Al Qur’an bahwa Nabi Muhammad SAW tidak membawa sesuatu yang baru secara fundamental dan mendasar:
Apa-apa yang dikatakan orang kepada engkau (ya Muhammad), tidak lain, hanya (seperti) apa-apa yang telah dikatakan orang kepada rasul-rasul sebelum engkau. (Fussilat 41:43). Dan:
Katakanlah: Aku bukan perkara baru di antara rasul-rasul, dan tidak aku tahu apa yang akan diperbuat (Allah) dan terhadapmu. Aku tiada mengikut, melainkan apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tiada lain, hanya pemberi peringatan yang terang,.(Al-Ahqaf, 46:9). Oleh sebab itu juga Allah di dalam Kitab Suci Al Qur’an menegaskan bahwa kebenaran kekal yang sama mengenai Kesatuan Allah, perlunya kasih dan ketaatan menyeluruh kepada Allah (dan dengan demikian menjauhkan diri dari ilah yang palsu), dan perlunya kasih kepada sesama manusia (dan dengan demikian keadilan), mendasari semua agama yang benar:

Sesungguhnya telah kami utus seorang Rasul kepada tiap-tiap umat: Hendaklah kamu sembah Allah dan jauhilah thaghut (berhala)”. Maka di antara mereka ditunjuki Allah dan di antara mereka ada yang berhak mendapat kesesatan. Maka berjalanlah kamu di muka bumi, lalu perhatikanlah, bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (Allah)! (Al-Nahl, 16:36)

Sesungguhnya telah Kami utus beberapa rasul Kami dengan (membawa) keterangan dan Kami turunkan serta mereka kitab dan neraca (keadilan), supaya berdiri manusia di atas keadilan……….(Al-Hadid, 57:25)

Sampai pada sebuah Persamaan (Kalimat Bersama)!

Di dalam Kitab Suci Al Qur’an, Allah Yang Maha Tinggi mengatakan kepada kaum Muslim untuk memberikan seruan berikut kepada kaum Nasrani (dan Yahudi – ahli Kitab):
Katakanlah: Hai ahli kitab, marilah kamu kepada kalimat yang bersamaan antara kami dengan kamu, (yaitu) bahwa tiada yang kita sembah kecuali Allah, dan tiada kita mempersekutukanNya dengan sesuatupun dan tiada setengah kita mengangkat yang lain menjadi Tuhan, selain, dari Allah. Kalau mereka berpaling, kamu katakanlan (kepadanya): Jadi saksilah, bahwa kami orang-orang Islam. (Aal ‘Imran 3:64)

Jelas, kata-kata yang penuh berkah: tiada kita mempersekutukanNya dengan sesuatupun berhubungan dengan Kesatuan Allah. Jelas juga, tidak menyembah yang selain dari Allah, berhubungan dengan ketaatan menyeluruh kepada Allah dan dari sanalah Hukum yang Pertama dan Terutama. Menurut salah satu tafsir Kitab Suci Al Qu’ran - Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an dari Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Tabari (wafat 310 H. / 923 M.)—bahwa tiada setengah kita mengangkat yang lain menjadi Tuhan, selain dari Allah, berarti ‘bahwa tidak seorangpun dari kita boleh mematuhi yang lain sehingga tidak taat pada apa yang telah diperintahkan Allah, juga tidak memuliakan mereka dengan sujud kepada mereka dengan cara yang sama mereka sujud kepada Allah’. Dengan kata-kata lain kaum Muslim, Nasrani dan Yahudi masing-masing harus bebas mengikuti apa yang diperintahkan Allah kepada mereka dan tidak harus ‘sujud di hadapan raja-raja dan yang sama seperi raja’xxi; karena Allah berkata di bagian lain di dalam Kitab Suci Al Qur’an: Tidak ada paksaan dalam agama…. (Al-Baqarah, 2:256). Ini jelas berhubungan dengan Hukum Kedua dan dengan mengasihi sesama di mana keadilanxxii dan kemerdekaan dalam agama merupakan sebuah bagian yang penting. Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’ an:

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu, karena agamamu dan tiada pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil. (Al-Mumtahinah, 60:8)

Kami dengan demikian sebagai kaum Muslim mengundang kaum Nasrani untuk mengingat kata-kata Yesus dalam Injil (Markus 12:29-31):

“… Tuhan Allah kita, TUHAN itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum yang lebih utama dari pada kedua hukum ini”.

Sebagai kaum Muslim, kami mengatakan kepada kaum Nasrani, bahwa kami tidak melawan mereka dan bahwa Islam tidak melawan mereka – selama mereka tidak berperang melawan Muslim, karena agama mereka, menindas mereka dan mengusir mereka keluar dari rumah mereka, (sesuai dengan ayat Kitab Suci Al Qur’an [Al-Mumtahinah, 60:8] yang dikutip di atas). Lebih dari itu, Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an:

Mereka itu tiada sama. Di antara ahli kitab, ada segolongan yang lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah waktu malam sedang mereka sujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari yang kemudian dan menyuruh dengan ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, lagi bersegera mengerjakan kebaikan dan mereka itu termasuk orang-orang salih. Apa-apa kebaikan yang mereka perbuat, niscaya tiadalah dikurangkan pahalanya dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang taqwa. (Al-Imran, 3:113-115)

Apakah Kekristenan perlu melawan kaum Muslim? Dalam Injil Yesus Kristus berkata:

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan. (Mattius 12:30)

Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. (Markus 9:40)

… sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu. (Lukas 9:50)

Menurut Blessed Theophylact’s of the New Testament ( Tafsiran Perjanjian Baru dari Theophylact yang Penuh Berkah) xxiii, pernyataan ini tidak bertentangan karena pernyataan pertama (dalam teks Yunani yang sebenarnya Perjanjian Baru) berkenaan dengan iblis, sementara pernyataan kedua dan ketiga itu berkenaan dengan orang yang mengakui Yesus, tetapi mereka bukan orang Kristen. Orang-orang Muslim mengakui Yesus, tetapi bukan kaum Nasrani. Kaum Muslin mengakui Yesus Kristus sebagai Mesias, tidak dengan cara yang sama dengan kaum Nasrani (tetapi kaum Nasrani sendiri memang tidak pernah sepakat dengan satu sama lain mengenai asal Yesus Kristus), tetapi dengan cara yang berikut ini: Al Masih, Isa anak Maryam, hanya rasul Allah dan kalimatNya, disampaikanNya kalimat itu kepada Maryam beserta roh daripadaNya.... (Al-Nisa’, 4:171). Kami dengan demikian mengundang kaum Nasrani untuk menganggap kaum Muslim tidak melawan dan oleh sebab itu bersama mereka, sesuai kata-kata Yesus Kristus di sini.

Akhirnya, sebagai kaum Muslim, dan dalam ketaatan kepada Kitab Suci Al Qur’an, kami meminta kaum Nasrani untuk bergabung bersama kami dalam hal-hal penting yang sama dalam kedua agama kita… bahwa tiada yang kita sembah kecuali Allah, dan tiada kita mempersekutukanNya dengan sesuatupun dan tiada setengah kita mengangkat yang lain menjadi Tuhan,selain, dari Allah… (Al Imran, 3:64).

Biarlah dasar yang sama ini menjadi basis dari semua dialog antar agama di masa mendatang di antara kita, karena dasar kita yang sama adalah tempat di mana tergantung seluruh Taurat dan Nabi-nabi (Matius 22:40). Allah di dalam Kitab Suci Al Qur’an mengatakan:

Katakanlah: Kami telah beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa-apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya, (begitu juga kepada kitab) yang diturunkan kepada Musa dan Isa, dan apa-apa yang diturunkan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga di antara mereka itu, dan kami patuh kepada Allah. Maka jika mereka beriman seperti keimanan kamu, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; tetapi jika mereka berpaling (tiada beriman seperti keimananmu), maka hanya mereka dalam perpecahan (dengan kamu); maka engkau akan dipelihara Allah dari kejahatan mereka, dan Dia Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah, 2:136-137)

Antara Kami dan Kamu

Menemukan dasar yang sama antara kaum Muslim dan kaum Nasrani tidak hanya masalah untuk dialog umum yang sopan di antara pemimpin agama terpilih. Kekristenan dan Islam adalah agama yang terbesar dan kedua terbesar di dalam dunia dan dalam sejarah. Kaum Kristen dan kaum Muslim tercatat berjumlah lebih dari sepertiga dan lebih dari seperlima dari umat manusia secara berturut-turut. Bersama-sama mereka mencapai lebih dari 55% dari populasi dunia, menjadikan hubungan antara komunitas kedua agama menjadi faktor yang terpenting untuk menyumbang pada perdamaian yang berarti di seluruh dunia. Bila kaum Muslim dan kaum Nasrani tidak berdamai, dunia tidak bisa berdamai. Dengan persenjataan dunia moderen yang mengerikan; dengan kaum Muslim dan kaum Kristen yang hidup bersinggungan di mana-mana seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak ada pihak yang secara unilateral memenangkan sebuah konflik di antara lebih dari setengah penghuni dunia. Oleh karena itu masa depan kita bersama ada dalam masalah. Kelangsungan hidup dunia sendiri ada mungkin dalam masalah.

Dan bagi mereka yang walaupun begitu menikmati konflik dan kehancuran untuk kepentingan mereka sendiri atau mengetahui bahwa akhirnya mereka bertahan untuk mendapatkan keuntungan melalui hal itu, kami katakan bahwa semua jiwa kekal kita sendiri juga ada dalam masalah bila kita gagal secara tulus melakukan segala usaha untuk berdamai dan berkumpul bersama dalam harmoni. Allah mengatakan dalam Kitab Suci Al Qur’an: Sesungguhnya Allah menyuruh melakukan keadilan dan berbuat kebajikan serta memberi karib kerabat dan melarang berbuat yang keji dan yang, mungkar dan kazhaliman. Dia mengajarkan kepadamu, mudah-mudahan kamu mendapat peringatan. (Al Nahl, 16:90). Yesus Kristus berkata: Berbagialah orang yang membawa damai…...(Matius 5:9), dan pula juga: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? (Matius 16:26).

Jadi biarkanlah perbedaan kita tidak mengakibatkan kebencian dan perselisihan di antara kita. Marilah kita hidup bersama satu sama lain hanya dalam kebenaran dan perbuatan baik. Marilah kita saling menghormati, jujur, adil dan baik terhadap satu sama lain dan hidup dalam kedamaian yang tulus, harmonis dan niat baik bersama. Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an:

Kami telah menurunkan Kitab kepada engkau (ya Muhammad) dengan (membawa) kebenaran, yang membenarkan Kitab yang di hadapannya serta mengawasinya, sebab itu hukumlah antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan jangan engkau mengikuti hawa-nafsu mereka (dan berpaling) dari kebenaran yang telah datang kepada engkau. Kami adakan untuk tiap-tiap umat di antara kamu satu syari´at (peraturan) dan satu jalan. Kalau Allah menghendaki, niscaya Ia jadikanNya kamu umat yang satu, tetapi Ia hendak mencobai kamu tentang apa yang diberikanNya kepada kamu, sebab itu berlomba-lombalah kamu (memperbuat) kebaikan. Kepada Allah tempat kembalimu sekalian, lalu Allah mengabarkan kepadamu tentang apa-apa yang telah kamu perselisihkan. (Al-Ma’idah, 5:48)


Wassalamu ‘alaikum,
Pax Vobiscum.



© 2007 C.E., 1428 H.,
The Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought, Jordan.
Lihat: www.acommonword.org or: www.acommonword.com


CATATAN

i Dalam Bahasa Arab: La illaha illa Allah Muhammad rasul Allah. Kedua Shahadah sebenarnya muncul (biarpun terpisah) sebagai kalimat-kalimat dalam Kitab Suci Al Qur’an (dalam Muhammad 47:19, dan Al-Fath 48:29, berturut-turut).
ii Sunan Al-Tirmidhi, Kitab Al-Da’awat, 462/5, no. 3383; Sunan Ibn Majah, 1249/2.
iii Sunan Al-Tirmidhi, Kitab Al-Da’awat, Bab al-Du’a fi Yawm ‘Arafah, Hadith no. 3934.
Pentinglah untuk mencatat bahwa kalimat-kalimat tambahan , Dia Esa, Dia tidak memeiliki sekutu, Dia yang memerintah dan Dia adalah pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu, semuanya dari Kitab Suci Al Qur’an, dalam bentuk-bentuk yang tepat ini, meskipun di tempat-tempat yang berbeda-beda. Dia Esa –mengacu pada Allah- ditemukan sekurang-kurangnya enam kali dalam Kitab Suci Al Qur’an (7:70; 14:40; 39:45; 40:12; 40:84 and 60:4). Dia tidak memiliki sekutu, ditemukan sekurang-kurangnya satu kali persis dalam bentuk itu (Al-An’am, 6:163). Dia yang memerintah dan Dia adalah pujian dan dia Mahakuasa atas segala sesuatu, ditemukan satu kali persis dalam bentuk ini dalam Kitab Suci Al Qur’an (Al-Taghabun, 64:1), dan bagian-bagiannya ditemukan sejumlah kali lain (umpamanya, kata-kata, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, ditemukan sekurang-kurangnya lima kali: 5:120; 11:4; 30:50; 42:9 and 57:2).
iv Hati itu
Dalam Islam hati (rohani, bukan fisik) adalah alat penerimaan pengetahuan rohani dan metafisik. Tentang salah satu penglihatan Nabi Muhammad SAWllah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an Suci: Tidaklah hatinya mendustakan apa yang dia lihat. (al-Najm, 53:11) Memang, di tempat lain dalam Kitab Suci Al Qur’ani, Allah berkata: Maka sesungguhnya bukan pandangan (mata) yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.. (Al-Hajj, 22:46; bacalah ayat seluruhnya dan juga: 2:9-10; 2:74; 8:24; 26:88-89; 48:4; 83:14 dan lain-lain. Ternyata ada lebih dari seratus sebutan hati dan sinonim-sinonimnya dalam Kitab Suci Al Qur’an.)
Sekarang ada paham-paham yang berbeda-beda antara orang-orang Muslim menyangkut Penglihatan Allah yang langsung (seperti bertentangan dengan kenyataan-kenyataan rohani pada dirinya). Allah, biar dalam hidup ini atau dalam hidup akhirat—Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an Suci (tentang Hari Kiamat): Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu bercahaya, kepada Tuhannya mereka melihat (Al-Qiyamah, 75:22-23). Namun Allah juga berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an: Itulah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan Dialah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai penglihatan sedang Dia meliputi penglihatan dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui Sungguh telah datang kepada kamu keterangan dari Tuhanmu maka barangsiapa yang memperhatikan (keterangan) itu maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa yang buta maka (kerugiannya) bagi dirinya sendiri. Dan aku sekali-kali bukanlah pemelihara atas kamu. (Al-An’am, 6:102-104)
Bagaimanapun juga jelaslah bahwa paham Muslim akan hati (rohani) tak berbeda jauh dari paham hati (rohani) Kristen, seperti nampak dalam kata-kata Yesus dalam Perjanjian Baru: Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. (Matius 5:8); dan kata Paulus: Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambar yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, seperti aku sendiri dikenal. (1 Korintus 13:12)
v Lihat juga: Luqman, 31:25.
vi Lihat juga: Al-Nahl, 16:3-18.
vii Sahih Bukhari, Kitab Tafsir Al-Qur’an, Bab ma Ja’a fi Fatihat Al-Kitab (Hadith no.1); juga: Sahih
Bukhari, Kitab Fada’il Al-Qur’an, Bab Fadl Fatihat Al-Kitab, (Hadith no.9), no. 5006.
viii Nabi Muhammad SAWberkata:
Allah memiliki seratus kemurahan. Dia menurunkan satu dari padanya ke antara makhluk-makhluk dan manusia-manusia dan binatang-binatang dan hewan-hewan dan oleh karena itu mereka ada perasaan satu sama yang lain; dan oleh karenanya binatang-binatang buas punya perasaan buat keturunannya. Dan Allah menunda kesembilan puluh sembilan kemurahan itu yang olehnya Dia berahmat pada hamba-hambaNya pada Hari Kiamat. (Sahih Muslm, Kitab Al-Tawbah; 2109/4; no. 2752; lihat juga Sahih Bukhari, Kitab Al-Riqaq, no. 6469).
ix Takut akan Allah adalah Permulaan Hikmah
Tentang Nabi Muhammad SAW dikatakan: Bagian yang pokok dalam hikmah ialah takut akan Allah- Kemuliaan bagiNya- (Musnad al-Shahab, 100/1; Al-Dulaymi, Musnad Al-Firdaws, 270/2; Al-Tirmidhi, Nawadir Al-Usul; 84/3;
Al-Bayhaqi, Al-Dala’il dan Al-Bayhaqi, Al-Shu’ab; Ibn Lal, Al-Makarim; Al-Ash’ari, Al-Amthal, dll.)
Jelaslah ini sama dengan kata-kata Nabi Solomon dalam Alkitab: Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat…. (Amsal 9:10); and: Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan. (Amsal 1:7)
x Pikiran, Keinginan dan Perasaan dalam Qur’an Suci
Demikian Allah dalam Kitab Suci Al Qur’an menyampaikan kepada manusia untuk beriman dan berseru kepadaNya (dengan menggunakan pikiran) dengan ketakutan (yang mendorong keinginan) dan dengan harapan (dan dengan demikian dengan perasaan):
Hanya sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, apabila diperingatkan dengannya, mereka tunduk sujud dan mereka bertasbih dengan memuji Tuhannya sedang mereka tidak sombong.
Mereka merenggangkan lambungnya dari tempat tidur, mereka menyeru Tuhannya dengan takut dan penuh harap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepadanya.
Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka dari penyejuk (nikmat) sebagai balasan terhadap apa yang mereka telah kerjakan. (Al-Sajdah, 32:15-17)
Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendahkan diri dan dengan suara pelan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi sesudah baiknya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (Al-A’raf, 7:55-56)
Seperti Nabi Muhammad SAW sendiri digambarkan dengan memakai istilah-istilah yang menunjukkan pengetahuan (dan oleh karena itu pikiran), mendatangkan harapan (dan oleh karena itu perasaan) dan menanamkan ketakutan (dan oleh karena itu menggalakkan keinginan):
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan memberi peringatan.. (Al-Ahzab, 33:45)
Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al-Fath, 48:8)
xi A Teladan baik yang berlimpah-limpah
Cinta dan taqwa Nabi Muhammad SAW yang menyeluruh kepada Allah merupakan model buat orang-orang Muslim yang mereka usahakan untuk ditiru. Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an:
Sungguh pada diri Rasullah itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab, 33:21)
Kegenapan cinta ini menolak keduniawian dan keakuan dan adalah indah dan memikat orang Muslim. Cinta kepada Allah disukai oleh orang-orang Muslim. Allah berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an:
Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ditengah-tengah kamu ada Rasullah, kalau dia menuruti kamu dalam beberapa urusan, niscaya kamu akan mendapatkan kesusahan, tetapi Allah telah menimbulkan cintamu pada iman dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, dan menimbulkan kebencianmu kepada kekafiran, kefasikan dan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Hujurat, 49:7)
xii ‘Cinta yang benar-benar’ merupakan tambahan kepada Rahmat Allah universal, yang meliputi segala sesuatu (Al-A’raf, 7:156); tetapi Allah paling mengetahui.
xiii Sahih Al-Bukhari, Kitab Bad’ al-Khalq, Bab Sifat Iblis wa Junudihi; Hadith no. 3329.
Versi-versi lain dari Perkataan yang Penuh Berkah
Perkataan Nabi Muhammad SAW ditemukan dalam seluzin hadith (perkataan Nabi Muhammad SAW) dalam lingkungan-lingkungan yang berbeda-beda dan versi-versi berbeda-beda sedikit.
Yang kami kutip dalam naskah kami (Tiada Tuhan selain Allah, Dia Esa. Dia tidak memiliki sekutu. Dia memerintah , dan Dia adalah pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu) adalah versi yang paling singkat. Itu ditemukan dalam Sahih al-Bukhari: Kitab al-Adhan (no. 852); Kitab al-Tahajjud (no. 1163); Kitab al19
‘Umrah (no. 1825); Kitab Bad’ al-Khalq (no. 3329); Kitab al-Da‘awat (nos. 6404, 6458, 6477); Kitab al-Riqaq
(no. 6551); Kitab al-I‘tisam bi’l-Kitab (no. 7378); in Sahih Muslim: Kitab al-Masajid (nos. 1366, 1368, 1370,
1371, 1380); Kitab al-Hajj (nos. 3009, 3343); Kitab al-Dhikr wa’l-Du‘a’ (nos. 7018, 7020, 7082, 7084); in
Sunan Abu Dawud: Kitab al-Witr (nos. 1506, 1507, 1508); Kitab al-Jihad (no. 2772); Kitab al-Kharaj (no.
2989); Kitab al-Adab (nos. 5062, 5073, 5079); in Sunan al-Tirmidhi: Kitab al-Hajj (no. 965); Kitab al-Da‘awat
(nos. 3718, 3743, 3984); in Sunan al-Nasa’i: Kitab al-Sahw (nos. 1347, 1348, 1349, 1350, 1351); Kitab
Manasik al-Hajj (nos. 2985, 2997); Kitab al-Iman wa’l-Nudhur (no. 3793); in Sunan Ibn Majah: Kitab al-Adab
(no. 3930); Kitab al-Du‘a’ (nos. 4000, 4011); dan dalam Muwatta’ Malik: Kitab al-Qur’an (nos. 492, 494); Kitab
al-Hajj (no. 831).
Versi yang lebih panjang memuat kata-kata yuhyi wa yumi -(Tiada Tuhan selain Allah, Dia Esa. Dan Dia tidak memiliki sekutu. Dia memerintah, dan Dia adalah pujian. Dia memberi kehidupan, Dia memberi kematian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.)—ditemukan dalam Sunan Abu Dawud: Kitab al-Manasik (no. 1907); dalam Sunan al-
Tirmidhi: Kitab al-Salah (no. 300); Kitab al-Da‘awat (nos. 3804, 3811, 3877, 3901); dan dalam Sunan al-Nasa’i:
Kitab Manasik al-Hajj (nos. 2974, 2987, 2998); Sunan Ibn Majah: Kitab al-Manasik (no. 3190).
Versi lain yang lebih panjang memuat kata-kata bi yadihi al-khay -(Tiada Tuhan selain Allah, Dia Esa. Dia tidak memiliki sekutu. Dia memerintah, dan Dia adalah pujian. Di dalam tanganNya adalah yang baik, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.)—ditemukan dalam Sunan Ibn Majah: Kitab al-Adab (no. 3931); Kitab al-Du‘a’ (no. 3994).
Versi yang paling panjang memuat kata-kata yuhyi wa yumit wa Huwa Hayyun la yamut bi yadihi alkhay -(Tiada Tuhan selain Allah, Dia Esa, Dia tidak memiliki sekutu. Dia memerintah, dan Dia adalah pujian. Dia memberi kehidupan dan Dia memberi kematian. Dialah Yang Hidup, yang tidak mati. Dalam tanganNya adalah yang baik, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.) ditemukan dalam Sunan al-Tirmidhi: Kitab al-Da‘awat (no. 3756) dan dalam Sunan Ibn Majah: Kitab al-Tijarat (no. 2320), dengan perbedaan bahwa hadith yang terakhir ini membaca: bi yadihi al-khayr kuluhu (di dalam tanganNya adalah segala kebaikan).
Namun penting untuk dicatat, bahwa Nabi Muhammad SAW hanya menguraikan versi pertama (yang paling singkat) sebagai: yang paling baik aku katakan – aku sendiri, dan nabi-nabi yang datang sebelum aku, dan hanya tentang versi itu Nabi SAW berkata: Dan tiada seorangpun yang membawa sesuatu yang lebih baik dari pada ini, kecuali orang yang melakukan lebih dari itu. (Kutipan-kutipan ini mengacu kepada sistim bilangan The Sunna Project’s Encyclopaedia of Hadith [Jam‘ Jawami‘ al-Ahadith wa’l-Asanid], dipersiapkan dalam kerja sama dengan ahli-ahli al-Azhar, yang mencakup Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmidhi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibn Majah, dan Muwatta’ Malik.)
xiv Ingatan berkali-kali akan Allah dalam Qur’an Suci
Kitab Suci Al Qur’an itu sarat dengan perintah-perintah untuk berkali-kali berseru kepada Allah atau mengingat Allah:
Dan ingatlah nama Tuhanmu di waktu pagi dan petang. (Al-Insan, 76:25)
Ingatlah Allah dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk dan dalam keadaan berbaring (Al-Nisa, 4:103).
Dan sebutlah Tuhanmu dalam hatimu dengan penuh kerendahan dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan jangan engkau termasuk orang-orang yang lalai. (Al-‘Araf, 7:205).
… Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah di waktu petang dan pagi (Aal ‘Imran, 3:41).
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan ingatan yang banyak, dan bertasbihlah kepadaNya pagi dan petang. (Al-Ahzab, 33:41-42). (Lihatlah juga: 2:198-200; 2:203; 2:238-239; 3:190-191; 6:91; 7:55; 7:180; 8:45; 17:110; 22:27-41; 24:35-38; 26:227; 62:9-10; 87:1-17, dll.)
Sama pula Kitab Suci Al Qur’an sarat dengan ayat-ayat yang menggarisbawahi apa yang terpenting dalam Ingatan akan Allah (lihatlah 2:151-7; 5:4; 6:118; 7:201; 8:2-4; 13:26-28; 14:24-27; 20:14; 20:33-34; 24:1; 29:45; 33:35; 35:10; 39:9; 50:37; 51:55-58; dan 33:2; 39:22-23 dan 73:8-9 sebagaimana sudah dikutip, dll. ), dan akibat-akibat yang ngerikan bila tak dipraktekkannya (lihatlah: 2:114; 4:142; 7:179-180; 18:28; 18:100-101; 20:99-101; 20:124-127; 25:18; 25:29; 43:36; 53:29; 58:19; 63:9; 72:17 dll.; lihatlah juga 107:4-6). Karenanya Allah pada akhirnya berkata dalam Kitab Suci Al Qur’an:
Apabila belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah …. ? (Al-Hadid, 57:16);
…. Jangan lupa mengingatKu (Taha, 20:42),
dan: dan ingatlah Tuhanmu apa bila engkau lupa (Al-Kahf, 18:24).
xv Di dalamnya (naskah asli) seluruh Kitab Alkitab diambil dari New King James Version. Copyright © 1982 by Thomas Nelson, Inc.
xvi Sunan Al-Tirmithi, Kitab Al-Da’wat, Bab al-Du’a fi Yawm ‘Arafah, Hadith no. 3934. Op. cit..
xvii
Dalam posisi yang Paling Baik
Kekristenan dan Islam memiliki paham-paham tentang penciptaan manusia dalam posisi yang paling baik dan dari nafasNya sendiri. Kitab Kejadian berkata: (Kejadian 1:27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.
Dan:
(Kejadian 2:7) ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup di dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Dan Nabi Muhammad SAW berkata: Sungguh Allah menciptakan Adam menurut gambarNya sendiri (Sahih Al-Bukhari, Kitab Al-Isti’than, 1; Sahih Muslim, Kitab Al-Birr 115; Musnad Ibn Hanbal, 2: 244, 251, 315, 323 dst. dll.)
Dan sungguh Kami menciptakan kamu lalu Kami membentuk kamu. Kemudian Kami katakan kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka pun sujud kecuali iblis; dia tidak termasuk mereka yang sujud. (Al-A’raf, 7:11)
Demi buah tin dan zaitun dan bukit Sinai, dan negeri yang aman ini (Mekah), sungguh Kami menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami mengembalikanya kepada yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka pada mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka siapakah (lagi) yang dapat mendustakanmu, sesudah itu tentang agama. (Al-Tin, 95:1-8)
Allah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap; dan Dia membentuk kamu lalu Dia membaguskan bentuk kamu, dan Dia memberi kamu rezeki dari yang baik-baik; itulah Allah kamu; Maha Berkah Allah semesta alam. (Al-Ghafir, 40:64)
Bahkan orang-orang yang zalim itu mengikuti hawa nafsu mereka tanpa ilmu. Maka siapakah orang yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan Allah. Dan tidak ada penolong bagi mereka.
Maka hadapkanlah dirimu dengan lurus kepada agama (Islam), fitrah (agama) Allah yang telah Dia ciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Al-Rum, 30:29-30) - Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan Aku meniupkan kepadanya dari ruh (ciptaan)Ku, maka hendaklah kamu tunduk sujud kepadanya. (Sad, 38:72)
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah padanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya (nama-nama itu) kepada para malaikat lalu berfirman, “Beritahukanlah kepadaMu nama-nama benda itu jika kamu memang benar!”
Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!” Maka setelah memberitahukan kepada mereka nama-nama itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan lebih mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam.” Maka sujudlah mereka kecuali iblis ia enggan dan takbur dan ia adalah termasuk golongan kafir.
Dan Kami berfirman, “Hai Adam, tinggallah engkau dan isterimu di surga ini dan makanlah dari padanya sepuas-puasnya sesuka kamu berdua, tetapi janganlah kamu mendekati pohon ini yang akan menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (Al-Baqarah, 2:30-35)
xviii Sahih Al-Bukhari, Kitab al-Iman, Hadith no.13.
xix Sahih Muslim , Kitab al-Iman, 67-1, Hadith no.45.
xx Penafsir-penafsir Kitab Suci Al Qur’an yang klasik (lihatlah: Tafsir Ibn Kathir, Tafsir Al-Jalalayn) pada umumnya berkesepakatan bahwa ini mengacu pada (gerak-gerak terakhir) doa Muslim.
xxi Abu Ja’far Muhammad Bin Jarir Al-Tabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Dar al-Kutub al-
‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 1st ed, 1992/1412,) tafsir of Aal-‘Imran, 3:64;Volume 3, pp. 299-302.
xxii Menurut ahli-ahli tata bahasa yang dikutip Tabari (karya dikutip, op. cit.) kata ‘sama’ (sawa’) dalam ‘suatu kalimat bersama antara kita’ juga berarti ‘adil’, ‘jujur’ (adl).
xxiii Theophylact (1055-1108 M.) yang Berberkat adalah Uskup Agung Gereja Ortodoks Ochrid dan Bulgaria (1090-1108 M). Bahasa aslinya adalah Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Buku Tafsirnya adalah tersedia di Inggeris pada Chrysostom Press.

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!