Tuesday, December 16, 2008

Antropologi Budaya dan Transformasi Iman

Georg Kircherger dan John Mansford Prior (eds.), Iman Kristen dan Transformasi Budaya, Flores: Nusa Indah, 1996

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

1. Kritik Antropologi terhadap Imperialisme Agama (Anton Quack, “Relasi Ambivalen Antara Karya Misi dan Atropologi: Kritik dan Usul-Saran”)

Jauh sebelumnya, Hendrik Kraemer [E1] telah melakukan kritik halus terhadap imperialisme agama dalam gerakan penginjilan. Kritiknya itu didasarkan pada perilaku para misionaris yang melawan berbagai praktek ‘agama asli’ (tribal religion).

Kecenderungan imperialisme agama itu disentil Anton Quack, karena menurutnya hal itu membuat orang menjadi miskin. Selalu ada ketegangan di antara para misionaris dan para antropolog: terbanyak ketegangan itu disebabkan oleh syakwasangka. Dua kutub ini dalam jangka waktu yang lama terkesan ‘tidak akur’.

Paul Hiebert menyebut relasi itu laksana ‘relasi cinta tapi benci’. Padahal dari para misionaris, kita banyak mendapat gambaran etnografi mengenai suatu masyarakat. Hasil kerjaWilhelm von Rubruk, Bernardino de Sahagun dari ordo Fransiskan (1215-1270) adalah gambaran berharga mengenai bangsa-bangsa Asia Pedalaman. Wilhelm E. Muhlmann, malah patut disebut sebagai misionaris-etnograf, yang laporannya mencuat karena kesetiaannya dalam pengamatan dan semangat ilmiahnya yang asli.

Misionaris lain adalah Joseph Fancois Lafitau (1681-1746), diakui bapa antroplogi perbandingan, karena karyanya “Adat-istiadat bangsa Amerika asli, dibandingkan dengan adat-istiadat masa-masa awal” (1724). Lafiatu juga mengecam dengan tajam para misionaris lain yang dinilainya sama dengan pelancong-pelancong lain, yang penuh dengan syakwasangka, tidak mahir berbahasa setempat, dan kurang memahami budaya asing.

Sejak awal, para misionaris telah menerima tesis tentang universalitas umat manusia. Meskipun demikian, para antropolog menuduh para misionaris sekurang-kurangnya dalam praktik, tetapi beranggapan bahwa budaya kristen, yakni Barat, lebih tinggi[E2] . Para misionaris yakin bahwa kebudayaan kristen mereka sendirilah yang lebih baik dan lebih tinggi dibandingkan kebudayaan bangsa-bangsa ke mana mereka dikirim.

Kesan paling radikal dari kalangan antropolog adalah para misionaris diperlat oleh penjajah. Para ahli sejarah membenarkan hal itu karena para misionaris Protestan dan Katolik harus mengambil bagian dalam kongers-kongers kolonial Jerman. Karena itu mereka bukan hanya disebut diperalat penjajah, tetapi juga membonceng pada kekuasaan penjajah, yang melayani usaha karya misi, baik secara sadar maupun tidak. Hal itu karena para misionaris dan penjajah berasal dari latar belakang budaya yang sama, dan memiliki keyakinan yang sama bahwa budaya Barat lebih unggul. Tugas mereka adalah untuk menyebarkannya ke daerah jajahan[E3] .

Para antropolog menyimpulkan tindakan para misionaris itu disemangati juga oleh ideologi ‘perubahan budaya’. Di sini para misionaris dilihat bukan sebagai ‘agen perubahan’ melainkan sebagai pengantara di antara kebudayaan. Mereka menganggap budaya pribumi sebagai tabula rasa (papan putih) sejauh menyangkut agama.

Kritik para antropolog adalah bahwa para misionaris mengubah dan mengganggu budaya sekurang-kurangnya harus mendorong para misionaris bertanya kepada diri sendiri, apakah mereka mempunyai hak untuk mengubah suatu kebudayaan. Apa yang memberi kepada para misionaris hak untuk campur tangan dengan kebudayaan tertentu? Apakah kriterianya untuk ini? Pastilah dalam hubungan dengan para misionaris, ketidaktahuan dapat melahirkan kesalahan.

Dalam mengatasi ketegangan itu, tindakan inkulturasi merupakan jawabannya. Istilah ini muncul pertama kali dalam bahasa Perancis (1953) sebagai kata terjemahan dari istilah Inggris ‘enculturation’, yang mempunyai pengertian sangat mirip dengan istilah Jerman ‘Sozialisation’.
Pendekatan inkulturasi ini dijembantani, secara keilmuan, dengan pendekatan lintas budaya (cross culture). Dengan kata lain, usaha inkulturatif mengandaikan kemampuan untuk membedakan kekristenan dari ‘pakaian’ budayanya (seringkali terutama budaya sang misionaris sama itu sendiri). Hal itu bukan merupakan sesuatu yang mudah. Ini setara dengan kritik injil. Dalam pendekatan inkulturatif, kritik kebudayaan dalam terang injil bertujuan untuk pemerdekaan semua manusia dan mempromosikan suatu kemanusiaan yang sejati.

[E1]Lht. Kraemer, Hendrik, From Missionfield to Independent Church, (1958). Tesis Kraemer itu menyebut struktur iman Kristen orang Maluku ibarat ‘kue lapis’, atau ‘varnish’, suatu lapisan tipis di atas lapisan agama asli yang sangat kuat.

[E2]Kesan itu dilihat pula oleh Leonard Andaya dengan menekankan adanya perbedaan cara pandang. Misionaris mewakili cara pandang Barat yang bertumpu pada Filsafat Yunani, lalu memandang orang-orang di Timur (Maluku) sebagai yang kurang beradab dibanding orang Barat. Baca, Leonard Andaya, The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period, USA: University of Hawaii Press, 1993, h.23

[E3]Jadi serentak dengan penjajahan (dalam arti politis) terjadi juga penjajahan dalam arti religius. Idiomatik ‘siapa punya negara dia punya agama (cuis regio,euis religio – Pasal 36 Pengakuan Iman Belanda)’ malah menjadi semacam teologi para misionaris yang berkolaborasi dengan penjajah.

No comments:

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!