Sunday, May 11, 2008

Islam Maluku

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

A. Pendahuluan


Menyebut “Agama Ambon” akan identik dengan “kristen Ambon” yaitu suatu bentuk kekristenan yang lahir dari sikap “melawan kafir” oleh para zending Belanda. Mereka berusaha membimbing masyarakat untuk menjadi kristen cukup hanya mampu menghafal beberapa rumusan iman, dan itu sudah menjadi prasyarat kekristenannya. Kemudian mahir menyanyikan lagu-lagu rohani, dan menjalankan doa-doa malam, sudah menjadi “kepuasan” bahwa mereka telah menjadi kristen. Tetapi akhirnya komunitas Kristen ini dikenal sebagai “orang-orang beriman”[1] dan loyal kepada gereja. Mereka gemar beribadah dan menjaga lingkungan serta suasana bergerejanya di setiap negeri dengan sangat baik. Ini misalnya terlihat dari tidak adanya aktifitas kerja yang dilakukan pada hari minggu. Bagi siapa yang tidak beribadah ke gereja pada hari minggu, dilarang keluar dari rumah, sampai jam ibadah selesai.

Kraemer mencontohkan hubungan orang-orang Salam Tulehu dengan Sarane Waay. Pada setiap hari minggu orang-orang Tulehu yang melintasi negeri Waay tidak sedikitpun bersuara [baribot], demikian pun orang-orang Waay tidak akan mengambil babi melintasi negeri Tulehu. Suasana yang sama tampak pula di Tial, di mana penduduk Islam dan Kristen tinggal berbaur[2]
Namun “Agama Ambon” dinilai merupakan suatu corak baru dalam kekristenan. Kritik terhadap agama Ambon adalah sikap dualisnya yang kuat; percaya kepada Allah Bapa, dan percaya kepada Leluhur. Sebuah kekristenan yang dikatakan tidak terlepas seluruhnya dari ketergantungan pada adat.[3] Suatu kritik yang dilekatkan pada fenomena theistik di dalam Agama. Tuhan telah diposisikan kembali dalam kawasan pantheon, suatu tema klasik yang ditolak oleh kalangan monotheis.


Orientasi seperti itu dinilai sebagai yang “tidak murni” kristen. Kramer menyebutnya sebagai “kristen setengah hati”. Pomeo yang cukup populer pada waktu itu adalah “di sini, di Ambon, agama adalah produk masyarakat, seperti cengkeh”. Hanya dengan membuka penutup orang Ambon, dan agama akan keluar”. Pernyataan yang lain bahwa “pada orang Ambon, agama hanya lapisan varnish yang tipis” [a thin varnish]. Semua itu melukiskan bahwa “Agama Ambon” telah menjadi sesuatu yang dipuja, tetapi juga ditimpali kritikan tajam [yang menyakitkan hati].[4]


Jika cap “agama Ambon” kemudian menjadi suatu terminologi kontekstual, apakah cap itu bisa juga kita sebut kepada “Islam Ambon”. Atau “Islam Ambon”/”Islam Maluku” memiliki corak yang sangat berbeda dari “Kristen Ambon”?

Saya sengaja menggunakan terminologi “agama Ambon” di sini bukan untuk memadukan Islam dan Kristen Ambon dalam satu terminologi umum, atau malah menjadikannya sebagai semacam “civil religion” orang Maluku. Jika pun sampai ke tahap itu, perlu kajian dan akan mengalami berbagai dinamika, dan bahkan mungkin pun tidak berhasil dibentuk. Tetapi menggunakan istilah “agama Ambon” dalam suatu paradigma kontekstual atau untuk melihat sifat kultural dari Agama Islam dan/atau Kristen di Maluku adalah cukup beralasan dan selalu dapat dilihat dari suatu sudut pandang tertentu.

2. Islam Maluku sebagai suatu Fenomena Kultural


Bentuk dan motivasi masuknya Islam ke Maluku tidak bisa dibicarakan lepas dari bentangan perjalanannya dari Malaka dan Jawa.[5] Mengambil titik berangkat dari situ, berarti kita diajak untuk melihat metode-metode dasar yang dipakai para khalifah, yakni melalui tindakan ekonomi (perdagangan). Tetapi kemudian bagaimana mereka berhasil mengadaptasi diri di dalam masyarakat, dan membangun komunikasi dengan para pemimpin lokal di suatu wilayah (aspek politik), serta juga menggunakan mekanisme-mekanisme kebudayaan sebagai cara mengadaptasi diri secara efektif (aspek kebudayaan).

Setidaknya, dari sisi metode kebudayaan, setiap jejak yang ditinggalkan Islam di satu daerah juga meninggalkan bukti bahwa Islam sangat intens berdialog dengan kebudayaan masyarakat setempat. Contoh paling sederhana adalah ketika ada peninggalan mesjid-mesjid yang khas Jawa, Banten, atau juga mesjid-mesjid yang khas Maluku (seperti Mesjid Wapauwe di Hila).[6]

Titik berangkat itu yang membuat pertemuan Islam dengan Kerajaan Ternate berlangsung tanpa masalah yang berarti. Kerangka kebudayaan orang-orang Ternate malah dijadikan sebagai batu loncatan dalam melebarkan ajaran-ajaran Islam sampai ke pelosok-pelosok. Para ulama lokal, malah nekat bertandang ke Gresik dan Tuban untuk memperdalam ilmu Islam, dan kembali menyebar Islam di negerinya itu.

Pendekatan yang sama pun digunakan ketika Islam mulai masuk ke Ambon, melalui Hitu. Dialog yang intens dengan kebudayaan kembali terjadi di situ. Dan itu merupakan bukti bahwa perdagangan atau aspek ekonomi hanya menjadi instrumen yang mendorong Islam bergerak dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi kebudayaan menjadi instrumen yang membangun rasa keislaman yang tinggi di dalam hidup masyarakat.

a. Islam Maluku: Politik Damai
Ketika Islam masuk ke Indonesia kekuatan koloni Eropa belum bergerak, atau dominasi perdagangan rempah-rempah masih dipegang oleh pedagang Cina dan Arab. Ketika masuk ke Indonesia, Islam merajai jalur-jalur perdagangan yang penting seperti: pesisir Sumatera di selat Malaka, semenanjung Malaya, pesisir utara Jawa, Brunei, Sulu dan Maluku. Jalur perdagangan kayu cendana di Timor dan Islam masih tetap menjadi wilayah non-Islam, dan kurang diminati pada pedagang Islam.


Walau begitu, ketegangan di kerajaan-kerajaan lokal di Maluku, seperti di Ternate tidak bisa diabaikan sebagai bagian dari fakta sejarah ketika Islam berjumpa dengan masyarakat di sana. Tetapi satu hal yang menarik adalah Islam Maluku yang terbentuk dari Ternate itu kemudian meluas ke pulau Ambon, dan terbentuk suatu Pan-Islami, yang terus berkembang ke daerah Lease. Seiring dengan itu, kerajaan Iha di Saparua menjadi simbol kekuatan Islam baru di Maluku Tengah, selain Hitu.[7]

Islamisasi Ternate, Hitu, Lease sebenarnya berlangsung secara wajar karena kekuatan perdagangan Islam mulai terbentuk di kawasan itu. Paramitha Abdoerachman mengatakan Hitu menjadi penting karena banyak pedagang mendapat pasokan air tawar dari situ. Fakta ini pun sebenarnya sama dengan ketika Banda menjadi bandar Islam yang cukup penting, karena pasokan ikan yang enak kepada para pedagang.[8]

Politik damai itu melahirkan simpati kelompok lokal yang semula memeluk agama asli (agama suku) menjadi penganut Islam yang rajin. Bahkan hal itu pun terlihat ketika negeri-negeri Hatuhaha Amarima kemudian menjadi pusat kemashyuran Islam tertua di Lease. Untuk yang satu ini memang perlu penelitian lebih mendalam, sebab Islam Hatuhaha Amarima memiliki tatanan ritus Islami yang khas dan kontekstual, seperti ritus Puasa dan Haji.

b. Islam Maluku: Adaptasi Bahasa
Mengapa Islam Maluku patut disebut sebagai suatu gerakan agama yang khas? Sebab Islam Maluku adalah suatu sintesa rampat mengenai bagaimana agama masuk melalui cara membahasa orang setempat.


Di Maluku kita akan menemui bagaimana orang-orang Islam Tulehu, Liang, Tial, Hila, Latu, Kasieh, Lisabata, Pelauw, Ori, Kailolo, Iha, menggunakan bahasa ibu mereka dalam komunikasi sesehari. Bahasa Arab menjadi bahasa agama yang digunakan dalam upacara sakral agama, tetapi kesehariannya menggunakan bahasa setempat. Fenomena ini tidak lagi ditemui pada negeri-negeri Kristen, kecuali di Maluku Tenggara, tetapi juga sudah mulai ditinggalkan oleh generasi mudanya.

Pada sisi ini, Islam Maluku adalah suatu hasil adaptasi kebudayaan yang sangat penting. Dalam adaptasi itu bagaimana struktur bahasa setempat dijadikan sebagai mekanisme penyebaran ajaran agama, dan ditempatkan sebagai unsur yang penting.[9]

Hal ini yang membuat corak kultural di dalam Islam begitu kuat, karena itu agamanya menjadi gampang diterima dan dipandang sebagai agama yang “membawa damai”. Unsur kedamaian yang dirasakan itu adalah ketika masyarakat tetap berkomunikasi dengan bahasanya, sehingga mereka tidak merasa teralienasi dari kelompok besar.

Memang dalam menentukan corak kultural kepada Islam Maluku kita perlu mempertimbangkan kembali beberapa hal seperti, sejauhmana Islam Maluku itu memanfaatkan ritus-ritus adat sebagai suatu bentuk kontekstualisasinya. Orang Islam, menurut Chauvel, memang tidak suka dengan struktur raja seperti diintroduksi oleh Eropa, dan karena itu malah menganggap [sebagian dari] adat sebagai yang mengandung unsur kafir dan haram. [10]

Tetapi adaptasi Islam Maluku ke dalam bahasa setempat memperlihatkan suatu corak beragama yang unik.

3. Refleksi
Agama memiliki ruang guna yang efektif jika agama itu dimengerti sebagai produk kebudayaan masyarakat setempat, dan akan semakin efektif jika dibangun dalam fondasi-fondasi kontekstual, suatu usaha menjadikan dirinya bagian yang co-inside dengan masyarakat pemeluknya.


“Islam Maluku” kiranya dipahami sebagai suatu produk kebudayaan yang pernah dihasilkan dalam sejarah agama di Maluku. Ia memiliki kaitan yang kuat dengan latar budaya masyarakat. Suatu hal yang perlu didekonstruksi untuk mere-rekonstruksi suatu tipikal Islam yang relevan bagi orang Maluku. Tipikal kekristenan yang inklusif dan kultural.

“Islam Maluku” dalam sisi tertentu memperlihatkan perlunya usaha translasi ajaran Islam ke dalam kehidupan masyarakat Maluku. Sebuah usaha hermeneutis yang sedapat-dapatnya mendorong pemahaman dan pengertian bersama mengenai hakekat ketuhanan dan hakekat kemanusiaan orang-orang Maluku.

Ketuhanan yang universal. Oleh sebab itu identitas-identitas budaya mengenai Tuhan dalam pandangan budaya orang Ambon, seperti konsep Upu [Maluku Tengah], Oplastalah [Buru], atau Duad [Maluku Tenggara-Kei], Up Ler dan Ratu [Tanimbar], adalah media kebudayaan yang bisa digunakan untuk mengkomunikasikan Tuhan itu sendiri. Selama ini konsep theistik ini disalahpahamkan. Kita menuduh realitas ketuhanan itu sebagai yang dimengerti dalam konsep “Nene Moyang”. Suatu sikap prejudice yang muncul sebagai kenaifan dalam memahami totalitas worldview orang Maluku.

Pertanyaan kita pada Islam Maluku adalah apakah doktrin “Tiada Tuhan Selain Allah SWT” akan mampu membuat kita mengklarifikasi berbagai doktrin theistik dalam budaya lokal tadi sebagai bagian dari penghayatan beragama Islam Maluku. Apakah orang-orang Islam Maluku sendiri tetap menyebut Allah dengan bahasa setempat atau malah telah mereduksi semua realitas theistik itu dalam satu saja sebutan, yakni “Allah SWT”. Lalu sejauhmana adaptasi bahasa di dalam komunitas Islam Maluku itu menjadi suatu matra agama yang mampu menjelaskan kedalaman keislaman Maluku itu sendiri.


Fenomena pluralisme, adalah fenomena kedua yang akan bisa kita urus bersama jika Islam Maluku pun telah mampu merefleksikan diri dan ajarannya secara kontekstual. Tidak ada halangan yang berarti di dalam pluralism itu, sebab budaya “orang basudara” telah menjadi mekanisme kultural yang melekat kuat di dalam perilaku sosial dan agama kita orang Maluku.

Catatan:

[1] Bahkan Joseph Kam pun menemukan corak kekristenan yang tekun di kalangan orang-orang Ambon, ketika ia kemudian tahu bahwa di setiap rumah pada malam hari, terdengar kidung-kidung rohani dan orang khusuk berdoa. Baca. I.H. Enklaar, Joseph Kam Rasul Maluku, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987
[2] Hendrik Kraemer, From Missionfield to Independent Church: Report on a decisive in the growth of indigenous churches in Indonesia, London: SCM Press, 1958, h.22
[3] Padahal kekristenan di manapun akan menampilkan fenomena itu sebagai hasil kontekstualisasi dengan lingkungannya sendiri. Kekristenan di Eropa pun adalah hasil yang demikian.
[4] Ibid, h.19
[5] Lht. Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Pengantar oleh. R.Z. Leirissa, Jakarta: LP3ES, 2004, hlm. 24-34
[6] Bnd juga M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004, Jakarta: Serambi, cetakan kedua,2005, hlm.28,29,36
[7] Lht. Saleh Putuhena, “Sejarah Agama Islam di Ternate”, dalam E.K.M. Masinambouw, eds., Halmahera dan Raja Ampat, Jakarta: Pt. Bhratara, 1980, hlm. 268
[8] Bnd. Des Alwi, Sejarah Maluku, Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon, Jakarta: Dian Rakyat, 2005, hlm. 28
[9] Bnd. Saleh Putuhena, ibid., hlm. 171
[10] Baca. Richard Chauvel, Nationalists, Soldiers, and Separatists, Leiden: KITLV, 1990, hlm. 7-10

Buku Rujukan:

Alwi, Des, Sejarah Maluku, Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon, Jakarta: Dian Rakyat, 2005

Chauvel, Richard, Nationalists, Soldiers, and Separatists, Leiden: KITLV, 1990

Enklaar, I.H., Joseph Kam Rasul Maluku, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987

Kraemer, Hendrik, From Missionfield to Independent Church: Report on a decisive in the growth of indigenous churches in Indonesia, London: SCM Press, 1958

Putuhena, Saleh, “Sejarah Agama Islam di Ternate”, dalam E.K.M. Masinambouw, eds., Halmahera dan Raja Ampat, Jakarta: Pt. Bhratara, 1980

Reid, Anthony, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Pengantar oleh. R.Z. Leirissa, Jakarta: LP3ES, 2004

Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004, Jakarta: Serambi, cetakan kedua,2005

1 comment:

francobl said...

Baca artikel ini,, jadi ingat opa pernah cerita ttg salah satu negeri salam (klau tidak salah, jailolo). dulu Mereka tidak pergi naik haji ke mekah, tapi cukup naik ke gunung lalu balik ke kampung lagi dengan gelar haji.

apakah " sebab Islam Hatuhaha Amarima memiliki tatanan ritus Islami yang khas dan kontekstual, seperti ritus Puasa dan Haji" sama dengan yg beta opa pernah cerita??

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!